
"Panjang umur nih orang. Baru juga diomongin, eh... dia nongol," batin Anan.
"Siapa, Sayang?" tanya mamah Yati penasaran.
Anan yang terkesiap sama sekali tidak menjawab pertanyaan mamahnya. Ia terus menatap orang yang berdiri di hadapannya saat ini.
Karena menunggu lama dan tidak dipersilahkan masuk, Arya kembali mengetuk daun pintu yang telah dibuka oleh Anan. Anan tersentak sehingga kesadarannya pun kembali.
Benar, dialah Arya. Pria yang berpura-pura baik di depan Anan dan mamahnya. Pria yang dipenuhi oleh dendam dan sandiwara.
"Eh-eh!" kaget Anan.
"Boleh aku masuk?" minta Arya, ramah, yang diangguki Anan.
Arya pun masuk bersama dengan Dimas yang sejak tadi berdiri di belakangnya sambil menenteng sebuah paper bag berwarna hitam dengan logo brand salah satu butik ternama di kota itu.
Anan mempersilahkan Arya dan dimas duduk di sofa.
"Maaf, ada apa ya bapak kemari?" tanya Anan yang duduk di kursi kotak yang juga memiliki bantalan yang empuk.
"Apa aku tidak boleh menemui calon istriku?" tanya Arya dengan tatapan lembut membuat Anan seketika merona dan berusaha menyembunyikan wajahnya dengan sedikit menunduk.
"Tidak apa Arya, ini demi pertunjukan yang sebentar lagi akan berlangsung. Biarkan dia merona bahagia malam ini, sebab besok wajahnya akan memerah karena malu," gumam Arya membatin.
"Bukankah besok malam adalah acara perayaan ulang tahun perusahaan?" tanya Arya mengingatkan.
Anan mengangkat kepalanya.
"Tapi aku belum menyetujui permintaanmu."
Arya mengerutkan keningnya mendengar ucapan Anan.
"Apa kamu tidak ingin datang bersamaku?" tanya Arya sedikit memelas dan tentu saja hanya bersandiwara.
"Bukankah kamu ingin aku menikahimu?" tanya Arya lagi.
Anan memicingkan maniknya. Sebenarnya, ia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan terakhir Arya yang seolah Anan lah yang sangat ingin menikah dengan Arya. Tapi Anan tetap berpikir positif dan tidak mempermasalahkannya.
Anan menatap lekat Arya kemudian beralih manetap mamahnya.
Mamah Yati hanya tersenyum tipis, sebab ia pun tak tahu harus bagaimana menanggapi permintaan Arya. Namun jauh di lubuk hatinya ada perasaan kurang nyaman dengan permintaan Arya yang terkesan sedikit memaksa, menurutnya.
Anan pun tersenyum ke mamahnya dan mengangguk sekali. Lalu kembali menatap Arya.
"Baiklah. Aku akan datang ke acara itu bersamamu." Anan menyetujui permintaan Arya, berharap keputusannya ini tidak salah.
Arya meraih paper bag dari tangan Dimas.
"Ini gaun untukmu. Aku harap kamu memakainya besok malam." Arya melirik jam tangannya.
"Karena aku masih ada urusan, aku permisi dulu." Arya dan Dimas berdiri dari duduknya kemudian melangkah ke arah mamah Yati.
"Tante, terima kasih udah ngizinin Anan ikut bersamaku. Aku pamit dulu."
Mamah Yati tersenyum, namun menautkan keningnya ketika tanpa sengaja melihat seringai dari Arya. Mamah Yati merasa aneh dengan ekspresi yang ditampilkan Arya barusan.
__ADS_1
Arya berbalik menuju pintu. Dan menghilang di baliknya bersama dengan asistennya.
Mamah Yati menatap daun pintu ruangannya tanpa berkedip sedikit pun. Anan yang melihat gelagat mamahnya pun khawatir dan menghampiri mamahnya.
"Ada apa Mah?" tanyanya, membuat mamahnya sedikit terkejut.
"Mamah baik-baik saja?" tanyanya lagi, khawatir.
"Tidak. Tidak apa-apa. Mamah baik-baik saja." Mamah Yati menatap putrinya dengan tatapan sendu.
"Nan... ."
"Iya, Mah."
"Kamu sama nak Arya tidak ada masalah, kan?" Mama Yati sungguh mengkhawatirkan putrinya.
"Tidak ada Mah. Hubungan kami baik-baik saja," jawab Anan dengan kedua sudut bibirnya yang mengembang.
"Bukankah Mamah melihat sendiri. Dia sengaja datang hanya untuk memintaku menjadi pasangannya. Dan dia juga membawakanku gaun. Anan yakin, gaun itu pasti dipesan khusus."
Tampak jelas raut kebahagiaan di wajah Anan membayangkan Arya akan mengumumkan dirinya sebagai calon istri Arya. Arya adalah satu-satunya pria yang memenuhi rongga hatinya saat ini. Siapa yang tidak bahagia, bila orang yang kita cintai mengakui kita di hadapan orang banyak.
Mamah Yati pun dapat merasakan kebahagiaan yang terpancar dari kedua bola mata Anan saat ini. Hal ini membuatnya tidak tega untuk mengatakan apa yang baru saja dilihatnya.
"Nan... ."
"Iya, Mah." Anan menyentuh punggung tangan mamahnya seraya tersenyum yang memperlihatkan barisan giginya yang putih bersih.
"Mamah dari tadi nyebut nama Anan terus. Ada apa Mah?" tanya Anan bingung.
"Kamu selalu ingat kan, apa kata Mamah?" tanya mamah Yati cemas.
Anan mendekap mamahnya.
"Mamah jangan khawatir. InsyaAllah Anan akan baik-baik saja," tutur Anan tersenyum menenangkan mamahnya.
***
"Kamu tidak sedang bermain-main kan?" tanya Dimas yang sedang mengemudikan mobil menuju apartement tempat tinggalnya dan Arya, sesekali melirik Arya melalui kaca tengah.
"Maksudmu?" tanya Arya tanpa menoleh Dimas.
"Arya, besok Anan akan datang sebagai pasanganmu. Dan kamu juga telah berjanji mengumumkan pertunangan kalian. Apa om dan tante setuju kamu dan Anan bertunangan?"
Arya hanya diam menatap layar tab yang ada di tangannya.
"Aku tau bagaimana kriteria calon menantu untuk tante. Dan Anan jauh dari kriteria itu. Apa kamu hendak melawan mamimu?" lanjut Dimas.
"Kamu semakin cerewet saja. Kamu tenang saja. Aku tidak akan melawan mami," ucap Arya datar dan juga tanpa menoleh Dimas.
Dimas sekali lagi melirik Arya yang duduk di kursi belakang melalui kaca tengah kendaraan tersebut, namun tidak berkata apa-apa lagi.
***
Septy mondar-mandir di dalam kamarnya. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel Anan, namun tidak bisa. Ia bermaksud menyampaikan kepada Anan rencana jahat Lexa.
__ADS_1
"Anan susah banget sih dihubungi," gerutunya dan masih berusaha menghubungi Anan.
"Aduhhh... gimana nih." Septy duduk di tepi tempat tidurnya.
"Aku juga tidak punya nomor yang lainnya. Hufft!" Septy membaringkan tubuhnya seraya berpikir.
Tak lama, ia kembali duduk.
"Aku harus ke rumah sakit. Ya, aku harus bicara langsung padanya."
Septy pun bangkit dan berjalan menuju pintu kamarnya. Belum sempat Septy menekan gagang pintu, daun pintu kamarnya terketuk dari luar.
Tok Tok Tok
Septy membuka pintu dan tampak mamahnya sedang berdiri dengan balutan dress layaknya orang yang akan pergi ke sebuah acara.
Septy mengernyit melihat senyum tak biasa dari mamahnya.
"Mamah ngapain senyam-senyum kayak gitu?" tanya Septy.
"Hehehe... Sayang, antar Mamah ke acara tante Riska ya," minta mamah Santi memegang tangan Septy.
"Loh, bukannya Mamah ada sopir?" tanya Septy lagi.
"Mobil Mamah masih di bengkel, Sayang. Papah lembur dan Mamah harus menghadiri acara nikahan anak tante Riska. Kamu mau ya, antar Mamah."
"Ok! Tapi, Septy tidak masuk ya. Septy hanya mengantar Mamah. Dan kalo Mamah udah mau pulang, telpon Septy." Septy dan mamahnya pun berangkat menuju tempat acara.
Di perjalanan, Septy selalu kepikiran pada apa yang di dengarnya di restoran tadi sore.
Flash back on.
"Lexa, aku toilet dulu ya." Septy bangkit dari duduknya dalam sebuah restauran menuju toilet.
Hari ini, Lexa mengajak Septy bertemu di salah satu restauran. Sejujurnya, Septy malas keluar rumah. Namun Lexa memaksa.
Setelah dari toilet, Septy kembali ke meja makannya di restauran itu bersama Lexa. Tapi ia tidak menemukan sama sekali Lexa di sana. Septy mencoba menghubungi Lexa, namun Lexa berada pada panggilan lain. Ia pun menghampiri salah satu pelayan yang ada di sana dan menanyakan kemana perginya Lexa.
Berdasarkan info dari pelayan tersebut, Septy berjalan keluar gedung restauran itu. Dan tak lama Septy berjalan, samar-samar ia dapat mendengar suara Lexa yang sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel.
Semakin Septy mendekat, semakin jelas topik pembicaraan Lexa dengan lawan bicaranya.
Dan betapa terkejutnya Septy dengan apa yang barusan didengarnya. Ia menutup mulutnya seraya memelototkan matanya. Ia tak percaya Lexa akan berbuat senekat itu.
Tanpa menunggu Lexa, Septy menuju parkiran di mana mobilnya berada, dan mengendarainya pulang ke rumah.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Like dan komen kalian, penyemangat buatku.
__ADS_1
Luv U Allπππ