
"Tante baik-baik saja, kan?" tanya Atika yang melihat mamah Yati terus saja menatap pintu.
"Tante baik-baik saja, Tik," sahut mamah Yati, tersenyum tipis.
Atika berjalan mendekati lemari pendingin.
"Apa Tante butuh sesuatu?" tanya Atika yang sedang membuka pintu lemari es.
"Tolong ambilkan air minum dan taruh di atas sini," minta mamah Yati seraya menunjuk meja nakas di samping tempat tidurnya.
Ketika Atika selesai menaruh air mineral yang biasa mamah Yati konsumsi, tak sengaja pandangannya tertuju pada benda pipih yang tergeletak di samping tv.
"Ini ponsel milik siapa, Tante?" tanya Atika.
Atika bertanya karena ia tahu itu bukan milik Anan ataupun mamah Yati.
"Oo... itu ponsel milik Zidan. Anan pinjam sementara," jawab mamah Yati
Sejurus kemudian, mamah Yati tersadar akan sesuatu.
"Aztagfirullah... Anan lupa membawa ponsel. Cepat kamu susul ke bawah, siapa tau mereka belum jauh!"
Atika pun bergegas menyusul Anan dan Arya. Namun sayang, saat Atika berlari menuju lobi, saat itu juga mobil Arya keluar dari area rumah sakit. Berteriak pun percuma.
Atika kembali melangkah menuju kamar rawat mamah Yati dengan ponsel Zidan yang masih digenggamannya. Ketika hendak membuka pintu ruangan mamah Yati, tante Ranti menghampirinya.
"Kamu dari mana ngos-ngosan gitu?" tanya tante Ranti.
"Tadinya Tika ingin memberikan ini ke kak Anan. Tapi kak Anan udah berangkat," jawab Atika dengan menunjukkan ponsel yang dipegangnya.
"Ya udah, kita masuk," ajak tante Ranti yang memang bermaksud menemui mamah Yati.
"Kak Rasmi gimana, Tante?"
"Kakak kamu lagi istirahat. Jangan ganggu!"
Lalu keduanya masuk ke dalam kamar rawat mamah Yati.
"Anan kemana, Mbak?" tanya tante Ranti begitu duduk di hadapan mamah Yati.
"Anan menghadiri acara ulang tahun perusahaan nak Arya."
Mamah Yati terlihat lesu tanpa semangat sedikit pun.
"Mbak baik-baik saja? Apa ada yang sakit?"
Tante Ranti berdiri dan memeriksa kening mamah Yati.
"Mbak agak demam. Aku panggil suster, ya?"
Tante Ranti menekan alat yang ada di samping tempat tidur mamah Yati. Tak lama berselang, suster Mira pun tiba.
"Nyonya lebih baik istirahat yang cukup. Jangan banyak pikiran. Karena itu mempengaruhi sistem imun Nyonya," ucap suster Mira lembut setelah memeriksa mamah Yati.
"Kalo begitu, saya permisi." Suster Mira pun meninggalkan ruangan itu.
"Memangnya apa yang menjadi beban pikiran Mbak?"
Hening...
Mamah Yati menghela nafas berat.
Hening...
Lagi, mamah Yati kembali menghela nafas berat.
__ADS_1
Seolah memikul beban drum seberat 100 kg, itulah raut wajah yang ditampakkan mamah Yati.
"Mbak...?"
Mamah Yati menoleh ke tante Ranti.
"Ranti, akhir-akhir ini perasaanku tidak enak. Firasatku berkata hal buruk akan terjadi. Aku takut. Aku takut, apa yang aku khawatirkan menjadi kenyataan. Aku takut sesuatu yang buruk menimpa putriku." Mamah Yati mulai buka suara.
Bulir kristal di pelupuk mata mamah Yati meleleh membasahi kedua pipinya.
Tante Ranti bangkit dari duduknya, duduk di samping mamah Yati.
"Mbak harus tenang. Ingat kesehatan Mbak. Kita lebih baik berdoa kepada Allah, semoga Anan senantiasa dilindungi Allah," tutur tante Ranti, mengelus lengan mamah Yati agar lebih tenang.
Atika yang juga berada di ruang yang sama, turut sedih menyaksikan mamah Yati meneteskan air mata. Ia pun berdoa untuk keselamatan Anan.
***
Di tempat acara berlangsung.
Suara iringan musik dan para hadirin memenuhi tempat acara. Para pelayan sibuk hilir mudik melayani para tamu yang hadir malam ini.
Tuan dan nyonya Wijaya pun telah hadir di tengah-tengah hadirin yang berjubel. Tak ketinggalan, Lexa. Yang sejak tadi bak anak ayam yang mengekor pada induknya. Kemana mamih Clara berjalan, maka Lexa pun turut ke sana.
"Maaf loh, Jeng. Ini siapa? Kok dari tadi aku perhatikan dia akrab sekali dengan Jeng Clara," ucap salah satu istri dari pemegang saham, mempertanyakan status Lexa bernama ibu Sonya.
"Oo... iya, kenalkan, ini Lexa, calon mantu aku."
Dengan bangga, Lexa memasang senyum termanisnya.
"Gimana menurut Jeng, cantik 'kan?" tanya mamih Clara.
"Iya dong. Kan calon mantunya Jeng Clara," sahut ibu lainnya.
Mamih Clara gencar mempromosikan Lexa, diakhiri dengan meminta dukungan kepada Lexa dengan bertanya.
"Iya, Tante," sahut Lexa masih dengan kedua sudut bibirnya yang mengembang.
"Wah... benar-benar calon menantu sempurna," puji salah satu dari mereka.
"Pastinya nak Lexa ini jago masak juga 'kan ya? Sebab seorang istri itu bukan hanya bisa dandan, mempercantik diri biar suami senang, bisa masak juga adalah bagian terpenting dalam memanjakan lidah suami. Dan menurut aku, itu baru calon mantu idaman."
Baru saja Lexa berada di atas awan mendengar pujian yang ditujukan padanya, tiba-tiba ia merasa terpental sampai ke dasar samudera oleh perkataan teman mamih Clara, ibu Sonya.
Secara, Lexa paling malas berurusan dengan bagian rumah yang satu ini. Bagaimana bisa masak? Kalau ia sendiri paling anti dengan yang namanya 'dapur'. Membuat senyum manis yang sejak tadi merekah di bibirnya, berganti dengan raut wajah kesal dibalut senyum masam.
"Sial nih ibu resek yang satu. Kayak jago masak aja dia. Penasaran, seperti apa rasa masakannya. Kalo sampai biasa aja, dia harus tarik kembali kata-katanya," batin Lexa, kesal.
Lexa yang sibuk membatin tiba-tiba melongo mendengar penuturan mamah Clara.
"Betul sekali itu Jeng. Calon mantu aku harus pandai memasak dan berpenampilan modis. Dan aku akui masakan Jeng Sonya memang best. Lexa aja sampai mengira kalo itu dimasak koki profesional di restoran terkenal."
Menyadari keterpakuan Lexa, mamah Clara kembali bersuara.
"Itu loh Xa, yang waktu kamu ke rumah dan makan siang bersama tante. Itu masakan jeng Sonya loh."
"Oh shit! Ternyata aku sendiri udah memuji masakan ibu ini. Dan apa tadi kata tante Clara? Aku harus bisa masak? Oh no! Bisa-bisa kuku-kukuku patah lagi kena peralatan dapur. Tidak! Ogah aku," rutuk Lexa membatin.
Terpaksa Lexa mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah ke ibu Sonya.
Ketika asyik menemani mamih Clara berbincang dengan teman-teman sosialitanya, maniknya tak sengaja menangkap sosok Septy yang baru saja masuk melalui pintu utama.
Septy tidak sendiri, ia di dampingi Ammar, sang kakak sepupu. Dan untuk mendapatkan persetujuan Septy, mamah Santi benar-banar mengeluarkan jurus jitu merayu anak gadisnya agar mau ke pesta dengan di dampingi Ammar. Pria yang hendak mamah Santi jodohkan dengan putrinya itu.
"Umm... Tante, aku ke sana dulu," izin Lexa ke mamih Clara, menunjuk ke arah Septy.
__ADS_1
Mamih Clara tersenyum seraya mengangguk.
Kemudian Lexa berjalan melewati beberapa tamu yang mana para tamu tersebut merupakan pengusaha muda, kaya, dan sukses. Tentunya dengan lirikan menggoda, meliuk-liukkan badannya, serta mamasang senyuman di wajah cantiknya agar dapat menarik perhatian lawan jenisnya.
"Hai... ," sapa Lexa begitu tiba di hadapan Septy.
"Hai... ," sambut Septy, malas.
"Ada cowok cakep, kok tidak diperkenalkan?" sindir Lexa melirik Ammar.
"Oh, kenalkan. Ini Ammar, kakak sepupu aku," ucap Septy menunjuk Ammar, masih demgan sikap malas.
Ammar pun menjulurkan tangan kanannya memperkenalkan diri.
"Ammar, calon suami Septy," ucapnya. Membuat Septy terperangah.
Lain dengan Lexa yang mengkerutkan keningnya.
"Jadi yang benar, yang mana nih?" tanya Lexa bingung.
"Aku kakak sepupu sekaligus calon suami Septy," tukas Ammar tersenyum yakin. Membuat Septy memelototkan kedua bola matanya.
"Oh... Ya udah, nikmati pestanya ya, aku pinjam Septy nya sebentar," ucap Lexa ke Ammar.
Lexa menarik pelan tangan Septy, menjauh dari Ammar.
"Kenapa kamu pergi tinggalin aku sendiri di restoran kemarin?" tanya Lexa setelah berada jauh dari keriuhan tamu acara.
"Aku-aku tiba-tiba ditelpon mamahku. Aku disuruh pulang cepat," jawab Septy bohong.
"Oo... ," ucap Lexa percaya.
"Kamu tau? Sebentar lagi kita akan menyaksikan pertunjukan spektakuler." Lexa bersedekap seraya menyeringai.
Septy merinding mendengar ucapan Lexa. Septy dapat melihat ambisi dan kebencian di mata gadis berambut pirang itu.
Tiba-tiba keriuhan semakin menggema, tatkala Arya menginjakkan kakinya di depan pintu utama gedung hotel tersebut.
Para tamu undangan, khususnya kaum hawa yang masih lajang, antusias menyambut kedatangan pewaris tunggal Wima Group itu.
Seluruh pujian tersemat untuk Arya. Namun lain halnya untuk Anan yang berjalan di belakang Arya.
Loh, kok Anan berjalan tidak beriringan dengan Arya? Ada apa?
Penasaran kan?
Nantikan kisah selanjutnya 3 hari lagi ya, pembacaku yang baik hati dan tidak sombong.
Jangan lupa vote, like dan komen agar author kesayangan kalian ini makin semangat.
Terimakasih.
Luv U Allπππ
__ADS_1