Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 98


__ADS_3

Di bandara.


Tuan Kemal dan Raka telah tiba di tanah air. Mereka saat ini berdiri sambil menunggu sopir jemputan. Selang beberapa saat, tiba-tiba ponsel Raka berdering. Sekitar dua menit, Raka kembali menyimpan ponselnya.


"Maaf, Tuan. Pak Kadir baru saja menelpon. Katanya, dia tidak bisa menjemput kita karena ketika di jalan menuju kemari, tiba-tiba saja ban mobilnya pecah," ungkap Raka, hati-hati.


Raka tahu persis, jika tuannya itu ingin segera tiba di tempat acara ulang tahun putrinya diselenggarakan.


Tak terbayang lagi, betapa gelisahnya tuan Kemal saat ini. Entah sudah kali berapa ia melirik jam tangannya. Dan sesekali menghembuskan nafas berat.


Ia tidak ingin telat sedikit pun ke acara ulang tahun putrinya. Bukan tanpa sebab. Ini adalah kali pertama ia merayakan pesta ulang tahun putrinya setelah lebih dari dua puluh tahun. Ini juga alasan mengapa tuan Kemal mempercepat urusannya di Jepang. Ya, meskipun acara ulang tahun Anan ini menyertakan acara lain.


Melalui perayaan ini, ia juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Anan. Ia berharap agar dapat meraih hati putri yang ditinggalkannya selama bertahun-tahun itu segera.


"Panggil taksi!" titahnya ke Raka.


Namun sayang, satupun tak ada taksi yang terparkir ataupun yang lalu lalang. Raka lalu mengutak-atik ponselnya mencoba memesan jasa taksi online. Akan tetapi, entah mengapa hari ini tak ada satupun yang berhasil.


Raka pun dilanda panik. Ia bingung harus mengatakan apa ke atasannya itu.


"Ada apa?" tanya tuan Kemal yang melihat ekspresi panik di wajah Raka.


"Anu, Tuan. Itu, taksi... ."


Ucapan Raka terhenti oleh sapaan Arya. Hari ini, Arya dan Dimas juga baru pulang dari Jerman setelah lima hari berada di sana. Keberangkatannya ke Jerman ialah mengurus proyek yang pernah ia tangani sewaktu di sana beberapa bulan lalu. Dan secara kebetulan bertemu dengan tuan Kemal dan Raka.


"Tuan Kemal?!"


"Eh, pak Arya. Apa kabar?" tanya tuan Kemal sambil berjabat tangan.


"Alhamdulillah, baik Tuan. Nampaknya Tuan menunggu jemputan," tebak Arya.


"Iya, tapi tiba-tiba saja ada kendala," jawab tuan Kemal lalu melirik jam tangannya.


"Apa Tuan buru-buru? Bagaimana kalau saya mengantar Tuan?"


Tuan Kemal melirik Raka, kemudian beralih ke Arya.


"Baiklah, Terima kasih." Tuan Kemal menerima tawaran Arya seraya mengangguk.


Di dalam kendaraan Arya yang dikemudikan Dimas, Arya duduk di kursi belakang bersama tuan Kemal. Betapa gugupnya Arya saat ini duduk berdampingan dengan tuan Kemal. Papah dari gadis yang dicintainya.


Terlepas dari itu, perbuatannya di masa lalu, menjadi momok tersendiri bagi dirinya. Ia takut memperoleh hasil buruk setelah mengakuinya di depan tuan Kemal.


"Mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya. Apalagi, kami bukan hanya berdua saja. Mudah-mudahan saja segera ada waktu yang tepat untuk aku mengatakannya," batin Arya, berharap.


🍒🍒🍒


Sementara itu, di sebuah hotel.

__ADS_1


Zidan yang kebelet, izin ke toilet sebentar. Anan pun duduk di salah satu kursi yang ada di ballroom hotel itu. Yang Anan tahu, ia datang sebagai pendamping Zidan di acara tersebut. Sedangkan yang lainnya masih dalam perjalanan.


Sebagian kursi tamu telah ditempati oleh tamu undangan yang datang lebih awal. Mereka yang hadir, selain sangat menghargai dan menghormati pemilik hajatan, mereka juga sangat penasaran tentang siapa penerus yang akan menjadi pemimpin Grissham Company menggantikan tuan Kemal. Sebab, di kartu undangan tertera acara penyambutan calon pemimpin baru Grissham Company. Bukan acara ulang tahun.


Sebagian dari mereka, ada yang menebak bahwa Zidan lah yang akan menjadi pemimpin Grissham Company berikutnya. Namun sebagian lagi menebak, karyawan yang selama ini telah mengabdi dan sangat kompeten, serta layak untuk jadi pemimpin. Mengingat Zidan tidak menuntut ilmu di bidang bisnis, melainkan kedokteran. Entahlah, semuanya masih tanda tanya.


Walau menunggu dengan tenang dan sabar, Anan tetaplah risih berada di keramaian. Apalagi, tak seorang pun yang Anan kenal meski lewat suara, ataupun yang mengenalinya.


Betapa ia berharap datang seseorang yang mengenalinya dan mengajaknya berbincang.


Selang beberapa saat, tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara seseorang.


"Loh, kamu Anan, kan? Anan si gadis desa dan miskin yang doyan menggoda pria kaya. Bahkan yang sudah beristri sekalipun," sarkas ibu-ibu yang berpenampilan glamor malam ini. Dia pun salah satu tamu undangan di acara itu. Dia datang atas undangan perusahaan.


"Aku memang mengharapkan seseorang datang, tapi tidak untuk mengataiku yang bukan-bukan," batin Anan.


"Maaf, Bu. Anda siapa? Dan kenapa ibu berkata demikian?" tanya Anan, bingung dan masih duduk di kursinya.


"Hah?! Kamu sudah lupa sama aku? Belum juga setahun putus dari putraku, sekarang kamu lupa begitu saja?! Memang ya, kalau cintamu itu cuma cinta harta, pasti cepat lupa karena cintamu itu bukan dari hati!" Lagi-lagi ibu itu berkata sarkas dengan senyum mengejek sambil bersedekap.


Seketika, Anan pun dapat mengenali siapa ibu-ibu yang tiba-tiba datang mengumpatnya itu.


"Nyonya Clara?" sebut Anan saraya bangkit.


"Iya, sudah ingat?!" sengit nyonya Clara.


"Dia siapa, Tante?" tanya Maya yang datang bersama nyonya Clara.


"Dia? Namanya Anan. Si gadis kampung yang berusaha menggoda Arya demi uang. Kalau kamu lihat penampilannya, kamu pasti tidak percaya kan kalau dia ini gadis kampung. Lihat saja penampilannya sekarang!" cibir nyonya Clara sambil menunjuk-nunjuki Anan.


Dengan angkuhnya, nyonya Clara mencibir Anan habis-habisan.


"Cukup, Tante! Itu tidak benar. Aku tidak seperti yang Tante katakan," tegas Anan, meremat pakaiannya.


"Halaah... jangan bela diri, kamu. Hidung belang mana lagi yang kamu porotin sekarang, huh?! Apa dia jauh lebih kaya dari anak saya?"


Betapa enteng nyonya Clara mencemooh gadis sebaik Anan. Semua yang diucapkannya sungguh sangat menyakiti hati gadis cantik itu.


Meski orang tidak berkerumun, tapi semua mata kini tertuju pada Anan.


"Tolong hentikan, Tante! Sebelum saya memanggil keamanan," minta Anan sedikit mengancam.


"Apa?! Kamu mengancam tante Clara? Ngaca kamu! Kamu itu siapa, huh?!"


Maya yang ikut berkata kasar kepada Anan, lantas mendorong Anan hingga tubuh Anan membentur sisi meja dan tepat mengenai bagian perut Anan.


"Aaww... shhh!" ringis Anan, memegang bagian perutnya.


Disaat yang sama, tuan Kemal datang dan tentu saja melihat putrinya didorong oleh gadis yang bersama nyonya Clara itu.

__ADS_1


"Anan!"


"Anan!"


Seru tuan Kemal dan Arya bersamaan sambil berlari menghampiri Anan. Keduanya sontak membantu Anan berdiri.


Para tamu undangan yang menyaksikan hal itu bertanya-tanya. Apakah gerangan hubungan Anan dengan tuan Kemal.


Secara, dalam dunia bisnis di kota ini, siapa yang tidak mengenal tuan Kemal. Hampir tiap tahun wajahnya terpajang di sampul sebuah majalah bisnis. Dan menjadi incaran pewarta demi menggali informasi penting darinya.


Tapi, siapa gadis yang direngkuhnya saat ini? Apa hubungannya dengan tuan Kemal? Dan mengapa pemilik salah satu kerajaan bisnis itu tampak mengkhawatirkan keadaan gadis itu?


Mungkin itulah pertanyaan yang ada di benak masing-masing.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya tuan Kemal, cemas.


"Apa-apaan ini, Mih?!" geram Arya. Ia benar-benar emosi menyaksikan gadis pujaan hatinya diperlakukan kasar. Meskipun itu oleh ibu kandungnya sendiri.


"Arya! Kamu membentak Mamih demi gadis kampung ini?!" Nyonya Clara tak kalah emosi.


"Kamu lupa? Bukankah kamu membencinya? Bukankah dia gadis miskin yang kamu permalukan dulu? Yang dulu kamu katakan merayumu hanya demi uang?! Lalu kenapa sekarang kamu membelanya?"


"Cukup, Mih!!!"


Tuan Kemal beralih menatap Arya. Dan yang ditatap berubah pias. Sungguh ia sangat berhati-hati agar tidak ada cela dia di mata tuan Kemal. Ia juga sudah bertekad akan mengatakan dan mengakui kesalahannya di masa lalu terhadap Anan.


Namun, semua tinggallah rencana semata. Hari ini tuan Kemal telah mengetahui keburukannya tanpa ia menyangka itu oleh ibu kandungnya sendiri.


Ditengah kericuhan itu, Zidan telah kembali dari kamar kecil. Bertepatan dengan yang lainnya. Termasuk mamah Yati, dokter Sandra, tante Yani, dan putranya, tak terkecuali tuan Kendra. Mereka tercengang disuguhi pemandangan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya saat ini.


Manik tuan Kendra memerah akibat menahan amarah. Sedangkan mamah Yati dan dokter Sandra telah berkaca-kaca. Mereka sangat sedih dengan apa yang dialami oleh putri kesayangan mereka.


Lantas, bagaimana dengan Zidan?


Nafas Zidan memburu. Kedua tangannya mengepal. Dan irisnya mengerucut tajam ke arah Arya.


Sudah lama ia ingin melabrak Arya, namun selalu ditahannya. Itu karena ia menghargai keputusan Anan. Akan tetapi, kali ini berbeda. Ia tidak mau lagi menyisakan dendam di hatinya. Hari ini juga ia akan membuat Arya membayar perbuatannya.


Dengan sigap Zidan bergerak maju bermaksud memberi Arya pelajaran, tetapi ada yang lebih sigap menahannya. Adji tiba-tiba muncul menarik Zidan agar tidak meninggalkan tempatnya lebih jauh. Sebab Adji tahu apa yang akan Zidan lakukan.


"Tenanglah, Zidan. Jangan memperkeruh keadaan!" minta Adji, namun penuh penekanan.


"Apa maksud Nyonya? Betulkah kalian pernah memperlakukan Anan serendah itu?"


Bergetar tubuh tuan Kemal menanyakannya. Ayah mana yang rela putri kesayangannya diperlakukan serendah itu. Sungguh ia tidak bisa menerimanya. Tuan Kemal sungguh geram putrinya dihina di depan matanya.


Sedang nyonya Clara mengedarkan pandangannya ke sana kemari. Ia merasa sungkan menatap tuan Kemal. Ia jelas tahu siapa tuan Kemal. Namun, itu tidak berlangsung lama.


"Asal Nyonya tahu, gadis yang Nyonya katakan kampung dan miskin ini adalah PUTRI KANDUNG SAYA!"

__ADS_1


Tbc...


SABAR MENANTI YA, SAYANG-SAYANGKU SEMUA...


__ADS_2