
Di sepanjang perjalanan, tiada henti Arya mengingat perkataan Anan. Hal ini membuatnya tidak tahu harus berbuat apa agar bisa mendapatkan kesempatan lagi dari Anan.
Bukan Arya tidak mengerti mengapa Anan bersikap seperti itu. Tapi, kini Arya telah berubah. Bahkan, Arya akan mengorbankan apa saja demi bisa dekat lagi dengan Anan.
"Katakan, Nan! Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau menerimaku. Tolong, jangan menjauhiku. Aku sungguh tak sanggup, Nan."
Begitulah Arya yang berbicara sendiri dalam perjalanannya. Sampai-sampai, panggilan telepon dari Dimas pun diabaikannya.
🍒🍒🍒
Di rumah baru mamah Yati.
"Assalamualaikum."
Terdengar seseorang mengucapkan salam. Baik mamah Yati maupun tuan Kemal, mengenal suara itu, dan menjawabnya.
Nampaklah dokter Sandra menghampiri mereka.
Ini adalah pertemuan pertama mamah Yati dengan dokter Sandra setelah terkuaknya fakta hubungan mamah Yati dengan suaminya.
Mamah Yati agak kikuk berhadapan dengan madunya. Dan itu terlihat jelas di mata dokter Sandra.
Dokter Sandra mengikis jarak dengan madunya, lalu berkata, "Mbak tidak usah canggung. Sekarang kita adalah keluarga," seraya meraih tangan mamah Yati.
Mamah Yati memandang dokter Sandra dan tuan Kemal bergantian. Sejurus kemudian, ponsel milik tuan Kemal berdering.
"Ok, saya ke sana sekarang," sahut tuan Kemal setelah menerima panggilan dari asistennya. Lalu sambungan pun terputus.
"Em... ." Tuan Kemal bingung menyebut kedua istrinya disaat keduanya berada di satu tempat, seperti saat ini.
Niatnya ingin berpamitan. Namun ia tidak tahu siapa yang seharusnya ia sebut lebih dulu. Ia takut menyinggung salah satu dari istrinya.
Beruntung, kedua istrinya paham. Kedua istrinya saling lirik lalu menatap tuan Kemal sambil tersenyum.
"Kalau Mas ada urusan, berangkatlah!" seru mamah Yati.
"Iya. Papah pergi saja. Mamah masih mau ngobrol dengan mbak Yati," sambung dokter Sandra.
"Baiklah. Maaf, saya tidak bisa menemani kalian lebih lama. Saya berangkat dulu," pamit tuan Kemal yang disambut anggukan oleh kedua istrinya.
"Oh iya, Mbak, bagaimana kalau kita ngobrol di rumahku saja. Sekalian kita 'ngeteh' bareng," ajak dokter Sandra, ramah.
Mamah Yati tampak menimbang-nimbang. Ia belum sempat mengabari Anan akan keberadaannya saat ini. Dan lagi, hari ini ia belum mengecek keadaan toko.
"Bagaimana ya, Dok?"
Sudah kebiasaan mamah Yati menyebut dokter Sandra dengan panggilan 'dokter'.
"Tidak lama kok, Mbak. Lagian, rumahku masih dalam kompleks ini." Dokter Sandra meyakinkan.
"Baiklah," ucap mamah Yati sembari mengangguk.
Ternyata memang benar masih dalam satu kompleks. Sangking benarnya, rumah dokter Sandra berada tepat di samping rumah mamah Yati.
"Loh!" seru mamah Yati, tidak menyangka.
__ADS_1
Dokter Sandra tersenyum tipis. "Iya, ini rumahku, Mbak. Dekat, 'kan?" ujarnya, membenarkan.
Dokter Sandra pun mempersilakan mamah Yati masuk dan duduk di ruang keluarga.
Tak lama, pelayan datang dengan membawa dua cangkir teh dan camilan di atas nampang.
"Silakan diminum, Mbak." Dokter Sandra mempersilakan.
"Iya, terima kasih, Dok."
"Mbak jangan panggil aku 'dokter' terus, panggil 'Sandra' saja."
"Hah?" Mamah Yati melongo.
"Iya. Aku sudah menganggap Mbak sebagai kakakku. Jadi panggil namaku saja."
Mamah Yati masih bergeming.
"Aku minta, Mbak, atas tindakanku beberapa waktu lalu. Terlebih, aku juga minta maaf, atas apa yang menimpa rumah tangga Mbak. Seharusnya aku mundur ketika tahu mas Kemal sudah memiliki wanita yang dicintainya. Tapi aku malah sebaliknya." Manik dokter Sandra mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah. Kamu jangan menyalahkan diri terus. Ditambah lagi, ini bukanlah sepenuhnya kesalahan kamu. Aku juga sudah tahu cerita lengkapnya. Jadi jangan dipikirkan lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Saat ini kita harus berusaha menjadi lebih baik demi anak-anak kita."
Mendengar penuturan mamah Yati, spontan dokter Sandra menubruk tubuh mamah Yati. Dan mamah Yati pun membalas dekapan dokter Sandra. Mereka berpelukan beberapa saat.
"Terima kasih, Mbak, telah sudi menerima aku. Mbak benar-benar orang baik. Mbak pantas dicintai mas Kemal," ucap dokter Sandra ditengah pelukan mereka dengan air mata yang sudah merembesi pipinya.
"Kamu juga wanita yang baik, Sandra. Kamu juga pantas untuk dicintai," timpal mamah Yati seraya mengelus punggung dokter Sandra.
Sesaat kemudian, mereka pun melepaskan dekapan masing-masing.
"Saya justru bersyukur... karena wanita yang menjadi istri kedua mas Kemal adalah kamu, Sandra," ujar mamah Yati, tersenyum.
"Mbak terlalu penyabar. Aku semakin menyesal," ucapnya, terharu.
"Sudah, sudah. Jangan terlalu memujiku."
"Aku hampir lupa. Sebenarnya sudah sebulan ini aku gencar mencari pendonor mata untuk Anan. Tapi, belum ada yang cocok. Bantu doanya ya, Mbak, semoga segera ada yang cocok" beber dokter Sandra begitu dekapan keduanya terlepas.
"Terima kasih, sudah perduli terhadap Anan," ucap mamah Yati penuh syukur.
"Anan putriku juga. Dan aku sangat menyayanginya. Jadi tidak ada alasan, aku tidak perduli padanya," tegas dokter Sandra.
🍒🍒🍒
Wima Group.
Arya memasuki gedung kantor dengan wajah yang sulit untuk dijabarkan. Sesal, kesal, geram, dan penuh amarah berpadu menjadi satu.
Kalau dihari-hari sebelumnya ia masih membalas sapaan karyawannya meski hanya sekali anggukan, hari ini, itu tidak berlaku. Yang ada, mereka malah diabaikan.
"Aduh, gawat! Apa pak Arya akan kembali seperti dulu lagi?" cemas salah satu karyawan pria.
"Entahlah. Padahal, kemarin baik-baik saja," sahut karyawan lainnya.
"Kita berdoa saja, semoga kita semua selamat dari amukannya."
__ADS_1
"Perusahaan tidak menggaji kalian untuk bergosip. Lanjutkan pekerjaan kalian!" perintah Dimas yang mendengar percakapan mereka.
Tok tok tok
Dimas mengetuk pintu ruangan Arya. Lalu membuka pintu tersebut.
"Apa kamu ada masalah?" tanyanya setelah berdiri di hadapan Arya.
"Dari mana kamu tahu?"
Pertanyaan Arya seketika membuat kening Dimas mengerut.
"Aku bertanya karena karyawan membicarakanmu."
"Berani sekali mereka," geram Arya, melototi Dimas.
"Mereka yang membicarakanmu, kenapa kamu melotot padaku?" protes sang asisten.
Huft...
Arya menghela nafas panjang.
"Anan menolakku. Dia... dia tidak mau lagi bertemu denganku. Dan, apa kamu tahu? Abhizar terang-terangan ingin bersaing denganku untuk mendapatkan Anan."
Arya mengacak kasar rambutnya. Ia frustrasi.
"Bagaimana bisa aku menang dari Abhi, jika muncul di hadapan Anan saja adalah sebuah kemustahilan?"
"Jangan pesimis gitu. Di dunia ini, tak ada yang tidak mungkin. Benahi dirimu. Siapa tahu dengan kamu memperbaiki diri, keberuntungan berpihak padamu. Yakinlah, jika Anan memang jodohmu, dia pasti akan berjalan ke arahmu. Dan lagi, sejak kapan kamu mengikuti perintah seseorang?"
Perkataan Dimas bagai vitamin penyemangat bagi Arya. Seketika air mukanya berubah. Frustrasi yang sempat mendera, menguap entah ke mana.
"Terima kasih. Kau memang sahabatku."
Dimas tersenyum mendengar ucapan Arya.
"Oh iya, ini berkas kerjasama kita dengan beberapa investor. Dan untuk jadwal besok, kita ada meeting dengan Grissham Company."
Arya menatap intens ke Dimas.
"Meeting besok tidak bisa diwakilkan." Dimas seolah mengerti dengan tatapan Arya.
"Sekedar informasi, tuan Kemal belum mengetahui kejadian waktu itu. Tapi, putranya mengetahuinya dengan amat jelas. Jadi berdoa saja, semoga tuan Kemal tidak akan pernah tahu kalau kamu pernah mempermalukan putrinya."
Arya semakin tajam menatap Dimas.
"Kamu menyumpahiku?" tanyanya, kesal.
"Hei, apa aku sahabat yang seburuk itu? Aku hanya mengatakan sebuah fakta."
"Tapi tak perlu kau ucapkan di hadapanku!" sergah Arya.
"Jika tuan Kemal tidak tahu, maka aku yang akan memberitahukannya. Aku akan mengakui semua kesalahanku di hadapannya. Hukuman apapun akan aku tanggung, asal jangan memisahkanku dari Anan."
"Ini baru pria sejati. Aku pasti mendukungmu," ucap Dimas, menyemangati.
__ADS_1
🍒🍒🍒
Tbc...