Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 85


__ADS_3

"Apa?" Anan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Kamu... tadi ngomong apa, Zidan? Coba ulangi lagi!"


Zidan gelagapan. Ia bingung harus bagaimana. Ia juga merutuki kebodohannya yang keceplosan.


"Zidan?"


Anan menunggu Zidan mengulang perkataannya.


"Apa yang harus diulang? Bukankan dari awal aku memang menganggap kamu saudariku?" Zidan berkelit.


Bukan Zidan tidak mau mengatakan sebuah fakta tentang hubungannya dengan Anan. Tetapi, ia merasa saat ini bukanlah waktu yang tepat.


Anan tersenyum tipis.


"Ya sudah. Intinya, kamu jangan cari masalah dengannya. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Lagi pula, aku juga sudah memaafkannya sejak dulu."


"Anan!" pekik Zidan.


"Zidan!" Anan tak mau kalah. Ia pun meneriaki Zidan.


"Aku mohon." Suara Anan sedikit parau bersamaan dengan kedua netranya yang berembun.


"Aku ingin hidup tenang. Aku tidak ingin menambah beban lagi. Aku tidak mau hidup dalam bayang-bayang masa lalu."


Anan menghela nafas dalam.


"Zidan, kamu bisa 'kan, mengabulkan permintaanku ini?!" mohonnya disertai air mata yang mengalir.


Zidan semakin mengepalkan kedua tangannya karena tak sanggup membantah keinginan saudari satu-satunya yang sangat disayanginya itu.


"Baiklah, Nan. Permintaanmu aku kabulkan. Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Aku akan berusaha melupakan dendamku padanya. Tapi ingat, Nan! Sekali lagi dia membuat kamu menangis, aku tidak akan melepaskannya!"


Anan mengangguk seraya tersenyum kecil.


"Terima kasih, Zidan," ucapnya.


Zidan hanya bisa menatap sedih Anan. Ia sungguh resah dengan kebaikan yang dimiliki kakak kandungnya itu.


"Ternyata benar perkataan Adji. Pantas saja jika Adji sangat mengkhawatirkan Anan," gumamnya dalam hati.


"Oh iya, Zidan. Kamu lihat syal aku, tidak?" tanya Anan.


"Aduh, gawat! Kemana ya, syal itu?" batin Zidan, mencoba mengingat-ingat.


"Kamu tenang saja. Syal nya sudah aku cuci, cuma belum kering. Jadi aku tidak bawa," bohong Zidan.


"Semoga saja syal Anan ada sama papah," batin Zidan, berharap.


"Oh, begitu ya. Kamu bawa nasi uduk, ya?"


Zidan tersenyum lalu menyiapkan makanan yang dibawanya ke dalam wadah untuk diberikan kepada Anan.


"Aku perhatikan, semenjak kamu tidak bisa melihat, indera penciumanmu menjadi lebih tajam." Zidan mencoba mencairkan suasana.


Anan mengernyit sambil mengingat-ingat kebenaran perkataan Zidan.


"Yang dikatakan Zidan memang tidak salah. Tapi, menurut aku ini masih sebatas wajar. Tidak aneh," batinnya.


Zidan membawa piring yang berisikan nasi yang lengkap dengan lauk-pauknya. Lalu duduk di atas tempat tidur yang sama dengan Anan.


"Aku suap, ya?"


"Tidak usah, Zidan. Aku bisa sendiri." Anan menolak.


"Tidak bisa. Khusus hari ini, aku yang menyuapimu," tegas Zidan.


Anan tersenyum sembari mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah," ucapnya.


Zidan pun mulai menyuapkan sesendok nasi ke mulut Anan. Zidan sangat senang melakukannya. Sesekali ia menjahili Anan ketika hendak menyuapkan makanan. Hingga Anan pun dibuat tertawa olehnya.


Sedang asyik bersenda gurau, dari balik pintu, Rasmi muncul dengan kantong plastik berisi kue dari toko mamah Yati.


Tak sadar, Rasmi menjatuhkan kantong tersebut ke lantai membuat Zidan dan Anan menoleh.


"Rasmi?" sapa Zidan.


Rasmi gelagapan dan segera mengambil kembali kantong yang tidak sengaja ia jatuhkan.


"I-iya, maaf mengganggu kalian. A-aku cuma mau mengantarkan ini," sahut Rasmi tergagap lalu meletakkan kantong plastik itu di atas meja.


"Ya sudah, kalian lanjut saja. Aku permisi."


Rasmi pun meninggalkan ruangan itu tanpa menunggu persetujuan Zidan dan Anan.


Zidan menyadari ada yang salah dengan tingkah laku Rasmi. Walau bagaimana pun, Zidan termasuk pria yang sangat peka terhadap orang-orang yang disayanginya.


Zidan berdiri lalu menyimpan piring makan Anan di atas nakas.


"Ada apa, Zidan? Kamu mau kemana?" tanya Anan.


"Aku baru ingat, dijam ini aku ada janji."


"Oh. Kalau begitu, berangkatlah!"


"Tapi... kamu sendiri," cemas Zidan yang berfikir ulang untuk meninggalkan Anan sendiri.


"Tidak apa. Mungkin sebentar lagi mamah datang," ujar Anan.


"Baiklah, aku berangkat, ya."


Zidan pun meninggalkan Anan dan berlari mengejar Rasmi.


"Semoga saja Rasmi belum jauh," lirih Zidan bergumam.


"Tunggu, Rasmi!" cegat Zidan.


Rasmi menghentikan aktivitasnya, dan hanya mematung sambil sesekali terisak.


"Kamu menangis?" tanya Zidan begitu berada di belakang Rasmi. Perlahan Zidan berjalan ke hadapan Rasmi.


"Kenapa Kakak di sini? Seharusnya Kakak temani kak Anan saja. Untuk apa mengejar Rasmi?"


Zidan menghela nafas.


"Kamu cemburu?" tanyanya, mengernyit.


Seketika Rasmi mengangkat wajahnya.


"Untuk apa Rasmi cemburu? Lagi pula kita kan tidak ada hubungan apa-apa," tuturnya.


Zidan memicingkan maniknya, "Lalu, untuk apa kamu bersikap seperti ini?"


"A-aku... ." Rasmi bingung mau jawab apa.


Zidan meraih kedua pundak Rasmi dan menatapnya lekat.


"Rasmi, aku tahu perasaanmu saat ini. Dan aku mengerti. Memang benar bahwa aku tidak pernah berkata cinta padamu, tapi meskipun demikian, aku yakin kamu bisa merasakannya. Aku tidak ingin mengajakmu pacaran. Karena aku tidak ingin kita berdosa. Cukup kita menjaga perasaan kita masing-masing. Hingga waktunya tiba, Allah menyatukan kita berdua dalam ikatan suci pernikahan. Kamu mau kan menunggu hari itu tiba?"


Raut wajah Rasmi berubah cerah dan sedikit tersipu malu mendengar ucapan Zidan.


"Rasmi mau, Kak," sahutnya sambil mengangguk.


"Mengenai Anan, kamu tidak perlu cemburu. Karena kamu tidak pantas untuk itu."


Giliran Rasmi yang mengerutkan keningnya dan menatap dalam Zidan.

__ADS_1


"Kenapa, Kak? Bukankah kak Anan juga seorang wanita, sama dengan Rasmi?" protesnya.


"Tapi Anan berbeda."


Rasmi semakin dalam menatap pria yang berdiri di hadapannya itu. Menelisik kebenaran di balik kedua manik pria yang disukainya saat ini.


"Tolong, jangan menatapku seperti itu! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Memang apa yang aku pikirkan?!" seru Rasmi, bertanya.


"Tolong, jangan membuat ini rumit! Bersabarlah sebentar saja. Aku yakin kamu pasti akan mengerti," minta Zidan, memelas.


"Baik, terserah Kakak saja," ujar Rasmi yang bergegas menaiki motor maticnya dan menghidupkan mesinnya.


"Rasmi, kamu tidak percaya padaku?"


Namun Rasmi melajukan motornya. Tidak memperdulikan pertanyaan Zidan.


Zidan menghela nafas panjang.


"Suatu hari nanti, kamu pasti mengerti, Rasmi," gumam Zidan, menatap kepergian Rasmi hingga tak terlihat lagi.


🍁🍁🍁


Dua hari kemudian.


Ponsel milik Arya yang tergeletak di atas meja berdering. Arya yang sedang sibuk di ruang kerjanya hanya melirik sekilas lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia enggan menjawab panggilan dari ibunya. Sebab ia yakin, ibunya pasti hanya akan membahas tentang perjodohannya saja, pikirnya.


Ponsel Arya kembali berdering, namun ini sudah yang ketiga kalinya. Dengan malas ia pun terpaksa menjawab panggilan tersebut.


"Ha... ."


"Kamu mau melawan Mamih, ya? Kamu jangan macam-macam Arya! Nanti durhaka, kamu!"


Geram, nyonya Clara menyela Arya. Ia juga kesal karena merasa tidak diperdulikan oleh putranya sendiri.


"Ada apa, Mih? Kalau Mamih menelpon Arya hanya untuk membicarakan tentang perjodohan, maaf, Arya sibuk, Mih," tegas Arya.


"Eh... sayang! Kamu kok ngomong gitu, sih?!" Nyonya Clara seketika berbicara dengan lembut.


"Tapi ini bukan sama Lexa, loh. Dia lebih cantik dan lebih baik dari Lexa."


"Maksud Mamih, lebih kaya, gitu?!" sela Arya yang mulai jengkel.


"Loh, kamu kok tahu banget sih, Sayang. Mamih yakin kamu pasti akan suka sama Maya. Dia itu gadis yang baik, cantik, pintar lagi. Pokoknya, Maya itu lebih dari Lexa. Kamu pasti langsung suka begitu ketemu dengannya," jelas nyonya Clara antusias dengan rasa percaya dirinya yang menjulang tinggi.


"Maaf, Mih. Tapi Arya tidak mau."


Penolakan Arya tidak lantas menyurutkan semangat nyonya Clara.


"Kenapa tidak mau sih, Sayang? Maya itu gadis yang baik. Dan kamu pasti tidak bakal menyesal memulai hubungan dengan dia," ujar nyonya Clara, berusaha meyakinkan putranya itu.


"Kalau tidak ada lagi, Arya tutup ya, Mih. Arya sibuk."


Sambungan pun terputus.


"Dijodohkan lagi?"


Pertanyaan Dimas membuat Arya menoleh.


"Sejak kapan kamu duduk di situ?"


"Jadi benar, kamu dijodohkan lagi? Kali ini dengan anak gadis dari perusahaan mana?"


Arya hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Namun, Dimas dapat memahami hal itu.


"Oh iya, ini berkas yang kamu minta untuk diselidiki." Dimas menyerahkan amplop cokelat besar dan langsung diterima oleh Arya.


Tanpa membuang waktu, Arya pun membuka amplop cokelat besar tersebut dan mengeluarkan isinya.

__ADS_1


Arya membaca dengan seksama lembar demi lembar kertas di tangannya. Selang beberapa detik kemudian, seketika wajah Arya berubah. Tampak jelas bahwa Arya tidak percaya dengan apa yang dibacanya.


__ADS_2