Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 50


__ADS_3

[ Vote, Vote, Vote ]


"Anan, kemarilah!" Arya memanggil Anan melalui mikrofon di aras podium.


Semua mata menoleh mengikuti arah pandang Arya.


Dengan hati yang bimbang, Anan berdiri dari duduknya. Ia berusaha menutupi keterkejutannya yang disebabkan oleh Arya.


Ia melangkah dengan hati-hati. Sesekali ia mengalihkan pandangannya ke arah sekelilingnya tanpa jelas menatap siapa. Karena memang, ia tidak mengenal siapa-siapa di sana.


Senyum ia sematkan di wajah cantiknya guna menutupi kegugupannya. Sampai ia menginjakkan kaki di atas podium, berdiri di samping Arya.


Ia benar-benar gugup. Tangannya sedikit gemetar dan berkeringat dingin. Namun ia tetap berusaha agar tidak mempermalukan Arya.


Bagaimanapun juga, ini adalah kali pertama baginya. Berdiri di hadapan para pemilik kerajaan bisnis yang bahkan mendunia, kalangan elit yang penuh dengan kata 'glamor'.


Setiap pasang mata terfokus pada Anan dan Arya yang saat ini berada di atas podium. Para tamu undangan bertanya-tanya tak terkecuali kedua orangtua Arya.


"Loh, Pih! Untuk apa Arya memanggil cewek kampung itu ke atas podium?" tanya mamih Clara. Namun papih Wijaya hanya mengangkat bahunya, tak tahu.


*****


Diwaktu yang sama, di tempat yang berbeda.


Zidan buru-buru memasang tuxedo ke badannya. Ketika ia sedang mengikat dasi, ponsel yang ia letakkan di atas tempat tidur, berdering.


Ia melirik ponselnya sambil memasang dasi di kerah kemejanya dan menampilkan 'Abhizar calling' pada layar ponselnya.


"Iya, Abhi?"


"Apa kamu sudah sampai?"


"Aku masih di rumah. Kamu di mana?"


"Aku baru saja mau jalan."


"Ok. Kita bertemu di tempat pesta."


Lalu keduanya mengakhiri obrolan mereka.


Zidan berjalan agak cepat menuruni anak tangga. Tiba-tiba...


"Zidan!" panggil dokter Sandra yang baru saja keluar dari arah dapur.


"Iya, Mah," sahut Zidan, menoleh ke sumber suara.


"Kamu udah mau berangkat?" tanya dokter Sandra dengan ponsel di tangan kirinya.


"Iya, Mah. Aku udah janjian ketemu Abhi di tempat acara. Ada apa, Mah?" Zidan mengernyit menatap mamahnya yang terlihat khawatir.

__ADS_1


"Itu... Mamah baru saja menelpon ke nomor Anan. Yang angkat tante Ranti, sedangkan mamah Yati sedang istirahat. Katanya, Anan lupa bawa hp dan sekarang sedang menghadiri acara ulang tahun Wima Group. Artinya, kamu dan Anan akan bertemu di sana," jelas dokter Sandra, khawatir.


Zidan mengangkat alisnya mendengarkan penjelasan dari mamahnya.


"Tapi entah kenapa... perasaan Mamah tidak enak. Sejak tadi Mamah kepikiran terus sama Anan. Firasat Mamah seolah berkata kalo sesuatu yang buruk akan terjadi pada Anan. Mamah tidak bisa tenang," lanjut dokter Sandra.


Zidan meraih tangan mamahnya.


"Mamah yang tenang ya. Kalo memang Anan juga ada di tempat acara, aku akan memastikan Anan akan baik-baik saja," tutur Zidan mengusap punggung tangan Mamahnya.


"Mamah tidak usah khawatir. Doakan Anan baik-baik saja," imbuhnya memeluk dokter Sandra kemudian pamit.


Baru saja Zidan hendak melangkah keluar rumah, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Halo, Pah," sapa Zidan melalui telepon genggamnya.


"Kamu baik-baik saja 'kan, Nak?" tanya papah Zidan cemas.


"Zidan baik-baik saja, Pah. Ada apa?" Zidan merasa aneh. Baru kali ini papahnya terdengar sangat merisaukan sesuatu.


"Syukurlah, kalo kamu baik-baik saja."


Zidan tak bergeming. Ia masih merasa aneh dengan apa yang dilakukan papahnya.


"Ya sudah, Papah tutup dulu."


Dokter Sandra yang sedang duduk di sofa ruang keluarga setelah berbicara dengan Zidan, bangkit dari duduknya sekedar mengecek Zidan. Sebab sudah beberapa menit berlalu, namun ia belum juga mendengar deru mesin mobil Zidan yang seharusnya berlalu dari sana. Dan samar-samar dokter Sandra mendengar suara Zidan.


"Zidan?"


Zidan terlonjak ditepuk oleh mamahnya di bagian punggung. Sehingga Zidan tersadar dari lamunannya.


"Kamu kenapa? Tadi bicara dengan siapa?" Dokter Sandra mengangkat alisnya mananti jawaban dari Zidan.


"Hm... tadi aku bicara dengan papah," jawab Zidan.


"Apa kata papah?" tanya dokter Sandra lagi, ingin tahu.


"Apa aku harus ngomong ke mamah kalo papah aneh hari ini? Sangat jelas kalo papah mengkhawatirkan sesuatu. Setelah sekian lama, baru kali ini papah terdengar sangat cemas. Meskipun aku tidak melihatnya, tapi aku bisa membayangkan begaimana raut wajah khawatir papah saat ini. Tunggu dulu... bukankah mamah juga merasakan hal yang sama? Hanya saja mamah lebih jelas bahwa mamah khawatir sama Anan. Apa jangan-jangan semua ini memang berkaitan dengan Anan? Tapi... bukannya papah tidak kenal sama Anan? Benar-benar aneh!" Zidan membatin, bingung.


"Zidan?" Dokter Sandra melambaikan tangannya di depan wajah Zidan.


"E-eh... ." Zidan lagi-lagi terkaget oleh panggilan mamahnya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya dokter Sandra mengkerutkan keningnya.


"Tidak, Mah. Zidan tidak apa-apa. Papah cuma menanyakan kabarku saja, Mah."


Jawaban Zidan membuat dokter Sandra membulatkan mulutnya seraya manggut-manggut.

__ADS_1


"Ya udah, Mah. Zidan berangkat dulu."


"Iya, Sayang. Hati-hati. Jangan lupa telpon Mamah kalo udah ketemu Anan. Mamah ingin bicara dengannya."


Zidan mengangguk lalu berbalik menuju halaman rumah di mana kendaraan baja beroda empatnya terparkir.


Sepanjang perjalanan, Zidan tiada hentinya memikirkan kejanggalan yang ada. Mulai dari mamahnya yang mengkhawatirkan Anan, papahnya yang terdengar risau akan sesuatu dan tumben menanyakan keadaannya, dan dirinya sendiri yang merasa kangen ingin melihat Anan.


"Semoga semuanya baik-baik saja," gumamnya berharap, membayangkan senyum di wajah Anan.


***


Di pesta.


Arya menyeringai tipis.


"Para hadirin, mohon perhatiannya!" Arya kembali mulai bersuara.


Semua yang ada di sana benar-benar memfokuskan perhatian mereka kepada Arya.


"Ya Allah, aku sungguh gugup. Apa harus sekarang pak Arya mengumumkannya?" gumam Anan membatin.


"Tuhan... apa yang akan terjadi? Aku takut dengan apa yang aku dengar kemarin. Aku harus segera memberitahukan Anan agar rencana Lexa tidak berhasil," batin Septy, mencemaskan Anan.


Dimas yang berdiri tidak jauh dari podium tak sengaja melihat seringaian di wajah Arya.


"Ada apa dengan senyumnya itu? Sepertinya ada yang tidak beres," gumamnya dalam hati sambil terus menatap Arya.


"Kalian pasti asing dengan wanita yang ada di samping aku ini."


Arya menoleh ke Anan.


"Dia adalah salah satu dari mahasiswi yang pernah aku bimbing di kampus.


Lexa menatap sinis ke Anan yang berdiri dengan tersenyum di samping Arya.


"Bagus! Tersenyumlah, tersenyumlah sepuasmu, karena sebentar lagi senyummu itu berubah jadi sedih dan penyesalan."


Lexa membatin dengan tatapan puas. Sebentar lagi rencana yang telah disusun rapi terlaksana.


"Hmm... Lexa, aku ke Ammar dulu," pamit Septy menunjuk Ammar yang duduk tak jauh dari pintu utama.


Lexa melirik Septy dan mengangguk.


"Namanya Ananda Larasathi. Dia gadis kampung yang hijrah ke kota." Arya melanjutkan ucapnya.


Seketika Anan menoleh. Senyum yang sedari tadi terpancar di wajahnya, mendadak redup. Ia mencoba menyela untuk bertanya namun tak diberi kesempatan.


Tbc.....

__ADS_1


__ADS_2