
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu membangunkan dokter Sandra dari tidurnya. Setelah melaksanakan ibadah shalat dzuhur, ia pun tertidur ditemani oleh sisa jejak air matanya.
Dokter Sandra segera bangkit dan berjalan ke arah pintu.
"Ada apa, Pih?" tanyanya setelah pintu terbuka.
"Kemal sudah datang. Papih yang memanggilnya. Keluarlah, temui dia! Papih mau masalah kalian kelar hari ini juga," tegas tuan Kendra. Lalu berjalan mendahului dokter Sandra menuju ruang keluarga.
Dokter Sandra menatap punggung mertuanya, kemudian mulai mengikuti.
Tuan Kemal menatap kedatangan istrinya. Dari raut muka dokter Sandra yang sembab, tuan Kemal tahu bahwa istrinya masih bersedih.
Mereka pun duduk bertiga di kursi yang berbeda.
"Papih mempertemukan kalian agar kalian bisa menyelesaikan masalah kalian. Bukan karena Papih sayang dengan rumah tangga kalian berdua, tapi karena Papih sayang kepada kedua cucu Papih. Papih kasihan sama mereka yang selalu memohon agar kalian berbaikan. Padahal, mereka bukan penyebab masalah kalian. Apa kalian tidak malu pada mereka? Yang seharusnya mendapatkan contoh yang baik dari kalian, malah kalian bersikap kekanak-kanakan. Bersikaplah dewasa, selesaikan masalah kalian dengan cara baik-baik. Bukan malah diam-diaman, kucing-kucingan kayak gini," tutur tuan Kendra, tenang tapi memaksa.
Baik tuan Kemal maupun dokter Sandra, keduanya terlihat berpikir, menimbang-nimbang sesuatu.
"Benar kata papih. Mungkin aku terlalu kekanak-kanakan," batin dokter Sandra.
"Mungkin aku terlalu banyak pikir dan kurang bertindak. Aku pikir, dengan membiarkan Sandra, dia akan baik dengan sendirinya. Ternyata, malah semakin ngambang, tidak jelas," batin tuan Kemal.
Beberapa detik kemudian, keheningan pun menguap.
"Papah minta maaf."
"Mamah minta maaf."
Ucap tuan Kemal dan dokter Sandra bersamaan.
"Tidak, Mah. Papah yang salah. Papah yang seharusnya minta maaf," sanggah tuan Kemal.
"Tidak, Pah. Mamah juga salah. Tidak sepatutnya Mamah menghindar dan hanya bersembunyi," bantah dokter Sandra.
"Sudah, sudah. Karena kalian sama-sama sudah tahu salah, lebih baik kalian saling memaafkan dan masing-masing berbenah agar bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi," nasihat tuan Kendra, menengahi keduanya.
"Kalian ngobrollah, Papih masih ada urusan," imbuhnya, kemudian meninggalkan keduanya.
"Jon!" panggil tuan Kendra.
Tak lama Jojon pun datang.
"Iya, Tuan," sahutnya.
"Siapkan mobil, saya mau pergi ke suatu tempat!" titah tuan Kendra.
"Baik, Tuan.
Selang beberapa menit berkendara, sampailah tuan Kendra di tempat tujuan.
Tuan Kendra mengamati dengan seksama papan nama toko kue tersebut beserta bangunannya. Kemudian melangkah lebih dekat.
Setelah berada di dalam, Rasmi yang sedang mengatur pesanan kue yang akan ia antarkan, menoleh dan menyambutnya dengan ramah.
"Mau pesan kue untuk acara apa, Tuan?" tanya Rasmi.
"Tidak. Saya ke sini bukan mau pesan kue, Nak," jawab tuan Kendra.
Rasmi mengernyit bingung.
__ADS_1
"Tapi, di sini toko kue, Tuan," jelasnya.
Tuan Kendra tersenyum tipis.
"Apa pemilik toko ini ada?" tanyanya.
"Tuan ingin bertemu dengan mamah Yati?" tanya Rasmi. Dibalas anggukan oleh tuan Kendra.
"Tuan silahkan duduk. Saya akan memanggil mamah Yati."
Tuan Kendra pun duduk di kursi yang disediakan Rasmi.
Sepeninggal Rasmi, tuan Kendra mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Kue-kue yang terpajang di dalam lemari etalase pun tak luput dari tatapannya.
Ditatapinya satu per satu kue beragam bentuk dan warna itu. Lucu dan unik, menurutnya.
"Tuan mencari saya?"
Suara mamah Yati sedikit membuat tuan Kendra terkejut.
"Maaf, Tuan, kalau saya sudah mengagetkan Tuan."
"Tidak, tidak apa," ucap tuan Kendra.
"Ngomong-ngomong, ada apa ya Tuan mencari saya?" Mamah Yati kembali bertanya.
"Apa boleh kita bicara di luar?" pinta tuan Kendra.
Mamah Yati tampak berpikir.
"Ada hal penting yang ingin saya sampaikan," ujar tuan Kendra.
Tuan Kendra kemudian keluar dari toko kue mamah Yati dan menunggu di dalam mobil.
"Mamah keluar dulu, ya. Kalau ada apa-apa, langsung telpon Mamah," pamit mamah Yati kepada Rasmi dan Atika.
"Silakan, Nyonya." Jojon mempersilakan mamah Yati masuk ke dalam mobil. Lalu menutup pintu mobil begitu mamah Yati duduk di dalamnya.
Hening.
Itulah suasana sepanjang perjalanan mamah Yati yang entah bermuara di mana.
"Sebenarnya, siapa tuan ini? Dari kelihatannya... sedikit seram. Tapi tutur katanya lemah lembut dan ramah. Orang ini pasti bukan orang biasa. Tapi untuk apa dia mau bertemu dengan saya? Apa saya mengenalnya? Atau pernah bertemu di suatu tempat? Diingat bagaimanapun, ini adalah pertemuan pertama saya dengan orang ini." Mamah Yati bermonolog dalam hati.
Akhirnya, mobil yang membawa mamah Yati berhenti di depan sebuah restoran.
Jojon turun lalu membukakan pintu untuk mamah Yati.
"Bukankah seharusnya dia membukakan pintu untuk tuannya?" Lagi-lagi mamah Yati membatin.
Mamah Yati melirik tuan Kendra yang sedang membuka pintu untuk dirinya sendiri, kemudian keluar dari kendaraan baja itu.
Mamah Yati pun keluar dari kendaraan roda empat itu lalu berdiri di samping tuan Kendra.
"Mari, kita ngobrol sambil makan siang," ajak tuan Kendra.
Mereka pun memasuki restoran itu.
Setelah duduk, seorang pramusaji menghampiri dan menyodorkan daftar menu.
"Pesanlah makanan yang ingin kamu makan," tawar tuan Kendra.
__ADS_1
"Samakan saja dengan Tuan," ucap mamah Yati.
Pramusaji itu lalu meninggalkan mereka setelah mencatat pesanan tuan Kendra.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya Tuan ini siapa dan untuk apa mencariku? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?" cecar mamah Yati.
"Ini pertemuan pertama kita. Perkenalkan, nama saya Kendra. Saya adalah ayah dari Kemal."
Mamah Yati terkejut mengetahui orang yang ada di hadapannya saat ini adalah mertuanya.
"Maaf, Tuan. Saya tidak mengenali Tuan."
"Jangan panggil 'tuan'. Dan jangan juga meminta maaf. Justru saya lah yang seharusnya meminta maaf. Untuk itulah saya menemuimu. Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu dan juga kepada Anan. Karena keegoisan saya, saya telah memisahkan seorang suami dari istrinya, dan seorang ayah dari anaknya."
Tak terasa bulir bening jatuh dari pelupuk mata mamah Yati.
Lalu tuan Kendra pun menceritakan semuanya ke mamah Yati. Mulai dari restu yang enggan ia berikan, sampai perjodohan yang ia rencanakan. Tidak lupa, ia pun mengisahkan awal pertemuannya dengan Anan.
Ketika pramusaji datang membawa pesanan mereka, buru-buru mamah Yati dan tuan Kendra mengusap air mata mereka.
"Kamu mau kan memaafkan saya? Saya sunggu menyesal," minta tuan Kendra, memelas.
Mamah Yati mengangguk.
"Iya, Tuan. Saya memaafkan Tuan. Saya tidak ada dendam sedikit pun. Saya mengerti, mengapa Tuan melakukan itu. Saya kira, tidak ada satupun orang tua yang tidak menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik. Tak terkecuali dengan saya."
"Hatimu sungguh mulia, Nak. Terima kasih sudah bersedia memaafkan saya. Dan... satu lagi."
"Apa itu, Tuan?" tanya mamah Yati.
"Kamu mau kan memanggilku 'papih'?"
Mamah Yati mengangguk sembari tersenyum.
"Ya sudah. Kita makan dulu," ajak tuan Kendra.
Bahagia, satu kata yang dirasakan oleh mamah Yati saat ini. Walau terlambat, ia tidak mempermasalahkannya sedikit pun.
Baginya, mendapatkan restu dan pengakuan, itu yang terpenting.
Kebahagiaan juga dirasakan oleh tuan Kendra. Sedikit demi sedikit hatinya merasakan kelegaan.
"Papih melihatmu sangat kurus. Ini, makanlah yang banyak!"
Tuan Kendra meletakkan sebagian makanannya di piring mamah Yati.
"Tidak usah, Pih. Dari dulu juga saya tidak pernah gemuk."
Mamah Yati hendak mengembalikan makanan yang diberikan tuan Kendra, namun tuan Kendra langsung menolaknya.
"Tidak, tidak. Ini pertama kalinya saya makan bersama menantu pertamaku, maka biarkan saya melakukannya."
"Baiklah. Terserah Papih saja. Jangan menyesal, ya."
Candaan mamah Yati membuat tuan Kendra terkekeh.
"Terima kasih ya Allah. Engkau menganugerahkanku menantu sebaik dia. Mudah-mudahan, sebelum aku menghadap-Mu, aku bisa memberinya banyak kebahagiaan, Aamiin ya Rabb," batin tuan Kendra.
🍒🍒🍒
Tbc...
__ADS_1