
"Anan?!"
Seru tuan Kendra begitu melihat Anan berjalan di hadapannya.
Zidan yang tadinya ingin membawa Anan pulang, terhalang oleh sapaan tuan Kendra.
"Ya Allah...!" batin Zidan, cemas.
Anan mengerutkan keningnya sebab ia tahu siapa pemilik suara yang baru saja memanggilnya.
"Opa Ken... ." sebutnya lirih.
"Anan, kamu masih ingat sama Opa, kan?" tanya tuan Kendra, riang.
"Opa Ken! Anan baru saja teringat sama Opa. Malah, Anan berencana setelah dari sini, Anan akan ke taman. Berharap bisa bertemu dengan Opa. Ternyata, ketemunya di sini," jelas Anan, yang juga senang bertemu dengan tuan Kendra.
"Ngomong-ngomong, kenapa Opa ada di sini juga?" tanya Anan.
"Ini villa Opa. Jadi pastilah Opa ada di sini," sela Zidan.
"Jadi... Opa Ken, opanya Zidan?" tanya Anan, sedikit terkejut.
"Bukan opanya Zidan saja, tapi juga opa kamu, Nan." Tuan Kendra menegaskan.
"Ayo! Kita duduk sambil ngobrol," ajak tuan Kendra kepada Anan.
"Tunggu, Opa! Itu... aku masih ada urusan yang lebih penting dari pada obrolan Opa," sela Zidan.
"Ya sudah, kamu pergi saja selesaikan urusanmu. Biar Anan di sini dulu menemani Opa," ucap tuan Kendra.
"Tapi Opa, urusan ini ada kaitannya dengan Anan."
Ucapan Zidan membuat Anan mengernyit. Sebab, Anan merasa dirinya tidak mempunyai sesuatu hal untuk diurus.
Tuan Kendra menatap Zidan yang juga menatapnya sembari menggeleng pelan.
Tuan Kendra paham. Ia pun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.
"Baiklah. Kalau begitu, kita ngobrolnya lain kali saja." Dengan berat hati tuan Kendra menyetujui Zidan.
Anan merasakan gelagat aneh dari Zidan dan tuan Kendra. Sangat terasa berat helaan nafas dari tuan Kendra. Ditambah kata-kata tuan Kendra yang seolah sangat tidak ingin Anan pergi. Seakan-akan ada suatu hal yang ingin diutarakannya.
"Tapi Zidan, hari ini aku sungguh ingin bertemu dengan Opa. Aku sudah lama tidak ngobrol banyak dengan opa. Dan aku yakin, opa juga pasti ingin menceritakan banyak hal padaku." Anan menolak ikut dengan Zidan.
"Bagaimana kalau lain hari saja. Apalagi, Opa bermaksud ingin mendamaikan mamah dan papah kalian hari ini. Ini masalah orang tua, sudah sepantasnyalah kami para orang tua yang menyelesaikannya. Kalian doakan saja, semoga semua lancar, saling memahami kondisi masing-masing, dan saling memaafkan."
Penuturan tuan Kendra diaminkan oleh keduanya.
"Baiklah, Opa. Kalau begitu, Anan pamit."
Di perjalanan, Anan sesekali tersenyum kecil. Ia sungguh tak menyangka bahwa opa Ken yang ditemuinya di taman waktu itu adalah kakek kandungnya. Anan sungguh bahagia.
Ekspresi wajah Anan saat ini pun tak luput dari lirikan Zidan. Ia pun merasa senang dengan Anan yang seperti ini. Namun, senyum Zidan memudar ketika kembali melirik Anan dan tidak lagi melihat ekspresi yang sama.
__ADS_1
"Aduh! Kenapa lagi dia?" batinnya.
"Zidan!" panggil Anan agak lantang.
"Ya, kakakku yang baik hati dan tidak sombong." sahut Zidan, merayu.
"Tidak usah puji-puji. Katakan, apa urusan kita yang katamu penting itu?!"
"Ooh... ada. Sebentar lagi pasti tahu."
Anan hanya mendengus kesal mendengar jawaban Zidan.
🍒🍒🍒
Di sebuah restoran.
Sesuai dengan chat dari Abhizar, kini Arya telah duduk berseberangan dengan Abhizar.
"Katakan! Apa tujuanmu mengajakku bertemu di sini?" tanya Arya.
"Apa kamu tidak memesan sesuatu dulu?" tanya Abhizar, balik.
Arya menatap intens pria yang menanyainya saat ini. Dengan enggan, ia pun memanggil salah satu pramusaji.
Mengernyit, Arya mencermati semua menu yang terdapat dalam daftar menu yang dibacanya. Ia pun baru menyadari bahwa saat ini ia berada dalam sebuah restoran yang menyajikan masakan nusantara.
Seketika ia teringat dengan sosok Anan. Tanpa sadar ia tersenyum tipis membayangkan masakan yang pernah disajikan Anan untuknya.
"Gila! Hanya menatap daftar menu saja, raut wajahnya langsung berubah gitu," gumam Abhizar dalam hati.
Beberapa saat kemudian.
"Baiklah, karena kita sudah makan, maka aku akan menjawab pertanyaan kamu tadi."
Arya hanya menatap lekat Abhizar.
"Aku tahu kamu masih mencintai Anan. Sayangnya, Anan sudah melupakan kamu."
Kepalan tangan Arya di bawah meja menampilkan ruas tulangnya yang memutih. Namun ia berusaha tetap tenang.
"Aku tidak menyangka kalau sepupu aku yang sedingin kutub ini bisa juga jatuh cinta. Namun malangnya, gadis yang dicintainya telah membencinya akibat dari kesalahannya sendiri." Abhizar melanjutkan.
"Tidak usah basa-basi. Langsung saja, apa maksudmu?" tanya Arya.
"Aku masih belum menyerah terhadap Anan. Walau dia sudah menolakku, dan hanya menganggapku teman, tapi aku tidak akan berhenti begitu saja. Jadi, mulai detik ini kita rival," tegas Abhizar.
Arya tersenyum tipis menanggapi penegasan Abhizar.
"Baiklah, kita rival. Dan asal kamu tahu, dilihat dari segi apapun, aku masih lebih unggul dibanding kamu."
Abhizar mengerutkan keningnya.
"Aku percaya, kenangan yang dilukis menggunakan cat air atau minyak tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan menggunakan cat acrylic."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Abhizar, singkat.
"Aku yakin, meskipun kamu sudah berbulan-bulan berteman dengan Anan, Anan pasti belum pernah memasak khusus buat kamu."
Perkataan Arya membuat Abhizar menatapnya tajam.
"Belum pernah bukan berarti tidak akan pernah. Dan sesuatu yang pernah ada, tidak akan ada selamanya," timpalnya.
"Terserah apa katamu," sahut Arya sembari memalingkan wajahnya ke arah pintu masuk.
Deg!
Gadis yang jadi topik perbincangannya terlihat di ambang pintu. Meskipun digandeng oleh Zidan, ia sama sekali tidak cemburu. Sebab ia tahu hubungan keduanya. Berbeda dengan Abhizar yang hanya mengetahui Zidan menganggap Anan sebagai saudara.
Awalnya, Arya pun tidak percaya bahwa Anan dan Zidan bersaudara kandung. Namun bukti yang dikumpulkan Dimas memperjelas segalanya.
Abhizar memicingkan maniknya tatkala melihat sekilas senyum di bibir Arya. Ia pun mengikuti ke mana arah pandang Arya.
"Mungkin kamu lupa, kalau aku punya seseorang yang bisa mendekatkanku dengan Anan."
Sontak Arya mengarahkan wajahnya ke Abhizar. Ia tahu, dalam hal ini ia tak kuasa untuk menampik.
"Aku memang tidak berkawan dengannya, namun waktu akan menjadikan kami keluarga."
Abhizar kesal mendengar setiap sanggahan Arya. Ia kemudian bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah meja Anan dan Zidan.
Arya tidak menyangkal bahwa perasaannya saat ini tidak senang melihat Abhizar dekat dengan Anan dan Zidan. Tapi ia tetaplah Arya yang selalu bersikap tenang dan logis. Ia tidak mau gegabah dalam bertindak. Pengalaman yang lalu sudah cukup menjadi pelajaran. Sungguh kali ini ia sangat berhati-hati. Sesulit apapun, ia akan tetap memperjuangkan perasaannya terhadap Anan.
Arya menghela nafas panjang kemudian meninggalkan meja tempat ia makan tadi.
"Hai, Bro. Hai, Nan!" sapa Abhizar.
Anan hanya tersenyum menanggapi sapaan Abhizar.
"Sudah makan?" tanya Zidan ke Abhizar.
"Sudah. Baru saja," jawab Abhizar.
"Sendiri saja?" tanya Zidan, lagi.
"Tidak. Tadi dengan... Arya." Abhizar ragu menyebutkan nama Arya di depan Anan. Entah mengapa, menyebut nama Arya di hadapan Anan membuatnya sangat tidak nyaman.
"Pantas saja, sejak tadi aku merasa ada yang memperhatikanku," batin Anan.
"Jadi, apa urusan kita yang penting itu, Zidan?" tanya Anan.
"Ya... ini." Zidan menunjuk daftar menu yang ada di depannya.
"Kita makan di tempat favorit kamu," lanjut Zidan.
Anan semakin kesal dibuatnya.
Tbc...
__ADS_1