
Mereka tiba di sebuah restoran yang menyajikan menu western. Anan yang bingung dengan daftar menu yang dipegangnya, hanya membaca setiap hidangan yang ada di dalamnya berulang kali. Maklum, Anan belum pernah mencoba makanan orang luar. Setiap kali diajak oleh sahabat-sahabanya untuk makan di restoran, ia pasti selalu memilih makan di kafe atau warung di pinggir jalan. Ia lebih senang yang berbau lokal, bahkan lebih ke masakan tradisional.
Gemes melihat tingkah laku Anan yang hanya membolak-balikkan daftar menu, "Kamu sebenarnya mau makan yang mana sih?" tanyanya.
"Em.. di sini ada nasi uduk, tidak?" tanya Anan ragu.
"What! Kamu sadar tidak sih kita ada dimana? tanyanya tergelak dengan sedikit tersenyum.
"Ya.. kali aja kan, ada nasi uduk. Soalnya aku tidak bisa kalo tidak ada nasi" celoteh Anan dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kamu itu umur berapa sih? Lucu tau!" gemas dan mengacak-acak rambut Anan. Lalu Anan menepis tangan orang itu.
Dengan gaya coolnya, orang itu pun memanggil salah satu pelayan yang ada di sana. Ia lalu membisikkan sesuatu ke pelayan tersebut. Pelayan itu mengangguk tanda mengerti kemudian berlalu meninggalkan mereka.
Anan sejak tadi memperhatikan penampilannya. Rambut acak namun tampak cool. Alis tebal dan hitam pekat. Mata agak lebar dan sedikit sayu tapi indah. Hidung mancung, bibir kecil namun agak berisi menambah kesan seksi, dagu lancip, wajah dengan rahang yang tegas. Tubuh yang kekar dengan lengan yang berotot karena hanya memakai kaos putih oblong serta kacamata hitam yang bertengger di leher bajunya. Secara keseluruhan, nyaris sempurna.
Sambil menunggu pesanan tiba, orang tersebut pun mengulurkan tangannya.
"Zidan" sebutnya memperkenalkan diri dengan bibir mengembang.
"Anan" menyambut uluran tangan Zidan namun tanpa senyuman.
Anan pun melepaskan tautan tangannya. Ia menatap sekelilingnya, melupakan sejenak drama yang dibuatnya di kampus. Sedang asyik-asyiknya, ia dikejutkan oleh ponselnya yang berdering. Ia lalu meraih dan mengangkat panggilan pada ponselnya
"Assalamualaikum Sal.."
"Waalaikumsalam, kamu dimana Nan?" tanya Salma cemas.
"Aku di tempat makan, Aku lagi mau makan" jawabnya tanpa menyebutkan detail tempatnya.
"Hufh.. syukurlah kamu baik-baik saja" ucap Salma lega.
Di tengah perbincangan mereka, Rara yang tak mau kalah, menyambar ponsel milik Salma mendahului Adji. Mereka berebutan hanya untuk dapat berbicara dengan Anan.
"Halo Nan.. tidak nyangka aku, kamu bisa ngamuk juga" celetuk Rara. Ini pengalaman pertama Rara sepanjang mengenal Anan.
"Kamu memang best, juara tau! Aku bangga jadi sahabatmu" celetuk Adji setelah menjauhkan ponsel Salma dari Rara.
"Jangan dengerin mereka Nan, yang penting kamu baik-baik saja. Kamu tenangin diri dulu, kalo butuh sesuatu hubungi aku. Udah ya.. Assalamualaikum" saran Salma lalu buru-buru menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban salam dari Anan, karena tau kedua sahabatnya itu masih mengincar ponselnya.
Makanan pun tiba, sontak membuat Anan ternganga. Nasi uduk yang tidak ada dalam daftar menu, kini ada di atas meja di hadapannya. Dan bukan hanya satu, tapi dua.
"Kok cuma diliatin? katanya lapar, tuh iler udah mau tumpah" celetuk Zidan tersenyum.
Anan terkesiap menghapus area mulutnya, yang ternyata tidak ada apa-apa. Mengundang gelak tawa dari Zidan.
"Ya ampun... kamu lucu banget sih!" ujar Zidan sambil memegang perutnya yang kram karena tertawa.
__ADS_1
"Puas ketawanya?" kesal Anan.
"Bukannya nasi uduk tidak ada dalam daftar menu tadi?" selidik Anan.
"Masa sih?" goda Zidan.
"Iya, tadi aku udah baca bolak-balik, emang tidak ada di sana" sahut Anan.
"Bisa jadi itu menu spesial hari ini" ujar Zidan manggut-manggut pelan.
Lalu Anan memulai acara makannya setelah melafalkan doa dalam hati.
Tiba-tiba..
"Umm... ini enak banget!" seru Zidan menguyah dengan lahap.
Anan menatap Zidan, "Kamu belum pernah cobain ini sebelumnya?" tanya Anan heran dan sempat kaget karena seruan Zidan tadi.
"Ini pertama kali" beber Zidan.
Mereka pun menikmati menu nasi uduk di hadapan mereka tanpa obrolan lagi. Sampai akhirnya piring di depan Anan tersisa tulang ayam.
"Lapar apa doyan?" celetuk Zidan
"Dua-duanya" sahut Anan.
"Hari ini aku yang traktir" tawar Zidan.
"Aku bisa bayar sendiri kok" ucapnya sambil meraih dompet dalam tasnya.
"Tidak bisa" cegah Zidan.
"Hari ini kan aku sebagai penolongmu, jadi kamu tidak berhak menolak" terangnya.
Anan menatap Zidan penuh selidik.
"Ya udah, kamu yang bayar" pasrah Anan seraya memasukkan kembali dompetnya ke dalam tasnya.
"Baik juga nih orang" Anan membatin.
"Tapi... besok-besok, kamu yang traktir!" ujar Zidan sambil menaik turunkan kedua alisnya. Dan sebenarnya hanya ngerjain Anan.
Membuat Anan mendengus kesal, "Aku tarik kembali kata-kataku. Dasar tak mau rugi" Anan kembali membatin.
"Baik! Dan semoga hari itu adalah pertemuan terakhir kita" ucap Anan masih kesal.
Zidan mengernyit menaikkan salah satu alisnya. Lalu mangangkat kedua sudut bibirnya karena gemas dengan ekspresi yang ditampilkan Anan.
__ADS_1
"Aku ke toilet dulu" ucap Anan lalu melangkah menjauhi Zidan menuju tempat tujuannya.
Sepeninggal Anan, Zidan meraih ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja lalu menekan menu panggilan keluar pada layar ponselnya.
"Aku mau buka resto dengan menu nusantara" ucapnya.
"Kamu atur semuanya, aku mau dua minggu dari sekarang sudah mulai beroperasi" titahnya, lalu menutup panggilannya.
Zidan baru saja menelpon manager yang membantunya mengelolah ketiga resto miliknya yang ada di kota ini yang keseluruhnya menyajikan menu luar, sebut saja Western, Japanese dan Italian.
Zidan, anak dari dokter Sandra yang hobi kuliner luar negeri. Dari hobinya inilah, hingga ia berhasil mendirikan tiga restoran dalam dua tahun. Ia menggeluti pekerjaannya ini sejak semester dua di bangku kuliah. Saat ini, Zidan masih tercatat sebagai salah satu mahasiswa kedokteran semester akhir di salah satu kampus ternama di kota ini. Tadinya, Zidan ingin melanjutkan jenjang pendidikannya di luar negeri, tapi mamahnya tidak mengizinkan dengan alasan, karena Zidan adalah anak satu-satunya. Maka jadilah dia menekuni dunianya ini agar tetap bisa menikmati masakan luar dengan puas di dalam negeri.
Ia juga kerap diajak papahnya untuk ikut serta bergabung di perusahaan, namun ia menolak dengan alasan jadwal padat. Ia takut tak mampu membagi waktu antara kuliah, mengelolah restoran, dan kerja di perusahaan.
Anan duduk kembali di tempatnya semula, "Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan untukku hari ini, kapan-kapan akan aku usahakan untuk membalas kebaikanmu" ucapnya.
"Kalo begitu aku duluan."
Anan berdiri hendak melangkah pergi.
"Tunggu!" cegah Zidan.
"Aku akan mengantarmu."
Belum sempat Anan menolak, "Aku tidak terima penolakan!"
Anan duduk kembali, "Sini ponselmu!" minta Zidan.
Zidan mengetik sesuatu pada ponsel Anan lalu memngembalikannya.
"Di sini sudah ada nomorku, jangan ragu untuk menghubungiku."
Anan kemudian membaca layar ponselnya yang menampilkan 'My Hero Zidan' di sana sebagai nama kontak. Anan mengernyit.
"Coba hubungi!" suruh Zidan.
Dan, Anan yang bak daun kering yang beterbangan mengikuti arah angin membawanya, mengikuti perkataan Zidan.
Ponsel Zidan berdering, lalu ia matikan. Ia kembali mengetik sesuatu, namun kali ini pada ponselnya sendiri.
"Nih! Lucu kan?" Zidan menunjukkan layar ponselnya.
Anan membelalak, membaca nama kontak di ponsel Zidan.
"Ganti!" Anan tidak terima dengan nama yang disematkan untuknya di ponsel Zidan.
"Ayo! Aku antar pulang."
__ADS_1
Zidan tidak mempedulikan sama sekali Anan yang keberatan. Ia beranjak dari duduknya meninggalkan tempat itu diikuti Anan yang mengekor di belakangnya.
Di tempat yang sama, seseorang menatap ke arah mereka dengan tatapan tidak suka sejak tadi. Dialah Arya.