
Saat ini, Zidan dan Adji berada di kantor polisi. Pihak polisi ingin menyampaikan hasil olah TKP yang telah diperoleh. Idham tidak bisa ikut mereka, karena harus praktik.
Apa yang disampaikan oleh pihak polisi, benar-benar membakar emosi Zidan dan Adji. Betapa tidak, kecelakaan dilakukan atas unsur kesengajaan. Dan salah satu pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan saat itu, melihat jelas kejadiannya. Termasuk kendaraan si pelaku.
"Aku mau si pelaku dihukum seberat-beratnya," ujar Zidan kepada salah satu polisi yang ada di sana.
"Bapak tenang saja, bawahan saya sedang mengarah ke alamat yang dimaksud. Kami pasti menindak lanjuti kasus ini sesuai hukum yang berlaku di negara ini," kata pak polisi yang berpangkat AKP tersebut.
Setelah pamit undur diri, Zidan dan Adji pun kembali munuju rumah sakit.
"Sebaiknya kamu jangan memberitahukan Anan tentang pelaku tabrak larinya."
"Kenapa?" tanya Zidan melirik sekilas Adji, lalu kembali fokus mengemudi.
"Sebab, sebenci-bencinya Anan terhadap seseorang, ia tidak akan membiarkan seseorang itu berada dalam keterpurukan. Dan soal maaf memaafkan, ia pasti dengan tulus memaafkan siapa pun, tanpa orang itu meminta," papar Adji.
Adji mengalihkan pandangannya keluar jendela. Pikirannya kacau. Sifat Anan yang pemaaf inilah yang selama bersahabat dengannya selalu membuatnya khawatir. Ia tidak ingin ada yang memanfaatkan kebaikan Anan. Ia selalu membatasi pergaulan Anan, tak peduli jika ia harus digelar posesif oleh Rara dan Salma. Karena ini semua demi kebaikan Anan, pikirnya.
Anan telah dipindahkan ke ruangan yang sama dengan mamahnya sesuai permintaan sang mamah yang tak mau jauh dari sang putri. Sedangkan Rasmi dipindahkan ke ruang ICU, menunggu sampai Rasmi siuman dan kondisinya sesuai dengan yang diharapkan.
Tante Ranti menjaga Rasmi di dalam ruangan itu. Ia terus saja menatap wajah pucat dan penuh luka akibat kecelakaan anaknya itu.
Sesekali ia mencium kening Rasmi dan membisikkan lafalan Ayat kursi dan Alfatihah, serta surah-surah lainnya yang ia ketahui di telinga Rasmi.
"Tante, sebaiknya tante istirahat saja dulu," ucap Atika setelah berada di ruangan itu.
"Tante tidak capek Tik. Tante ingin di sini sampai Rasmi sadar," ujar tante Ranti tanpa menoleh ke Atika.
Wajahnya sendu, sorot matanya redup, bak tak bercahaya. Untaian kalimat yang keluar dari bibirnya pun seolah tidak bertenaga. Ya, sejak mendengar Rasmi mengalami cedera traumatic di bagian kepala, ia mendadak lemas, seakan tubuhnya tak bertulang. Ia selalu terbayang dengan kecelakaan yang menimpa suaminya, ayah dari Rasmi, 2 tahun lalu yang mengharuskannya menyandang status janda saat itu juga.
"Tapi tante harus makan. Jam makan siang sudah lewat beberapa menit yang lalu. Jadi tante makan dulu ya," bujuk Atika.
Tante Ranti hanya menggeleng lemah.
"Atau tante mau minum?" Atika menyodorkan sebotol air mineral setelah mendapat anggukan dari tante Ranti.
Tante Ranti meneguk air mineral itu sedikit demi sedikit.
"Tante juga harus jaga kesehatan. Tante tidak mau kan, begitu kak Rasmi sadar, tante malah jatuh sakit." Atika meraih botol air meneral dari tangan tante Ranti, lalu menyimpannya di atas lemari kecil yang ada di ruangan itu.
"Tante baik-baik saja Tik, kamu saja yang istirahat, biar tante yang jaga kakakmu."
Atika menghela nafas. Ia sangat sedih melihat keadaan tante Ranti. Ia juga bingung, bagaimana cara membujuk tante Ranti.
Begitu kembali ke rumah sakit, Zidan dan Adji menuju ruang ICU dimana Rasmi terbaring tak sadarkan diri.
"Apa ada perkembangan Tik?" Zidan duduk di kursi yang sama dengan Atika.
Atika menggeleng lalu menatap Zidan.
"Kak, aku khawatir sama kak Rasmi. Tapi aku juga mengkhawatirkan tante Ranti."
Zidan mengernyit, bingung dengan ucapan Atika.
"Memang, ada apa dengan tante Ranti?" tanya Zidan yang juga menatap Atika.
"Kakak bantu aku ya. Bujukin tante biar mau makan. Ini sudah lewat jam makan siang, tapi tante belum juga makan. Aku khawatir sama kesehatan tante," minta Atika memelas.
__ADS_1
Zidan tampak berpikir sejenak.
"Bro, aku ke ruangan Anan dulu ya."
Zidan mengangguk dan Adji pun berlalu meninggalkan mereka di depan ruang ICU.
Lagi-lagi Zidan berpikir. Sampai pada akhirnya, "Apa makanan kesukaan tante?" tanyanya ke Atika yang saat ini memang tinggal mereka berdua di sana.
"Kalo makanan sih, hampir semua jenis makanan tante suka."
Atika pun ikut berpikir. Ia menyandarkan badannya pada sandaran kursi, tangan kirinya memegang lengan kanan atas dekat lipatan siku, dan jari jempol dan telunjuk kanannya masing-masing menyangga dagu dan menekan hidungnya. Sesekali, ia mengetuk-ngetukkan jadi telunjuknya itu di hidung mungilnya.
"Ahhaa...!" Gadis periang itu memekik pelan sambil mengangkat jari telunjuknya ke udara, duduk tegap dan tersenyum manis.
Zidan berbalik ke arahnya, mengangkat kedua alisnya.
"Apa?" tanyanya sambil mengangguk sekali.
"Tika masih kurang yakin sih kak."
"Kenapa kamu semangat gitu teriaknya, kalo masih tidak yakin?"
"Bukan tidak yakin, kak."
"Sama saja. Sama-sama tidak jelas."
"Terus Gimana dong?"
Gadis dengan rambut dicepol itu menghela nafas. Tak lama kemudian, ia mengangkat kedua sudut bibirnya karena mendapat ide agar Zidan mau membantunya tanpa membuang-buang waktu.
"Kalo aku jadi kak Zidan nih ya, aku pasti usaha. Cari tau apa makanan kesukaan calon mertuaku."
Atika merapikan rambutnya yang berantakan.
"Memang benar kok. Kakak suka kan sama kak Rasmi?"
Belum sempat Zidan mengangguk gadis itu kembali membeo.
"Apa jangan-jangan kakak cuma modus ya? Aku bilangin sama kak Anan lho, biar kakak tau rasa."
"Hustt! Kamu ini, ngomong sembarangan saja. Aku bukan cowok yang suka modusin cewek. Lagian, kalo aku bilang suka, ya itu artinya aku suka. Dasar bocah!"
Tanpa mereka sadari, sedari tadi dokter Sandra menyaksikan dan mendengar percakapan mereka.
"Seru banget obrolannya," ujar dokter Sandra mengagetkan mereka.
"Eh, mamah."
"Dokter."
"Panggil tante saja, biar lebih akrab," tutur dokter Sandra ke Atika.
"Iya tante."
"Sejak kapan mamah di sini?" tanya Zidan gugup, takut pembicaraannya didengar oleh mamahnya.
"Baru saja," jawab dokter Sandra berbohong, mengerti akan kegugupan putranya.
__ADS_1
Zidan lega mendengar jawaban mamahnya.
"Mamah udah mau pulang?"
Dokter Sandra melirik jam di tangan kirinya.
"Mungkin sebentar lagi papah tiba."
"Apa kamu mau papah turun tangan atas kasus tabrakan Anan dan Rasmi?" tanya dokter Sandra serius.
"Tidak perlu mah, Zidan dan lainnya bisa urus ini. Mamah doakan saja, semoga semuanya cepat selesai," jawab Zidan.
Ponsel dokter Sandra berdering, ia melirik sekilas ponselnya, kemudian beralih ke putranya.
"Papah pasti sudah di depan. Kalo gitu mamah pulang dulu."
"Tante pulang dulu ya," ucapnya ke Atika.
***
Di ruang perawatan Anan yang juga ruang perawatan mamahnya, Rara dan Salma sibuk menjadi perawat Anan. Ya, walaupun Anan sebenarnya agak risih diperlakukan seperti itu.
Hal ini membuat mamah Yati yang duduk di sofa, tersenyum-senyum menyaksikan kekonyolan yang mereka lakukan.
"Udah deh, aku bukan anak kecil," tolak Anan yang ditawari berbagai macam makanan oleh Rara. Sedangkan Salma sibuk memijit lengan dan kakinya, padahal Anan tidak memintanya.
"Jangan kuat-kuat!" pekik Anan, karena Salma menekannya dengan kekuatan penuh.
"Aduhhh!" pekik Anan lagi.
"Ehh Samsonwati, kamu tuli ya? Dibilangin jangan kuat-kuat, masih aja mijitnya kuat," tegur Rara.
"Tapi aku tidak bisa kalo tidak kencang nekannya," cicit Salma.
"Maaf aku lupa. Kamu kan titisan Hulk," ledek Rara.
"Lah...kamu apa? Orang dari tadi udah kenyang, dipaksa makan terus. Kamu mau Anan ikutan gendut kayak kamu? Huh!"
"Kata siapa aku gendut?"
"Aku! Jadi, yang harusnya Hulk itu, kamu."
"Kamu ngatain aku Hulk?"
"DIAAAMMM!" teriak Anan menghentikan perdebatan Rara dan Salma.
Adji yang membuka pintu, tersentak mendengar teriakan Anan.
"Ada apa sih?" Adji berjalan mendekati ketiganya.
"Urus mereka, aku mau istirahat." Anan menarik selimut, lalu memejamkan matanya.
"Kalian ini, kayak anak kecil tau tidak!" ucap Adji ke Rara dan Salma.
"Biarkan Anan istirahat, kita balik aja dulu."
Adji menghampiri mamah Yati, lalu duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Tante, kami pamit pulang dulu. Kalo ada apa-apa langsung telepon kami," kata Adji.
Mereka pamit undur diri dan meninggalkan Anan yang istirahat berdua dengan mamahnya.