
Dua jam kemudian, Anan telah menyelesaikan treatment rambut, wajah dan kukunya. Iapun berjalan beriringan dengan Eliza menemui dokter Sandra yang menunggunya di ruang santai milik Eliza.
"Wah.. Wajah kamu tampak fresh. Makin cantik!" seru dokter Sandra begitu melihat Anan.
"Makasih tante. Maaf udah buat tante menunggu lama," ucap Anan yang merasa tidak enak ke dokter Sandra.
"Tidak apa-apa sayang. Justru tante senang, karena kamu udah mau temani tante jalan hari ini. Lagi pula, selama menunggu kamu, tante bisa mengecek laporan yang belum sempat tante periksa sebelumnya. Jadi kamu jangan merasa tidak enak."
Dokter Sandra tersenyum lalu mengambil tas dan ponselnya, kemudian meminta bawahan Eliza yang tadi mengambilkan laptopnya di mobil, untuk mengembalikannya lagi ke tempat semula.
Eliza yang menyaksikan keduanya, ikut tersenyum.
"Karena ini perkenalan aku dengan si cantik, jadi semuanya free!" ucap Eliza yang melihat Sandra hendak mengeluarkan kartu kreditnya.
"Tidak apa-apa nih El?!"
"Ya tidak apa-apa dong. Lagian, Anan kan anak sahabatku." Eliza terkekeh menyahut Sandra.
"Baguslah! Kalo gitu, kami pamit dulu," ucap dokter Sandra lalu menempelkan pipi kanannya ke pipi kanan Eliza. Begitu pula dengan Anan.
"Tante Eliz orangnya juga baik ya tan?! Lihatlah, kulit wajahku jadi kenyal, glowing dan terasa ringan," kata Anan yang tiada henti memperhatikan wajahnya lewat cermin yang ia ambil dari laci mobil.
Dokter Sandra yang melirik sekilas ke Anan, tersenyum karena tingkah Anan yang menurutnya lucu.
"Tante Eliz orangnya memang baik. Tante sudah bersahabat dengannya sejak jaman SMA, karena kami bertetangga. Begitu kuliah, tante dijodohkan oleh orang tua tante dengan papahnya Zidan. Jadi tante pindah, ikut suami," ucap dokter Sandra tetap fokus menyetir.
"Jadi.. Tante dan suami tante, dijodohkan?" tanya Anan antusias dengan memiringkan badannya ke dokter Sandra.
Dokter Sandra melirik sekilas ke Anan dan terkekeh.
"Sepertinya kamu sangat bersemangat," tebak dokter Sandra sambil mencolek hidung Anan, yang merupakan area sensitif baginya yang mudah terserang flu meskipun bukan musim hujan.
"Baiklah, karena rasa penasaranmu tinggi, tante akan cerita sedikit." Dokter Sandra menghela nafas sebelum memulai ceritanya.
"Waktu itu, tante masih semester 6 di bangku kuliah. Umur tante belum 21 tahun. Masing-masing kedua orang tua kami menjodohkan kami." Dokter Sandra tersenyum tipis tapi meringis.
"Begitu tante tau dengan siapa tante akan dijodohkan, tante sangat bahagia. Karena tante memang sangat menyukai papah Zidan. Malah, mungkin tante sudah jatuh cinta pada pandangan pertama, saat orangtua tante membawa tante makan malam ke rumah orangtuanya. Disitulah awal pertemuan kami."
"Tante semakin kagum, begitu tau bahwa dia adalah lulusan terbaik luar negeri dan telah menangani beberapa proyek di perusahaan orangtuanya." Dokter Sandra kembali menghela nafas.
"Pernikahan kami pun dilaksanakan. Tapi..." Kalimat dokter Sandra menggantung.
"Tapi kenapa tante?" tanya Anan penasaran.
"Dimalam pertama kami, tante baru tau kalo ternyata, suami tante tidak mencintai tante. Dan sudah mencintai wanita lain. Dada tante sesak mengetahuinya, apalagi, tante mendengarnya langsung dari mulut suami tante sendiri"l." Dokter Sandra terisak.
Anan segera memberikan beberapa lembar tisu.
"Aduh.. Maaf tante. Kalo tante tidak kuat, tante sudahi saja. Anan tidak tega," ucap Anan mulai berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa sayang. Ini hanya cerita lama, lagi pula, tante sudah bahagia saat ini. Bersama suami dan anak tante," ucap dokter Sandra sambil menghapus bulir air matanya.
"Sejak saat itu, tante bertekad membuat suami tante jatuh cinta kepada tante. Tante meminta waktu 4 bulan untuk membuatnya jatuh cinta. Dan berkat kerja keras, kesabaran serta ketulusan tante, hanya dalam waktu 2 bulan, suami tante berkenan menerima tante."
__ADS_1
Dokter Sandra memarkirkan mobilnya di salah satu mall yang ada di kota itu.
"Jadi, apa pun yang kita hadapi, sabar, ikhlas dan pantang menyerah adalah kuncinya," ucap dokter Sandra sebelum keluar dari kendaraan roda empat tersebut.
Anan segera menghapus bulir air matanya yang sempat menetes mendengar kisah hidup dokter Sandra tadi, lalu beranjak mengikuti langkah dokter Sandra.
Sambil bergandengan tangan, mereka menyusuri mall. Layaknya ibu dan anak, mereka berjalan sambil ngobrol, tertawa kecil dan sesekali dokter Sandra membenarkan anak rambut Anan yang menutupi wajahnya.
Tibalah mereka di butik yang ada dalam mall tersebut, lalu masuk ke dalamnya.
"Ada yang bisa kami bantu nyonya?" tanya salah satu pegawai di butik itu menyapa.
"Tolong tunjukkan dress yang cocok untuknya!" ucap dokter Sandra ke pegawai butik menunjuk Anan.
"Mari ikut saya nona."
Anan pun berjalan mengikuti pegawai tadi. Sedangkan dokter Sandra ke arah etalase yang memajang tas-tas branded, sepatu dan sendal yang tentunya berharga mahal.
Pegawai itu pun menunjukkan jejeran dress yang indah dan pastinya berkelas, sebelum meninggalkannya agar lebih leluasa untuk memilih.
Sedang asyiknya memilih-milih dress yang diinginkan, Anan dikagetkan oleh calon pembeli lain yang memegang satu dress yang sama dengannya.
"He-eh!" seru Anan lalu melirik yang empunya tangan.
"Dia kan..klien yang bersama pak Arya waktu itu," batin Anan, begitu mengetahui si pemilik tangan.
"Menarik! Belum sempat aku mencarimu, kamu sudah menampakkan batang hidungmu. Tapi dia kok kelihatan beda ya, lebih cantik. Ah, bodo amat! Mau bagaimana pun, kamu tetaplah gadis kampung yang tidak tau diri. Liat aja, apa yang bisa aku lakukan padamu," Lexa membatin dengan menarik salah satu ujung bibirnya.
Tiba-tiba dress yang dipegang keduanya sobek, karena ditarik paksa oleh Lexa, dengan sengaja menarikkan kedua tangannya untuk menyobek.
Dress yang terkoyak telah dilepas oleh Lexa, sedangkan Anan masih memeganginya dengan melongo. Anan yang terperangah mengalihkan pandangannya ke Lexa.
"Mbak apa-apaan sih, kok gaunnya disobek!" pekik Lexa menuduh Anan. Sehingga pegawai yang berada di sekitar mereka, melangkah mendekati keduanya.
"Lho, bukannya mbak yang menariknya dengan paksa tadi?" timpal Anan yang kaget atas tuduhan Lexa.
"Mbak jangan asal bicara ya. Jelas-jelas gaunnya ada di tangan mbak," elak Lexa yang menatap tajam Anan.
Pegawai yang ada di sana saling memandang, bingung harus bagaimana.
"Ini gaun mahal lho mbak. Apa jangan-jangan mbak tidak punya uang ya untuk membayarnya. Ya kalo uang mbak hanya cukup untuk membeli baju-baju pasar yang diobral, mbak harusnya jangan ke sini dong. Kalo udah ngerusak gini, kan malu, tidak bisa ganti!" hina Lexa sengak dengan bersedekap dan tersemyum licik.
"Tapi aku sungguh tidak menyobeknya!" seru Anan membela diri. Kemudian mengedarkan pandangannya.
"Aku bisa membuktikan, kalo aku tidak bersalah!" ucap Anan tak gentar sedikit pun, membuat nyali Lexa sedikit menciut.
Anan lalu mendekati salah satu pegawai butik tersebut, dan meminta untuk mengecek cctv yang ada tepat di sudut atas mereka saat ini.
Lexa yang mendengar mereka akan mengecek cctv, berubah pias.
"Udahlah, kalian tidak usah memperpanjang masalah ini. Karena aku berbaik hati, biar aku yang bayar gaun yang sobek tadi," ucap Lexa menyembunyikan kegugupannya.
"Tidak bisa! Cctv harus tetap di cek, agar kita semua tau siapa yang memulai keributan ini," sergah dokter Sandra menyanggah Lexa.
__ADS_1
Dokter Sandra tiba setelah diberitahu oleh pegawai yang melihatnya datang bersama Anan. Ia yakin bahwa Anan tidak bersalah sama sekali.
"Sial! Aku yang ingin mempermalukan cewek udik ini, malah aku mempermalukan diriku sendiri. Hari ini kamu beruntung, dasar cewek udik tak tau malu!" Lexa membatin.
"Baiklah, aku minta maaf. Mungkin ini cuma kesalahpahaman saja. Iya kan mbak? Aku akan mengganti rugi atas kejadian ini," tutur Lexa yang tersenyum kecut karena malu sendiri. Beruntung, butik itu belum ramai pembeli, sebab jam 10 pagi masih tergolong terlalu pagi untuk ukuran mall.
Iapun menyambar gaun dari tangan Anan, kemudian membayarnya di kasir. Lalu beranjak dari sana dengan penuh kekesalan.
Ananpun tidak mau memperpanjang masalah ini. Namun, dokter Sandra tetap meminta pihak butik memperlihatkan rekaman cctv kejadian tersebut lalu menyalin pada ponselnya.
Pihak butikpun sangat menyayangkan kejadian ini terjadi pada butik mereka. Dan meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.
Setelah lanjut milih-milih gaun, Ananpun menentukan gaun yang cocok menurutnya. Iapun menemui dokter Sandra untuk membayarnya di kasir.
"Aku udah dapat yang cocok tante," ucap Anan menunjukkan dress yang dipilihnya.
Dokter Sandra mengernyit, "Kok cuma satu sayang?!"
Dokter Sandra kemudian beranjak dari posisinya, lalu membawa Anan kembali ke jejeran dress tempat Anan memilih tadi.
Anan terperangah menyaksikan dokter Sandra menyabet beberapa lembar gaun yang ada di sana, lalu mencocok-cocokkannya ke tubuh Anan, sebelum menyerahkannya ke kasir untuk di totalkan.
"Totalnya 75 juta rupiah nyonya," ucap kasir butik itu dengan tersenyum ramah.
"Tas, sendal dan sepatunya, sudah dihitung belum?" tanya dokter Sandra seraya menyodorkan black cardnya.
"Sudah nyonya," jawab sang kasir.
Setelah semuanya selesai, Anan dan dokter Sandra keluar dari butik itu dengan tangan yang masing-masing menjinjing paper bag.
Ketika sedang memasukkan barang belanjaan ke dalam mobil, handphone Anan berdering. Iapun langsung mengangkatnya.
"Halo, Assalamualaikum." ~Anan.
"Waalaikumsalam, kamu lagi dimana?" ~Arya.
"Aku lagi di mall pak, ada apa?" ~Anan.
"Aku berencana mengenalkanmu dengan orang tuaku. Apa kamu ada waktu malam ini?" ~Arya.
Anan berfikir sejenak.
"Bagaimana?" ~Arya.
"Baiklah." ~Anan.
"Bagus, aku jemput jam 7 malam ini." ~Arya.
Dan sambungan pun terputus.
Setelah percakapannya dengan Arya, barulah Anan masuk ke dalam mobil.
Dokter Sandra yang ingin mempertanyakan siapa yang baru saja menelpon,mengurunkan niatnya. Karena tak mau terlalu memcampuri urusan Anan. Cukup ia tahu bahwa Anan baik-baik saja.
__ADS_1