Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 35


__ADS_3

"Tapi nak, Septy anak kami satu-satunya. Kami tidak tega melihatnya mendekam di penjara. Kami mohon kemurahan hati kalian. Tolong maafkan anak kami dan cabut tuntutan kalian terhadap putri kami. Bukankah Septy juga teman kalian?" papar mamah Santi dengan air mata yang menganak sungai.


Tiba-tiba pintu membuka dan ...


"Tidak! Saya tidak akan memaafkan putri kalian. Tuntutan hukumnya pun tidak akan saya cabut."


Tante Ranti berjalan mendekati mamah Yati.


"Apa kalian pikir mudah bagi kami menerima kejadian ini? Kami syok mengetahui kabar kecelakaan anak kami. Dan tahukah bapak dan ibu, kami pun hanya memiliki seorang putri. Dan bahkan putri-putri kami tidak mempunyai seorang ayah," papar tante Ranti yang berusaha tegar meski maniknya berkaca-kaca.


"Kalian tidak pernah tahu, bagaimana rasanya kehilangan orang yang berharga dalam hidup kalian, hingga dengan entengnya kalian meminta maaf bahkan meminta agar kami mencabut tuntutan kami terhadap putri kalian. Apa maaf dapat mengembalikan keadaan ke posisi semula?"


Bulir bening yang menumpuk di pelupuk mata tante Ranti tak dapat ia tahan lagi. Cairan bening itu pun tumpah, membasahi pipi ovalnya. Ia kembali teringat akan mendiang suaminya.


Anan dan Salma pun tak lagi mampu membendung air matanya, mendengar curhatan kecil yang keluar dari bibir tante Ranti. Betapa tidak, di depan mata kepalanya, ia menyaksikan sang suami terhempas akibat tertabrak, dan meregang nyawa saat itu juga. Hingga Rasmi menyandang status anak yatim.


Ibu Santi maju dan bersimpuh di hadapan tante Ranti.


"Tapi bu, saya mohon, maafkan putri kami. Kami rela memberikan apa saja, asal ibu bersedia mencabut dan menutup kasus ini," pinta ibu Santi memelas dan dengan uraian air mata yang semakin deras, bak air hujan yang ditumpahkan.


Semua yang ada di sana terkejut dengan sikap ibu Santi. Termasuk suaminya sendiri. Tidak disangka, wanita yang selalu berpenampilan glamor itu rela bertelut di hadapan seorang wanita biasa yang cenderung kampungan.


Lalu, kemana kesombongan yang selalu menyertai wanita sosialita itu? Di mana keangkuhan yang senantiasa menghiasi wajah penuh polesannya itu?


Ini adalah pelajaran bagi kita semua. Pada dasarnya, kesombongan dan keangkuhan ( sama ya? ) itu, bukan hak dan milik kita. Karena pada detik selanjutnya, tanpa kita sadari, kita harus dengan sukarela melepaskannya.


Tak tega, pak Bagas menghampiri istrinya dan membantunya berdiri.


"Bu, paling tidak berilah sedikit keringanan untuk putri kami. Kami akan sangat berterima kasih atas kemurahan hati ibu untuk kesempatan yang diberikan kepada anak kami."


Pak Bagas pun pamit undur diri, membawa istrinya yang masih berlinang air mata, keluar dari ruangan itu.


Sepeninggal kedua orangtua Septy, Anan pun membuka suara.


"Tante, sebelumnya Anan minta maaf. Bukan maksud Anan membela, tapi apa tidak sebaiknya kita memberi kesempatan kepada putri mereka untuk berbenah dan memperbaiki diri?"


Pertanyaan Anan sontak mengundang manik Adji dan Zidan menatap ke arahnya, begitu juga dengan yang lainnya. Dan akhirnya Adji dan Zidan bertukar pandang. Seakan pikiran mereka terhubung, keduanya sama-sama bisa menebak, maksud dari pertanyaan Anan.


Ternyata apa yang dicemaskan Adji benar. Anan yang mempunyai sifat pemaaf, sudah pasti memaafkan Septy, tanpa melihat ke belakang, meski itu fatal sekalipun.


"Nan, apa kamu yakin Septy tidak akan mencelakai kamu lagi?" tanya Adji.

__ADS_1


Jujur saja, Adji kecewa jika sampai Anan benar-banar meloloskan Septy dari jeratan hukum. Apalagi, ini bukan pertama kalinya Septy mencoba melenyapkan Anan.


Anan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sahabatnya itu.


***


Satu minggu kemudian, Anan berencana menemui Septy di kantor polisi ditemani Zidan dan Adji.


"Kamu sudah siap?" tanya Zidan yang baru saja tiba.


Adji yang sejak 15 menit lalu berada di ruang itu, menatap Anan sedih. Seakan tak rela jika Anan harus menerima dan memaafkan Septy, mengingat semua perlakuan Septy terhadap Anan.


"Sudahlah. Kita harus bisa mendukung apapun yang menjadi keputusan Anan," ucap Zidan yang sadar akan tatapan Adji ke Anan.


Tidak lama setelah itu, mereka pun berpamitan ke mamah Yati dan tante Ranti. Walau sejujurnya tante Ranti belum bisa menerima keadaan ini, namun ia juga tidak menyalahkan semua perkataan Anan kepadanya.


Ucapan Anan yang paling membekas di ingatannya adalah 'Sudah kodrat manusia menjadi tempat salah dan dosa. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang luput darinya. Sebagai manusia biasa kita hanya bisa memaafkan dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena sejatinya, salah dan maaf itu beriringan. Tuhan saja maha pemaaf, apalagi kita yang hanya manusia biasa.'


Anan, Zidan, dan Adji saat ini sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi untuk menemui Septy.


Tak ada obloran yang menyelingi perjalanan mereka. Mereka sama-sama sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya mobil Zidan berbelok masuk ke area parkir.


"Itu benar Lexa kan? Untuk apa dia ke kantor polisi? Siapa yang ditemuinya di dalam sana?" gumamnya membatin.


"Hei! Ayo! Kok bengong." Adji membuka lebar pintu mobil yang hanya terbuka sedikit untuk Anan.


"Apa kamu berubah pikiran?" tanya Adji.


"Tidak. Ayo!" Anan lalu melenggang bersama Adji dan Zidan masuk ke kantor tersebut.


Setelah menyampaikan maksud kedatangannya, seorang polisi wanita datang dengan membawa serta Septy di sampingnya.


Anan merasa iba melihat keadaan Septy saat ini. Gadis itu tidak lagi berpakaian dan berdandan glamor seperti biasa Anan lihat.


Inilah Anan, ia tidak bisa merasa puas jika seseorang menderita. Walau orang itu adalah orang yang telah membenci dan mencelakainya sekalipun.


"Kamu pasti puas kan melihat aku seperti ini," ucap Septy begitu duduk di hadapan Anan dengan tatapan tidak suka.


"Kamu datang untuk menertawakan aku kan?" tambahnya.


"Septy, tenanglah. Kedatanganku kemari bukan untuk menertawakanmu. Tapi untuk mengeluarkanmu."

__ADS_1


Disaat yang sama, teman-teman Septy, Yuli dan Serli datang bersama kedua orangtua Septy.


"Benarkah yang kamu bilang tadi nak?" tanya ibu Santi ke Anan.


"Benar tante. Keputusan yang kami ambil ini memang berat, tapi kami tidak ingin Septy berada di tempat seperti ini. Untuk itu, kami bersedia memberi kesempatan untuk dia memperbaiki diri. Paling tidak, Septy bisa menyadari akibat dari perbuatannya," tutur Anan lembut.


Ibu Santi seketika mendekapnya dengan berurai air mata.


"Terima kasih nak. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu. Tante janji akan mendidik Septy lebih baik lagi."


"Betul nak. Kami orangtua Septy sangat berterimakasih atas kemurahan hati nak Anan juga ibu Ranti. Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian," ucap pak Bagas menambahkan.


"Aku benar-benar salut sama kamu Nan. Kamu tau betul, bagaimana Septy dan kami jahat sama kamu. Tapi kamu tetap maafin. Mulai detik ini, aku ingin seperti kamu Nan, yang tidak pendendam," batin Serli menatap bangga ke arah Anan.


Berbeda dengan Serli dan kedua orangtuanya, Septy justru menatap Anan dengan tatapan yang sulit diartikan.




Author sangat berterimakasih kepada para pembaca yang setia menunggu up dari author.



Untuk pembacaku yang setia I love U😘



Dan untuk pembaca yang baru mampir, terimakasih dan salam kenal. Semoga bisa jadi pembaca setia author.



Author menyayangi kalian.



Jangan lupa rate, vote, like, dan komen.



Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2