
Tak jauh dari posisi Anan duduk, seorang kakek yang tengah berjalan sambil menikmati udara sejuk di pinggiran taman, tiba-tiba mengerang kesakitan sebab tertimpa dahan kayu yang lumayan besar tepat di bahunya. Sehingga si kakek jatuh terduduk di tanah.
Anan pun sontak berdiri dan berjalan menghampiri sumber suara meski dengan meraba.
Kakek tua yang duduk membelakangi Anan, tidak mengetahui kedatangan Anan. Alhasil, ia pun tertendang oleh langkah kaki Anan.
"Hei! Kamu buta ya. Seenaknya saja menendang aku yang sudah tua ini," pekik si kakek, kesal.
Anan lalu berjongkok dan meraba apa saja yang ada di depannya. Tangannya pun menyentuh sebatang dahan kayu lalu menyingkirkannya.
"Maaf, Kek. Aku tidak sengaja. Aku tidak tau Kakek ada di sini," ucapnya.
Melihat hal ini, Sang kakek pun melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Anan guna memastikan apa yang dilihatnya.
"Kamu benar-benar buta?" tanya si kakek.
"Iya, Kek," sahut Anan, tersenyum kecil.
"Mari Kek, aku bantu berdiri," tawar Anan mengulurkan tangannya.
Dan sang kakek pun menerima uluran tangan Anan dengan tidak enak hati.
"Maafkan ucapan Kakek tadi ya," tuturnya, berjalan beriringan dengan Anan menuju bangku yang diduduki Anan tadi.
"Tidak apa, Kek. Mungkin aku harus terbiasa dengan kata-kata itu."
Anan dan si kakek telah duduk. Namun, si kakek tidak berhenti memandang iba kepada Anan.
"Oh iya, Kek. Aku Anan. Nama Kakek siapa?" Anan mengulurkan tangannya dan disambut oleh si kakek.
"Nama kakek, Kendra. Kamu bisa panggil Kakek, opa Ken." Tuan Kendra masih memandangi wajah ceria Anan yang selalu dihiasi senyuman.
"Hm... karena kita sudah berteman. Anan boleh kan tau wajah Opa?"
"Tentu saja boleh, Nak."
Anan kemudian mengarahkan kedua tangannya dan meraba tiap inci wajah tua tuan Kendra.
Tapi, ada yang aneh.
"Opa kenapa menangis?" tanya Anan yang merasakan basah di jari-jarinya.
"Opa hanya sedih. Kenapa gadis baik dan seceria kamu harus menerima kondisi ini," tutur tuan Kendra, membelai rambut Anan.
"Oo... kirain karena Opa kesakitan gara-gara dahan kayu tadi," ucap Anan, terkekeh.
"Kamu jangan salah. Kalau cuma kayu segitu, Opa masih kuat menahannya," ucap tuan Kendra, angkuh.
"Benarkah? Terus, yang merintih kesakitan tadi, siapa?" ledek Anan.
__ADS_1
"Itu karena Opa belum siap," sanggah tuan Kendra, membuat Anan tertawa.
"Opa... Opa. Apa dahan kayunya harus ngomong dulu, sebelum jatuh menimpa Opa? Ada-ada saja Opa ini."
"Hahaha... kamu ini ternyata gadis yang pintar," ujar tuan Kendra, mengacak ringan rambut Anan.
"Oh iya, Nan. Apa kamu tidak bisa melihat sejak lahir?"
"Tidak, Opa. Baru sebulan lebih Anan tidak bisa melihat."
Tuan Kendra terkejut.
"Apa kamu ada penyakit tertentu yang mengakibatkan kamu mengalami kebutaan?"
"Kalau penyakit tertentu, aku tidak punya, Opa. Ini berawal setelah Anan kecelakaan dua bulan yang lalu."
"Selain baik, ternyata kamu juga gadis yang sabar," puji tuan Kendra.
"Terima kasih, Opa. Ngomong-ngomong, Opa ke sini dengan siapa?"
"Opa ke sini sendiri. Opa mengunjungi taman ini hanya sekadar berjalan-jalan sambil menikmati sejuk dan rindangnya pohon-pohon di sini. Dulu, pohon-pohon ini belum setinggi dan sebesar ini. Sekarang sudah besar bahkan sudah ada yang lapuk," papar tuan Kendra, membayangkan masa beberapa tahun silam.
"Jadi, Opa belum lama balik ke sini?" tanya Anan, antusias.
"Iya. Baru seminggu Opa di Indonesia. Dulu, setahun setelah cucu Opa lahir, Opa pun memutuskan untuk tinggal di luar negeri. Dan sekarang cucu Opa sudah besar. Mungkin seumuran kamu, kalau tidak salah."
"Cucu Opa pasti orangnya baik," ujar Anan.
"Dari Opa," jawab Anan singkat.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena Opa orangnya baik. Jadi, aku yakin cucu Opa juga pasti baik."
"Wah, kamu bukan cuma sabar dan pintar, rupanya kamu juga bermulut manis."
"Jangan mengacak rambutku terus, Opa! Nanti tidak cantik lagi," protes Anan seraya merapikan kembali rambutnya.
"Iya deh, iya. Tidak lagi."
"Oh iya, Opa. Aku bisa menebak satu hal lagi tentang Opa."
"Benarkah?"
"Opa pasti bukan orang biasa. Atau kalangan menengah ke bawah," ujar Anan.
"Dari mana kamu tau?" tanya tuan Kendra, memicingkan maniknya.
"Opa memang tidak memakai parfum, tapi Opa baru saja turun dari mobil yang menggunakan parfum. Dan parfum mobil yang Opa pasang bukan parfum biasa, tapi parfum impor yang harganya mahal," terang Anan.
__ADS_1
"Wahh... kamu sungguh hebat, Nan!" seru tuan Kendra sambil bertepuk tangan.
"Ya iyalah, hebat. Wangi parfum opa kan mirip dengan aroma parfum yang ada di mobil Zidan. Dan kata Zidan itu edisi khusus dan terbatas. Dan lagi, hanya Zidan dan keluarga Zidan yang menggunakannya. Eh! Tunggu dulu. Katanya hanya Zidan sekeluarga yang memakai parfum mobil itu. Tapi kenapa opa juga pakai? Apa jangan-jangan cucu yang dimaksud opa adalah Zidan? Tapi... Zidan tidak pernah cerita tentang kakeknya. Paling tidak dia memberitahukan kita-kita kalau dia punya seorang kakek."
Anan benar-benar larut dalam monolognya. Sampai-sampai tidak mendengar tuan Kendra memanggil-manggil namanya.
"Anan!"
"Eh, iya-iya."
"Kamu mengkhayalkan apa, sih?" tanya tuan Kendra.
"Tidak kok, Opa. Tidak ada," jawab Anan, buru-buru.
"Yakin, tidak ada?" tanya tuan Kendra lagi, usil.
"Yakin, Opa. Tidak ada," sahut Anan.
"Anan mau tanya. Cucu Opa cewek atau cowok?"
Tuan Kendra baru saja mau menjawab, namun asisten dan sopirnya datang menghampiri mereka dan membisikkan sesuatu di telinga tuan Kendra.
"Lain kali saja Opa jawabnya, ok. Opa pulang dulu, ada urusan mendadak."
Sebelum berdiri dari duduknya, tuan Kendra mengeluarkan sesuatu dari saku jas mantelnya.
"Opa ada sesuatu buat kamu. Anggap saja ini lambang pertemanan kita."
Tuan Kendra meraih tangan kanan Anan kemudian memasangkan sebuah gelang giok berwarna toska.
"Gelangnya dijaga ya! Jangan sampai hilang."
"Pasti, Opa. Opa tidak usah khawatir. Terima kasih sudah menghadiahkan gelang ini. Kapan-kapan Anan juga akan memberikan hadiah ke Opa."
Tuan Kendra membelai lembut rambut Anan. Kemudian pamit dan berlalu meninggalkan Anan.
"Tuan, maaf kalau saya lancang. Tapi, bukankah gelang giok itu adalah peninggalan nyonya besar yang sangat Tuan jaga? Yang selalu Tuan bawa kemana pun Tuan bepergian. Kenapa Tuan memberikannya pada gadis itu? Dan kalau tidak salah, gadis itu adalah seorang tuna netra," ucap Jojon, mengingatkan tuan Kendra begitu berada dalam kendaraan tuan Kendra.
Tuan Kendra mengulas senyum menanggapi ucapan bawahannya itu.
"Maafkan aku Ruwina. Aku juga tidak mengerti, mengapa aku ringan sekali memberikan gelang giok peninggalanmu pada gadis itu. Meski ini pertama kalinya aku bertemu dengan Anan. Tapi aku merasa telah lama mengenalnya. Entah mengapa, aku seperti melihatmu dalam dirinya," gumannya, membatin.
"Sejak kapan kamu berniat mengaturku, Jon?" tanya tuan Kendra, datar.
"Ma-maaf, Tuan."
"Baru kali ini tuan dengan sukarela memberikan benda kesayangannya. Aku yakin, gadis itu berkesan di hati tuan besar. Semoga saja ini pertanda baik," ucap Jojon dalam hati.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Terima kasih πππ