
Jarum jam menunjukkan pukul 7.45. Seperti biasa pada jam ini, Anan duduk di meja makan untuk sarapan. Kalau beberapa waktu yang lalu Anan sarapan berdua dengan mamahnya. Kali ini, Anan menikmati sarapannya berempat dengan tante dan sepupu kecilnya.
Ketika mereka tengah asyik menikmati makanan di piring masing-masing, terdengar deringan ponsel mamah Yati dari kamar Anan.
Ponsel mamah Yati ada di kamar Anan?
Jadi, semenjak tante Yani dan putranya tinggal di rumah Anan, mamah Yati memberikan kamarnya untuk dipakai adik kandungnya itu bersama putranya. Lalu mamah Yati sendiri, tidur bersama Anan. Terlebih, karena kondisi Anan saat ini, membuat mamah Yati khawatir jika Anan tidur sendirian.
Awan, sepupu Anan bergegas ke kamar Anan, mengambil ponsel yang berdering tersebut, kemudian menyerahkannya ke mamah Yati.
"Siapa, Mah?" tanya Anan.
"Dokter Sandra," sahut mamah Yati.
"Oh, mungkin ada yang penting," terka Anan.
Mamah Yati pun menjawab panggilan dari dokter Sandra.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, bu Yati. Maaf mengganggu. Bisa bicara dengan Anan?"
"Oh, tentu. Tentu saja bisa."
"Dokter Sandra mau bicara dengan kamu, Nak," ucap mamah Yati, lalu memberikan ponselnya kepada Anan.
Anan pun menempatkan smartphone tersebut di sisi telinganya.
"Iya, Mah."
"Apa kabar, Sayang? Mamah kangen sama kamu. Apa boleh Mamah mengajak kamu jalan-jalan hari ini?"
"Tunggu ya, Mah," ucap Anan ke dokter Sandra.
Anan menjauhkan ponselnya dari telinganya. Lalu berkata kepada mamahnya, "Mamah Sandra mengajak Anan jalan-jalan, apa boleh?" tanyanya, meminta izin.
"Boleh, Nak. Asal kamu senang, lakukanlah," jawab mamah Yati seraya tersenyum.
Anan yang mendapat izin dari mamahnya tampak riang. Ia pun kembali menempelkan ponsel yang dipegangnya ke telinganya.
"Halo, Mah."
"Iya, Sayang. Bagaimana?"
"Boleh, Mah. Mamah Yati juga sudah mengizinkan."
"Baguslah kalau begitu. Kamu bersiap ya, Sayang. Sebentar lagi Mamah jemput."
"Baik, Mah."
Dan sambungan telepon pun terputus.
🍁🍁🍁
Grissham Company.
__ADS_1
Tuan kemal sedang duduk berhadapan dengan putranya di ruang kerjanya. Mereka kembali merundingkan rencana yang telah mereka susun beberapa hari lalu. Namun, Zidan sedikit ragu dengan rencana tersebut. Sehingga ia menemui papahnya lagi.
"Apa tidak sebaiknya kita beritahukan mamah terlebih dahulu, Pah?"
"Tidak, Zidan. Lebih baik kita jalankan rencana awal. Apalagi, opah kamu sangat terpukul dan menyesali perbuatannya. Sehingga dia sangat ingin segera menemui Anan dan ibunya untuk meminta maaf," tutur tuan Kemal.
"Tapi, Pah. Apa mamah tidak akan merasa dikhianati jika dia tahunya belakangan?" tanya Zidan, cemas.
"Justru, jika mamahmu tahu lebih dulu, semuanya akan kacau," ujar tuan Kemal.
Berulang kali Zidan menghela nafas panjang hanya untuk menghilangkan kekhawatirannya.
Dari raut wajah Zidan, tuan Kemal dapat melihat kekhawatiran putranya itu.
"Sudahlah, Nak. Kamu tidak usah cemas. Kita serahkan pada Allah. Manusia hanya mampu berencana, Dia jualah yang menentukan," tutur tuan Kemal, bijak.
"Lalu, kapan Papah akan menemui Anan dan mamah Yati?"
"Hari ini," jawab tuan Kemal, singkat.
🍁🍁🍁
"Bagaimana? Apa kamu menyukai yang kamu pegang itu?" tanya dokter Sandra yang melihat Anan meraba perlahan permukaan syal yang dipegangnya.
"Aku suka, Mah. Bahannya halus dan nyaman. Oh iya, ini warnanya, apa?"
"Syal itu berwarna cokelat muda, Sayang. Apa kamu mau warna yang lain?" tanya dokter Sandra, lembut.
"Tidak, Mah. Ini juga Anan suka. Anan ambil ini saja," jawab Anan sambil tersenyum.
"Semoga senyum di wajahmu senantiasa selalu merekah, Sayang," batinnya dengan sudut bibirnya yang mengembang.
"Oh iya, Mah. Habis ini, kita kemana?" tanya Anan.
"Um... setelah ini kita ke salonnya tante Eliz. Kalau sudah selesai, kita pulang. Apa kamu ada tempat yang mau dikunjungi?"
Sebenarnya Anan ingin sekali ke taman kota. Berharap ia bisa bertemu dengan opah Kendra meskipun kemungkinannya sangat kecil. Akan tetapi Anan juga tidak mau terlalu merepotkan dokter Sandra.
"Nanti minta tolong sama Zidan saja, deh. Kasihan mama Sandra, pasti capek," batin Anan, menimbang-nimbang.
"Ah, tidak ada, Mah."
"Ya sudah, kamu duduk di sini dulu, ya. Mama mau bayar belanjaan kita." Lalu dokter Sandra pun menuju kasir.
Selama menunggu, samar-samar Anan mendengar orang-orang di sekitarnya bersimpati kepadanya.
"Kasihan, ya Bu. Padahal masih muda, cantik lagi. Tapi sayang, dia buta."
"Iya, Bu. Tapi, mungkin saja itu bawaan lahir."
"Tapi tetap saja, aku kasihan sama dia."
Itulah beberapa penggal kalimat yang sempat terdengar olehnya.
"Sabar, Nan. Allah menciptakan hambanya dengan segala ujiannya masing-masing," gumam Anan, menyemangati dirinya.
__ADS_1
"Yuk, Sayang. Mamah sudah selesai," ajak dokter Sandra seraya menarik pelan tangan Anan.
"Mah, biar Anan bantu bawa belanjaan," tawar Anan.
"Tidak usah, Sayang. Mamah bisa, kok. Kamu cukup gandeng tangan Mamah saja, ya?!" tolak dokter Sandra, lemah lembut.
"Baiklah, Mah," sahut Anan, pasrah.
Setelah menaruh semua barang yang dibeli ke dalam mobil, dokter Sandra menuntun Anan duduk di kursi depan. Kemudian ia pun duduk di belakang kemudi.
"Mamah coba hubungi Zidan, ya. Siapa tahu dia bisa makan siang bareng dengan kita," ujar dokter Sandra, lalu mengutak-atik ponselnya.
Sudah tiga kali dokter Sandra mencoba menghubungi nomor ponsel Zidan, namun tak kunjung juga mendapat sambutan. Ia pun memutuskan untuk langsung ke restoran saja.
Sementara itu.
"Apa kamu betul-betul tidak ada niat bergabung di perusahaan Papah, Zidan?" tanya tuan Kemal kepada Zidan yang berdiri menghadap jendela.
Zidan menoleh Papahnya yang duduk di kursi kebesarannya.
"Maaf, Pah. Zidan lebih senang bekerja di rumah sakit dan mengurus restoran," jawab Zidan, lugas.
Tuan Kemal hanya mampu menghela nafas panjang mendengar jawaban singkat putranya. Meski bukan pertama kalinya ia menanyakan pertanyaan yang sama, tetapi selalu saja membuatnya melakukan hal yang serupa begitu mendengar jawabannya.
Itu karena tuan Kemal sangat mengharapkan Zidan bersedia membantunya mengelolah perusahaan. Yang jika waktunya sudah tiba, ia akan dengan tenang menyerahkan kepemimpinan kepada Zidan.
Melihat raut wajah ayahnya, Zidan mendekat dan berdiri di belakang tuan Kemal. Tak lama, ia lalu mengulurkan tangannya dan memijat bahu pria yang sangat dihormatinya itu.
"Papah jangan khawatir. Zidan yakin kalau orang-orang Papah adalah orang-orang kompeten dan dapat dipercaya."
"Oh iya, Pah, bagaimana keadaan opah?" tanya Zidan sembari menghentikan pijatannya.
"Yah, begitulah, opah masih sering menyalahkan dirinya."
Untuk kesekian kalinya, tuan Kemal lagi-lagi menghela nafas panjang.
"Papah juga tidak menyangka kalau ternyata opah kamu sudah pernah bertemu dengan Anan. Dan bahkan rela memberikan benda peninggalan omah kamu yang sangat berharga kepada Anan," bebernya.
"Apa kamu belum tahu itu?" tanya tuan Kemal yang melihat kerutan di kening putranya.
Zidan yang sudah berdiri di samping papahnya mengangguk, mengiyakan.
"Sebenarnya, sejak awal aku ingin menanyakan hal ini kepada Anan. Akan tetapi selalu saja ada kendala. Dan, mulanya aku ragu kalau itu gelang giok yang sama milik opah. Tapi, keraguanku terbantahkan ketika aku melihat syal yang disulam Anan terdapat nama opah. Meskipun demikian, aku tetap mencari bukti untuk memantapkan keyakinanku. Hingga insiden itu terjadi, aku... ."
Zidan hanya menarik nafas panjang, tak melanjutkan kalimatnya.
Tuan Kemal berdiri dari duduknya.
"Sudahlah, Nak. Sehebat-hebatnya opah kamu, dia juga manusia biasa," ujarnya, lalu menepuk pelan pundak Zidan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa Vote dan Like, ya mau teman 🤗
Terima kasih 😊😘
__ADS_1