Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 68


__ADS_3

Lagi-lagi dokter tersebut mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari Zidan. Zidan menarik kerah kemejanya dan mencengkeramnya kuat.


Tampak sekali rasa takut di wajah dokter tersebut. Ia kembali teringat dengan kejadian di ruang operasi minggu lalu. Dan tentu saja ia tidak mau hal serupa menimpa dirinya untuk yang kedua kalinya.


"Ada apa ini, Dokter? Kenapa.... ." Kalimat tanya yang akan dilayangkan Zidan terpotong. Ia sungguh tidak tega untuk menyebutkannya. Ia tidak mau Anan sedih mengetahui keadaannya. Zidan bingung harus bagaimana menanyakannya.


"Tu-Tuan... ."


"Berhenti, Zidan! Lepaskan dokter itu!" Adji melerai hingga tangan Zidan melepaskan cengkramannya.


"Dokter, Dokter pasti mengerti dengan situasi saat ini. Apa yang terjadi, Dokter?" tanya Adji.


Belum sempat dokter itu menjawab, dari arah pintu dokter Sandra masuk bersama Atika.


Dokter Sandra heran dengan keadaan yang dilihatnya di ruangan itu. Ada ketegangan dan kesedihan di sana. Namun, ia tidak begitu menghiraukannya. Ia tetap melangkah mendekati Anan. Ia sangat bahagia karena Anan telah bangun dari tidur panjangnya.


"Sayang, kamu sudah bangun. Mamah senang sekali, akhirnya kamu bangun juga." Dokter Sandra membelai kepala Anan dan mengecup keningnya.


"Mah... Mamah Sandra... ."


Disaat yang sama, Salma, Rara, dan Rasmi, menangis. Bukan karena perkataan Anan yang membuat mereka meneteskan air mata, tapi reaksi Anan yang meraba wajah dokter Sandra yang seolah mengisyaratkan dengan siapa ia berbicara. Ternyata apa yang mereka takutkan terjadi. Anan benar-benar tidak bisa melihat mereka.


Apakah Anan mengalami kebutaan?


Dokter Sandra menoleh ke dokter yang berdiri di ujung brankar Anan.


"Dokter, bisa kita bicara di ruangan saya?" minta dokter Sandra.


"Tunggu, Mah!" cegat Anan.


Dokter Sandra yang hendak beranjak, kembali menatap Anan.


"Tadi aku bertanya, tapi belum ada yang menjawabnya."


"Kamu tanyakan sama Mamah saja." Dokter Sandra memperbaiki letak selimut Anan.


"Emang, kamu nanya apa, Sayang? Dokter Sandra tersenyum seraya mengusap pipi Anan.


"Apa di rumah sakit Mamah ini sedang mati lampu?"


Dokter Sandra terkesiap, ia mendadak tak mampu berkata apapun. Matanya berkaca-kaca. Namun berusaha untuk tegar.


"Mah?... Mamah kenapa diam?"


Dokter Sandra menoleh ke Zidan dan lainnya. Ia sungguh bingung harus bagaimana. Lalu kembali menatap putranya. Zidan menggeleng pelan, sebagai isyarat lebih baik jangan memberitahukan Anan keadaan sebenarnya.


Dokter Sandra tersenyum masam kemudian mengangguk sekali tanda setuju.


"Wah... kamu tau aja, Sayang, kalo sekarang lagi mati lampu. Tidak apa ya, sebentar lagi teknisinya datang kok." Tanpa sadar, disaat tersenyum, air mata dokter Sandra telah meleleh membasahi pipinya.


Sedang Salma dan Rara saling memeluk satu sama lain dengan diiringi air mata. Begitu pula dengan Rasmi dan Atika.

__ADS_1


Bagaimana dengan Zidan dan Adji?


Zidan beranjak meninggalkan ruangan itu dengan amarah dan kesedihan. Melihat Zidan pergi, dokter Sandra memberi kode ke Adji agar mengikuti Zidan.


Saat ini.


Septy dan kedua orangtuanya keluar dari lift. Diwaktu yang sama, dokter Sandra dan lainnya keluar dari ruang ICU. Mereka membiarkan Anan beristirahat.


Septy berlari kecil menghampiri mereka.


"Aku dengar dari Atika, Anan sudah sadar. Terus, gimana kondisinya sekarang?"


Ya, Atika yang berinisiatif menghubungi Septy via chat dan mengabarkan bahwa Anan telah siuman.


Mereka bergeming, sampai akhirnya, "Kalian ngobrollah, Tante ke ruangan Tante dulu," tutur dokter Sandra.


"Pak Bagas, Jeng Santi, aku ke ruanganku dulu, ada yang harus kukerjakan. Permisi." Pak Bagas dan mamah Santi mempersilakan. Dokter Sandra pun berlalu bersama dokter yang menangani Anan.


"Septy, Papah dan Mamah ada urusan, nanti kami kembali ke sini untuk menjemput kamu," ucap pak Bagas.


"Kamu baik-baik ya, Sayang. Mamah sama papah berangkat dulu." Mamah Santi menyelipkan anak rambut putrinya ke belakang telinganya.


"Tante titip Septy, ya."


"Iya, Tante," sahut Rara, mewakili.


"Oh iya, bagaimana keadaan Anan?" tanya Septy, sepeninggal orangtuanya.


"Em... kak, Rasmi tidak ikut ya. Rasmi mau jenguk mamah Yati."


"Baiklah, tapi jangan bilang apa-apa dulu," minta Salma.


"Baik, Kak. Atika, ayo!"


"Loh, kok ngajak Atika, sih. Atika kan pingin makan di kantin, Kak," rengek Atika, tidak terima.


"Udah, nanti Kakak beliin," iming Rasmi.


Dan Atika pun setuju.


Di kantin rumah sakit.


Salma dan Rara membeberkan kondisi Anan saat ini kepada Septy.


"Astagfirullah, kenapa bisa begitu." Septy pun kaget mengetahui kemalangan yang menimpa Anan. Ia tidak menyangka insiden maut yang dialami Anan berefek pada penglihatannya.


"Lalu, sampai kapan kita bisa menutupi ini dari Anan? Aku kira, kita pasti tidak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama."


Rara pun membenarkan perkataan Septy.


"Kita ikuti saja apa yang diinstruksikan tante Sandra. Aku yakin tante Sandra tau mana yang terbaik untuk Anan," tuturnya.

__ADS_1


"Iya, lebih baik kita berdoa, semoga mata Anan bisa melihat lagi seperti sedia kala, amin." Rara dan Septy pun ikut mengaminkan.


Di sebuah taman yang ada di rumah sakit Sandra Hospital, Zidan duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana. Zidan duduk dengan kedua tangannya menyatu dan menumpu dagunya. Pikirannya melayang, memikirkan masa depan Anan dengan kondisinya yang saat ini. Ia terus menatap ke depan dan mengabaikan kehadiran Adji di sisinya.


"Berhentilah memasang tampang seperti itu! Kamu seperti ini pun tidak akan mengubah keadaan. Mending kita pikirkan bagaimana cara kita menghibur Anan kalo sampai Anan tau keadaannya yang sebenarnya."


Zidan belum bereaksi apa-apa untuk menanggapi Adji.


"Lagian, aku yakin tante Sandra pasti tidak akan diam melihat kondisi Anan. Bukankah kalian sudah seperti saudara kandung?! Jadi sudah dipastikan tante Sandra akan mati-matian berusaha mengembalikan penglihatan Anan."


"Tapi aku tidak tahan melihat kesedihan di wajah Anan, Dji." Akhirnya, Zidan menanggapi juga.


"Meskipun kita harus menutupi keadaan yang sebenarnya, tapi aku tidak bisa terus berpura-pura tersenyum di depannya."


Zidan menghela nafas panjang.


"Kau tau seperti apa rasanya? Rasanya seperti meneteskan air garam pada luka yang terbuka. Perih, sangat perih," ucapnya lalu menunduk.


Adji mendudukkan badannya di bangku yang sama.


"Iya, aku mengerti." Adji menepuk pundak Zidan.


"Ada baiknya kita menunggu hasil dari pemeriksaan selanjutnya. Agar kita bisa mengambil tindakan yang akurat." Zidan hanya mengangguk dengan malas.


Setelah hening beberapa saat, Adji mengedarkan pandangannya. Menatap apa saja yang dapat dijangkau oleh netranya. Dan tatapannya terfokus pada seorang wanita bersama dengan seorang anak laki-laki yang berjalan dengan bergandengan tangan hendak memasuki lobby rumah sakit.


Matanya melotot ketika mengenali siapa sosok yang dilihatnya. Ia pun berdiri dan hendak meninggalkan Zidan sendiri.


"Kamu mau ke mana?" tanya Zidan, menghentikan langkah Adji.


"Aku melihat seseorang yang aku kenal." Tatapan Zidan mengikuti arah pandangan Adji.


"Maksudmu, seorang ibu yang menggandeng tangan anak laki-laki itu?" Adji mengangguk.


"Siapa mereka?" tanya Zidan, memicingkan maniknya.


"Mungkin sebentar lagi kamu akan tau," sahut Adji sembari berjalan santai meninggalkan Zidan.


"Tunggu! Aku ikut."


Mereka pun berjalan memasuki lobby rumah sakit.


🌸🌸🌸


Hayyo... tebak! Siapakah wanita yang dilihat Adji?


Komen yang banyak.


Terima kasih karena selalu mendukung author.


πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2