
Adji baru saja meninggalkan area parkir rumah sakit, setelah sebelumnya menemui Anan dan Rasmi.
Sedangkan Zidan saat ini masih berada di lift. Sementara di depan pintu lift, Arya dan Dimas menunggu lift terbuka.
Di saat pintu lift terbuka, ponsel milik Zidan berdering. Ia lalu meraih gawainya itu sambil berjalan. Karena terlalu fokus pada gadgetnya, ia tidak memperhatikan bahwa orang yang bersenggolan dengannya secara tidak sengaja ketika keluar dari pintu lift, adalah Arya. Orang yang ingin diberinya pelajaran.
Dimas yang sempat melihat Zidan, kembali teringat kejadian saat mengantar Atika dan tante Ranti ke rumah sakit itu tadi siang. Ia masih bertanya-tanya, ada hubungan apa antara Anan dan Zidan. Mengingat kedekatan Zidan dengan mamah Yati.
Zidan tetap fokus pada ponselnya. Menelpon sambil berjalan sampai di parkiran. Setelah mematikan ponselnya, ia pun melajukan kendaraannya meninggalkan rumah sakit Sandra Hospital.
Arya dan Dimas telah berada di depan pintu ruang perawatan Anan, sebagaimana informasi yang mereka dapat dari perawat yang berjaga di bagian administrasi.
Dimas pun mengetuk pintu berbahan dasar kayu itu, kemudian masuk, di susul Arya di belakangnya.
Anan yang sedang duduk menyandarkan badannya pada sandaran tempat tidur sambil makan buah pear, membelalak ketika melihat siapa yang datang menemuinya. Buah yang dipegangnya hampir saja terlepas saking tak percayanya.
Ia tidak menyangka Arya akan datang menemuinya, apalagi disaat kondisinya yang sedang sakit. Dan jujur saja, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Arya.
Ia menatap Arya yang semakin mendekat dengan sebuket bunga lili yang ada di tangan kanannya.
"Apa kecelakaan dapat membuat seseorang berhalusinasi?" tanya Anan membatin sambil terus menatap Arya yang berjalan mendekatinya. Ia berpikir ini tidak nyata.
"Hai, bagaimana keadaanmu?" tanya Arya ramah setelah berada beberapa jengkal dari Anan.
Arya menyimpan buketan bunga lili itu di atas nakas di samping tempat tidur Anan. Kemudian menarik kursi untuk ia duduki di samping tempat tidur Anan.
"Ternyata bukan halusinasi. Ini benar pak Arya. Tapi untuk apa dia datang?" Anan lagi-lagi membatin.
Anan meletakkan buah pear di tangannya ke dalam piring yang ada di atas nakas. Ia juga sempat melirik bunga lili putih yang diletakkan Arya di sana.
"Seperti yang bapak lihat, aku masih bernafas," jawab Anan sarkas, membuat Arya mengernyit dan sedikit kurang percaya diri dengan kedatangannya hari ini. Ada kekhawatiran, rencananya kali ini gagal. Namun Arya tetaplah Arya, yang tak mengenal kata 'gagal'.
Dan rupanya, kalimat Anan tadi tak lepas dari ingatannya pada malam kejadian dimana Arya meninggalkannya sendiri di jalan yang sepi dan gelap itu. Dan tentunya, ia juga tidak lupa dengan Arya yang tidak mengakuinya di depan kedua orangtuanya sebagai calon tunangannya.
Dimas hanya diam saja mendengar pembicaraan keduanya. Ia Kemudian melangkah mendekati sofa, lalu menaruh parcel buah di atas meja, kemudian duduk sambil memainkan ponselnya.
Tak lama kemudian, dari arah pintu, mamah Yati masuk bersama Atika yang mendorong kursi rodanya. Ia baru saja menengok Rasmi yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan tak jauh dari kamar rawatnya.
Semua mata menatap kedatangan mamah Yati dan Atika.
"Lho, pak Dimas kok ada di sini?" tanya Atika bingung, setelah melihat keberadaan Dimas.
"Aku datang membesuk Anan," jawab Dimas
Atika membawa kursi roda mamah Yati ke dekat sofa lalu membantu mamah Yati duduk di sana. Dimas yang duduk tak jauh dari mereka pun ikut membantu.
__ADS_1
"Dan, siapa dia? Apa dia juga teman Anan?" tanya Mamah Yati yang duduk di samping Dimas sambil menunjuk Arya.
Arya berjalan menghampiri mamah Yati, lalu memperkenalkan diri. Tak lupa, dengan senyum merekah di wajahnya. Entahlah, senyumnya asli atau palsu. Hanya dia yang tahu. (Jangan lupakan author).
"Aku Arya tante, aku... ."
"Kamu yang telah membuat putri tante menangis dan sakit beberapa hari," tutur mamah Yati memotong kalimat yang akan diucapkan Arya dengan sorot mata tajam namun ada kesedihan di sana.
Arya yang tadinya mengulurkan tangannya, terpaksa menariknya kembali. Sedangkan Dimas dan Atika mengernyit, bertanya-tanya dalam hati apa yang telah terjadi diantara Anan dan Arya.
Arya berjongkok di hadapan mamah Yati. Ia lalu memegang tangan lemah itu, kemudian menengadah menatap wanita berusia 43 tahun itu.
"Aku datang dengan niat ingin meminta maaf kepada Anan dan juga tante. Aku tau, aku salah. Tolong maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Arya menghela nafas.
"Tante mau kan maafin aku?" pinta Arya bertanya.
Arya masih menggenggam tangan mamah Yati dengan tatapan memelas.
"Dua minggu yang akan datang adalah hari ulang tahun perusahaan. Aku mau mengundang Anan datang sebagai tunanganku. Sekaligus mengumumkan pertungangan kami. Aku harap tante merestui kami," papar Arya, membuat semua yang ada dalam ruangan itu terperangah.
"Apa kamu yakin tidak akan menyakiti anak tante lagi?" tanya mamah Yati dengan tatapan selidik.
"A-aku yakin tante," jawab Arya ragu.
Mamah Yati mengalihkan tatapannya ke Anan yang juga menatap ke arahnya.
"Kamu yang menentukan nak, sebab kamu yang akan menjalaninya. Mamah akan mendukung penuh apapun itu, asal itu bisa buat kamu bahagia," ujar mamah Yati lembut.
Arya berdiri lalu melangkah ke arah tempat tidur Anan.
"Bagaimana Nan, apa kamu bersedia memaafkan aku? Aku benar-benar khilaf malam itu. Tolong, maafkan aku."
Anan masih menatap tidak percaya pada Arya. Juga pada kata-katanya.
"Apa jaminannya bapak tidak menyakiti aku lagi?"
"Diri dan namaku!" jawab Arya enteng.
"Lalu bagaimana dengan calon yang ditunangkan oleh orangtua bapak?"
"Di hari ulang tahun perusahaan, juga akan aku resmikan pembatalannya, sehingga orang-orang tau, siapa yang akan menjadi istriku di masa depan."
Arya hendak memegang tangan Anan yang ia letakkan di samping badannya, namun segera Anan menarik tangannya itu.
"Baiklah, aku memaafkan bapak. Dan untuk pertunangan, sebaiknya bapak bicarakan baik-baik dengan orangtua bapak terlebih dahulu. Aku tidak mau dikecewakan lagi pak," ucap Anan.
__ADS_1
"Kalo memang orangtua bapak tidak merestui kita, aku tidak memaksa. Aku yakin, itu yang terbaik," imbuhnya.
Beberapa menit kemudian.
"Kamu yakin, akan bertunangan dengan Anan? Lalu bagaimana dengan om Wijaya dan tante Clara? Apa mereka akan merestui kamu dan Anan? Dan apa Lexa akan diam saja mengetahui pertunangan kalian? Aku yakin, tidak!" cecar Dimas begitu berada dalam perjalanan menuju apartemen mereka.
Berbeda dengan Dimas yang banyak bicara, Arya justru tidak mengeluarkan satu katapun. Ia memikirkan bagaimana cara agar ia berhasil membawa Anan ke perayaan ulang rahun perusahaan Wima Group.
Dimas melirik sekilas Arya, namun belum sempat ia fokus pada jalan, ia kembali menatap Arya yang menyeringai seolah bersuka cita dengan hasil dari Rencana yang akan dilakukannya. Membuat Dimas mengerutkan keningnya seraya membatin.
"Apakah Arya bersungguh-sungguh dengan ucapannya terhadap Anan dan mamahnya? Ahh... semoga saja... ."
"Dimas awas!! pekik Arya ketika kendaraan yang dikemudikan Dimas keluar jalur dan hampir saja menabrak trotoar.
Segera Dimas tersadar dan refleks membanting setir sehingga mobil kembali ke badan jalan, meskipun sebelumnya sempat tak mampu mengimbanginya. Beruntung petang itu jalan lagi sepi.
"Kamu ini lamunin apa sih?!" tanya Arya dengan nafas sedikit memburu karena kaget.
"Maaf, maaf."
Hanya kata maaf yang Dimas mampu ucapkan, sebab ia pun sama terkejutnya dengan Arya.
Keesokan harinya.
Kedua orangtua Septy saat ini telah berada dalam kamar rawat Anan. Kedatangan mereka bermaksud menjenguk korban dari tindak kriminal putri kesayangan mereka.
"Saya mewakili anak saya, Septy, meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada nak Anan dan korban lainnya serta keluarga. Kami akui, anak kami telah melakukan kesalahan besar. Bertindak membahayakan nyawa orang lain, tanpa berfikir panjang. Mungkin anak saya khilaf," ucap pak Bagas.
"Kata siapa anak bapak khilaf, jelas-jelas anak bapak sengaja melakukannya," sanggah Zidan yang tidak terima tindakan Septy dikategorikan khilaf.
"Dan asal bapak dan ibu tau, ini bukan pertama kalinya anak bapak dan ibu berbuat jahat kepada Anan. Anak bapak dan ibu pernah memfitnah Anan sebagai wanita panggilan hanya karena pria yang disukainya di kampus, menyukai Anan. Akibatnya, Anan hampir saja di drop out dari kampus. Bukan cuma sekali, sebelum ujian meja, anak tante lagi-lagi memfitnah sahabat kami mempunyai sugar daddy," ungkap Rara emosi.
"Sebelum kejadian kecelakaan kemarin, waktu masih kuliah, anak bapak dan ibu juga pernah hampir mencelakai Anan. Beruntung, motor Anan yang waktu itu remnya sengaja dirusak, aku yang pakai. Jadi Anan selamat dari bahaya. Setelah dicek, pelakunya adalah orang suruhan anak bapak dan ibu. Satu lagi, motor milik Anan pernah dihancurkan, dan lagi, anak bapak dan ibu pelakunya dibantu teman-temannya. Apa Anan pernah membalas anak bapak dan ibu? jawabnya tidak," ungkap Adji menambahkan.
Mamah Yati yang sejak tadi menyimak kejadian demi kejadian yang diungkap sahabat-sahabat putrinya itu, hanya mampu berurai air mata. Ia tidak pernah membayangkan, putrinya akan mendapat perlakuan serendah dan sekejam itu. Tidak hanya itu, Anan sama sekali tidak pernah memberitahukan apa yang dialaminya di luar rumah, membuat mamah Yati semakin sedih.
Kesedihan mamah Yati juga diperparah ketika ia mengingat Anan tumbuh tanpa figur seorang ayah. Paling tidak, dengan adanya sosok ayah, Anan ada yang melindungi, pikirnya. Sama seperti yang dilihatnya saat ini, yang mana pak Bagas mati-matian membela dan melindungi putrinya.
Anan memeluk mamahnya. Meskipun ia juga sedih, tapi ia berusaha untuk tidak menangis.
Sedangkan Salma sibuk menanangkan Rara yang sejak awal tidak menerima kehadiran kedua orangtua Septy.
"Tapi nak, Septy anak kami satu-satunya. Kami tidak tega melihatnya mendekam di penjara. Kami mohon kemurahan hati kalian. Tolong maafkan anak kami dan cabut tuntutan kalian terhadap putri kami. Bukankah Septy juga teman kalian?" papar mamah Santi dengan air mata yang menganak sungai.
Tiba-tiba pintu membuka dan ...
__ADS_1