Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 25


__ADS_3

"Udah ketemu sama yang kamu suka?" tanya Zidan setelah berada di samping Anan.


"Bingung! Soalnya aku suka semua," sahut Anan dengan mengerucutkan bibirnya.


"Tidak usah cemberut gitu, kalo kamu suka ambil saja semuanya," saran Zidan, membuat Anan melotot kepadanya.


"Tidak-tidak, kata tante yang tadi, yang 2 ini bagus. Jadi aku cuma mau yang 2 ini," ucap Anan seraya memperlihatkan kalung dan cincin hasil rembukannya dengan Clara.


"Tante? Tante yang mana?" tanya Zidan mengerutkan keningnya kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan guna menemukan sosok tante yang dimaksud.


"Tante yang barusan pergi, katanya ada urusan," sahut Anan yang masih sibuk dengan kalung dan cincin yang ada di tangannya, tanpa menoleh Zidan.


Anan lalu memanggil Shasa dan memintanya untuk mengemas kedua benda itu.


Dokter Sandra telah selesai dengan urusannya, iapun keluar dari ruangannya dengan tujuan menemui Anan di tempat ia meninggalkannya tadi.


"Oh..sudah ya? Coba tante lihat!".


Ananpun menyerahkan kedua kotak itu ke dokter Sandra.


Dokter Sandra mengernyit lalu menatap Anan.


"Kok cuma kalung dan cincin? Gelang dan yang lainnya, kenapa tidak kamu ambil juga sayang?" ucap dokter Sandra setelah mengetahui yang dipilih Anan.


"Tidak perlu tante. Lagian, aku tidak terlalu suka pakai perhiasan," sahut Anan dengan melambai-lambaikan keduan tangannya.


"Sudahlah mah, jangan dipaksa! Syukur dia milih, kalo tidak, rugi aku bawa dia kemari," ucap Zidan lalu terkekeh bermaksud menjaili.


Namun, rupanya perkataan Zidan tadi ditanggapi serius oleh Anan.


"Tidak usah mulai deh," ucap Anan kemudian membelakangi Zidan dan duduk di kursi yang menghadap meja pajangan. Zidan yang di belakangi segera menghampiri Anan dan duduk di kursi sebelahnya.


"Siapa yang mulai?! Aku cuma heran saja, disaat gadis lain ditawari berlian, dia pasti jingkrak-jingkrak plus guling-guling kegirangan. Sedangkan kamu? Seolah tidak suka dengan berlian."


"Itu karena aku bukan mereka. Lagian, aku tidak terbiasa dengan berlian."


Kemudian Anan menghela nafas.


"Meskipun kami hidup jauh dari kata mewah, namun kesederhanaan selalu diajarkan mamah kepadaku. Dari situlah aku terbiasa dengan hal-hal yang tidak berlebihan. Jadi tolong, jangan pernah samakan aku dengan gadis-gadis yang kamu maksud tadi," tutur Anan tanpa menoleh ke arah Zidan.


Zidan menatap Anan iba, ia menyesal dan merutuki kebodohannya berkata seperti itu.


"Aku minta maaf. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Zidan yang ingin memegang tangan Anan, tapi takut dapat ancaman lagi dari gadis sederhana yang sudah dianggapnya saudari itu.


Anan menoleh. Iapun tersenyum lalu mengangguk tanda memaafkan Zidan.


"Wah..senangnya melihat anak-anak mamah akur."


Dokter Sandra kemudian berjalan menghampiri mereka dan memeluk keduanya.


"Mulai sekarang kamu jangan panggil tante lagi. Panggil mamah, sama seperti Zidan memanggil mamah ke mamahmu!" titah dokter Sandra ke Anan.

__ADS_1


Ananpun senang dengan apa yang barusan di dengarnya dan semakin mengeratkan pelukannya ke dokter Sandra.


"Baiklah. Mulai sekarang, aku akan memanggil mamah," ucap Anan, lalu melonggarkan pelukannya.


Zidan telah mengantar Anan sampai rumah sakit. Kini ia dan mamahnya dalam perjalanan menuju kediaman mereka.


"Mamah masih ingat Abizhar tidak? Itu, anaknya om Faris dan tante Winara," tanya Zidan sekaligus menjelaskan.


"Oo..Abizhar sahabat kamu, yang usianya 7 tahun lebih tua, yang papanya bule itu kan?"


"Iya" jawab Zidan.


"Udah lama juga mamah tidak mendengar kabarnya. Emang kenapa dia?" tanya dokter Sandra.


"Tadi dia menelponku, cuma menginfokan, katanya bulan depan dia akan bertolak ke Indonesia," jawab Zidan menginfokan.


"Senang dong kamu, dikunjungi sahabat lama." Zidan tersenyum mendengan celetuk mamahnya.


"Kalo gitu, begitu dia tiba, ajak dia ke rumah!" titah doktet Sandra dan diangguki oleh Zidan.


"Pasti dong mah."


Zidan memarkirkan mobilnya di garasi, sedang mamahnya telah berada di teras rumah dan bersiap mendorong gagang yang ada pada daun pintu yang berukuran besar dan mewah itu.


"Mamah udah pulang ternyata. Jalan-jalannya kemana aja?" tanya papah Zidan begitu melihat kedatangan istrinya lalu mencium keningnya.


Dokter Sandra berjalan beriringan dengan suaminya sambil menjelaskan.


Kemudian duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Lho, kok bertiga?" tanya papah Zidan yang juga duduk di sofa yang sama sambil meraih koran yang ada di atas meja.


"Iya. Jadi, tadi tuh aku ke rumah sakit untuk menjemput Anan dulu, setelah itu baru deh mamah mulai jalan-jalannya," sahut dokter Sandra, kemudian menyeruput teh yang dibawa oleh ART yang bekerja di rumahnya.


Papa Zidan yang mendengar nama Anan disebut sontak menghentikan aktivitasnya membuka halaman koran. Tiba-tiba ia merasakan ada dentuman kuat yang menghantam dadanya. Ia berusaha meredam dentuman tersebut dan menetralkan perasaannya.


"Anan?" tanyanya setelah merasa lebih tenang.


"Itu lho pah, anak dari pasien mamah. Anaknya baik, cantik, pintar lagi. Seminggu yang lalu dia baru saja wisuda. Dan kata Zidan, dia cumlaude. Kebayang kan pintarnya," papar dokter Sandra antusias dan tersenyum mengingat sosok Anan.


"Dia udah kerja belum? Jadi sekretaris atau apa gitu?!" tanya papah Zidan menyelidik.


"Ya belum lah pah. Orang dia aja baru wisuda minggu kemarin," sahut dokter Sandra.


"Mungkin namanya saja yang sama, orangnya berbeda. Tapi kenapa tiap mengingat anak itu, perasaanku jadi aneh. Seperti ada dentuman kuat di dadaku. Dan aku merasa sesak," batin papah Zidan, kemudian menghela nafas.


"Papah kenapa?" tanya dokter Sandra yang menoleh karena mendengar helaan berat nafas suaminya.


"Tidak! Papah tidak apa-apa," jawab papah Zidan seraya menggeleng pelan.


"Coba seandainya dia dan Zidan berjodoh. Betapa bahagianya hati mamah pah," harap dokter Sandra tersenyum ke suaminya.

__ADS_1


Zidan yang masuk melalui pintu samping garasi yang terhubung langsung dengan ruang keluarga, menghampiri kedua orangtuanya karena mendengar namanya disebut.


"Siapa yang mau dijodohin sama Zidan mah?" tanya Zidan yang penasaran dengan ucapan mamahnya.


"Eh! Itu..mamah cuma membayangkan kamu dan Anan berjodoh. Senang deh, mamah," ucap dokter Sandra sumringah.


Zidanpun terkekeh dengan ucapan mamahnya.


"Aku sama Anan tidak bakalan berjodoh mah. Aku sayang sama dia karena menganggapnya saudara, tidak lebih. Mamah ada-ada aja. Lagian, aku udah punya calon sendiri," ujarnya kemudian berlalu karena tak mau diserang pertanyaan oleh mamahnya, terkait statementnya di bagian akhir.


"Apa katanya tadi pah? Calon?!" tanya dokter Sandra menoleh ke suaminya.


Sedang yang ditanya hanya manatap istrinya sambil mengangkat kedua bahunya, tak mau pusing dengan pernyataan sang putra.


Anan tengah bersiap-siap, sebentar lagi Arya akan datang menjemputnya.


"Kamu yakin mau bertemu dengan orangtua dosenmu itu nak?" tanya mamah Yati khawatir.


Sepulang dari berjalan-jalan dengan dokter Sandra, Anan menceritakan perihal Arya yang mengajaknya bertemu dengan kedua orangtuanya. Anan juga menceritakan tentang kedekatannya dengan dosennya itu. Namun tidak membahas mengenai pertunangan. Anan berpikir, biarlah Arya yang mengutarakan niatnya itu ke mamahnya.


Jujur saja, mamah Yati ragu dan khawatir. Mengingat strata sosial mereka yang sangat jauh berbeda. Mamah Yati takut, Anan tidak diterima oleh kedua calon mertuanya dan keluarga Arya lainnya. Karena menikah bukan persoalan dua orang saja, tapi seluruh keluarga.


"InsyaAllah mah. Anan serahkan pada Allah. Apapun yang terjadi, Anan akan berusaha ikhlas," jawab Anan mantap.


"Baiklah nak. Semoga Allah senantiasa memberikanmu yang terbaik, amin," doa mamah Yati.


"Amin," ucap Anan.


Rasmi yang berada di ruang yang sama dengan mereka, ikut mendoakan Anan.


Sore tadi, Rasmi tiba di rumah sakit membawa laporan pemasukan dan belanja toko kue, sekaligus ia akan menginap malam ini.


"Anan berangkat dulu ya mah," pamit Anan lalu mencium kening mamahnya.


"Kakak titip mamah ya," pinta Anan ke Rasmi, dan Rasmipun mengangguk.


"Assalamualaikum." Anan mengucap salam dan dibalas oleh mamahnya juga Rasmi.


Anan berjalan menuju lift. Di dalam lift, ia bertemu dengan suster Mira. Perawat yang merawat mamahnya.


"Wah..nona cantik sekali, mau kemana?" tanya suster Mira ramah yang takjub akan penampilan Anan.


Dengan dress berwarna peach selutut yang berlengan sampai pergelangan tangan, yang dibeli oleh dokter Sandra siang tadi, membuat penampilan Anan terlihat modis. Ditambah heels dan tas bertali panjang yang ia sampirkan di bahu kanannya, sehingga siapapun yang melihatnya akan mengira bahwa Anan berasal dari kalangan atas.


"Aku akan menghadiri acara teman, mbak," jawab Anan membalas senyum suster Mira.


Begitu Anan tiba di pelataran rumah sakit, mobil Arya yang terparkir di depan rumah sakit pun nampak olehnya. Ia segera beranjak dan menyelinapkan tubuhnya masuk ke dalam kendaraan tersebut.


Arya yang melihat Anan duduk di sampingnya, terpana dengan penampilan Anan saat ini. Ia menatap lekat setiap inci wajah Anan. Anan sungguh terlihat berbeda di matanya.


"Sial! Kenapa jantungku berdegub kencang melihatnya secantik ini. Aku pasti sudah gila. Tenang Arya, sebentar lagi tujuanmu akan tercapai. Dan saat itu tiba, kamu akan tersenyum penuh kemenangan. Dan kamu tidak perlu bertemu dia lagi. Pertunjukan akan segera dimulai, mamih pasti tidak akan menyukai gadis kampung ini," batin Arya penuh dendam, menepis rasa kagumnya pada gadis yang saat ini duduk di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2