Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 57


__ADS_3

[ Warning! Mengandung bawang ]


Selamat membaca


🌸🌸🌸


Tante Ranti menoleh putrinya yang berdiri sejak tadi di ambang pintu.


Tante Ranti bergegas menanggalkan alat shalatnya dan berjalan cepat ke arah putrinya.


"Rasmi... kenapa kamu kemari, Nak? Kamu belum pulih betul. Kamu istirahat ya," bujuk tante Ranti, memapah Rasmi berjalan ke sofa dan duduk di sana.


Namun sekuat apapun tante Ranti membujuk Rasmi, ia tetap bersikukuh ingin bertemu Anan.


Awalnya, tante Ranti enggan membocorkan kabar kecelakaan Anan. Tapi, Rasmi tak henti mendesak mamahnya. Karena sudah terdesak, mau tidak mau, terpaksa tante Ranti membeberkannya.


"Benar seperti itu, Mah?" Tante Ranti mengangguk lemah.


Rasmi seakan sulit menghirup udara. Air matanya keluar begitu saja tanpa dipersilakan. Ingatannya melayang ke 2 tahun yang lalu.


Kala itu, Rasmi menangis tersedu-sedu di atas pusara ayahnya yang masih basah. Sebagian orang yang mengantar jenazah Herman, ayah Rasmi, telah pulang ke rumah masing-masing.


Anan yang juga berada di lokasi pemakaman yang sama, menghampirinya. Meskipun belum akrab, namun Anan sudah mengenal Rasmi sebab mereka bertetangga.


Kalimat yang sangat melekat di sanubari Rasmi kala itu adalah 'Dunia ini hanyalah tempat persinggahan. Tempat untuk menjalankan tugas dengan baik yang balasannya akan kita dapatkan di kehidupan selanjutnya. Percayalah, ayahmu tidak pernah meninggalkanmu, tapi justru menjagamu. Kamu tau di mana? Di sini, di hatimu. Lalu, untuk apa kamu bersedih seperti ini? Jika kamu seperti ini, kamu tidak hanya menyakiti dirimu sendiri, tapi juga menyakiti ayah,... juga ibumu. Apa kamu tidak kasian kepada mereka? Apa kamu akan terus meraung-raung di sini dan menyiksa mereka?... Kamu sayang 'kan sama mereka? Kalo kamu sayang sama mereka, kamu harus sayang terlebih dahulu pada diri kamu sendiri. Agar tidak membuat mereka khawatir. Kamu mengerti 'kan?'.


Penggalan demi penggalan kalimat Anan terus terngian-ngian di telinga Rasmi. Mulai saat itulah dirinya yang tidak dekat dengan Anan, menjadi akrab.


Banyak sekali pelajaran yang didapatnya dari Anan. Dari Anan juga ia belajar lebih dewasa menghadapi hidup meski tanpa sosok ayah.


Yang paling Rasmi kagumi dari Anan adalah cara Anan mencintai dan menyayangi mamahnya. Serta perangainya yang lembut dan pantang menyerah. Dan karena kedekatan keduanya, Anan dan Rasmi seperti kakak dan adik.


"Lalu, sekarang di mana kak Anan, Mah?"


"Anan di ruang operasi. Kata dokter Sandra, ada masalah di bagian kepala dan organ vital lainnya." Tante Ranti menghela nafas.


"Kamu jangan berpikiran macam-macam. Lebih baik kita berdoa dan serahkan semuanya pada Allah. Semoga Anan mampu melewati masa kritisnya," tambah tante Ranti.


***


Di ruang operasi.


Dokter telah beberapa kali mencoba mengejutkan jantung Anan dengan alat kejut jantung. Bahkan meminta parawat menaikkan gelombang listrik di dalamnya. Namun hasilnya tetap nihil. Tak ada tanda-tanda jantung Anan merespon. Dokter tersebut pun menggeleng pelan.


"Jam menunjukkan pukul 03.44," ucap perawat seraya membereskan peralatan yang digunakan untuk membedah tadi.


Dokter dan anggota tim lainnya hanya mengangguk lemas dan menarik kain putih untuk menutupi seluruh tubuh Anan.

__ADS_1


Zidan bangkit dari duduknya mendekati tubuh Anan dan seluruh tim yang menangani Anan saat ini.


"Apa maksudnya ini, Dokter?" Zidan mencengkram kerah baju dokter yang


berusia sekitar 47 tahun itu. Sedang yang lainnya hanya menunduk tidak berani berbuat apa-apa.


"Maaf, Tuan. Maafkan kami. Ini di luar kendali kami. Kami telah berusaha maksimal."


"Usaha maksimal Dokter bilang?! Apa ini maksimal yang Dokter maksud?" sergah Zidan memekik, tidak terima dengan kenyataan yang ada. Membuat suara lantang Zidan dapat terdengar dari luar ruang operasi, meski samar.


Semua yang menunggu di depan ruang operasi tersentak. Ketika mendengar suara gaduh dari dalam ruang operasi dan saling menatap satu sama lain.


Adji mendekati pintu agar telinganya dapat menangkap lebih jelas suara di balik pintu tersebut.


Adji mengernyit. "Itu suara Zidan, Tante. Sepertinya terjadi sesuatu," ucapnya memberi tahu dokter Sandra.


"Oh, tidak... Anan." Salma seketika terisak seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ada perasaan sedih yang merasuki relung hatinya.


"Tenanglah, Salma. Operasi Anan pasti berhasil." Rara merengkuh Salma mencoba menenangkannya walau sebenarnya ia pun dilanda kekhawatiran dan rasa takut.


Suara keributan semakin terdengar jelas. Membuat semuanya cemas dan penasaran sekaligus.


Dokter Sandra berdiri dari duduknya.


"Biar Tante lihat."


"Aku ikut, Dokter," tawar Idham yang beranjak dari duduknya.


Namun, siapa sangka pemandangan di ruang operasi mendadak rusuh. Tidak seperti suasana ruang operasi pada umumnya. Dan itu karena ulah Zidan. Walau semua yang ada di sana telah berusaha membujuk dan mengingatkan Zidan, tapi Zidan bergeming, tak menghiraukan segala apa yang mereka katakan.


"Apa yang kamu lakukan, Zidan?!" pekik dokter Sandra melihat Zidan mengarahkan pisau bedah ke leher salah satu dokter yang ada di sana.


Syok? Ya. Dokter Sandra benar-benar syok menyaksikan aksi putranya itu. Ia pun bertanya-tanya apa sebab Zidan mendadak seperti ini?


"Turunkan pisau itu!" titahnya.


"Tidak, Mah. Zidan tidak rela, Mah." Bulir bening jatuh dari pelupuk mata Zidan.


"Tenanglah, Zidan. Bahaya kalo kamu bertindak seperti ini," bujuk Idham berusaha mendekat.


"Iya, Sayang. Benar yang dikatakan dokter Idham. Apa kamu mau menghilangkan nyawa dokter itu?" tanya dokter Sandra menunjuk dokter yang ditodong pisau.


Dokter Sandra dan Idham belum mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Lepaskan pisaunya ya, Sayang. Kasihan dokternya," tutur dokter Sandra lembut, seolah membujuk anak berumur 5 tahun.


"Anan, Mah... ." Zidan yang akan ambruk segera diraih oleh Idham. Dengan hati-hati, Idham menyingkirkan pisau dari tangan Zidan.

__ADS_1


Zidan terduduk dengan posisi kedua kakinya terlipat ke belakang. Ia tertunduk diiringi suara isakan.


"Anan, Mas," lirihnya.


Idham pun memahami situasi yang terjadi saat ini. Meski ia sudah terbiasa, namun ia tak menyangka ini terjadi pada Anan.


Disaat yang sama, para dokter dan perawat yang sejak tadi berdiri di hadapan brankar Anan bergegas menghampiri dan menenangkan dokter yang disandera Zidan tadi. Sehingga dokter Sandra pun dapat melihat kain putih yang menutupi tubuh yang dia yakini tubuh milik Anan.


Netranya melotot, dadanya sesak, kakinya serasa tidak menapaki bumi, menyaksikan tubuh kaku Anan.


Tubuh dokter Sandra tiba-tiba lemas dan gemetar. Dengan langkah gontai dan air mata, ia menghampiri Anan.


"Apa yang terjadi, Dokter?" lirihnya.


Perlahan, tangan dokter Sandra meraih kain putih itu. Seketika tubuhnya terkulai merengkuh tubuh Anan yang masih hangat.


"Anan, putriku... ." Panggilnya terisak pilu.


"Mengapa begitu cepat kamu meninggalkan Mamah, Sayang. Sedang Mamah sangat merindukanmu. Lalu, dengan apa Mamah mengobati rindu Mamah padamu, Sayang." Tangis dokter Sandra pecah memenuhi ruangan.


Tim dokter dan perawat yang menangani Anan pun meneteskan air mata mendengar tangis dokter Sandra yang begitu memilukan. Baru kali ini mereka melihat sisi lemah dari pemimpin Sandra Hospital itu. Sungguh pilu, hingga mereka pun larut dalam kesedihan. Namun mereka tak mampu melakukan apa-apa selain mendoakan yang terbaik.


Dokter Sandra melepaskan tubuh diam Anan. Ia memandangi wajah pucat penuh luka itu, lekat. Meski diam, senyum seakan tergambar di paras Anan.


Air mata dokter Sandra bak bendungan yang retak membanjiri wajahnya, tatkala ia mengingat mamah Yati.


"Anan... Mamah harus bilang apa sama mamah Yati. Apa yang akan terjadi jika dia mendengar kabar kepergianmu. Dia pasti sangat terluka dengan kepergianmu... hiks... Bangunlah, Sayang. Jangan tinggalkan kami."


Dokter Sandra kembali merengkuh tubuh Anan. Diiringi tangis dan isakan yang bagai nyanyian pilu yang menyayat hati.


"Anaannn.... ," pekik Adji.


Karena penasaran, Adji pun menerobos masuk tanpa izin ke ruangan yang dipenuhi isak tangis itu.


Segera Adji menghampiri brankar Anan. Ia pun sama dengan Zidan dan dokter Sandra. Ia pun tak mampu menahan kesedihan yang menderanya. Hatinya perih bak tersayat silet melihat wajah pucat nan ayu Anan yang kini tak bernyawa. Bulir kristal bening pun jatuh bagai gerimis yang tak diundang di wajahnya.


Dari tempat duduk Zidan yang ditemani Idham, sesekali manik yang berkaca-kaca milik Zidan melirik Anan yang direngkuh mamahnya. Dan alangkah terkejutnya Zidan ketika tak sengaja melihat salah satu jari Anan bergerak. Walau cuma sekali, namun Zidan yakin dengan apa yang dilihatnya barusan.




Vote, like dan komen ya.



Author saaayaaang deh sama kalian... 😘😘😘

__ADS_1



Terima kasih πŸ™


__ADS_2