
[ VOTE VOTE VOTE ]
Dua hari kemudian.
Hari ini bertepatan dengan pesta pernikahan salah satu sahabat Anan. Salma yang telah menerima lamaran dokter Idham lebih dari dua bulan lalu, tengah bersiap-siap di dalam kamar pengantin.
"Wah! MasyaAllah, kamu cantik sekali, Salma," ujar Rara begitu tiba di dalam kamar.
Salma tersenyum mendengar pujian Rara. "Baru kali ini kamu memujiku," tuturnya.
"Itu karena hari ini kamu memang cantik," timpal Rara.
"Oh, jadi kemarin-kemarin tidak, begitu?"
"Tidak," jawab Rara, singkat. Membuat Salma meliriknya kesal.
"Iya deh, maaf. Kamu cantik dari kemarin-kemarin, hari ini, dan seterusnya." Rara merangkul Salma dari arah samping dan tersenyum bersama.
Sebenarnya Salma hanya berpura-pura cemberut, ia tahu kalau sahabatnya yang satu ini suka usil.
"Apa Anan sudah datang?" tanya Salma.
"Belum. Mungkin sebentar lagi." Rara berjalan mendekati meja rias dan memoles kembali lipstik ke bibirnya.
Sementara itu.
Anan telah memakai kebaya yang khusus dibuat oleh tante Ranti untuknya. Kebaya itu berwarna pink muda. Dengan bawahan batik dengan corak berwarna abu-abu muda. Ibu Yani mencepol rambut Anan dan menyematkan aksesoris di sana. Anan sungguh cantik dalam balutan kebaya dan riasannya hari ini.
Bagaimana tidak, ibu Yani pernah mempunyai dan mengelolah langsung salon miliknya. Jadi, sudah sewajarnya bila ia ahli dalam merias.
Rasmi pun tak kalah cantiknya dengan Anan. Rasmi yang juga mengenakan kebaya, tampak jauh lebih dewasa dari biasanya.
Mamah Yati yang memandangi putrinya sedari tadi, tak terasa meneteskan air mata. Ia sungguh sangat menyayangkan keadaan putrinya yang tak dapat melihat dirinya sendiri saat ini.
Tak lama, Zidan dan Abhizar pun tiba.
"Anan sudah siap, Tante?" tanya Zidan.
Sedang Abhizar termangu sangking terkesimanya melihat penampilan Anan.
"Bidadari surga. Sungguh cantik," gumamnya dalam hati.
"Mamah minta kamu menjaga Anan baik-baik. Jangan biarkan dia sendirian." Seperti biasa, mamah Yati selalu mencemaskan keselamatan putrinya.
"Mamah tenang saja. Aku pasti menjaga Anan dengan baik." Zidan menggenggam tangan mamah Yati, menenangkannya.
"Iya, Tante. Tante jangan khawatir. Kami akan membawa Anan pulang dengan selamat." Abhizar pun ikut menenangkan mamah Yati.
"Rasmi, kakak mau membawa syal." Lalu Rasmi membuka laci dan meraih syal yang dimaksud Anan dan memasukkannya ke dalam paper beg.
Di perjalanan, Zidan tiada hentinya melirik kaca tengah mobil.
"Fokuslah menyetir! Aku tidak mau mati muda."
Perkataan Abhizar membuat Rasmi yang sedari tadi sibuk memandangi pohon dan bangunan yang dilalui kendaraan Zidan, menoleh.
__ADS_1
Anan tersenyum, sebab ia tahu maksud Abhizar.
"Kamu jangan heran, Bhi. Sahabatmu itu jarang melihat cewek cantik," ujarnya.
"Kata siapa! Malah aku bosan lihat cewek cantik. Tapi kalau cewek yang kelihatan dewasa, aku jarang melihatnya," timpal Zidan, lagi-lagi melirik Rasmi dari kaca tengah.
Dan disaat yang sama, Rasmi pun menatapnya.
Deg!
Buru-buru Zidan dan Rasmi memalingkan wajah masing-masing. Jika Zidan karena sedang mengemudi, lain halnya dengan Rasmi yang disebabkan malu. Sehingga membuat parasnya bersemu merah.
Akad nikah Salma dan dokter Idham diadakan di kediaman Salma. Kerabat dan para tamu terus berdatangan. Anan bersama Rasmi menemui Salma di kamarnya.
Berbeda dengan Anan dan Rasmi yang ke kamar pengantin, Zidan dan Abhizar bergabung dengan keluarga besar Salma dan tamu lainnya.
"Assalamualaikum," sapa Anan dan Rasmi sembari membuka pintu kamar. Salma dan Rara pun menjawab salam mereka.
Rara bangkit dari duduknya dan menuntun Anan duduk di kursi.
"Kamu cantik, Nan." Perkataan Salma ditanggapi senyuman oleh Anan.
"Sayang sekali, aku tidak bisa balas memujimu."
"Astagfirullah, maaf, Nan." Salma sungguh tidak tahu harus bagaimana.
"Hei, aku tidak apa-apa. Ini hari bahagiamu, maka berbahagialah. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang istri."
Anan tersenyum. Tak ada sedikit pun sedih atau pun sesal dalam hatinya. Ia sungguh ikhlas menerima keadaannya.
"Oh iya, Nan. Apa kamu mau kue coklat? Aku sudah mencicipinya tadi. Enak."
"Habis... kue coklat enak, sih. Tidak bisa tahan godaannya," timpal Rara dengan gaya centilnya.
"Awas saja, itu badan makin bulat," ejek Salma.
"Biar saja. Gimana, Nan. Mau, tidak?"
Setelah Anan mengangguk, Rara pun beranjak untuk membawakan Anan kue kesukaannya.
Kue coklat sudah di tangan. Baru saja Rara hendak membuka pintu, umi Sarah, ibu Salma menepuk pundak Rara dan ikut masuk ke dalam kamar.
"MasyaAllah, putriku yang cantik ini sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Rasanya Umi tidak rela." Umi Sarah menangkup wajah Salma dengan air mata yang menetes.
"Umi." Salma tersenyum, namun dengan manik yang berkaca-kaca.
Yang lain pun merasakan kesedihan umi Sarah. Kesedihan seorang ibu yang akan melepaskan anak gadisnya untuk membina rumah tangga dengan seorang pria yang akan menjadi pintu surga baginya.
"Bersiaplah! Calon mempelai pria telah tiba," ucap umi Sarah sambil menyeka air matanya.
Sepeninggal umi Sarah, Rara segera memberikan kue yang ada di tangannya kepada Anan.
Beberapa menit berselang. Pintu terketuk dan seseorang memberitahukan agar calon mempelai wanita segera turun.
Salma akan berjalan menuruni anak tangga. Ia menatap sahabatnya yang berdiri di sisi kiri dan kanannya.
__ADS_1
Akhirnya kesepakatan mereka terlaksana. Dulu, mereka telah sepakat. Bahwa siapapun di antara mereka yang menjadi pengantin, maka yang lain sebagai bridesmaid.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Salma yang melihat kegugupan Anan.
Sebenarnya, Salma sangat grogi. Itu karena hari ini ia akan melangsungkan akad nikah. Namun, melihat raut wajah Anan, membuat rasa groginya hilang sementara berganti rasa iba.
Sambil berjalan, sesekali Salma melirik Anan. Tak terasa air matanya menetes. Ia tak kuasa menyaksikan sahabatnya itu menggiringnya dalam keadaan tidak dapat melihat.
Rara dan Rasmi yang menyadari hal itu, juga turut meneteskan air mata.
Semua mata bukan hanya tertuju pada calon mempelai wanita, tapi juga pada Anan.
Zidan yang duduk di tengah-tengah keluarga besar Salma dan keluarga besar Adji juga melelehkan air mata. Abhizar dan Adji yang mengetahui hal itu, mengusap lembut pundak Zidan. Zidan tersadar dan segera menghapus jejak air matanya.
Salma telah duduk di samping dokter Idham. Acara ijab kabul pun dilaksanakan.
"Bagaimana, para saksi?" tanya bapak penghulu setelah dokter Idham menyelesaikan kalimatnya.
"Sah!"
"Sah!"
"Sah!"
Seru keluarga dan para tamu yang hadir. Yang berarti, Salma dan dokter Idham telah resmi menjadi pasangan suami istri. Lalu bapak penghulu membaca doa untuk kedua pengantin.
Seluruh rangkaian acara akad nikah telah terlaksana. Acara sakral tersebut benar-benar berlangsung khidmat. Para tamu undangan perlahan-lahan meninggalkan tempat, setelah sebelumnya memberi selamat kepada kedua mempelai dan berpamitan.
Bila acara akad nikah diadakan di kediaman Salma, lain halnya dengan acara resepsi. Resepsi pernikahan akan diadakan di hotel malam ini.
🍁
🍁
🍁
Di tempat terpisah.
Arya yang menikmati waktu senggangnya di apartemen miliknya, dikagetkan oleh suara dering ponselnya.
"Halo, Pih?"
"Hari ini Papih ada meeting, tapi Papih sibuk. Kamu mau 'kan, menggantikan Papih?"
"Meeting nya di mana dan jam berapa?"
"Jam 7 malam. Alamatnya Papih kirim via chat. Dokumennya, suruh Dimas mengambilnya di kantor."
"Baik, Pih."
Setelah sambungan telepon terputus, Arya menelpon Dimas dan menyuruhnya ke kantor sekarang juga.
"Mungkin sudah waktunya aku keluar sarang untuk mencarimu," gumamnya, begitu duduk di sofa dan menaruh kembali ponselnya di meja.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Dirgahayu negeriku Indonesia yang ke 76. Semoga damai senantiasa menyertai.
MERDEKA!!!