Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 6


__ADS_3

Siang itu, langit mendadak jadi gelap.Anan memacu motor maticnya agar bisa tiba di tempat tujuan tanpa kehujanan. Setelah pertemuannya dengan para sahabatnya tadi, dia tidak kemana-mana lagi. Tadinya dia berniat mampir ke toko kue mamah Yati, namun dia urungkan. Entah mengapa, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Dan segera menuju rumah. Satu hal yang ada di benaknya, mamahya.


Begitu sampai rumah, Anan langsung menuju kamar mamahnya. Dan betapa kagetnya Anan saat ia mendapati mamahnya tergeletak di samping tempat tidur.


"Mamah.. !" pekiknya.


Anan langsung meraih mamahnya dengan berurai air mata.


"Mamah.. bangun Mah.. "pekiknya lagi.


"Tante Yati kenapa Nan?" tanya Rara begitu tiba di kamar mamah Yati.


Rara sengaja mampir ke rumah Anan setelah dari bengkel mengambil mobil dan dari toko kue milik mamah Yati membeli kue pesanan mamahnya. Dan begitu ia tiba di pintu rumah, ia bergegas ke kamar mamah Yati karena mendengar teriakan Anan.


"Kita bawa ke rumah sakit" ucap Rara.


Mereka pun membawa mamah Yati ke rumah sakit terdekat. Dengan kondisi jalan yang sudah basah karena guyuran air hujan, mereka tiba di rumah sakit setengah jam kemudian. Mamah Yati kemudian diarak ke bagian IGD rumah sakit tersebut untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Kamu yang sabar ya Nan" ucap Rara seraya memeluk sahabatnya itu.


"Tante Yati pasti baik-baik aja" ucap Rara lagi menenangkan.


"Emang tante Yati sakit apa?" tanya Rara begitu melepaskan pelukannya.


"Aku juga tidak tau, hanya saja.. mamah biasa ngeluh sakit dibagian pinggang. Aku takut mamah kenapa-napa" jawab Anan masih terisak.


Tak lama kemudian, ponsel milik Rara berdering.


"Iya Mah.. " ucap Rara begitu menjawab panggilan di ponselnya.


"Kamu dimana Ra? Gimana dengan kue pesanan Mamah? Ada apa tidak?" tanya mamah Rara bertubi-tubi.


"Aduh Mah.. satu-satu dong" keluh Rara


"Rara di rumah sakit Mah. Tante Yati masuk rumah sakit. Entar Rara pulang" terang Rara.


"Astagfirullah.. mamahnya Anan sakit apa?" tanya mamah Rara.


"Rara juga belum tau Mah, masih diperiksa sama dokter" jawab Rara.


"Ya udah, kamu temenin Anan aja dulu. Salam buat Anan. Semoga mamahnya cepat sembuh. Assalamualaikum" ucap mamah Rara mendoakan.


"Iya Mah, Waalaikumsalam" sahut Rara dan menutup panggilannya.


"Keluarga pasien?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.


"Saya dok, gimana keadaan mamah saya dok" sahut Anan lalu menanyakan kondisi mamahnya.


"Bisa kita ke ruangan saya?" minta dokter yang masih berusia 29 tahun itu.


"Baik dok" sahut Anan kemudian berbalik ke arah Rara.


"Pergilah, aku akan menjaga tante Yati" titah Rara yang mengerti dengan tatapan sahabatnya itu.


Bersama dengan itu, brankar tempat mamah Yati berbaring keluar di dorong oleh perawat dari ruang IGD menuju ke ruang ICU. Rara mengikuti kemana perawat membawa mamah Yati sedangkan Anan mengikuti dokter ke ruang yang dimaksud.


"Saya Samuel, orang-orang sering memanggil saya Sam. Saya dokter umum di rumah sakit ini" kata dokter Sam memperkenalkan diri.


"Saya Anan dok, saya anaknya pasien" balas Anan.


"Baik Anan, sudah berapa lama pasien menderita penyakit ini?" tanya dokter.

__ADS_1


"Saya tidak tau dok. Mamah Hanya sering ngeluh sakit pinggang. Dan baru kali ini mamah pingsan" jawab Anan menerangkan.


"Saat ini kami masih mendalami kondisi pasien. Berhubung saya hanyalah seorang dokter umum, maka saya akan mempertemukan kamu dengan dr. Sandra, Sp. PD. KGH. Beliau adalah spesialis penyakit dalam dan spesialis nefrologi. Beliau akan menjelaskan lebih spesifik mengenai kondisi pasien" jelas dokter Sam.


"Jadi kapan saya bisa bertemu dengannya dok?" tanya Anan tidak sabar.


"Mungkin saat ini dr. Sandra sudah memeriksa kondisi pasien, karena tadi saya sudah menghubungi beliau" ucap dokter Sam tanpa menjawab pertanyaan Anan.


"Lebih dari pada itu, saya memintamu ke ruangan ini ingin menyampaikan agar kamu menyiapkan diri atas segala kemungkinan yang ada" tutur dokter Sam karena melihat kepanikan Anan sejak tadi.


Setelah dari ruang dokter Sam, Anan menuju ruang ICU atas info dari Rara melalui pesan chat.


"Apa kata dokter Nan?" tanya Rara.


Kemudian Anan menuturkan semua perkataan dokter Sam tadi.


"Aku takut Ra.. Aku harus gimana.." ucap Anan yang kembali berurai air mata.


Seketika Rara pun mendekap sahabatnya itu.


"Kamu harus kuat, kita berdoa sama-sama ya.. " ucap Rara menyalurkan energi positif ke Anan agar lebih tenang.


"Aku udah kasi tau Salma dan Adji tentang kondisi tante Yati. Mungkin sebentar lagi mereka sampai" info Rara


"Keluarga pasien Ny. Nurhayati" panggil perawat yang baru saja keluar dari ruang ICU.


"Saya sus" sahut Anan.


"Mari ikut saya" ajak perawat itu dengan sopan.


Sesampainya mereka di depan pintu sebuah ruangan, sang perawat mengetuknya, yang kemudian mendapat sahutan dari dalam ruangan yang mempersilakan mereka masuk.


"Dia keluarga pasien atas nama Ny. Nurhayati nyonya" tutur perawat memperkenalkan Anan kepada dokter Sandra.


Anan sedikit heran, mengapa perawat tadi menyebut dokter Sandra 'nyonya', bukan dokter.


"Nama kamu siapa nak?" tanya dokter Sandra dengan lembut dan membuyarkan pikiran Anan.


Entah mengapa, ada rasa iba dan perasaan sayang di hati dokter paruh baya ini terhadap Anan.


"Nama saya Anan dokter" jawab Anan.


"Dokter Sam tentu sudah menjelaskan siapa saya" ucap dokter Sandra dengan senyum merekah.


"Untuk diagnosa awal, ada kelainan pada organ ginjal pasien. Untuk itu, kami akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memutuskan tindakan apa yang cocok untuk pasien jalani" terang dokter yang masih terlihat cantik itu.


"Lakukan yang terbaik untuk mamah saya dok" mohon Anan.


"Boleh saya memelukmu nak?" minta dokter Sandra, membuat Anan berfikir sejenak sebelum mengiyakan.


Ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan oleh dokter Sandra ketika mendekap Anan. Entah mengapa, dia seperti mendekap putrinya sendiri.


"Kamu jangan khawatir, kami pasti memberikan yang terbaik untuk mamahmu" ucap dokter Sandra yang telah melonggarkan pelukannya namun tetap memegang kedua bahu Anan.


"Terima kasih dok" ucap Anan yang merasa lebih tenang setelah mendapat pelukan dari dokter Sandra. Seolah-olah ada ikatan yang kuat diantara mereka.


Anan pun kembali ke ruang ICU dimana mamahnya sedang terbaring tak berdaya. Di sana juga sudah ada Salma dan Adji.


"Yang sabar ya beb.." ucap Salma memeluk Anan begitu ia melihat Anan.


"Kita semua berdoa untuk kesembuhan tante Yati" tutur Adji menyemangati.

__ADS_1


"Terima kasih, kalian benar-benar sahabat terbaik" tutur Anan berusaha tegar.


Pukul 5 sore, Rara mengantar Anan ke rumahnya untuk mengambil beberapa lembar pakaian untuknya dan mamah Yati. Tentu juga keperluannya sebagai mahasiswi. Mengingat, dia akan berangkat ke kampus dari rumah sakit tempat mamahnya dirawat.


Setelah dirasa cukup, mereka pun kembali ke rumah sakit.


Karena hari sudah malam, yang mana jam menunjukkan pukul 9, Rara, Salma dan Adji izin pulang ke rumah masing-masing.


Dan tinggallah Anan dan mamah Yati yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit dalam ruang ICU saat ini.


"Mah.. Maafin Anan yang tidak menjaga mamah dengan baik. Anan mohon, jangan tinggalin Anan mah.. " ucap Anan yang mulai terisak sambil menggenggam tangan mamah Yati dan meciuminya.


"Cuma mamah yang Anan punya... cuma mamah keluarga Anan... " ucap Anan lagi dengan air mata yang sudah tak bisa ia bendung lagi.


Ya, semenjak Anan dan mamah Yati pindah ke kota, mereka tidak pernah lagi mendapat kabar dari tante Yani, adik dari mamah Yati. Mamah Yati sering mencoba menghubungi nomor adiknya itu, namun tidak pernah tersambung.


"Jadi Anan mohon mah, mamah bangun. Mamah pasti kuat.... mamah pasti sembuh. Bukankah kita akan bersama-sama terus?.. Bukankah mamah pengin liat Anan pake seragam wisuda lalu kita foto bareng mah?.. Dan bukankan mamah pengin liat Anan maju sebagai mahasiswi terbaik di acara wisuda nanti?..


Anan janji mah... Anan akan mewujudkan keinginan mamah itu. Asal mamah bangun ya..


Anan akan selalu mengingat nasihat mamah..


Anan akan selalu ingat kata-kata mamah..


Anan janji akan jadi anak yang baik, anak yang bisa buat mamah bangga..


Anan juga sudah janji untuk membahagiakan mamah...


Anan mohon mah... tolong.. izinkan Anan menepatinya... izinkan Anan menepati janji Anan... izinkan Anan membahagiakan mamah... " ungkap Anan dengan suara yang sudah serak karena tangis.


Dari balik pintu ruang ICU, seorang ibu yang juga berprofesi sebagai dokter, turut merasakan kesedihan atas apa yang dialami oleh Anan. Tanpa ia sadari, ia menitikkan air mata disetiap ungkapan kesedihan dan keinginan yang ia dengar dari seorang anak.


"Ternyata di sini.. " ucap seseorang yang mengagetkan dokter Sandra.


Benar, dialah dokter Sandra, yang sejak awal menaruh perhatian khusus ke Anan.


Dokter Sandra segera menghapus air matanya kemudian menoleh ke arah orang yang telah mengagetkannya.


"Aku cari di ruangan mamah, tapi tidak ada. Lalu aku bertanya ke salah satu perawat, katanya ada yang melihat mamah berjalan ke ruang ICU. Dan memang benar, mamah di sini" tutur Zidan menjelaskan.


"Mamah ngapain di depan pintu?" tanya Zidan sambil menunjuk pintu di belakang dokter Sandra.


"Mamah cuma habis liat pasien aja" jawab dokter Sandra menutupi yang sebenarnya.


"Kamu ngapain di sini?" tanya dokter Sandra balik.


"Ya jemput mamah" jawab Zidan singkat.


"Bukannya papah yang mau jemput?" kira dokter Sandra.


"Papah masih sibuk di kantor, makanya papah meminta Zidan jemput mamah" jelas Zidan.


"Ya udah, kita pulang" titah dokter Sandra sambil berjalan meninggalkan ruang ICU.


Berbeda dengan mamahnya, Zidan justru mendekati pintu ruang tersebut lalu mengintip melalui kaca yang ada pada pintu itu dan hanya menemukan punggung seorang gadis yang tertidur sambil duduk dan memegang tangan pasien.


"Ngapain masih di situ?" tanya dokter Sandra setelah menyadari Zidan tidak mengikuti langkahnya.


Zidan pun berbalik dan berjalan mendekati mamahnya.


💠💠💠

__ADS_1


Hiks.. ja-ngan lu-pa hiks.. like dan ko-men ya.. hiks..


Terima kasih 😘


__ADS_2