
"Kenapa kalian tega pada Anan?! Anan baru saja pulih pasca kecelakaan. Dan sekarang matanya tidak bisa melihat. Kenapa harus Anan juga yang mendonorkan ginjalnya?"
Tuan Kemal benar-benar tidak menerima kenyataan bahwa Anan akan kembali terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Entahlah, tapi... perasaan itulah yang ada di lubuk hatinya. Perasaan khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Anan.
"Ini atas permintaan Anan sendiri, Pah. Aku, mamah, dan semuanya telah melarang dan mengingatkannya. Tapi Anan bersih keras melakukannya. Kami tidak punya pilihan lain, selain mendukung dan mendoakan yang terbaik," beber Zidan.
"Mamah Yati tidak tahu siapa donornya. Anan meminta kami semua tutup mulut," ungkap Zidan.
Hening...
"Mengenai tes DNA Papah, kapan hasilnya akan keluar?" tanya Zidan.
"Tiga hari lagi." Raut wajah tuan Kemal terlihat panik dan tampak berpikir keras. Zidan pun pamit untuk kembali ke rumah sakit.
"Apa Papah mau ke rumah sakit bareng Zidan?" tawarnya yang berbalik sebelum menyentuh gagang pintu.
"Tidak, lain waktu saja," sahut tuan Kemal, menggeleng. Dan berdiri beberapa langkah dari Zidan.
"Baiklah, Pah. Zidan berangkat dulu."
Tuan Kemal mengangguk sekali.
"Hati-hati di jalan," ucapnya.
Sekitar 15 detik tuan Kemal masih enggan memalingkan pandangannya dari pintu kayu berwarna cokelat tua yang menjadi akses dari meja sekretarisnya munuju ruangannya itu.
Tadinya ia mengira bahwa Zidan akan marah begitu mengetahui dirinya melakukan tes tersebut. Di luar dugaan, justru Zidan sangat antusias.
"Tuan?" panggil Raka.
Tuan Kemal pun menoleh Raka.
"Tuan, sampai kapan saya harus bersembunyi dari tuan besar?" tanya Raka, cemas.
Tuan Kemal berjalan ke kursinya dan terlihat memikirkan sesuatu.
"Persiapkan dirimu! Mulai besok kamu akan tinggal di rumahku yang ada di daerah Depok. Rumah itu satu-satunya yang tidak diketahui oleh siapapun, bahkan nyonya sekalipun. Kamu tidak usah ke kantor. Aku yang akan menghubungimu," tutur tuan Kemal.
"Baik, Tuan," sahut Raka.
Siang itu, Zidan mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Cahaya matahari yang terik, mengharuskannya memakai kacamata anti radiasi. Ia pun memakainya. Disaat yang sama, lampu rambu lalu lintas menghentikan laju kendaraannya.
"Ternyata kekhawatiranku tidak beralasan. Papah ingin membuktikan Anan anaknya. Bukankan ini kabar gembira buat aku, ya... walaupun belum terbukti. Tapi aku berharap hasil tesnya menyatakan papah dan Anan adalah Ayah dan anak kandung," gumam Zidan yang sedang dalam perjalanan ke rumah sakit.
Tak lama lampu rambu lalu lintas berwarna hijau.
"Dan ternyata papah kembali menemui Anan setelah sebelumnya gagal mengambil sampel rambut Anan. Tapi, bu Jum lalai dan tidak melaporkan ini. Tapi, sudahlah. Semua itu tidak penting lagi," gumamnya lagi yang menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau.
Sesampainya Zidan di rumah sakit, ia kembali bergabung dengan Abhizar dan yang lainnya di depan ruang operasi.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu?" tanya Abhizar, begitu Zidan duduk di kursi yang sama dengannya.
"Ada sedikit urusan," jawab Zidan, tanpa menatap Abhizar.
"Kelar?"
Zidan menyandarkan tubuhnya sembari bersedekap.
"Masih dalam tahap. Mungkin sebentar lagi," sahutnya.
Abhizar hanya menggeleng pelan menyaksikan tingkah sahabatnya itu. Kemudian berdiri, lalu berjalan mendekati pintu ruangan yang ada di depannya dan bersandar tepat di samping pintu tersebut dengan kedua tangannya ia sembunyikan di balik saku celananya.
Dari posisinya duduk, Zidan menoleh kiri dan kanan guna mencari keberadaan seseorang.
Adji yang di ujung kursi yang sama, menyadari dan gemas sendiri dengan sikap Zidan itu.
"Kamu cari apaan, sih?" tanyanya.
Karena tak direspon, Adji kembali berucap, "Rasmi sama Rara lagi ke kantin beli air mineral."
Sontak Zidan menoleh ke arah Adji. Sedang Adji tersenyum sambil menaikturunkan alisnya, menggoda Zidan karena berhasil menebak.
Zidan memicingkan maniknya, menatap Adji, selidik.
"Sudah, tidak usah menatap aku seperti itu. Siapapun akan tahu ketika melihatmu yang mengistimewakan Rasmi setelah Anan."
"Baguslah, kalau kamu sudah tahu," ucap Zidan datar dan terkesan cuek.
Kali ini Adji yang mengernyit sambil melirik Zidan.
Akhirnya lampu indikator yang terpasang di atas pintu ruang operasi, padam. Menandakan operasi mamah Yati dan Anan telah selesai. Semua yang menyaksikan itu pun penasaran dengan hasilnya. Tentunya mereka berharap semuanya berjalan lancar.
Dokter Sandra keluar menghampiri mereka.
"Alhamdulillah, operasinya lancar. Terima kasih atas doa kalian semua. Sebentar lagi mereka akan dipindahkan ke ruang pemulihan," ujarnya, tersenyum.
"Alhamdulillah," seru yang lainnya.
"Terima kasih, Bu dokter," ucap ibu Yani dengan manik berkaca-kaca.
"Ya sudah, aku ke ruanganku dulu. Ingat! Untuk sementara, pasien tidak boleh ditemui dulu," ucap dokter Sandra, kemudian melenggang meninggalkan mereka.
Setiba di ruangannya, dokter Sandra melepas jas putihnya dan menggantungkannya pada tempat biasa. Ketika ia hendak duduk, pintu ruangannya diketuk seseorang.
"Masuk!" seru dokter Sandra, mengizinkan si pengetuk pintu.
Tubuh Zidan pun menyembul dari sana. Kemudian duduk berhadapan dengan mamahnya.
"Bagaimana keadaan mamah Yati dan Anan, Mah?" tanya Zidan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, operasinya lancar. Tapi, meskipun demikian, Mamah tetap siaga akan kemungkinan yang bisa saja terjadi pasca operasi."
"Apa ini juga berlaku pada Anan, Mah?" tanya Zidan, lagi.
"Dibandingkan dengan Anan, mamah Yati yang akan lebih cenderung mengalaminya. Tapi, tetap kita harus bersiap dan mengantisipasi segala kemungkinan yang akan datang."
"Lalu, bagaimana dengan pemulihan Anan?" tanya Zidan.
"Anan akan menjalani perawatan kurang lebih seminggu. Selanjutnya, dia bisa beraktivitas seperti biasa. Namun, dia harus menjaga dengan baik asupan gizi yang masuk ke tubuhnya. Hal ini bertujuan agar ginjalnya yang hanya satu tidak terporsir dalam melakukan tugasnya, menyaring sisa metabolisme dalam tubuh. Sehingga ginjal tersebut mampu bertahan," jelas dokter Sandra.
"Maksud Mamah, suatu saat Anan juga akan mengalami gagal ginjal?" tanya Zidan, cemas. Dan dijawab anggukan oleh dokter Sandra.
"Kamu jangan khawatir. Selama Anan menjalani pola hidup sehat, insyaAllah Anan akan baik-baik saja."
Dokter Sandra paham betul dengan putranya yang begitu memperdulikan Anan. Dulu, dokter Sandra mengira kepedulian Zidan terhadap Anan karena ketertarikannya terhadap Anan. Sampai-sampai dokter Sandra sempat berpikir untuk menjodohkan keduanya.
Belakangan, dokter Sandra pun tahu. Mungkin karena Zidan anak tunggal, jadi ia butuh sosok saudara dikesehariannya.
Tapi, yang dokter Sandra tidak habis pikir, kenapa harus Anan yang dianggap saudara bagi Zidan? Kenapa bukan orang lain saja? Paling tidak, yang bergender sama dengannya.
Apakah dokter Sandra akan segera mengetahuinya?...
Sementara itu, di tempat terpisah.
Tuan Kendra yang kini tengah berada di villanya mendapat kabar dari anak buahnya bahwa orang yang dicarinya sedang dirawat di rumah sakit.
Ia pun segera memerintahkan Jojon untuk mengerahkan bawahannya agar bisa membawa target secepat mungkin ke hadapannya.
"Bagaimana dengan Raka, Tuan?" tanya Jojon.
"Itu nanti saja. Dia tidak akan bisa berlari jauh dari pandanganku," sahut tuan Kendra, datar.
Setelah kepergian Jojon, ia yang berdiri di balkon seraya memandangi pohon dan langit luas, terngian dengan perkataan putra satu-satunya.
"Kamu betul, Kemal. Bertahun-tahun papih hidup dalam kesunyian. Perkataanmu waktu itu sungguh nyata. Apa kamu menyumpahi papih?" gumamnya, kemudian menghela nafas panjang.
"Maafkan papih. Sampai detik ini, papih tidak sudi kamu berhubungan dengan perempuan kampung itu. Papih akan selalu membuat kalian menjauh satu sama lain dan tidak akan pernah bertemu."
Seketika ia teringat dengan sosok gadis ceria yang menemaninya tertawa di taman seminggu yang lalu.
"Tiba-tiba aku merindukan gadis itu. Sudah lama aku tidak tertawa lepas. Bersama dengan gadis kecil itu, rasanya teduh. Seolah aku bermain dengan cucuku sendiri. Andai Zidan punya saudara."
Tuan Kendra kembali menghela nafas.
"Atau aku angkat saja Anan menjadi cucuku. Mungkin dengan begini, aku bisa sering bermain dengannya. Sejak bertemu dengannya, aku merasa hari-hariku tidak akan sunyi lagi. Tapi... apa Anan mau jadi cucu angkatku? Ahh... sudahlah. Biar nanti aku tanyakan. Tapi, bagaimana kabar Anan sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
Begitulah tuan Kendra yang kesepian bermonolog. Semenjak pertemuannya dengan Anan, ia jadi sering tersenyum.
Mungkin bagi sebagian orang hal ini pertanda baik. Namun tidak begitu yang dirasakan oleh anak buahnya, terutama Jojon.
__ADS_1
Ia menganggap sesuatu yang buruk akan berlaku seperti yang sudah-sudah. Padahal, senyum yang dipancarkan oleh tuan Kendra tulus tanpa ada maksud di baliknya. Dan itu semata-mata karena ia bahagia bertemu dengan seseorang yang mampu membuatnya tertawa, sama seperti ketika almarhumah istrinya masih ada.