Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 59


__ADS_3

Jarum jam telah menunjukkan pukul 04.54. Tante Ranti telah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Ketika ia hendak menyimpan peralatan shalatnya, ia mendengar mamah Yati memanggilnya. Tante Ranti menoleh dan segera menghampiri mamah Yati.


"Mbak butuh sesuatu?" tanyanya, setelah berada di samping tempat tidur mamah Yati.


"Ranti, bawa Mbak menemui Anan. Mbak ingin melihat putri Mbak." Netra mamah Yati mulai berkaca-kaca, memohon kepada tante Ranti.


Tante Ranti sangat kasihan melihat mamah Yati memelas padanya. Tak ada yang bisa dilakukannya selain mengabulkan permintaan dari seorang ibu yang sangat merindukan putrinya itu.


"Kalo begitu aku ke sebelah dulu ya, Mbak. Aku beritahu Atika dulu agar tidak kebingungan mencari kita."


Namun, baru saja tante Ranti akan berbalik, dari balik pintu Atika datang dengan mendorong kursi roda Rasmi.


Tante Ranti mengkerutkan keningnya menatap putri dan keponakannya itu.


"Loh, kok kamu ke sini, Sayang? Kamu harusnya istirahat." Namun tak mendapat jawaban dari Rasmi.


Ia beralih menatap Atika.


"Atika, bawa kembali kakakmu beristirahat!"


"Tidak, Mah!" tolak Rasmi.


"Rasmi mau melihat kak Anan, Mah. Rasmi mau tau kondisi kak Anan. Tolong, izinkan Rasmi, Mah." Rasmi pun memohon agar diizinkan.


"Tapi kamu juga belum sembuh betul, Nak. Kamu masih harus istirahat yang cukup." Rasmi meletakkan kedua tangannya pada roda kanan dan kiri kursi yang didudukinya. Lalu memutarnya agar dapat mengikis jarak antara dirinya dan mamahnya.


"Mah... ." Rasmi meraih tangan mamahnya yang masih berdiri di samping tempat tidur mamah Yati.


"Kak Anan sudah seperti kakak kandungku sendiri. Selama ini kak Anan selalu ada buat Rasmi. Menemani dan menyemangatiku menjalani takdirku sebagai anak yatim. Dan sekarang, kak Anan sedang berjuang sendiri di meja operasi. Rasmi merasa bersalah kalo Rasmi hanya berdiam diri di sini. Meski kak Anan tidak melihat kita, tapi Rasmi yakin kak Anan bisa merasakan kedatangan kita."


Tante Ranti menghela nafas panjang. Mau bagaimana lagi. Sama seperti perasaannya ke mamah Yati, ia pun tidak tega terhadap putrinya.


"Baiklah. Kamu boleh ikut dengan kami." Rasmi melepaskan tangannya yang menggenggam tangan tante Ranti. Ia tersenyum mendapat izin dari mamahnya.


Tante Ranti berbalik dan membantu mamah Yati bangun.


"Tolong ambilkan Tante kursi roda untuk mamah Yati," mintanya pada Atika, menunjuk kursi roda di sebelah sofa tak jauh dari Atika.


Kursi roda ia letakkan di samping tempat tidur. Kemudian mendudukkan bobot tubuh mamah Yati di atas kursi yang akan didorongnya itu.


Dari kejauhan dokter Sandra dan yang lainnya dapat melihat kedatangan mamah Yati bersama dengan tante Ranti. Disusul Atika yang mendorong kursi roda Rasmi di belakang tante Ranti.


Dokter Sandra beralih menatap Zidan, Adji, dan Idham.


"Kalian harus merasahasiakan apa yang kalian lihat di dalam ruang operasi," tegas dokter Sandra.


Kemudian beralih menatap Rara dan Salma.


"Kalian berdua juga ya. Mamah Yati tidak boleh tau apa yang telah terjadi pada Anan tadi."


"Pasti, Tante. Kami juga tidak mau kesehatan tante Yati semakin menurun," sahut Salma.

__ADS_1


Dokter Sandra menyambut kedatangan mamah Yati.


"Kenapa Ibu tidak istirahat saja?"


"Aku sangat mengkhawatirkan Anan. Aku ingin tau bagaimana keadaannya sekarang."


"Lebih baik Ibu tenang. Ingat kesehatan Ibu. Ibu tidak mau 'kan begitu Anan sadar nanti Ibu malah tambah sakit?"


Mamah Yati menghela nafas. Mamah Yati membenarkan perkataan dokter Sandra.


"Berapa lama lagi operasinya selesai, Dokter?" tanyanya.


Belum sempat dokter Sandra menyahuti pertanyaan mamah Yati, pintu ruang operasi terbuka dan menampakkan ketua dari tim dokter yang menangani operasi Anan berdiri di sana.


Dokter Sandra dan Zidan bergegas menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana operasinya, Dokter?" tanya Zidan cemas.


"Iya, Dokter. Bagaimana kondisi Anan?" Dokter Sandra menambahkan.


Sang dokter menghela nafas seraya memperbaiki letak kaca matanya.


"Secara teknis, operasi nona Anan berhasil. Tapi... ."


"Tapi apa Dokter?" desak mamah Yati dari kursi rodanya.


"Mengingat kondisi nona Anan yang sangat lemah. Dan diperparah oleh adanya benturan keras pada bagian kepala pasien. Dengan sangat menyesal, kami tim dokter menyatakan 90% nona Anan akan mengalami koma."


Semua yang menunggu proses operasi Anan terperanjat mendengar penyataan dari dokter tersebut.


Tidak ada lagi yang mampu membendung tangis dan air matanya. Isak tangisnya mengalun pilu mengikuti ingatannya terhadap putri semata wayangnya. Dan semakin dalam, manakala ia harus menahan kerinduan yang tak tahu di mana letak ujungnya yang disebabkan oleh pernyataan dokter barusan.


Sungguh mamah Yati terpukul atas apa yang terjadi. Ia tidak menyangka kepergian putrinya ke pesta itu, justru membawanya pada maut.


Sedang yang lain hanya bisa pasrah dan berdoa agar apa yang dinyatakan oleh dokter tadi, tidak terjadi.


Mereka berharap Anan segera sadar dan sehat seperti sedia kala.


Berbeda dengan yang lainnya. Zidan justru tidak menerima keadaan yang mungkin akan dilalui Anan itu. Ia kecewa dan menyalahkan dirinya yang tidak becus menjaga Anan.


Ia menghantam dinding tembok yang ada di depannya dengan kepalan tangan kirinya. Hingga darah segar mengalir dari pangkal jarinya.


"Apa yang kamu lakukan, Zidan?" pekik Adji, yang memegang tangan Zidan karena kaget.


Zidan hanya diam dengan rahang yang mengeras. Darah yang menetes ke ujung jarinya seakan tidak ia rasakan.


Adji pun mengajak Zidan untuk duduk kembali dan masih memegangi tangan Zidan yang berdarah.


"Kamu jangan menghukum dirimu. Ini sudah takdir. Sudah digariskan oleh Tuhan. Cukup kita mendoakan yang terbaik untuk Anan," tutur Adji, mengingatkan.


Idham yang sejak melihat darah mengalir dari tangan Zidan bergegas ke ruang perawat yang berada tidak jauh dari ruang operasi, kini kembali dengan kotak p3k di tangannya.


Tanpa permisi, ia langsung menyambar tangan Zidan yang berdarah kemudian mengobatinya dan membalutnya dengan kain kasa.

__ADS_1


"Aku tidak becus, Dji. Aku tidak becus jadi saudara Anan. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan selalu menjaga dan melindungi Anan. Tapi sekarang apa? Aku malah membiarkan hal buruk terjadi padanya," tutur Zidan dengan suara bergetar.


"Tidak, Dan! Itu tidak benar. Betapa pun kuat dan kerasnya kita menjaga Anan, jika Tuhan sudah berkehendak Anan akan seperti ini, maka itulah yang terjadi. Dan tidak ada seorang pun yang bisa mengelak dari takdir Allah," sanggah Idham. Lalu merapikan isi dari kotak P3K tersebut.


"Kamu sudah jadi saudara yang baik untuk Anan. Percayalah!" ujar Idham seraya menepuk sekali pundak Zidan, meyakinkan.


Mamah Yati meminta tante Ranti agar mendorong kursinya mendekati Zidan.


"Dokter Idham benar. Kamu sudah jadi saudara yang baik untuk Anan. Bahkan sangat baik. Kamu tau, Nak? Anan bahkan pernah bilang... ." Mamah Yati kembali terisak.


Zidan menggenggam kedua tangan mamah Yati, mencoba menguatkan.


"Waktu itu Anan bilang dengan senyum di wajahnya, seandainya dia ditakdirkan mempunyai seorang adik, maka dia akan memilih kamu menjadi adiknya." Zidan menyeka air mata mamah Yati lalu merengkuh tubuh kurus itu.


"Jadi Mamah mohon, jangan pernah salahkan dirimu karena kondisi Anan. Anan pasti sedih seandainya dia melihat kebodohan yang kamu lakukan tadi. Kamu tidak mau 'kan melihatnya bersedih?"


Zidan melonggarkan dekapannya.


"Iya, Mah. Aku menyayangi Anan. Aku pasti tidak ingin dia bersedih."


Tak lama berselang. Seorang perawat membuka pintu dan menampakkan Anan yang terbaring di atas brankar yang didorong oleh beberapa perawat lainnya.


"Tunggu, Suster!" teriak Rasmi, menghentikan perawat yang akan membawa brankar Anan ke ruang ICU.


Rasmi berdiri dari kursi rodanya dan berjalan mendekati brankar yang dihentikannya. Air matanya seketika meleleh begitu melihat wajah pucat Anan. Wajah yang biasanya dihiasi senyuman yang menyejukkan. Kini dipenuhi lebam dan luka.


"Kak Anan yang kuat ya. Kakak pasti bisa melewati ini. Meskipun kakak tidak meresponku aku, aku yakin kakak bisa mendengarku. Tidurnya jangan lama-lama ya, Kak. Kami semua menunggu kakak."


Tante Ranti yang mendekati putrinya, menyentuh pundaknya.


"Rasmi... ."


Rasmi berbalik dan memeluk mamahnya.


"Anan pasti segera bangun, Nak. Kamu jangan menangis lagi."


Brankar Anan pun melanjutkan perjalanannya menuju ICU.


🌸🌸🌸🌸🌸


Hm... Hm...


Jangan heran kalo pemeran 'Benar Kata Mamah' banyak yang menghela nafas ya, Genk. Karena secara medis kita memang dianjurkan agar sering-sering menarik nafas panjang supaya suplai oksigen ke otak bisa maksimal. Sehingga otak pun dapat berpikir dengan jeremy eh, jenih maksudnya.


Authornya garing...wkwkwk


Eh, ni penting juga nih.


Jangan lupa tuk vote, like, dan komen ya kawan.


Thank you πŸ™


Salam sehat selalu.

__ADS_1


Author menyayangi kalian 😘


__ADS_2