
"Wah..wah..wah.. Ternyata pak Arya sudah punya gandengan. Pantas saja, dia dingin sama cewek-cewek yang mendekatinya di kampus, termasuk ibu Almi di fakultas hukum. Auto mewek aku, karena patah hati," celetuk Rara lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya.
"Tenang aja kak, kan ada kak Adji," Rasmi menimpali seraya menunjuk Adji.
"Ogah aku mah!" seru Rara lalu meraih jus jeruknya dan meminumnya melalui sedotan. Sedang Adji tidak merespon, dengan santai ia menyuap kembali makanan yang masih tersisa di piringnya.
"Serius amat liatinnya."
Zidan menegur Anan yang masih menatap Arya. Seketika Anan menatap Zidan lalu mengalihkan tatapannya ke arah Salma. Salma yang mendapat tatap Anan, tersenyum lalu memegang tangan kemudian mengangguk sekali dengan maksud agar Anan tenang dulu.
Anan yang mengerti akan maksud Salma, hanya terdiam lalu menatap makanan dalam piringnya.
Mamah Yati yang menyaksikan gelagat dua orang di hadapannya itu, mengkerutkan dahi, namun tak mau mambahas apa yang ditangkap oleh kedua netranya itu saat ini.
"Makanannya kok cuma diaduk sayang?" tanya mamah Yati memperhatikan sendok dan garpu yang dipegang Anan.
"Mamah suapin ya."
Mamah Yati meraih sendok dan garpu yang dipegang Anan lalu mengisinya dengan nasi serta lauk kemudian menyuapkannya ke mulut Anan.
"Aku juga mau mah, disuap," pinta Zidan ke mamah Yati yang menyodorkan piring makannya.
"Kek bocah deh kalian berdua. Sini aku yang suap, pake spatula tapi," ledek Rara.
"Yee.. biarin, iri? Bilang bozz!" balas Zidan kemudian menerima suapan dari mamah Yati, sedangkan Anan diam saja.
Dari raut muka Anan, Zidan dapat melihat bahwa ada yang tidak beres. Makanya, ia mencoba mencairkan suasana dengan mulai bertingkah. Tujuannya, tentu saja agar Anan meresponnya seperti yang biasa dia lakukan terhadap Zidan, hingga terlupakanlah apa yang membuatnya galau saat ini.
Namun, rupanya sia-sia. Anan sama sekali tidak meresponnya
"Apa kamu mau aku pesankan yang lain."
Zidan mencoba menawarkan menu lain ke Anan. Tapi Anan hanya menggeleng pelan.
"Sejak Anan melihat dosennya itu, raut wajahnya berubah 180 derajat. Kenapa?" Keterdiaman Anan membuat Zidan membatin.
"Ingat! Aku hanya ingin kamu berpura-pura. Dan jangan berharap lebih. Aku hanya ingin memberi pelajaran pada seseorang," ucap Arya kepada Lexa.
"Mau itu pura-pura atau bukan, nyatanya, sebentar lagi kamu akan jadi milikku," batin Lexa dengan seringai licik.
Dimas datang membisikkan sesuatu ke telinga Arya, lalu mereka meninggalkan Lexa di meja tempat ia dan Arya tadi menyantap makan siang. Ananpun menyaksikan Arya pergi meninggalkan Lexa bersama dengan asistennya.
"Kamu sudah mendapatkan apa yang aku minta?" tanya Lexa kepada seseorang yang diteleponnya sepeninggal Arya.
"Good job! Nanti aku share lokasi di mana kita bertemu," ucap Lexa lagi, lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Acara makan siang bersamapun ditutup dengan berfoto bersama. Namun hal itu tak mengubah ekspresi dari Anan. Setiap bidikan, tak ada satupun ia menampilkan senyuman, hal ini membuat Zidan tak henti mengulang lagi dan lagi.
"Kok gini lagi sih," gerutu Zidan mengusap rambutnya ke belakang lalu ke depan, frustasi karena melihat hasil yang selalu sama.
"Sekali lagi ya. Pokoknya harus bagus."
Zidanpun memberikan kembali kameranya ke salah satu pelayan yang membantunya mengambil gambar.
__ADS_1
Cekrekk!
"Nah..! Ini baru bagus. Meskipun tidak bagus-bagus amat sih, paling tidak ini masih mending dari yang tadi," seru Zidan setelah melihat hasil jepretan kameranya. Zidanpun berterima kasih ke pelayan itu.
Merekapun masing-masing berpamitan di parkiran.
"Kamu tau sesuatu, kenapa hari ini Anan terlihat murung gitu?" tanya Adji yang pulang bersama Salma.
"Aku tidak bisa jawab apa-apa," jawab Salma tersenyum kecil. Dan tidak ada lagi obrolan selanjutnya.
"Adji apa-apaan sih. Tidak, pokoknya tidak boleh. Jangan sampai terjadi. Amit-amit jabang baby. Dasar si mata sipit!" gumam Rara sambil mengetok-ngetok kepala dan kemudi mobilnya atas bisikan Adji di telinganya yang akan melamarnya sewaktu pengambilan gambar terakhir.
Anan, mamah Yati, Zidan dan Rasmi saat ini telah berada di ruang perawatan. Anan memperbaiki letak selimut mamahnya yang telah berbaring di ranjang pasien.
"Emm..Rasmi mau pamit pulang dulu mah, sekalian mau belanja untuk keperluan toko," pamit Rasmi ke mamah Yati sambil mencium punggung tangannya.
"Kalo gitu, biar aku antar."
Zidan berdiri dari duduknya lalu menyalami tangan mamah Yati, seperti yang dilakukan Rasmi.
Rasmi yang ingin menolak mengurungkan niatnya, karena melihat tatapan Zidan yang seolah menegaskan tidak ingin ditolak.
"Jaga mamah baik-baik. Aku keluar dulu. Mungkin besok aku kemari lagi," ucap Zidan.
"Hello..?! Yang kamu sebut mamah itu mamah kandungku, pastilah aku jaga dengan baik."
"Bagus! Jadi jangan melamun lagi!" ucap Zidan menyentil kening Anan kemudian berlalu dari sana.
Anan yang disentil hanya mengusap bekas sentilan Zidan di keningnya, tanpa membalas.
"Eh! Di AA Mart kak, di dekat taman kota," jawab Rasmi terkaget.
"Kamu kenapa kayak syok gitu?" tanya Zidan melirik sekilas ke arah Rasmi. Sedang yang dilirik hanya menatap ke luar jendela dengan keduan tangan saling menaut.
"Gemes aku melihat tingkahmu yang seperti itu Ras, kamu semakin mengingatkanku pada mendiang sahabat sekaligus cintaku" batin Zidan yang tersenyum kecil.
Zidan dan Rasmi pun tiba di toko tempat Rasmi dan mamah Yati biasa berbelanja. Iapun mengambil troly lalu mendorongnya ke tempat barang yang ia butuhkan.
Saat hendak meraih barang yang terletak jauh di atas kepalanya, ia sangat kesulitan meskipun telah berjinjit.
"Minta tolong bisa kan?!"
Zidan lalu meraih barang yang dimaksud Rasmi.
"Ya Allah, ini terlalu dekat. Aroma dari parfum yang melekat di tubuhnya sangat menggoda. Oh..jantungku. Aztagfirullahalazim..! Istigfar Ras, istigfar. Sadar diri! Dia itu orang besar, lah kamu? Titikpun masih lebih besar. Jadi jangan ngahalu," batin Rasmi.
"Makanya, kalo orang datangnya berdua itu, ya masuknya juga berdua. Jangan aku sibuk nyari tempat parkir, kamu malah nyelonong masuk sendiri. Sini, biar aku yang dorong," ucap Zidan meletekkan barang yang diambilnya tadi ke dalam troly, lalu mendorongnya.
"By the way, rambut kamu wangi, pake shampo apa?" tanya Zidan.
Rasmi yang ditanya gelagapan, hatinya meringis. Ia takut, itu bukan pujian, tapi sindiran halus.
Demi menuntaskan rasa penasarannya, iapun memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Kakak menyindir aku kan?"
Rasmi diam di tempatnya saat ini.
Zidan mengernyit lalu menoleh menatap Rasmi.
"Aku serius bertanya, kenapa kamu menuduhku menyindirmu?"
Zidan kembali berjalan dengan masih mendorong troly. Sedang Rasmi masih berdiri mematung di tempat yang sama.
Rasmipun menyusul Zidan, namun baru beberapa langkah, ia ditabrak oleh orang yang hendak berlalu dihadapannya. Mereka sama-sama tidak melihat kedatangan keduanya, karena terhalang oleh rak barang.
Rasmi berteriak karena kaget dan tak sanggup mengimbangi tubuhnya. Beruntung, orang yang menabraknya dalam sekejap berhasil meraih tubuhnya hingga tak menyentuh lantai.
Rasmi menutup matanya, iapun pasrah. Kalau harus terjatuh, sudah jatuh saja, itu yang ada dalam pikirannya.
Tapi sudah beberapa detik berlalu, ia belum juga menyentuh lantai dan merasakan sakitnya menghantam lantai.
"Open your eyes girl!" pinta orang yang menabrak sekaligus menyelamatkan Rasmi.
Rasmi pun segera membuka matanya. Dan betapa kagetnya dia karena saat ini posisinya sedang didekap oleh seorang pria.
Zidan yang hendak menolong Rasmi terdiam di tempat yang tak jauh dari posisi mereka. Karena jarak antara dirinya dengan Rasmi yang berada beberapa meter, sangat tidak memungkinkan untuknya bisa meraih Rasmi agar tidak terjatuh. Akhirnya, ia hanya bisa menonton adegan antara Rasmi dengan penyelamatnya.
Iapun berjalan mendekati Rasmi, namun tidak dengan trolynya.
"Ehhm!" Zidan mendehem karena pria yang menyelematkan Rasmi belum juga melepaskan tangannya dari tubuh Rasmi.
Rasmi terkesiap lalu menoleh ke arah Zidan. Ia pun jadi salah tingkah. Bingung harus ngapain.
"Tunggu dulu! Aku kan bukan siapa-siapanya kak Zidan. Tapi kok, rasanya seperti aku ketahuan selingkuh aja," batin Rasmi.
"Maaf, aku tidak sengaja menabrak pacar anda" ucap pria itu kepada Zidan setelah melepaskan tubuh Rasmi.
"Iya, tidak apa. Pacar aku memang kadang suka ceroboh," balas Zidan.
"Ayo sayang!" ajakya ke Rasmi dengan meraih tangannya.
Rasmi terperangah mendengar kata 'sayang' yang diucapkan Zidan untuknya. Meskipun dalam hati sebenarnya suka dengan kata itu. Apalagi yang mengucapkannya adalah orang yang disukainya.
Tapi Rasmi tetaplah Rasmi. Ia tak mau bermimpi ketinggian karena tak mau jatuh, yang pada akhirnya membuatnya sakit hati.
Rasmi dan Zidan berjalan beriringan meninggalkan pria tadi. Rasmi langsung melepaskan tautan tangan Zidan begitu ia sampai pada troly belanjaannya.
Karena merasa gugup, ia meraih troly dan mendorongnya menjauh dari Zidan. Ia tak mau kegugupannya terbaca oleh Zidan.
Setelah semua barang kebutuhan toko ia masukkan ke dalam keranjang belanjaan, iapun bergegas ke meja kasir untuk membayarnya.
"Bayar pakai ini saja mbak!" seru Zidan memberikan black card miliknya. Rasmi hendak menolak, namun seperti biasa, Zidan tidak menerima penolakan.
Setelah berurusan dengan kasir, merekapun keluar dari toko menuju parkiran.
"Aku tidak tau berapa nominal yang kakak bayarkan tadi, tapi kakak bisa menagih saya kapanpun," ucap Rasmi begitu berada dalam mobil Zidan.
__ADS_1
Zidan tak membalas ucapan Rasmi. Ia hanya tersenyum tipis kemudian melajukan kendaraannya membelah jalanan kota.