Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 102


__ADS_3

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba ingin tidur bersama Mamah?" tanya mamah Yati, tersenyum.


[ Sebenarnya aku juga bingung, mah. Entah perasaan apa yang sedang merasukiku. Yang pasti, aku ingin selalu berada di sisi mamah.]


"Bukankah Anan sudah bilang, kalau Anan kangen sama Mamah."


Tak lama, mamah Yati bangkit dan merapikan bantal di sisi kirinya


"Baringlah di sini, Nak!" ajak mamah Yati sambil menuntun Anan.


"Ketahuilah, Nak. Rasa rindu seorang ibu terhadap anaknya jauh lebih besar. Sebab disetiap derap langkah seorang ibu selalu ada ingatan yang tertuju pada anaknya."


Mamah Yati mengusap lembut rambut Anan dengan posisi miring menghadap Anan.


"Apa kamu masih ingat ucapan Mamah sewaktu Mamah dirawat di rumah sakit? Waktu itu... Mamah meminta kamu untuk tidak membenci papah kamu jika seandainya suatu hari nanti kalian bertemu. Kamu tahu kan, Sayang? Segala sesuatu terjadi bukan karena kebetulan. Akan tetapi sudah digariskan oleh Allah swt. Entah itu kepergian papah meninggalkan Mamah semenjak Mamah mengandung kamu, atau penyakit yang Mamah derita beberapa bulan lalu. Begitupun dengan apa yang terjadi pada dirimu, Nak. Semua sudah dirangkai dengan baik dalam buku kehidupan kita masing-masing."


Mamah Yati mengubah posisinya. Kini ia telah bersandar pada kepala tempat tidurnya.


"Jika suatu hari nanti Mamah dipanggil oleh yang Maha Kuasa, Mamah berharap Anan bisa menjadi sosok yang tegar menerima kenyataan."


"Mamah bicara apa!?"


Anan terkejut, lalu bangkit, dan merangkul wanita yang melahirkannya itu dari samping.


"Anan selalu berdoa agar Mamah diberi umur yang panjang. Anan ingin berbakti kepada Mamah. Anan ingin membahagiakan Mamah. Dan sampai detik ini, Anan belum bisa mewujudkan semua itu. Mamah pasti berumur panjang. Jadi, Mamah bersabar, ya? Anan akan berusaha agar bisa membahagiakan Mamah."


"Kata siapa kamu belum membahagiakan Mamah?"


Anan sedikit tersentak mendengar pertanyaan mamahnya.


"Kamu sudah membuat Mamah bahagia, Sayang. Bahkan sangat bahagia."


Mamah Yati mendaratkan kecupannya di atas kepala putrinya.


"Sungguh Mamah sangat bahagia. Apalagi saat kamu bersedia menerima papahmu tanpa menoleh masa lalu."


"Mamah salah! Karena sebenarnya, awalnya Anan juga keberatan. Tapi, setelah Anan pikir-pikir, tidak ada gunanya Anan larut dalam pikiran Anan sendiri. Masa lalu tetaplah masa lalu. Akan lebih baik jika Anan menatap masa depan saja."


"Inilah putri Mamah! Putri yang selalu membuat Mamah bangga. Mungkin kamu sudah sering mendengar kalimat ini, tapi kamu harus tahu kalau Mamah tidak pernah bosan mengucapkannya."


Mamah Yati meraih wajah Anan dengan kedua tangannya.


"Mamah sangat bersyukur kamu terlahir dari rahim Mamah."


Mamah Yati membubuhkan ciuman di jidat Anan.


"Anan juga bersyukur terlahir dari rahim Mamah. Anan sangat menyayangi Mamah. Anan akan lakukan apa saja asal bisa membuat Mamah bahagia."


"Apa saja?" tanya Mamah Yati, tersenyum.


"Iya, apa saja. Yang penting Mamah bahagia," jawab Anan, antusias.


"Ya sudah. Sekarang tidur, ya."


Anan mengangguk, lalu mengubah posisinya. Anan berbaring menghadap mamahnya dan memejamkan kedua matanya agar segera terlelap. Sedangkan mamah Yati berbaring menghadap Anan sambil membelai rambut putrinya.

__ADS_1


🍒🍒🍒


Pagi menyapa, seperti biasa burung-burung melantungkan kicauannya dengan merdu. Titik-titik embun menghiasi dedaunan. Dan mentari pagi mulai menampakkan diri berikut dengan kehangatannya. Sederhana, namun sungguh luar biasa bagi sebagian manusia yang mampu merasakannya.


Anan telah terbangun sejak subuh tadi. Ia juga sempat shalat subuh berjemaah bersama mamahnya. Namun, ada yang lain yang dirasakan olehnya sejak ia membuka mata.


[ Aku tidak tahu, perasaan apa yang menghinggapiku saat ini. Aku merasa sesuatu yang sangat berharga bagiku, menghilang begitu saja.]


Anan sibuk dengan pemikirannya sendiri, sehingga tidak menyadari kehadiran Awan yang duduk di sebelahnya.


"Kak!"


Sengaja Awan membesarkan volume suaranya, sebab yang dipanggil tidak kunjung merespon.


"Eh!"


Anan menoleh kerena terkaget.


"Kakak mikir apa, sih? Masih pagi sudah melamun," sungut Awan.


"Maaf, Kakak tidak tahu kalau kamu ada di situ."


"Ya iyalah, kak Anan tidak tahu. Kak Anan lagi sibuk menghayal!"


"Aduh, gemas aku, Dek, kalau kamu merajuk gitu. Ingin aku cubit pipi kamu, tapi Kakak tidak lihat di mana pipimu itu."


Awan dengan wajah cemberutnya, kini mengalihkan pandangannya dari Anan.


"Maaf deh...! Memang kamu mau apa?" bujuk Anan, bertanya.


Dari arah belakang tante Yani datang dan memutari meja makan, kemudian duduk di depan Anan di ruang makan tersebut.


"Iya, Nan. Daripada kamu sendirian di rumah, lebih baik kamu ikut saja sama Tante."


"Tidak usah, Tante. Anan di rumah saja. Lagi pula, di ada bi Asih."


"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi kalau ada apa-apa, segera hubungi Tante."


"Iya, Tante."


Tak lama, mamah Yati pun hadir di tengah-tengah mereka untuk menyantap sarapan buatan tante Yani dibantu bi Asih.


"Rasmi kebapa belum datang, Mah?"


Anan bertanya setelah menghabiskan makanannya. Tidak seperti biasa, jika dijam yang sama Rasmi sudah datang dan bahkan terkadang ikut sarapan bila belum sempat sarapan di rumahnya. Namun kali ini Rasmi belum muncul juga.


"Hari ini Mamah berangkat sendiri. Mamah sudah pesan taksi online. Mungkin sebentar lagi tiba."


Dan benar saja, taksi online pesanan mamah Yati kini telah berada di depan rumah.


"Kalau begitu, Anan antar Mamah sampai depan," tawar Anan.


Masih dengan perasaan yang sama, sedetik pun Anan tak mau jauh dari mamahnya.


Setelah pamit, mamah Yati bergegas menuju taksi online pesanannya.

__ADS_1


[ Ya Allah, perasaanku sungguh tidak enak. Ada apa ini? ]


Anan menghela nafas panjang namun berat.


[ Semoga semua baik-baik saja. ]


"Kenapa kamu masih di sini, Nak?"


Kedatangan tante Yani menguapkan pikiran Anan yang entah sampai kapan bertengger apik di otaknya.


"Tante sudah mau berangkat?" tanya Anan, menoleh.


"Iya, tapi Tante bawa kamu ke dalam dulu."


Begitu Anan duduk di sofa di depan tv, tante Yani mengerutkan keningnya. Seolah menangkap gelagat yang tidak biasa dari keponakannya itu.


"Kamu baik-baik saja, Nak?" tanyanya.


"Anan baik kok, Tante. Hanya saja... ."


"Hanya saja apa, Nak. Apa kamu tidak nyaman Tante tinggal berdua dengan bibi? Atau Tante batalkan saja ke toko buku hari ini?"


"Tidak, Tante. Tidak perlu. Anan tidak apa-apa di rumah."


"Tapi Tante melihat sepertinya kamu ada beban. Apa kamu kepikiran sesuatu?"


Tante Yani duduk di samping Anan, menunggu jawaban dari Anan.


Hening...


"Tante, sebenarnya Anan sendiri bingung. Ada apa dengan diri Anan. Perasaan Anan sungguh tidak nyaman. Anan merasa, ada yang hilang dari diri Anan, Tante. Anan benar-benar khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi."


Manik Anan mulai berembun.


Tante Yani merengkuh tubuh Anan yang sedikit bergetar. Tante Yani paham betul dengan perasaan ponakannya itu. Ia pun berusaha menenangkannya.


"Kamu jangan cemas, Nak. Serahkan semuanya pada Allah. Hanya Dia lah yang Maha Mengetahui. Mintalah perlindungan pada-Nya."


Kini, rengkuhan tante Yani telah terlepas. Ia meminta Anan agar jangan terlalu larut dalam pikirannya.


"Jadi, tidak apa kamu Tante tinggal?"


Tante Yani kembali bertanya ketika hendak meninggalkan Anan.


"Tidak apa, Tante," jawab Anan, tersenyum.


🍒🍒🍒🍒🍒


Kira-kira ada apa, ya?


Penasaran kan?


Nantikan kisah Anan selanjutnya, dan jangan pernah bosan ya...


Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2