Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 80


__ADS_3

Di ballroom hotel.


Acara resepsi berlangsung meriah. Tamu undangan membanjiri tempat luas itu. Satu per satu tamu undangan bersalaman memberi doa dan restu kepada pengantin.


Karena keterbatasan yang dimiliki, Anan hanya duduk di sudut ruangan sambil menikmati makanannya bersama Septy yang tiba sejam yang lalu.


Dari kejauhan, Zidan yang berdiri bersama Adji, Abhizar, dan kenalannya yang kebetulan juga diundang, sesekali menoreh ke arah Anan. Sejak mengetahui dari papahnya bahwa ia dan Anan bersaudara kandung, rasa sayang dan perhatiannya bertambah.


Ya, tuan Kemal telah mengetahui bahwa Anan adalah putri kandungnya. Tuan Kemal tahu hal ini sewaktu ia menelpon dokter Heru. Ia menelpon dokter Heru sebab surat hasil pemeriksaan kecocokan DNA, sampai detik ini raib entah kemana.


Rancananya, tuan Kemal akan menemui mamah Yati minggu ini setelah urusannya selesai dan menjelaskan semua. Termasuk menjelaskan ke dokter Sandra, siapa mamah Yati dan Anan sebenarnya.


"Apa itu kamu, Rasmi?" tanya Anan, menerka.


"Iya, Kak. Ini aku. Kok bisa tahu?" Rasmi lalu mendudukkan bobot tubuhnya di kursi samping kiri Anan.


"Aku mencium wangi parfum yang kamu pakai tadi." Jawaban Anan membuat Rasmi membulatkan mulutnya.


"Hai, kak Septy." Rasmi menyapa Septy yang duduk di samping kanan Anan. Dan dibalas anggukan dan senyuman oleh Septy.


"Kakak mau nambah?" Rasmi yang melihat piring Anan telah kosong, menawarkan kue.


"Tidak, tidak usah. Kakak sudah kenyang," tolak Anan seraya menggeleng pelan.


"Tapi kakak cuma makan kue, mana bisa kenyang," sanggah Rasmi.


"Atau... aku ambil sedikit nasi dan lauk pauk, biar aku yang menyuapi kakak," tawar Rasmi, berharap Anan bersedia.


"Tidak, Rasmi. Biar nanti saja. Lagi pula, malu dilihat orang kalau kamu menyuapi kakak." Anan tersenyum menolak tawaran Rasmi.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Rasmi.


Tak lama, Septy yang merasa sudah cukup lama berada di sana, berpamitan kepada Anan dan Rasmi.


Sepeninggal Septy, Rasmi melihat Anan tampak tidak tenang.


"Apa kakak membutuhkan sesuatu?" tanyanya.


"Rasmi, di sini terlalu bising. Apa kamu mau menemani kakak keluar sebentar?" pinta Anan.


"Bagaimana kalau ke taman hotel ini saja?"


"Yang mana saja, yang penting kita keluar dulu dari sini," sahut Anan.


"Oh iya, Kak. Tadi kak Zidan memberikan syal ini. Kakak pakai ya." Rasmi pun mengalungkan syal abu-abu yang terdapat hasil sulaman Anan di salah satu sisinya.


Melihat Anan akan beranjak dari tempatnya, Zidan pun izin sebentar untuk menghampiri Anan dan Rasmi.


"Kalian berbincang-bincanglah, aku ke sana dulu." Yang lain mengangguk, mengizinkan Zidan.


"Kalian mau ke mana?" tanya Zidan begitu berada di depan Anan dan Rasmi.


"Kami mau ke taman. Di sini terlalu berisik," sahut Anan.


"Apa perlu aku temani?" tawar Zidan, sedikit cemas.


"Aku atau Rasmi yang mau kamu temani?" canda Anan.

__ADS_1


"Tentu saja kalian berdua," sahut Zidan.


"Baiklah, tapi tidak usah. Biar kami berdua saja. Lagi pula, di sini banyak kenalan kamu. Tidak baik meninggalkan mereka," tolak Anan, lembut.


"Ya sudah, kalian hati-hati."


Zidan masih berdiri di tempatnya menyaksikan Anan dan Rasmi semakin menjauh. Setelah tak terlihat lagi, Zidan pun kembali menemui Adji, Abhizar, dan teman-temannya.


"Mau kemana mereka?" tanya Adji yang juga melihat Anan dan Rasmi meninggalkan ballroom hotel.


"Ke taman," jawab Zidan.


Adji menanggapi jawaban Zidan dengan mengangguk beberapa kali.


Anan dan Rasmi kini telah berada di taman. Rasmi menuntun Anan duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Tak ada satu pun bintang yang nampak di langit malam ini. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


"Apa tidak apa-apa kita di sini? Di sini terlalu dingin, Kak."


Saat ini Anan dan Rasmi mengenakan gaun. Meskipun sama-sama memakai gaun, namun Rasmi tidak mengkhawatirkan dirinya kedinginan. Ia hanya mencemaskan Anan.


Anan tersenyum lalu berkata, "Kamu jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku punya ini." Anan menunjuk syal yang dipakainya.


"Dan lagi, di sini tidak berisik," imbuhnya.


Sedang Rasmi pasrah saja dengan perkataan Anan.


"Kak, kak Salma sudah menikah. Apa kakak akan segera menyusul?" tanya Rasmi di sela-sela mereka menikmati dinginnya udara malam.


"Entahlah, Rasmi. Kakak tidak berpikir ke sana. Malah kakak berharap, setelah Salma, Rara."


"Kenapa kak Rara?"


"Tidak... tidak. Aku masih terlalu muda untuk menikah. Lagi pula, aku tidak punya pacar."


"Tidak usah pacaran. Langsung nikah saja, kalau memang sudah cocok. Daripada pacaran lama, tahu-tahunya hanya dijadikan bahan lelucon." Ada kesedihan yang tersirat di akhir kalimat Anan.


Rasmi menyadari hal itu. Ia pun mencoba mengalihkan pembicaraan, agar Anan tidak larut dalam kesedihannya.


"Dingin-dingin begini, enaknya minum teh hangat. Apa kakak mau?" tawarnya.


"Boleh," sahut Anan, tersenyum.


Lalu Rasmi beranjak dan kembali masuk ke ballroom hotel.


Sementara itu, Arya dan Dimas baru saja meeting dan makan malam bersama klien mereka di restoran, di hotel yang sama di mana Salma dan dokter Idham melangsungkan resepsi pernikahan.


Begitu berada di lobby, mendadak Dimas ingin ke kamar kecil.


"Kamu duluan saja ke parkiran, aku ke toilet dulu," ucapnya seraya menyerahkan kunci mobil.


Arya pun melanjutkan langkahnya menuju parkiran. Begitu tiba di sana, ia langsung menyelinapkan tubuhnya masuk ke dalam mobilnya.


Selang beberapa detik, dari jarak beberapa meter, tak sengaja maniknya menangkap sosok gadis yang sangat dirindukannya. Berulang kali ia mengusap matanya guna memastikan apa yang dilihatnya. Setelah yakin, ia tersenyum dan menghela nafas lega.


Ia pun membuka pintu mobil, bermaksud menghampiri Anan. Namun, belum sempat kakinya menapaki bumi, ia melihat gelagat mencurigakan di sekitar Anan.


Tampak Anan berkata sesuatu, namun dengan ekspresi biasa saja. Tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa detik kemudian Anan tampak panik. Lalu seorang pria dengan jaket hoodie berwarna hitam menempelkan kain ke hidung Anan sedang pria satunya segera mengangkat tubuh Anan karena telah tak sadarkan diri.

__ADS_1


Arya melotot dan syok menyaksikan Anan diculik. Segera Arya menutup kembali pintu mobilnya dan berpindah ke kursi kemudi.


Ia melajukan kendaraannya mengejar mobil yang menculik Anan tanpa mempedulikan Dimas yang masih berada di hotel.


"Apa yang terjadi, Nan? Siapa mereka dan mengapa mereka menculikmu? Apa kamu hidup tidak dengan baik sepeninggalku?... Aku minta maaf, Nan. Aku sungguh menyesal... Kamu harus baik-baik saja. Aku mohon. Izinkan aku menebus semua kesalahanku. Aku sangat merindukanmu, Nan," lirih Arya.


Sepanjang jalan Arya tak henti memikirkan keselamatan Anan. Bahkan, sampai-sampai ia meneteskan air mata, menyesali perbuatannya.


Dimas yang tidak melihat keberadaan Arya dan kendaraannya, merogoh ponselnya dan menelpon Arya.


"Kamu di mana?" tanyanya, kesal.


"Anan diculik. Aku sedang mengejar penculiknya."


Seketika kekesalan di wajah Dimas menguap. Ia pun tampak cemas.


Tiba-tiba langit bergemuruh. Petir dan halilintar saling bersahutan. Dan hujan pun turun dengan lebatnya.


Terpaksa Dimas kembali masuk ke gedung hotel. Rasmi yang terburu-buru ingin segera menemui Anan, tak sengaja menabrak Dimas, membuat Dimas mengibas-ngibaskan jasnya sebab terkena tumpahan teh panas.


"Aduh! Maaf, Pak. Maaf. Saya buru-buru. Kakak saya sedang di taman dan tidak bisa melihat. Sedangkan sekarang lagi turun hujan," ucap Rasmi, tertunduk.


Dimas memperhatikan Rasmi.


"Kamu Rasmi 'kan, pegawai toko kue 'Ananda'?" tanya Dimas, memastikan.


Rasmi segera mengangkat kepalanya.


"Pak Dimas?"


"Iya, betul. Aku Dimas."


"Sudah dulu ya, Pak. Saya sedang buru-buru."


Baru saja Rasmi akan melangkah, Dimas mencegatnya.


"Tunggu! Anan diculik," beber Dimas.


"Apa? Tapi saya baru saja meninggalkannya di taman, Pak."


Rasmi benar-benar terguncang. Ia tidak menyangka Anan lagi-lagi menjadi korban penculikan.


"Jadi, kakak yang kamu maksud adalah Anan?" Rasmi hanya mengangguk.


"Dan dia buta?" Rasmi kembali mengangguk.


"Apa betul Anan buta? Sejak kapan?"


"Itu nanti saja Pak. Sekarang kak Anan diculik lagi. Kita harus segera bertindak."


"Apa katamu tadi? Diculik lagi?" tanya Dimas tak percaya.


"Iya, Pak. Ini kedua kalinya," ungkap Rasmi.


Dimas menghela nafas berat.


"Bagaimana ini, Pak?" panik Rasmi.

__ADS_1


"Kamu tenang dulu, saat ini Arya sedang mengejar pelakunya. Lebih baik kamu hubungi keluarga atau temanmu."


Rasmi lalu meraih ponselnya dan menghubungi Zidan.


__ADS_2