
"Hai, Nan!" sapa Zidan yang melihat Anan berjalan ke arahnya. Dan dibalas senyuman.
"Apa tidak bosan kamu tiap hari kemari?" tanya Anan setelah duduk di kursi.
"Ya tidaklah. Kalau perlu, aku bawa saja koperku sekalian, biar tinggal di sini. Di sini ramai, tidak seperti di rumah, sepi kayak kuburan," sahut Zidan, panjang lebar.
"Loh, kenapa bisa begitu?" tanya Anan, mengernyit.
"Entahlah. Aku juga bingung menyikapi mereka. Papah setiap hari sibuk kerja. Pulang kalau sudah larut. Sedangkan mamah, masih betah tinggal di villa opa."
"Jadi, mereka belum baikan?" tanya Anan, lesu.
"Aku sudah berusaha agar papah dan mamah bisa damai. Tapi ya gitu. Kalau aku bujuk papah, katanya biarkan mamah tenang dulu," jelas Zidan.
"Bagaimana dengan mamah Sandra?"
"Sudah seminggu ini aku tidak bertemu mamah. Mamah selalu menolak kedatanganku."
Zidan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi lalu menekan-nekan pangkat hidungnya.
"Setelah ini, kamu mau ke mana?"
"Rencananya aku mau ke villa opa. Semoga hari ini mood mamah lagi baik."
"Boleh aku ikut?"
Zidan kembali duduk tegap dan berfikir sejenak.
"Aku tidak akan memaksa mamah Sandra kalau memang mamah Sandra tidak mau bertemu." Anan curiga tidak akan diizinkan oleh Zidan.
"Bagaimana?" tanya Anan, berharap.
"Baiklah. Kamu boleh ikut. Tapi, sarapan dulu. Aku bawa makanan kesukaan kamu."
🍂🍂🍂
Di apartemen Arya.
Arya tengah bersiap-siap ke kantor. Ketika ia membuka pintu, ia dikejutkan oleh kehadiran Abhizar yang berdiri hendak menekan bel.
Dahi Arya mengerut. Sebab tumben sekali sepupunya itu mau menemuinya secara pribadi.
"Ada apa?" tanya Arya, cuek.
"Ada yang ingin aku sampaikan."
"Tapi aku sibuk. Pekerjaanku sedang menunggu di kantor." Arya menolak tanpa menatap Abhizar.
"Baiklah. Aku akan mengirimkan alamat tempat kita bertemu dijam makan siang nanti."
__ADS_1
Abhizar meninggalkan Arya tanpa memperdulikan penolakan yang akan diucapkan Arya.
"Apa?! Bisa-bisanya dia pergi begitu saja tanpa mendengarkanku terlebih dahulu," gumam Arya sambil menatap ke arah pintu lift.
Sangking seriusnya menatap pintu lift, sampai-sampai deringan ponselnya pun begitu mengagetkannya.
"Halo."
"Aku masih di apartemen. Sebentar lagi aku jalan."
"Iya, aku tahu. Aku akan tiba sebelum rapat dimulai."
Rupanya Dimas menelpon karena baru kali ini Arya terlambat kekantor. Padahal akan ada rapat dengan klien penting pagi ini.
🍁🍁🍁
Anan dan Zidan telah sampai di villa opa Kendra. Seperti biasa, kedatangan Zidan selalu disambut oleh para ART yang bekerja di sana.
"Kamu duduk di sini dulu, ya. Aku mau cari opa." Seperti sebelum berangkat tadi, kali ini Anan tidak lagi menggunakan sapu tangan untuk dituntun oleh Zidan.
Anan pun mengangguk dan duduk tenang di sofa yang ia timpa di ruang tamu.
"Nona mau minum apa?" tanya salah art yang menghampiri Anan.
"Apa saja," jawab Anan, singkat.
"Kalau begitu, ditunggu ya, Nona."
Art itu pun berlalu setelah Anan mengangguk.
Zidan telah sampai di depan kamar dokter Sandra. Ketika ia hendak mengetuk pintu kamar mamahnya, opa Kendra yang kebetulan dari teras belakang, melihatnya dan segera menghampiri.
"Zidan, tadi mamahmu berpesan agar kamu pulang saja. Mamahmu masih enggan bertemu," ujarnya. Zidan hanya bisa menghela nafas frustrasi.
"Tapi... aku tidak mungkin membiarkan mamah dan papah seperti ini terus, Opa. Apalagi, aku ada di sana waktu itu. Mamah pasti menyalahkanku juga. Dan... Zidan mau mamah memaafkan Zidan."
"Opa mengerti perasaanmu. Tapi, kamu juga harus bisa menghargai keinginan mamah kamu. Bersabarlah sebentar," ujar tuan Kendra lagi, lalu berjalan menuju kamarnya.
Sementara itu, Anan yang merasa bosan, mulai melangkah mendekati sumber suara yang terdengar samar-samar di rungunya.
"Kamu bicara dengan siapa, Zidan?" tanyanya, begitu berada di belakang Zidan.
"Loh, Anan, kamu kenapa kemari? Kalau kamu jatuh, bagaimana?"
Zidan sempat terkejut dengan kedatangan Anan yang juga membuatnya khawatir disaat yang sama.
__ADS_1
"Kalau tidak salah, sepertinya Zidan berbicara dengan seseorang tadi. Tapi ke mana orang itu?" gumam Anan, membatin.
"Syukurlah, opa sudah pergi sebelum Anan tiba. Bisa gawat kalau opa bertemu dengan Anan. Opa pasti akan menceritakan semuanya ke Anan. Sejak insiden itu, opa tidak sabar ingin mengakui kesalahannya dan meminta maaf segera. Bisa-bisa urusan mamah dan papah belum selesai, muncul lagi masalah baru." Zidan membatin.
"Zidan?!" panggil Anan.
"Oh itu... bukan siapa-siapa." Anan hanya mengangguk berulang kali.
"Bagaimana dengan mamah Sandra? Apa Mamah Sandra baik-baik saja?" tanya Anan, cemas.
"Aku juga tidak tahu bagaimana keadaan mamah. Soalnya mamah masih belum mau bertemu denganku."
Sangat jelas terdengar Zidan sedang frustrasi. Permasalahan ini sungguh menguras tenaga, pikiran, serta waktunya.
"Biar aku coba bicara dengan mamah Sandra." Zidan hanya mengangguk, mengizinkan.
Anan melangkah biar lebih dekat dengan pintu, lalu mengetuknya.
"Mah... ini Anan, Mah. Anan memang tidak mengerti perasaan Mamah saat ini, sebab Anan bukanlah Mamah. Anan hanyalah seorang gadis biasa yang belum memahami ranah orang tua. Mungkin ucapan Anan terkesan aneh... Tapi, apa Mamah tahu? Sejak Anan menginjak usia remaja, Anan tidak lagi mempertanyakan dimana papah Anan. Bahkan Anan sudah menganggap kalau papah Anan sudah tiada. Karena berharap pun percuma."
Air mata Anan mulai jatuh mengalir membasahi kedua pipinya.
Sedangkan dokter Sandra yang berdiri di balik pintu sejak obrolan Zidan dengan opa Kendra tadi, merenungi kata demi kata yang terucap dari bibir Anan.
Tadinya, dokter Sandra ingin keluar dari kamar untuk mengisi gelasnya yang kosong. Tetapi, mendengar kehadiran Zidan membuatnya urung melakukannya.
"Apa Mamah mau dengar satu kisah? Sebelumnya, kisah ini belum pernah Anan ceritakan kepada siapapun. Bahkan kepada mamah Yati sekalipun." Anan mengatur ritme nafasnya.
"Dulu, pihak sekolah mengadakan pertemuan dengan seluruh orang tua siswa. Semua orang tua wajib hadir. Tapi, sehari sebelum acara, mamah Yati sakit. Jadi Anan menemui guru Anan untuk memberitahukan keadaan mamah. Singkat cerita, entah dari mulut siapa, sampai tersebar rumor di sekolah kalau Anan adalah anak haram yang lahir tanpa adanya pernikahan." Bulir kristal bening semakin membanjiri wajah Anan.
"Berbulan-bulan Anan dirundung di sekolah. Sampai akhirnya pihak sekolah menangani kasus ini. Pihak sekolah ingin menyurati mamah untuk datang ke sekolah, tapi Anan bersikeras agar pihak sekolah tidak perlu melakukan itu. Anan hanya tersenyum sambil berkata Anan tidak apa-apa. Anan baik-baik saja."
Tidak berbeda dengan Anan, Zidan pun telah melelahkan air matanya. Betapa keras kehidupan yang telah dilalui Anan. Betapa kuat Anan menghadapi cobaan hidup yang bertubi-tubi, pikirnya.
"Mamah Sandra pasti tahu kenapa Anan menyembunyikan ini dari mamah Yati. Anan tidak ingin mamah kepikiran. Anan tidak mau kalau sampai mamah sakit hati. Mamah sudah sangat menderita. Anan tidak mau menambah beban mamah. Karena meskipun Anan belum pernah bertemu papah kandung Anan, tapi Anan yakin bahwa Anan bukanlah anak haram seperti yang mereka katakan... Memang benar, Anan sempat berpikir jika saja Anan memiliki seorang ayah, mungkin ceritanya akan berbeda. Jika waktu itu Anan punya papah, sudah pasti dia akan menjaga dan melindungi Anan agar tidak terluka. Sudah pasti tidak akan membiarkan Anan menangis karena hinaan."
Bersamaan air matanya yang berlinang, Anan kembali mengatur ritme nafasnya.
"Tapi, melihat kegigihan dan kasih sayang mamah Yati, Anan lalu berpikir, di dunia ini Anan tidak butuh sosok ayah. Walau tidak sebanding, bagi Anan, mamah Yati sudah cukup memenuhi kriteria seorang ibu sekaligus ayah."
Anan mengusap jejak air matanya, meski masih terisak.
"Mah... Anan tidak meminta Mamah untuk mengerti Anan. Anan... Anan cuma kangen dengan mamah Sandra yang selalu hangat kepada Anan. Anan rindu sama Mamah," imbuhnya.
Setelah itu Anan pun berbalik dan melangkah menuju ruang tamu. Begitu pun dengan Zidan yang mengekor di belakang Anan.
Namun, belum sempat keduanya sampai di ruang tamu, tuan Kendra muncul dari arah samping.
"Anan?!
__ADS_1
Tbc...