
Zidan bangkit dan berlari kearah brankar Anan. Segera ia memeriksa denyut nadi gadis yang sejak tadi membuatnya mendadak gila itu.
"Apa yang kamu lakukan, Zidan?" Zidan mengabaikan pertanyaan Adji. Ia hanya fokus memeriksa Anan.
"Dokter!" pekiknya.
Dokter Sandra menatap Zidan, bingung.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya, mengernyit.
"Cepat dokter!" Dokter dan perawat bergegas menghampiri.
"Tolong pasang kembali." Zidan menunjuk alat monitor hemodinamik dan saturasi yang terletak tak jauh dari posisinya berdiri.
"Anan kembali, Mah! Anan kita kembali! Putri Mamah kembali!" seru Zidan yang berbinar-binar meski masih terdapat jejak air mata di wajahnya.
Dan benar saja. Setelah alat yang dimaksud Zidan terpasang, monitor seketika menunjukkan adanya gelombang denyut jantung di sana.
Tak ada satu kata pun yang bisa dokter Sandra ucapkan untuk mengungkapkan kebahagiaannya saat ini. Ia sangat bersyukur kepada Allah atas kembalinya Anan di tengah-tengah mereka lagi.
"Alhamdulillah, kamu kembali, Sayang... Mamah senang sekali." Dokter Sandra mengelus lembut pipi Anan.
"Selamat datang kembali, Nan." Adji memegang tangan Anan.
"Alhamdulillah. Sungguh ini anugerah dari Allah," gumam Idham menatap Anan.
"Aku berharap, kamu tidak lagi membuatku seperti orang gila. Kamu saudariku. Aku sangat menyayangimu, jadi tetaplah bernafas," bisik Zidan di telinga Anan dengan air mata yang masih saja meleleh.
Zidan berdiri tegap dan mengusap air matanya.
Dokter Sandra menatap wajah putranya yang berseri-seri bagai seorang yang menang lotere itu seraya tersenyum.
"Ya udah. Kita keluar ya. Biar tim dokter menyelesaikan tugasnya." Dokter Sandra beralih menatap semua dokter dan perawat yang ada di sana.
Zidan, Adji, dan Idham meninggalkan ruang operasi.
"Maafkan putra saya, Dokter," ucap dokter Sandra kepada dokter yang sempat disandera Zidan tadi.
"Tidak apa, Nyonya. Saya mengerti perasaan tuan Zidan."
Sebelum meninggalkan ruang operasi, dokter Sandra mendekati Anan dan mencium pipinya.
"Kamu jangan buat Mamah cemas ya, Sayang."
Di luar ruang operasi.
Semua yang menunggu hasil operasi Anan, harap-harap cemas. Ditambah lagi adanya kericuhan ditengah berlangsungnya proses operasi. Membuat keadaan semakin menegangkan saja.
Dan betapa kagetnya mereka ketika melihat tampilan Zidan yang kacau balau bak matador yang terserang banteng.
Septy yang sedari tadi tidak tenang di tempat duduknya, dan hanya mondar-mandir bagai setrikaan, tercengang menatap Zidan.
Ia pun memberanikan diri menghampiri Zidan.
"Apa yang terjadi, Dan? Bagaimana dengan operasi Anan? Semuanya lancar 'kan?"
Septy yang memegang lengan Zidan mendapat tatapan tajam darinya.
Zidan menepis tangan Septy.
"Kamu puas 'kan sekarang? Asal kamu tau, Anan sempat dinyatakan meninggal untuk beberapa waktu beberapa menit yang lalu." Zidan menunjuk wajah Septy lalu mengayunkan tangannya menunjuk pintu di mana ia baru saja keluar.
__ADS_1
Salma, Rara, dan Abhizar terperangah mendengar perkataan Zidan. Begitu pula Septy. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dan tak terasa bulir bening meleleh membasahi pipi dan tangannya.
"Bagaimana? Kamu senang 'kan mendengarnya?" Septy menggeleng antusias.
"Hentikan air mata buayamu itu! Aku muak melihatnya!" bentak Zidan.
"Cukup Zidan! Kamu jangan keterlaluan." Abhizar yang tak tahan dengan sikap Zidan terhadap Septy bangkit dari duduknya.
Septy mengusap kasar air matanya.
"Tidak apa-apa. Aku memang pantas mendapatkannya." Septy berlalu dari hadapan Zidan ditemani isak tangis.
Abhizar mengubah posisi lebih dekat dengan Zidan.
"Biar bagaimanapun kamu tidak boleh memperlakukan dia seperti ini." Abhizar menghela nafas
"Baiklah, aku menyusul dia dulu. Nanti aku kembali lagi." Abhizar menepuk pundak Zidan dua kali kemudian menyusul Septy yang lebih dulu meninggalkan mereka.
Ketika Abhizar berjalan menjauh, disaat itu juga dokter Sandra muncul dari balik pintu kamar operasi.
"Loh, Abhi mau kemana, Dan?" tanyanya menunjuk Abhizar yang hanya tampak punggungnya.
Zidan melirik sekilas mamahnya.
"Abhi mengantar Septy pulang, Mah," jawab Zidan sekenanya kemudian duduk di samping Rara.
"Apa kamu pusing, Sayang?" tanya dokter Sandra khawatir, melihat Zidan menekan-nekan pelan keningnya.
"Zidan hanya capek, Mah."
"Apa kamu mau aku antar untuk istirahat?" tawar Adji, bertanya.
"Tapi kalo kamu merasa kurang enak badan, kamu bilang ke Mamah, ya?" Dokter Sandra yang duduk di dekat putranya khawatir melihat wajah pucat Zidan.
***
Di tempat lain.
Abhizar sedang di perjalanan mengantar Septy pulang ke rumahnya. Meski masih pukul 04.20 dini hari, namun jalanan kota sudah terlihat ramai kendaraan.
Ditengah menunggu lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, Abhizar menyempatkan melirik Septy yang menatap ke luar jendela.
"Sebenarnya, kesalahan fatal apa yang pernah kamu lakukan, hingga Zidan sangat membencimu?" gumamnya membatin.
Karena rasa ingin tahunya yang membuncah, ia pun mencoba bertanya.
"Maaf sebelumnya kalo aku lancang." Septy yang larut dalam lamunannya tidak mendengar ucapan Abhizar.
"Septy?"
"Eh, iya?" Septy menoleh ke Abhizar.
"Kenapa?" tanya Septy kemudian menatap kendaraan yang ada di depan mobil Abhizar.
"Itu, sebelumnya aku minta maaf kalo aku sudah lancang. Aku mau tanya. Kenapa Zidan terlihat sangat tidak menyukaimu? Apa kamu ada salah sama dia? Atau sama Anan?" tanya Abhizar, hati-hati.
Septy tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Abhizar.
"Ya. Aku memang bersalah. Dan aku pantas diperlakukan seperti ini." Septy menghela nafas.
"Dulu aku sering merundung Anan. Bahkan mencelakainya. Dan itu semua aku lakukan karena aku iri sama dia."
__ADS_1
Abhizar menyimak seraya melajukan kendaraannya sebab lampu lalu lintas tidak lagi berwarna merah.
"Aku merasa, apa yang seharusnya jadi milikku, selalu dirampas olehnya. Sehingga aku selalu berniat untuk melenyapkannya."
Abhizar mengangkat sebelah alisnya seraya melirik sepintas Septy.
"Tapi kemudian aku sadar. Bahwa apapun yang aku lakukan. Sekeras apapun aku berusaha, apa yang tidak ditakdirkan untukku tidak akan menjadi milikku. Dan semakin aku melakukan tindakan bodoh, dampaknya akan selalu mengikutiku." Manik Septy mulai berembun.
"Dan sekarang, kamu mungkin juga tidak percaya padaku. Bahwa apa yang menimpa Anan kali ini tidak ada kaitannya denganku. Aku sama sekali tidak mencelakai Anan." Embun di mata Septy pun meleleh membasahi pipinya.
Abhizar pun merasa iba mendengar Septy kembali terisak.
"Aku percaya padamu." Septy menoleh. Tak percaya akan ada yang memihaknya.
"Benarkah? Kamu percaya padaku?" Abhizar mengangguk seraya tersenyum.
"Jadi kamu tidak perlu bersedih lagi." Abhizar mengusap kepala Septy.
Septy tertunduk dan semakin terisak. Membuat Abhizar mengkerutkan keningnya.
"Sebenarnya aku tau siapa pelakunya."
Abhizar mendadak menghentikan laju mobilnya.
"Kamu tau siapa dalang yang menculik Anan?" Septy mengangguk pelan.
Lalu Septy pun menceritakan semua yang ia ketahui. Mulai dari awal mula pertemanannya dengan Lexa, ia disuruh oleh Lexa untuk memaksa Anan datang ke acara ulang tahun Wima Group, sampai apa yang didengarnya sewaktu berada di parkiran restoran tempat ia dan Lexa makan bersama.
"Jadi Lexa sebenarnya calon tunangan Arya?"
"Iya. Tapi karena pak Arya punya dendam pribadi terhadap Anan. Pak Arya pun berpura-pura ingin bertunangan dengan Anan agar dapat menjalankan rencananya untuk mempermalukan Anan di depan semua tamu undangan."
"Bagaimana dengan penculikan Anan? Apa ini ada hubungannya dengan Arya?" tanya Abhizar yang telah diselimuti amarah.
"Aku pun tidak tau." Septy berpikir sejenak.
"Tapi, kalo berdasarkan pembicaraan Lexa dengan para komplotannya di parkiran restoran waktu itu, bisa jadi pak Arya sendiri tidak tau tentang penculikan Anan. Seakan Anan akan menjadi momok bagi hubungannya dengan pak Arya, Lexa pun memanfaatkan keadaan Anan yang memang sedang lemah untuk menculiknya. Jadi pak Arya tidak mungkin tau. Karena Lexa dengan segala kelicikannya tidak akan mungkin menampakkannya di hadapan orang yang dia sukai."
Abhizar mengangguk-angguk menatap jauh ke depan.
"Aku mengerti." Abhizar kembali melajukan kendaraannya membelah jalanan kota yang tidak pernah sepi itu.
"Dasar Arya!" gumamnya membatin.
"Apa yang kamu mengerti?" tanya Septy, menyipitkan maniknya.
"Intinya kamu tidak terlibat. Dan kalo dibutuhkan, kamu harus siap untuk memberi kesaksian. Kamu mau 'kan, bersaksi untuk Anan?"
"Tentu. Aku pasti bersedia," ujar Septy, semangat.
"Bagus!"
Terima kasih selalu setia menunggu up dari author. Jangan pernah bosan tuk selalu dukung author. Sebab author sayang kalian 😘😘😘
Salam sehat selalu.
__ADS_1