Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 37


__ADS_3

"Mamah harap kamu bisa berubah sayang. Contohlah Anan, tidak hanya cantik, tapi dia juga baik dan pemaaf," ucap Santi seraya mengelus pundak putrinya begitu tiba di kediaman mereka.


"Benar kata mamahmu nak. Kami hanya tidak ingin kamu mendapat masalah lagi. Kamu harus bersyukur karena temanmu itu mau memaafkan segala kesalahan yang pernah kamu lakukan padanya." Bagas, papah Septy menambahkan.


"Mah, pah, aku ini putri kalian. Kenapa kalian seolah lebih menyukai Anan daripada aku, putri kalian sendiri?"


Septy berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sampai di kamarnya, ia membaringkan tubuhnya. Dalam hati terus mengumpat dan kesal terhadap Anan.


"Baiklah, tidak masalah. Lagian, kata Lexa sebentar lagi akan ada pertunjukan menarik dan juga luar biasa." Septy menarik sebelah sudut bibirnya sambil membayangkan hal menarik yang ia nantikan terjadi.


Mungkin ada yang bertanya, kenapa Septy dan Lexa bisa berteman?


Flashback on.


"Sial! Bisa-bisanya aku kalah sama si cewek kampung itu." Lexa berjalan sambil menggerutu keluar dari butik itu.


Setelah berjalan menjauh dari butik, Lexa duduk di kursi yang memang disediakan bagi pengunjung mall yang merasa lelah setelah berjalan-jalan mengintari mall.


Lexa kembali menatap paper bag berisi dress yang terpaksa ia beli tadi. Niatnya ingin mengerjai Anan dengan sengaja menyobek dress yang sama-sama dipegangnya, malah beralih mempermalukan dirinya sendiri.


"Dasar dress sialan!" serunya seraya melemparkan paper bag itu ke sembarang arah.


"Auuhh!" pekik seseorang yang terkena paper bag tadi.


Septy yang sedang asyik duduk menikmati es krim sambil menunggu kedatangan Serli dan Yuli, menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada orang lain selain dirinya dan orang yang saat ini duduk dengan raut wajah kesal dan masam.


Ia menyimpan es krimnya, lalu meraih paper bag yang tergeletak di lantai itu, kemudian berjalan menghampiri Lexa.


"Maaf mbak, apa ini punya mbak? Tolong ya mbak, kalo ini sampah, dibuang pada tong sampah, jangan di kepala aku!" ucap Septy dengan wajah kesal.


"Ma-maaf mbak, aku tidak sengaja. Benar mbak, aku tidak sengaja. Aku minta maaf."


Lexa meraih paper bag yang dilemparnya tadi dari tangan Septy.


"Ini semua gara-gara Anan si cewek kampung itu," gumam Lexa, namun dapat didengar oleh Septy.


"Anan yang mana maksud mbak?" tanya Septy mengernyit.


Lexa menoleh ke arah Septy. "Itu, si cewek kampung."


Disaat yang sama Lexa melihat Anan berjalan beriringan dengan dokter Sandra sambil menjinjing beberapa buah paper bag.


"Itu-itu, itu orangnya!" serunya menunjuk Anan.


Septy pun mengikuti arah telunjuk Lexa.

__ADS_1


"Oo... dia."


"Kamu mengenalnya?" tanya Lexa, mengangkat kedua alisnya.


"Kenal, tapi aku tidak suka dia."


Lexa yang mendengarnya tersenyum tipis.


"Aku Lexa." Lexa mengulurkan tangannya dan disambut oleh Septy.


"Aku Septy."


"Kata orang, musuh dari musuh kita adalah teman." Lexa tersenyum ke arah Septy.


"Baiklah, kita berteman," ucap Septy yang juga tersenyum.


Septy kembali mengambil es krim yang diletakkan di tempat duduknya semula. Ia juga menelpon Serli dan Yuli agar tidak usah menyusulnya ke mall.


Setelah itu ia kembali menghampiri Lexa dan duduk bersamanya sambil menikmati sekotak es krim berdua.


Lexa menceritakan hal yang baru saja dialaminya di butik, hingga membuatnya terpaksa membeli dress yang sudah tidak layak pakai lagi. Septy yang mendengar cerita Lexa, tertawa dan meledek Lexa 'senjata makan tuan'.


Flashback off.


***


"Bagaimana caranya agar aku bisa membawa Anan ke pesta perayaan ulang tahun perusahaan?" gumamnya.


"Arya, ini laporan keuangan bulan lalu yang kamu minta." Dimas meletakkan map yang berisi lembaran kertas di dalamnya di meja kerja Arya.


Arya menoleh Dimas sekilas, kemudian kembali menatap keluar jendela.


"Apa kamu tidak pernah belajar sopan santun? Aku ini masih atasan kamu, kalo kamu lupa."


Dimas mengernyit, menatap Arya yang masih menghadap sebuah jendela besar di ruangan itu.


"Kalo kamu ada masalah, bilang ke aku. Jangan tidak fokus seperti ini. Lagian, sebelum aku masuk ke ruangan ini, aku mengetuk pintu terlebih dahulu," papar Dimas.


Arya berbalik, lalu melangkah ke tempat duduknya. Ia meraih map yang ada di atas mejanya dan membukanya.


Dimas menarik kursi yang ada di depan meja Arya, lalu duduk di sana.


"Aku tau kamu memikirkan sesuatu. Kamu boleh cerita, siapa tau aku bisa bantu."


Arya menghentikan aktivitasnya kemudian menatap sahabatnya itu. ia nampak berpikir sesuatu. Namun tidak mengatakan apa-apa ke Dimas.

__ADS_1


"Tidak. Dimas tidak boleh tau apa yang aku rencanakan. Tanpa bantuan Dimas pun, rencanaku pasti berhasil. Justru jika Dimas tau, rencanaku pasti gagal sebelum dijalankan," gumam Arya membatin.


Karena tidak mendapat sahutan dari Arya, Dimas pun berdiri dari duduknya.


"Baiklah, kalo kamu tidak memerlukan bantuanku, aku keluar dulu." Dimas berjalan meninggalkan Arya yang masih menatapnya.


Dering ponsel yang tergeletak di atas meja membuyarkan lamunan Arya.


Arya : "Iya."


Lexa : "Kamu jangan khawatir, ada seseorang yang akan membantu menjalankan rencana kita."


Arya : "Oya, siapa orangnya?"


Lexa : "Kamu tidak perlu tau siapa orangnya. Kamu cukup tau hasilnya saja."


Arya : "Terserah kamu saja."


Sambungan telpon pun terputus. Arya yang tadinya berwajah masam, kini semringah.


***


Keesokan harinya.


Atas instruksi dari Lexa, Septy hendak menemui Anan di rumah sakit.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya Santi yang melihat putrinya telah berdandan cantik dan rapi menuruni anak tangga.


"Septy mau ketemu Anan mah."


"Wah... anak mamah memang luar biasa. Mamah dukung kamu berteman dengan Anan." Santi mengembangkan senyumnya dan memeluk putri semata wayangnya itu, bangga.


"Ya udah sayang, kamu berangkatlah. Hati-hati di jalan," ucap Santi sambil melambaikan tangannya.


"Siapa juga yang mau berteman dengan si kampung Anan itu. Kalo bukan karena ingin ngerjain Anan, mana mau aku menemuinya. Buang-buang tenaga."


Septy terus bergumam sambil mengemudikan mobilnya membelah jalanan siang hari itu. Tidak lupa, Septy mampir ke toko buah yang akan ia bawa sebagai buah tangan sebagai pemanis sandiwaranya nanti.


Setibanya di rumah sakit Sandra Hospital, ia ke bagian administrasi menanyakan ruang rawat Rasmi.


Kenapa Rasmi? Bukan Anan.


Sebab Septy ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap Rasmi. Jika Anan melihat ketulusan Septy dan segala perubahan sikapnya, maka bukan tidak mungkin Anan akan luluh dan mau berteman dengannya. Dengan demikian, Septy akan lebih mudah melancarkan aksinya untuk menghancurkan Anan.


Sesampainya di depan kamar rawat Rasmi, Septy mengetuk dan mengucapkan salam. Sandiwara Septy pun dimulai.

__ADS_1


Setelah mendapat balasan salam dari dalam, Septy menyembul masuk ke ruangan itu. Namun, Septy terperangah dan berdiam diri di tempatnya melihat orang-orang yang ada di sana.


"Kenapa mereka ada di sini?" gumam Septy membatin.


__ADS_2