Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 86


__ADS_3

"Halo! Halo, Arya! Arya!"


Nyonya Clara memekik. Kesal, sebab Arya memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


"Dasar, anak itu! Aku masih dianggap ibunya bukan, sih?!"


Dari arah ruang tamu, muncul tuan Wijaya yang berjalan mendekati istrinya.


"Ada apa lagi?" tanyanya lembut seraya mencium kening nyonya Clara.


"Ini, anak Papih, Arya. Masa dia menutup telepon Mamih. Bikin kesal saja tuh anak," jawab nyonya Clara, mengadu.


Tuan Wijaya berjalan menuju sofa, lalu duduk di sana seraya melonggarkan dasi yang melilit di kerah kemejanya.


"Sudahlah, Mih. Arya bukan lagi anak kecil yang butuh kita urus walau hal terkecilnya. Biarkanlah dia mengambil keputusan sendiri," tutur tuan Wijaya.


Nyonya Clara memicingkan maniknya, menatap suaminya.


"Tunggu-tunggu! Kenapa Papih ngomong seperti itu? Bukannya selama ini yang selalu mengintervensi Arya, itu Papih? Terlebih lagi mengenai calon istri untuk Arya. Tapi, kenapa sekarang Papih berdalih lain?"


Dengan bersedekap, "Ada apa dengan Papihnya Arya hari ini?" lanjutnya, selidik.


"Sudah-sudah. Sini, Papih kasih tahu."


Tuan Wijaya menarik pelan nyonya Clara untuk duduk di sampingnya. Tak lama, ia menghela nafas panjang, kemudian tersenyum tipis.


"Mih, sekuat apapun kita menekan putra kita, nyatanya, dia tetap mampu keluar dari tekanan yang kita berikan. Artinya, meskipun kita memaksakan kehendak kita padanya, pada akhirnya, dia tetap pada keputusannya. Buktinya, dibandingkan berjodoh dengan Lexa, dia lebih memilih Anan. Ya, walau awalnya cuma iseng, tapi sepertinya tidak bisa juga dianggap remeh," ujarnya, bijak.


"Maksud Papih, apa?!"


"Papih tidak ada maksud apa-apa. Tapi, Papih berharap, Mamih tidak gegabah."


Nyonya Clara yang mendengar ucapan suaminya, terlihat berpikir.


Tuan Wijaya bangkit dari duduknya. Sebelum melangkah, ia mengusap lembut pundak istrinya.


🍁🍁🍁


Menjelang sore, Anan duduk di teras rumahnya. Dia dan mamahnya tidak lagi tinggal di rumah sakit. Apalagi, kini tante Yani bersama dengan putranya menemani keduanya.


Anan tampak menikmati suasana sendiri di teras saat ini.


"Ternyata benar, rumah memang jauh lebih nyaman," gumamnya, tersenyum.


"Ya Allah, semoga Engkau berkenan melindungi kami semua, amin," lirihnya, lanjut berdoa. Kemudian menghela nafas panjang.


Dari kejauhan, seorang pria yang sejak tadi memperhatikan Anan, tak henti mengembangkan sudut bibirnya. Ia bahagia menyaksikan gadis yang dicintainya tersenyum dan baik-baik saja.


"Aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan. Tapi, aku tidak akan berhenti berusaha agar wajah cantikmu itu senantiasa memancarkan senyum kebahagiaan," gumam Arya yang duduk di belakang kemudi mobilnya.


Namun, senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Arya perlahan memudar. Keningnya berkerut manakala ia melihat seorang pria turun dari mobil berwarna putih. Dan pria itu adalah sepupunya, Abhizar.


Seketika hatinya dilanda kecemasan. Ia sungguh merasa tidak tenang apabila ada seorang pria mendekati Anan. Apapun maksud dan tujuannya.


Arya semakin menajamkan penglihatannya. Mengawasi dengan seksama kalau-kalau Abhizar melakukan hal-hal aneh terhadap Anan.


"Apa perasaanku saja, ya? Aku tiba-tiba merasa sedang diawasi," batin Abhizar sambil mengusap halus tengkuknya.


"Ada apa, Bhi? Kenapa diam saja?" tanya Anan yang merasa tidak direspon.


"Ah... tidak. Tidak apa-apa. Umm... sampai mana, tadi?"

__ADS_1


"Memangnya mau sampai mana? Kamu kan belum lama datangnya," sahut Anan.


"Oh... maaf. Maaf, Nan."


"Kenapa minta maaf? Kamu tidak salah apa-apa," ucap Anan, terkekeh ringan.


Abhizar pun tertawa kecil menanggapi kekehan Anan.


"Tante Yati, kemana?" tanya Abhizar yang menyadari tidak ada satupun suara dari dalam rumah.


"Mamah sekarang di toko. Tante Yani ada urusan di luar. Kalau Awan, lagi main bersama anak-anak kompleks," terang Anan.


"Oh iya, Bhi... terima kasih sudah menolong aku waktu itu. Entah seperti apa jadinya kalau tidak ada kamu. Tapi,... ."


Anan menghentikan ucapannya. Selain kurang nyaman mengatakannya, ia juga merasa malu.


"Tapi apa, Nan?" Abhizar penasaran.


"Umm... itu."


"Apa tidak masalah kalau aku katakan? Aku takut kami jadi canggung. Dan lebih parah lagi, jika memengaruhi pertemanan kami," batin Anan yang tiba-tiba menjadi murung.


"Kamu kenapa, Nan?" tanya Abhizar mendekat, sebab melihat perubahan air muka Anan


"Sial! Ngapain Abhi dekat-dekat sama Anan?"


Arya kesal melihat Abhizar berdekatan dengan Anan. Ia curiga jika Abhizar ada rasa terhadap Anan. Namun, ia sendiri tidak mampu berbuat apa-apa. Sebab ia menunggu moment yang pas untuk mengungkapkan perasaannya.


"Nan?" panggil Abhizar yang melihat Anan larut dalam pikirannya.


"Eh, maaf, Bhi."


"Kamu baik-baik saja, 'kan?"


Abhizar pun kembali duduk di kursinya.


"Umm... Bhi. Aku tidak ada maksud menyalahkan kamu. Justru aku berterima kasih. Apalagi, situasi saat itu urgent." Anan menghela nafas panjang.


"Sebelum aku tak sadarkan diri, seseorang meraih tanganku, lalu merangkul tubuhku. Dan... dan memberiku nafas. Sampai akhirnya aku benar-benar pingsan. Terima kasih ya, Bhi. Seperti yang aku bilang tadi, aku tidak menyalahkanmu. Malah, aku berharap pertemanan kita berjalan seperti biasa," tegas Anan.


"Kamu bersedia 'kan, Bhi?" lanjutnya, bertanya.


"Te-tentu saja, Nan. Aku pasti bersedia. Ya, ya sudah, kalau begitu, aku pamit dulu, ya. Salam buat tante Yati dan tante Yani."


"Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan Abhi? Ah sudahlah, mungkin cuma perasaan aku saja," gumam Anan sepeninggal Abhizar.


Buru-buru Abhizar menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya.


"Siapa pria yang dimaksud Anan? Apa Zidan? Tunggu! Atau jangan-jangan... ." Abhizar membuang nafas kasar.


"Bisa jadi, sih. Soalnya yang mengikuti Anan saat diculik, 'kan dia?!" Abhizar kembali menghela nafas sembari melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu.


"Apa yang terjadi? Kenapa Abhizar terburu-buru begitu?"


Arya yang ingin tahu keadaan Anan, segera keluar dari mobilnya. Namun, disaat ia sudah berada tepat di depan pintu pagar rumah Anan, ia tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk melangkah lebih dekat.


"Wah... ternyata di kompleks kita ada 'cogan'!"


Seru beberapa remaja putri yang hendak melintas di depan rumah Anan dan melihat keberadaan Arya.

__ADS_1


"Hai, Kak! Kakak lagi cari alamat, ya? Atau Kakak penghuni baru kompleks sini?" tanya salah satu dari mereka. Membuat Arya membalikkan badannya menghadap mereka.


Karena takut ketahuan oleh Anan, Arya tidak menjawab pertanyaan mereka. Tak lama, salah satu dari mereka pun kembali bertanya, namun kini oleh gadis remaja yang berbeda.


"Kakak mencari siapa, barangkali saja kami tahu?"


Baru saja Arya akan meninggalkan mereka, tiba-tiba terdengar suara dari pemilik rumah.


"Siapa, ya?"


Arya menoleh ke sumber suara. Dan mendapati Anan yang hendak menuruni anak tangga teras rumahnya.


Spontan Arya membuka pintu pagar, meninggalkan beberapa remaja putri yang menyapanya tadi, dan berlari ke arah Anan.


Anan yang terhuyung, seketika ditangkap oleh Arya.


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung keduanya berpacu lebih cepat dari biasanya.


"Wah...! So sweet...!"


"Aku juga mau!"


"Aku seolah nonton 'drakor'!"


Seru gadis-gadis tadi, bergantian.


Sontak, Arya menatap gadis-gadis itu tajam. Membuat mereka merinding dan bergegas meninggalkan tempat mereka karena ngeri.


"Gila! Ganteng-ganteng kok horor!" seru salah satu dari mereka.


Di rumah Anan.


"Ka-kamu siapa?" tanya Anan yang sudah berdiri tegap.


Anan hendak meraba wajah Arya, namun Arya bergegas meninggalkan Anan.


Begitu Arya membuka pintu mobilnya, Anan berteriak.


"Siapapun anda, terima kasih."


Arya berbalik. Menatap Anan yang berdiri dengan tersenyum beberapa meter darinya. Lalu menyelinapkan tubuhnya masuk ke dalam kendaraannya, kemudian berlalu dari sana.


Disaat yang sama.


Rasmi tiba berboncengan dengan mamah Yati dan sempat melihat Arya sebelum masuk ke dalam mobilnya meskipun samar-samar.


Mamah Yati menghampiri Anan yang masih berdiri di tempatnya. Sedangkan Rasmi sibuk menatap kepergian kendaraan yang baru saja beranjak dari depan rumah Anan.


"Kamu melihat apa, Rasmi?" tanya mamah Yati.


"Eh, tidak ada, Mah. Hanya orang lewat saja. Ya sudah, Rasmi jalan ya Mah. Mari kak Anan."


🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih selalu setia menunggu kelanjutan kisah Anan.

__ADS_1


Kalian LUAR BIASA


😍😍😍


__ADS_2