Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 8


__ADS_3

Buru-buru Anan memakai pakaian dan memoles tipis wajahnya dengan make up natural. Sambil menggerutu dia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas miliknya. Segera ia memakai sepatu dan tak lupa kaca matanya, kemudian berjalan ke ruang dimana mamah Yati berada.


Sesampainya di depan ruang ICU, ia mengintip sekilas melalui kaca pintu. Ia membatalkan niatnya untuk menemui mamahnya. Bukan hanya karena ia takut telat ke kampus, tapi juga ia tak mau mengganggu istirahat mamahnya.


Ia lalu berjalan menghampiri perawat yang berjaga di depan ruang tersebut.


Ia menitipkan nomor ponselnya, "Tolong hubungi saya kalo ada apa-apa ya sus..suster Mira" mintanya melirik tag name yang terpasang pada pakaian perawat itu.


"Baik nona, panggil Mira saja" sahut perawat.


Anan mengangguk mengiyakan.


Sambil berlari kecil, Anan menuju lobi dan keluar dari rumah sakit itu. Ia kemudian menghentikan taksi yang hendak berlalu.


Anan menyelinapkan tubuhnya lalu mendudukkannya di jok belakang kemudian menyebutkan tujuannya. Sebenarnya ia sangat sayang kalau harus mengeluarkan uang untuk ongkos taksi. Ia lebih memilih naik bus atau angkutan umum lainnya kalo ia tidak bisa menggunakan motornya.


Sesekali ia melirik jam yang ada di ponselnya.


Dan entah lirikan keberapa, ponselnya tiba-tiba berdering. Hampir saja ia melepaskannya. Ia pun segera menggeser icon berwarna hijau ke arah atas tanda menerima panggilan masuk.


"Assalamualaikum.. " salam Anan.


"Kamu dimana Nan, kok belum nyampe? Eh, Waalaikumsalam.. " tanya Rara panik dengan berbisik-bisik.


"Aku masih di jalan, mungkin 15 menit lagi nyampe" jawab Anan tak kalah panik.


"Pak Arya udah dari 10 menit yang lalu masuknya. Semoga saja dia maklum. Ya udah, aku tutup ya".


Percakapan mereka pun terputus.


"Bisa lebih cepat sedikit tidak pak" minta Anan ke sopir taksi.


Sepanjang perjalanan Anan benar-benar merutuki dirinya. Kalau saja dia bangun seperti biasa, kalau saja dia tidak berlama-lama menikmati fasilitas yang ada di kamar mandi VVIP itu. Dan kalau saja dia meminta Rasmi untuk membawakan motor matic miliknya. Pastilah akan beda ceritanya.


"Hufh..!" Anan menghembuskan nafas kasar.


Ia berharap pak Arya mengizinkannya ikut belajar. Ia berharap pak Arya berbaik hati untuk hari ini.


Dan benar saja, ia tiba di kampus 15 menit kemudian. Ia berlari, kembali berlari kecil untuk segera tiba di ruangannya. Ia memelangkan langkahnya saat ruangannya semakin dekat. Ia menarik nafas dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. Dan dengan mantap ia mengetok pintu.


"Permisi pak, maaf saya terlambat" ucapnya begitu berada di ambang pintu.

__ADS_1


Arya yang pada saat itu sedang menulis di papan tulis, menghentikan aktivitas, lalu menoleh ke sumber suara. Begitu juga dengan mahasiswa dan mahasiswi yang ada dalam ruang itu. Ruangan mendadak sunyi.


Arya menutup alat tulis yang ia pakai dan meletakkannya di atas meja. Maju beberapa langkah, "Saya tidak mentolerir siapapun yang datang terlambat pada mata kuliah saya" tukasnya.


Anan tidak terima, ia pun maju, lalu berkata, "Tapi pak, saya.. "


"Silahkan keluar!" perintah Arya yang tidak mau mendengar alasan apapun.


Salma, Rara dan Adji sangat prihatin atas apa yang menimpa sahabatnya itu. Tapi mereka pun tak bisa berbuat apa-apa.


Berbeda dengan Septi, Yuli dan Serli yang justru tersenyum puas dengan kejadian ini.


Anan tidak terima dengan perlakuan Arya terhadapnya. Dengan berani dia maju dan memukul kepala Arya berulang kali dengan tas punggungnya sambil mengoceh, "Bapak tidak punya hati banget sih, harusnya bapak dengerin alasan aku dulu, bapak tidak boleh seenaknya gitu dong, aku juga udah berusaha agar datang tidak telat-telat amat pak. Andai aku tau bapak akan mengusirku, lebih baik hari ini aku tidak usah masuk mata kuliah bapak" umpatnya kesal.


Anan mundur selangkah.


Deg! Netra mereka bertemu. Anan memandangnya dengan kesal sedang Arya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Anan kemudian berbalik dan berlari meninggalkan ruangan itu tanpa mempedulikan orang-orang yang menatapnya.


Kaget, tak percaya, itu gambaran ekspresi mereka yang ada dalam ruang itu.


Arya? Jangan ditanya, ia meringis mengelus tangan yang ia pakai menahan pukulan Anan tadi.


Suasana masih hening, sampai akhirnya, "Pertemuan kali ini selesai" tegas Arya.


Kelas yang seharusnya selesai 45 menit, usai lebih awal karena adanya drama tadi.


Ia lalu meraih tasnya dan beranjak meninggalkan ruang itu.


"Dasar gadis kampung, tidak punya etika" umpat Arya kesal begitu berada dalam kendaraan miliknya.


"Kita liat saja, kamu pasti akan datang meminta maaf padaku. Dan saat itu tiba, kamu akan liat apa yang bisa aku lakukan padamu" gumamnya penuh amarah dengan mencengkram kuat kemudi mobilnya.


Ia pun meninggalkan parkiran kampus menuju perusahaan Wima Group.


***


Begitu keluar area kampus, Anan tetap berlari dan terus berlari. Semisal orang kerasukan, ia sama sekali tidak menyadari bahwa ia telah berlari beratus-ratus meter jauhnya.


Sampai pada sebuah kursi taman, ia duduk lalu menangis sejadi-jadinya, menumpahkan segalanya. Perasaannya kacau. Antara sedih, kesal, puas, juga rasa bersalah.

__ADS_1


Ia sedih, karena tidak mengikuti kuliah hari ini. Ia kesal, karena perlakuan yang diterimanya dari pak Arya. Ia puas karena bisa meluapkan kekesalannya. Namun disaat yang sama, ia juga merasa bersalah, karena telah mempermalukan seorang dosen di hadapan mahasiswanya.


"Mah..maafin Anan. Mamah pasti malu punya anak bar-bar kayak Anan" ucapnya sedih, karena merasa mamahnya pun akan menanggung malu akibat perbuatannya.


"Anan akan memperbaiki semuanya mah. Anan akan meminta maaf ke dosen Anan" gumamnya.


Ditengah kesedihannya, ia merasakan kepalanya pusing dan perutnya terasa nyeri. Ia pun tersadar kalau sejak tadi pagi ia belum sarapan.


Ia lalu menghapus air matanya, bermaksud meninggalkan kursi taman itu untuk mengisi perutnya yang kosong. Namun, baru selangkah ia melangkahkan kakinya, ia oleng.


Grep! Beruntung, ada yang menahan bobot tubuhnya agar tak jatuh ke tanah.


Setengah sadar, ia memalingkan wajahnya ke seseorang yang baru saja menolongnya. Ia lalu didudukkan oleh orang tersebut, seketika kesadarannya pun berangsur pulih.


"Kamu sakit? Aku antar ke rumah sakit" tanya orang tersebut sekaligus menawarkan diri.


"Tidak, aku tidak apa-apa" tolaknya.


"Aku hanya belum makan sejak pagi" ucapnya pelan karena malu.


Orang itu tersenyum tipis, lalu membungkukkan badannya hendak mengangkat tubuh Anan.


"Eh-eh.. kamu mau ngapain? tanya Anan panik membuat orang itu berdiri tegap kembali.


"Kamu lapar kan?" tanyanya sambil menyampirkan kedua tangannya di pinggang. Dan dijawab anggukan pelan oleh Anan.


"Ya udah, tunggu apa lagi" ujarnya bersiap untuk mengangkat tubuh Anan kembali.


"Stop! Aku bisa jalan sendiri" cegah Anan.


"Kamu duluan aja" titah Anan.


Anan pun berjalan mengikuti orang tersebut dan masuk ke dalam mobilnya.


Begitu Anan duduk di jok depan samping kemudi, Anan baru menyadari satu hal.


"Kenapa aku mau-mau aja sih ngikutin orang ini?" tanyanya membatin.


"Kalo ternyata orang ini jahat, gimana dong.." sangkanya.


Karena memperhatikan raut wajah Anan yang tidak jelas, "Tenang aja, aku bukan orang jahat kok" ucapnya, sejurus kemudian membuat Anan tenang.

__ADS_1


__ADS_2