
Setelah urusan Anan selesai, mereka pun beranjak dari sana.
Di perjalanan, Zidan tak sengaja melihat Anan melalui kaca tengah mobil, sedang terdiam dan terkesan sedang melamun.
"Kamu kenapa Nan?" tanyanya.
Anan diam saja.
"Nan?" panggil Zidan.
Adji yang sibuk dengan ponselnya, menoleh ke arah Anan yang duduk di kursi belakang.
"Apa ada yang sakit Nan?" tanya Adji dan disaat yang sama Anan pun tersadar dari lamunannya.
"Hmm, ya?"
"Kamu lagi mikirin apa sih?" tanya Zidan sesekali melirik Anan.
"Ah, tidak. Aku baik-baik saja," jawab Anan.
Sebenarnya Anan kepikiran tentang kedatangan Lexa ke kantor polisi. Tapi Anan juga tidak tahu untuk apa Lexa ke sana. Mungkinkah kedatangan Lexa berkaitan dengan Septy?, pikirnya.
"Kalo ada apa-apa, kamu jangan diam saja. Beritahu kami. Kami tidak mau kamu tersakiti lagi," ucap Adji, lalu kembali menghadap ke arah jalan sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
***
Di rumah sakit Sandra Hospital.
Idham melihat kedatangan Salma bersama Rara di lobi. Ia pun menghampiri keduanya.
"Hai, mau bertemu Anan ya?" tanyanya mencoba menebak.
"Iya mas," sahut Salma.
"Lho, bukannya Anan ke kantor polisi ya bersama Adji dan Zidan."
"Ngapain?" tanya Rara.
Bersamaan dengan itu, Anan, Zidan, dan Adji muncul dan berjalan ke arah mereka.
"Nah, itu mereka," ucap Idham menunjuk ketiganya.
Salma dan Rara pun sontak menoleh.
"Bagaimana urusan kalian?" tanya Idham.
"Baiknya kita bahas ini di ruang rawat mamah Yati," usul Zidan.
Mereka pun berjalan menuju ruang yang dimaksud.
"Bagaimana urusan kamu nak?" tanya mamah Yati begitu Anan duduk di sampingnya.
"Sudah mah. Septy sudah bisa menghirup udara segar lagi."
"Apa kedua orangtua Septy juga ada di sana?"
"Iya mah. Mereka berterima kasih kepada Anan juga kepada tante Ranti."
"Ya udah. Semoga putri mereka benar-benar insyaf dan memperbaiki diri," harap mamah Yati.
"Semoga saja seperti itu tante. Tapi tetap, Anan harus tetap berhati-hati. Karena hati orang kita tidak tau," ucap Idham mengingatkan.
"Ini kak." Atika menyodorkan segelas air putih ke Anan.
__ADS_1
"Terima kasih." Anan meminum air itu sampai tandas lalu menyimpan gelas bekas minumnya ke meja.
Rara menatap Anan geli.
"Habis lari di mana Nan? Segitu hausnya," ledeknya.
"Berisik." Anan meraih tab Zidan dan memainkannya bersama.
"Kirain lari ke KUA," tambah Salma.
"Emang kamu sudah siap?" sela Idham bertanya.
"Eh-eh..." kaget Salma.
"Cieee... ada yang ngasih rambu-rambu nih." Rara menyenggolkan pundaknya ke lengan Salma. Membuat wajah Salma bak udang rebus.
Salma yang balsteran Arab memiliki fostur tubuh 173 cm sedangkan Rara Indonesia asli hanya 160 cm. Sehingga untuk mencapai pundak Salma, pundak Rara kewalahan.
"Rara, apaan sih," ucap Salma yang salah tingkah dengan tatapan Idham.
"Mas suka ya, sama sahabatku yang kayak emak-emak ini?" tanya Adji, mengundang pelototan dari Salma.
"Kalo iya, emang kenapa. Justru mas suka karena dia keemak-emakan," sahut Idham lantang.
"Keibuan kali, mas," cicit Salma yang masih malu karena menjadi bahan olokan oleh sahabat-sahabatnya.
"Mau dong, dilamar," celetuk Atika.
"Husst.. anak kunyit, kamu masih bau kencur," celetuk Rara.
"Yang benar dong kak. Masak kunyit bau kencur," sanggah Atika.
"Jadi kamu maunya bau kentut, gitu?" ledek Rara sambil tertawa kecil.
"Syukur deh, kalo udah tau aku nyebelin," ucap Rara seraya membuka kulkas.
"Katanya, cewek nyebelin jodohnya jauh," timpal Atika.
"Kata siapa? Aku ada di sini. Siap menjadikan Rara jodohku," sanggah Adji menaik turunkan alisnya ke arah Rara.
Buah apel yang ada di tangan Rara melayang ke arah Adji.
"Aku ogah berjodoh sama kamu!" tolak Rara.
Adji menangkap dan langsung menggigit apel yang dilontarkan kepadanya.
"Terima kasih apelnya. Manis, semanis kamu," celetuk Adji dengan senyum mengembang.
Rara membelalak. "Adjiiii... berhenti menggodaku."
Rara berjalan mendekati Adji. "Lalu, pacar-pacarmu mau kamu kemanakan, huh?" tanya Rara bersedekap.
Rara mengira selama ini Adji memiliki banyak pacar. Padahal sebenarnya cewek-cewek itu yang mendekati Adji. Dan Adji memanfaatkan cewek-cewek itu untuk membuat Rara cemburu. Namun, bukannya Rara cemburu, ia malah membiarkan dan terkesan mendukung Adji dengan siapapun.
"Oo jadi kalo aku tidak ada pacar, kamu mau jadi istriku? Lagian, kata siapa aku punya pacar? Aku kan cuma nunggu kamu seorang," goda Adji mendekatkan wajahnya sambil memainkan alisnya.
Rara menjauhkan wajahnya. "Nih kepala kepentok di mana? Ngomongnya kok jadi ngawur gini?" tanya Rara mengetok-ngetok kepala Adji yang masih membungkuk ke arahnya.
Zidan yang sejak tadi duduk di samping Anan sambil bermain game, menoleh ke arah Adji dan Rara.
"Udah, kalian udah cocok banget. Langsung kawin aja."
"Enak aja! Emang kucing, langsung kawin? Nikah dulu kali," sanggah Rara.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi Ji, cewek kamu udah siap nikah tuh!" seru Zidan.
Mamah Yati hanya tersenyum mendangar dan menyaksikan muda-mudi yang ada di sekitarnya itu, tanpa berkomentar sedikit pun.
"Tidak! Pokoknya aku sama Adji hanya sahabat. Tidak lebih, titik!"
Anan yang sedang asyik bermain game, menghentikan permainannya, lalu menoleh Rara dan Adji bergantian.
Perkataan Rara sungguh membuat Adji kecewa. Tampak jelas raut kekecewaan di wajah Adji oleh semua yang ada di sana.
"Tega banget sih kamu Ra, friendzone Adji. Salah Adji juga sih, udah tau Rara punya prinsip, masih juga berharap. Aku sebagai sahabat kalian, hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian," gumam Anan membatin.
"Kalo gitu aku pamit dulu, ada urusan." Adji meninggalkan ruangan itu beserta orang-orang yang ada di sana.
Anan dan Zidan saling menatap kemudian beralih ke Rara. Begitu juga Salam dan Idham.
"Kok kalian liatin aku seperti itu?" tanya Rara heran.
"Ya udah, kalo gitu aku juga pamit. Jam istirahat udah selesai."
"Tunggu mas, aku ikut."
Idham dan Zidan pun meninggalkan ruangan itu sehingga tersisa kaum hawa di dalamnya.
"Atika, bawa mamah ke tante Ranti," titah mamah Yati.
Atika meraih kursi roda kemudian mendekatkannya ke mamah Yati. Anan dan Atika membantu mamah Yati duduk di kursi rodanya.
"Mamah tengokin Rasmi dulu ya, kalian ngobrol saja dulu."
Atika lalu mendorong kursi roda mama Yati menuju kamar rawat Rasmi.
"Raraaaa... kamu tega banget sih sama sahabat sendiri!" ucap Anan sedikit emosi.
"Loh, kok kalian nyalahin aku sih?" tanya Rara melirik kedua sahabatnya bergantian.
"Ra, kamu sadar tidak, kalo kamu sudah nyakitin perasaan Adji?" Salma mendekati Rara dan duduk di sampingnya.
"Sebenarnya, Adji sudah lama menyukaimu. Hanya saja, Adji tidak punya keberanian mengungkapkan perasaannya, kenapa? Karena kamu orang yang disukai sekaligus sahabatnya," ungkap Salma.
"Ra, apa di hatimu Adji hanya sekedar sahabat?" tanya Anan menyelidik.
Namun Rara yang ditanya hanya terdiam, nampak berpikir.
"Ra, kalo memang kamu juga ada rasa ke Adji, kamu bilang. Jangan sampai kamu menyesal setelah Adji berlalu darimu," tutur Anan lembut.
"Aku mengatakan ini karena kalian sahabatku. Aku tidak mau kalian saling menyakiti," imbuhnya.
"Apa benar Adji suka padaku? Selama ini Adji hanya terlihat bercanda padaku. Apa dia serius?" gumam Rara membatin.
Dukung author dengan rate, vote, like setiap episodenya, dan komen.
Terimakasih
Athor menyayangi kalian๐๐๐
__ADS_1