
"Tidak, Anan. Aku mohon bertahanlah. Aku tidak mengizinkanmu meninggalkanku. Lihat aku, Nan. Lihat aku! Aku datang menyelamatkanmu. Kamu harus bertahan. Anan... Anan!"
Arya memanggil-manggil nama Anan dalam tidurnya. Tak lama, perlahan tapi pasti, kedua maniknya membuka.
"Syukurlah, kamu sudah sadar."
Arya menoleh dan melihat sosok Abhizar duduk di samping tempat tidurnya.
Seketika Arya teringat sesuatu.
"Abhi, semalam aku bersama dengan seorang gadis. Di mana dia?"
"Anan?" tanya Abhizar, memperjelas.
"Iya," jawab Arya, mengangguk.
"Eh, kamu mengenalnya?" Arya balik bertanya.
"Lebih dari itu."
Jawaban Abhizar membuat Arya mengernyit.
"Apa maksudmu?" tanyanya sambil berusaha bangun.
Abhizar hanya mengangkat bahunya.
"Istirahatlah! Sebentar lagi asisten kamu datang." Lalu Abhizar memutar badan dan melangkah ke arah pintu.
Ketika hendak menyentuh gagang pintu, pintu pun terketuk dari luar. Segera Abhizar membukanya dan tampaklah Dimas dengan segala barang bawaannya di sana.
"Masuklah! Dia sudah bangun. Aku pamit dulu."
Dimas mengangguk sekali, kemudian memberi jalan untuk Abhizar.
Abhizar melangkahkan kakinya seraya tersenyum. Kali ini ia ingin sedikit mengerjai sepupunya itu. Atau mungkin banyak. Entahlah.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dimas setelah meletakkan barang yang dibawanya di atas meja.
"Sudah lebih baik. Oh iya, bagaimana dengan ... ."
"Anan?" tebak Dimas, mendahului Arya.
Arya pun mengangguki tebakan Dimas.
"Aku juga belum tahu. Aku belum menjenguknya hari ini. Terakhir kali aku melihatnya, ketika kalian berdua sama-sama keluar dari ruang IGD dan dibawa ke ruang perawatan," jelas Dimas.
"Kamu tahu di mana ruang rawat Anan?" tanya Arya.
"Kamu fokus saja dulu sama pemulihan kamu. Setelah itu, barulah kamu menemuinya. Itu pun kalau Anan berkenan."
"Apa maksudmu? Kenapa kamu berkata seolah Anan tidak bersedia bertemu denganku? Sebelum Anan pingsan, aku yakin Anan sempat melihatku. Jadi, dia pasti tahu siapa yang datang menolongnya. Lagi pula, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Dimas menghela nafas panjang sambil menggeleng pelan.
"Anda sungguh narsis, Tuan," ledeknya.
"Loh, memang benar, kan?"
__ADS_1
"Arya... Anan buta, jadi tidak mungkin dia melihatmu."
Perkataan Dimas tentu saja membuat Arya terkejut dan sedih.
"Apa benar Anan tidak bisa melihat? Sejak kapan? Dan apa yang membuat Anan menjadi buta?" Rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari bibir Arya.
"Kejadiannya dimalam perayaan pesta ulang tahun perusahaan. Setelah Anan keluar dari hotel, beberapa orang pria menculiknya. Singkat cerita, Anan berusaha melarikan diri, namun nahas, dia malah tertabrak oleh kendaraan lain dan mengakibatkan Anan kehilangan penglihatannya," terang Dimas yang mengetahui ceritanya dari Rasmi.
Air mata Arya mengalir tanpa perintah. Dalam hati, ia semakin menyesali perbuatannya waktu itu. Bahkan sangat merutuki kebodohannya saat itu yang hanya karena ego sesaat membuatnya harus menanggung penyesalan yang mendalam.
Arya berusaha melepaskan jarum infus di tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Dimas mencoba mencegah Arya.
"Aku harus bertemu Anan. Aku mau memastikan keadaannya."
"Tenanglah, Arya. Kamu lupa dengan apa yang pernah kamu lakukan padanya?"
Seketika Arya terdiam sambil terus menatap Dimas. Hatinya berkecamuk. Namun, ia sudah bertekad. Apapun hasilnya, yang penting ia telah menyatakan permohonan maafnya.
"Aku tidak perduli, Dimas. Aku harus menemui Anan."
Arya bangkit dan mengikis jarak dengan pintu. Disaat akan memegang gagang pintu, ia kembali menarik uluran tangannya. Tak lama, ia berbalik menghadap Dimas.
Dimas yang ditatap hanya mengerutkan keningnya.
"Itu... aku tidak tahu di mana kamar rawat Anan," ucap Arya sambil mengusap tengkuknya.
Dimas menghela nafas ringan, lalu berjalan mendahului Arya, dan membukakan pintu untuk atasan sekaligus sahabatnya itu.
Baru beberapa langkah, Dimas berhenti di depan sebuah pintu.
Dengan tersenyum, "Ini kamar perawatan Anan," ucap Dimas, menunjuk pintu di dekatnya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi." Arya kesal sebab kamar rawat Anan dan kamar rawatnya bersebelahan rupanya.
Lagi-lagi Dimas hanya tersenyum kikuk.
Begitu Arya hendak mengetuk pintu, Dimas menghentikannya.
"Tunggu! Apa perlu aku temani?" tawarnya.
"Tidak perlu. Terima kasih," sahut Arya yang masih kesal.
Dimas tidak lagi berkata apapun. Ia hanya mengangguk sekali, lalu melangkah meninggalkan Arya.
Tinggallah Arya, sendiri berdiri di depan pintu. Ia memberanikan diri mengetuk perlahan pintu kamar rawat Anan.
Terdengar suara dari balik pintu. Arya pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruang tersebut.
Nampaklah di mata Arya, seorang gadis cantik yang begitu dirindukannya sedang duduk di atas tempat tidur dengan sepiring buah anggur hijau di pangkuannya.
Anan berusaha menebak, siapa gerangan yang datang ke ruangannya.
"Siapa, ya?" tanyanya, sebab ia tidak mampu menebak meski sudah berusaha.
Perlahan Arya bergerak maju. Sedikit demi sedikit jarak di antara mereka terkikis.
__ADS_1
"Maaf, kamu siapa?"
Anan mulai panik dan meraba setiap permukaan yang mampu dijangkaunya. Hingga akhirnya ia meraih piring berisi buah anggur hijau di depannya.
Ketika Anan hendak melayangkan piring tersebut, dengan sigap Arya merebut piring dari tangan Anan dan menaruhnya di atas nakas.
"Siapa kamu?!" pekik Anan.
Arya sungguh tak sanggup berkata-kata. Maniknya yang sedari tadi berkaca-kaca, kini melelehkan air mata. Hatinya terasa hancur melihat kondisi Anan saat ini. Penyesalan bertubi-tubi menghantam hati dan jiwanya, yang entah sampai kapan dapat terbebaskan.
"Maaf."
Satu kata akhirnya berhasil keluar dari bibir Arya.
Anan tersentak. Walau sedikit serak, ia dapat mengenali suara yang dulu sering terngian di telinganya.
"Pak Arya?" sebutnya.
"Iya... ini aku. Aku tahu, aku sangat tidak pantas berdiri di hadapanmu demi mendapatkan kata maaf darimu. Tapi sungguh, aku menyesal. Aku menyesali semua yang telah aku lakukan padamu waktu itu. Maaf... maafkan aku."
"Pak Arya tidak perlu meminta maaf. Aku sudah memaafkan Bapak saat itu juga. Jadi, Bapak tidak berhutang apapun kepada saya."
"Tapi Nan, apa yang kulakukan dulu sangat keterlaluan. Kamu pantas menghukumku."
"Saya tidak pantas menghukum Bapak," ujar Anan, tersenyum, meski dengan tangan yang gemetar.
"Saya mau istirahat. Silakan Bapak keluar."
Air mata Anan bersiap menyembulkan dirinya. Dan dia tidak mau Arya melihat itu. Untuk itu, Anan meminta Arya meninggalkannya segera.
"Baik. Istirahatlah! Besok aku kembali lagi."
Arya pun meninggalkan Anan seraya mengusap air matanya.
Dari arah berlawanan, Zidan melihat Arya keluar dari kamar rawat Anan. Buru-buru, ia menghampiri ruang perawatan tersebut dan masuk untuk mengetahui kondisi Anan.
"Kamu tidak... ."
Kalimat Zidan tidak sempat terucap sempurna. Ia menelan air liurnya menyaksikan Anan menangis sesegukan.
"Zidan."
Segera mungkin Anan menghapus air matanya agar tidak ketahuan oleh Zidan. Tapi terlambat. Kedua tangan Zidan terkepal. Ia berpikir Arya lagi-lagi menyakiti Anan.
"Kamu tidak usah menutupinya, Nan."
"A-aku... ." Anan tergagap.
"Aku melihatnya. Apa dia menyakiti kamu lagi?" tanya Zidan, geram.
"Tidak, Zidan. Itu tidak seperti yang kamu lihat. Dia tidak melakukan apa-apa," bela Anan.
"Apa? Kamu membela dia? Sadar, Nan! Dia sudah menyakitimu. Kamu jangan mau lunak di hadapan dia." Zidan berjalan mendekati Anan.
"Tapi dia benar-benar tidak melakukan apa-apa. Dan kamu juga tidak perlu mengkhawatirkanku," ucap Anan yang juga mulai kesal.
"Mana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu. Sedangkan kamu adalah kakakku, saudari kandungku."
__ADS_1
Seketika Zidan tersadar akan ucapannya barusan.
"Apa?" Anan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.