Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 19


__ADS_3

"Jadi, Zidan anak dari tante Sandra. Artinya, dia adalah anak dari pemilik rumah sakit ini. Pantas saja, dia meminta mamah agar tidak mengkhawatirkan biaya rumah sakit. Wadduh..utang aku makin banyak dong ke mr. Resek," Anan membatin.


"Loh, bukankah semalam Zidan udah ngomong ke mamah, kalo hari ini aku akan mendampingi saudaraku di acara wisudanya," jawab Zidan mengingatkan.


"Jadi saudara yang kamu maksud itu Anan?" tanya dokter Sandra memperjelas.


"Iya" jawab Zidan singkat.


"Mamahnya juga?" tanya dokter Sandra dan diangguki oleh Zidan.


Sedang Anan, mamah Yati dan Rasmi hanya jadi pendengar mengikuti arah pembicaraan mereka.


"Benar-benar dunia itu sempit ya. Tante tidak menyangka bahwa kamu dan Zidan udah kenal dan bahkan udah kayak saudara. Padahal, tante udah berencana mengenalkan kamu dengan anak tante. Di rumah, Zidan itu selalu bercerita tentangmu. Katanya kamu itu cantik, baik, sayang sama mamahmu, lucu dan menggemaskan. Meskipun kadang galak. Itu kata dia ya, bukan kata tante. Tapi dia tidak pernah menyebut namamu, heran juga tante," ungkap dokter Sandra ke Anan sambil menunjuk Zidan.


Sedang yang ditunjuk hanya menggaruk kecil kepalanya yang tidak gatal, karena ketahuan sering membicarakan Anan.


Anan hanya tersenyum ringan menanggapi ucapan dokter Sandra.


"Tante ucapin selamat ya sayang atas wisudanya, semoga ke depannya sukses, amin," tutur dokter Sandar mendekap Anan.


"Terima kasih tante atas ucapan dan doanya," balas Anan lalu saling melepas dekapan.


"Ya udah, kalo gitu kami berangkat sekarang mah," pamit Zidan.


"Oke, hati-hati. Jaga mamah Yati baik-baik," ucap dokter Sandra.


"Pasti mah," ujar Zidan yakin.


"Kamu kok tidak bilang, kalo kamu itu anaknya tante Sandra," ujar Anan dan mobil pun mulai bergerak maju.


"Kamu tidak pernah nanya," celetuk Zidan. Membuat raut kesal terlukis di wajah Anan.


"Benar-benar nyebelin!" gumamnya. Membuat Zidan tersenyum tipis.


Anan menghela nafas.


"Tidak, aku tidak boleh kesal. Ini kan hari bahagiaku. Tak kubiarkan apapun merusak moodku hari ini," batin Anan.


Hufft...! Anan menghela nafas lagi kemudian melirik mamahnya yang duduk di samping kanannya. Ingin rasanya Anan menangis melihat wajah teduh mamahnya yang tak pernah dijauhi oleh senyuman ringan. Wajah yang selalu menampakkan ketegaran, kekuatan, kesabaran dan keikhlasan.


"Lho, kamu kenapa sayang?" tanya mamah Yati setelah diserang pelukan tiba-tiba oleh Anan. Namun tak mendapatkan jawaban, kecuali suara isakan.


Zidan yang mendengar pertanyaan mamah Yati melirik spion tengah lalu menepikan kendaraannya.


"Terima kasih mah, sudah menjadi sosok yang kuat dan tegar buat Anan. Mengajarkan banyak hal hingga Anan bisa seperti sekarang ini. Mamah telah sudi menjadi ibu sekaligus ayah buat Anan. Mamah adalah wanita hebat. Anan bangga jadi anak mamah," tutur Anan diselingi isakan dan dengan uraian air mata.


"Mamah juga bangga sama kamu nak," ucap mamah Yati mengelus lembut punggung Anan.


Rasmi yang duduk di samping Zidan, menyaksikan hal ini menitikkan air mata karena terharu. Ia tau, betapa sayangnya Anan kepada mamahnya. Dan dari Anan pula, ia banyak belajar cara berperilaku dan bersikap terhadap orang yang telah melahirkannya.

__ADS_1


Sedangkan Zidan yang menyaksikan ibu dan anak itu, tersenyum. Meskipun ia dan Anan kerap beradu argumen, hingga memunculkan sifat antagonis Anan. Tapi satu hal yang tidak pernah ia lupa, bahwa Anan adalah sosok yang penyayang dan berhati lembut.


"Kamu hebat Nan. Aku salut dan bangga sama kamu," batin Zidan.


"Ehmm, Wah.. cantiknya jadi luntur tuh. Tak ada mendung, kok tiba-tiba hujan ya?" oceh Zidan, membuat Anan melonggarkan pelukannya.


Zidan pun menyerahkan beberapa lembar tisu ke Anan. Mamah Yati tersenyum ke arah Zidan. Anan menghapus air matanya, begitu juga dengan Rasmi yang buru-buru mengusap pipinya dengan ujung jarinya.


"Kamu juga nangis?" tanya Zidan ke Rasmi yang melihat sisa cairan bening di pipinya.


"Terharu kak," sahut Rasmi dan mukanya pun mulai memerah bak udang rebus karena tatapan Zidan.


"Terus, kenapa mukamu jadi merah begitu?" tanya Zidan lagi seraya melajukan kembali kendaraannya.


Rasmi membenarkan posisi duduknya dan menoleh keluar jendela.


"Aduhhh, nih muka kok tidak bisa diajak kompromi banget sih. Aku kan malu," batin Rasmi sambil mengigit-gigit kukunya dan masih bisa tertangkap oleh netra milik Zidan.


Anan dan rombongan pun tiba di tempat tujuan. Zidan memarkirkan kendaraannya di tempat parkir yang telah disediakan.


Mereka memasuki hotel dan berjalan menuju tempat dimana acara akan berlangsung.


Anan yang mengenakan kebaya marun dipadupadankan dengan bawahan batik selutut dan high heels 7 cm, terlihat anggun. Apalagi dengan rambut yang di cepol yang bagian depan kanan dibiarkan menjuntai ke samping serta riasan wajah yang tidak berlebih, membuat aura kecantikan Anan menyeruak.


Anan pamit pada mamahnya, Zidan dan juga Rasmi untuk bergabung dengan para sahabatnya.


Salma pun menoleh, begitu juga dengan Rara dan Adji.


"Kamu Anan?" tanya Rara menunjuk Anan.


Anan memutar bola matanya atas pertanyaan Rara.


"Menurut kamu?" tanyanya.


"Ya ampun Nan, ini beneran kamu? Kamu benar-benar cantik," puji Adji berdecak.


"Cantik, pakai banget!" seru Salma


"Iya..iya, aku cantik. Udah ya."


"Dan aku manis," celetuk Rara tak mau kalah.


"Hedehhh...!" Salma dan Adji kompak.


Acara pun dimulai dan berjalan sesuai dengan urutannya. Hingga akhirnya acara telah berlangsung hampir 2 jam. Dan betapa kagetnya Anan ketika namanya diumumkan oleh sang MC sebagai mahasiswa dengan predikat cumlaude. Ananpun dipersilahkan naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan atas prestasi yang diraihnya.


Tepukan serta sorak sorai membahana dalam aula gedung itu. Semua mata tertuju padanya.


Anan menetralkan perasaannya sebelum ia berdiri dari tempat duduknya. Tangan kanannya menyentuh dadanya yang bergemuruh saking tak percayanya pada apa yang didengarnya. Ia menoleh ke arah dimana mamahnya berada. Air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya tumpah juga, tatkala manik matanya melihat sang mamah meneteskan air mata. Hingga membuat ketiga sahabatnya memeluknya.

__ADS_1


Ananpun menghapus air matanya, lalu berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menuju panggung.


Dan masih, semua mata tertuju padanya. Para orang tua atau wali yang mendampingi anak-anaknya sungguh berdecak kagum. "Udah cantik, pinter, cumlaude lagi. Benar-benar sempurna" kagum salah satu dari sekian banyak orang tua yang ada di sana. "Calon menantu idaman" ucap orang tua lainnya.


Namun berbeda dengan Septy dan kawan-kawan.


"Ya iyalah cumlaude, orang dia nyogok. Entahlah nyogok pake apaan," cibir Septy.


"Pake tubuhnya kali" sangka Yuli menambahkan, dan diangguki oleh Serli.


"Heran deh aku, hidup dia kok selalu mujur ya," ucap Septy.


"Pake pelet kali dia," tuduh Serli.


"Soal prestasi, tidak ada yang namanya pelet. Asal mau belajar dengan giat, pasti berhasil. Karena pada hakikatnya, tidak ada hasil yang menghianati usaha," tutur ibu yang duduk di belakang, yang kebetulan mendengar obrolan mereka, yang juga mendampingi anaknya.


"Lagian, dari tampilannya, saya sudah yakin kalo dia memang anak yang pintar," pujinya. Membuat Septy dan teman-temannya tersenyum malu.


Anan telah berdiri di atas panggung, dan menerima piagam penghargaan yang diserahkan oleh salah satu rektor yang ada di kampusnya.


Tidak hanya itu, Anan dipersilahkan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata atas keberhasilannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa Anan kepada para hadirin.


Anan menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Puji syukur kehadirat Allah swt. atas apa yang telah dianugerahkannya kepadaku saat ini. Tak lupa pula, saya ucapkan terimakasih untuk semua pihak yang terkait. Para rektor, dekan, dosen dan juga guru besar, yang dengan sabar dan ikhlas membagi ilmunya kepadaku dan kepada mahasiswa lainnya. Terima kasih juga kepada pihak yayasan dan donatur, yang telah berkenan memberikanku fasilitas berupa beasiswa, sehingga saya dapat menyelesaikan studyku tepat waktu," papar Anan.


Kemudian menatap sang mamah yang duduk di kursi roda dekat sudut ruangan, dan ketiga sahabatnya bergantian.


"Untuk ketiga sahabatku, Rara, Salma dan Adji. Terima kasih sudah mendukungku. You are the best." Tak terasa Anan menitikkan air mata begitupun dengan ketiga sahabatnya.


Sang MC yang menyaksikan itu dari dekat, secepat kilat menyambar tisu yang ada di atas meja tak jauh dari tempatnya berdiri, lalu memberikannya kepada Anan. Iapun merasa haru hingga matanya berkaca-kaca.


"Dan special untuk mamahku..mamah yang hebat, mamah yang kuat dan sabar..mungkin..hiks... ." Ucapan Anan tercekat lalu menghapus kembali air matanya.


"Mungkin ucapan terima kasih saja tidak akan cukup untuk semua pengorbanan yang mamah lakukan. Mah, I love you."


Lalu Anan turun dari panggung dan berlari kecil menghampiri mamahnya kemudian memeluknya.


Tangis ibu dan anak itu pun pecah. Semua mata yang memandang, ikut merasakan keharuan mereka. Dan tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata haru. Rasmipun memeluk mereka. Rara, Salma dan Adji meninggalkan tempat duduk mereka dan berjalan mendekati Anan dan mamahnya. Mereka menyemangati dan menenangkan Anan begitu juga dengan Zidan.


Di pintu utama aula gedung hotel tersebut, berdiri seorang Arya yang baru saja tiba karena harus menghadiri rapat terlebih dahulu.


Dahinya mengkerut, matanya memicing, sebab bingung dengan apa yang ia liat. Ia berjalan menuju kursi yang telah disiapkan untuknya sambil sesekali melirik ke arah Anan.


Ketika ia telah mendudukkan tubuhnya, iapun mempertanyakan hal yang dilihatnya ke orang yang duduk disebelahnya. Dan iapun mendapatkan jawabannya.


"Dasar drama!" gumamnya sambil melirik lagi ke arah Anan.

__ADS_1


__ADS_2