Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 72


__ADS_3

Hari semakin sore. Mereka pun akhirnya meninggalkan restoran berselera nusantara itu. Karena mobil milik Zidan masih di rumah sakit, ia pun meminta Abhizar mengantarnya ke sana.


"Jadi, gadis yang kamu maksud waktu itu, Anan?" tanya Zidan dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Iya. Jujur saja, waktu itu aku pun tidak sempat berkenalan. Soalnya dia menolak. Aku tau nya saat Anan kecelakaan. Dan saat itu, aku mengira kalau kamu sedang berpacaran dengannya," beber Abhizar.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Zidan, mengernyit.


"Karena mataku melihatmu begitu terpukul atas kecelakaan yang dialami Anan. Seolah-olah kecelakaan yang dialaminya itu karena kesalahan dan kelalaian kamu," terang Abhizar.


"Dan apa kau tau? Anan adalah gadis pertama yang menolakku berkenalan dengannya."


"Itu karena kamu kegenitan kali," celetuk Zidan, tertawa.


Di tengah perbincangan mereka, Atika tiada henti menatap Abhizar. Meski duduk di kursi belakang, tak menyurutkan semangatnya untuk memandangi pria yang membuatnya terkagum-kagum sejak awal bertemu.


"Itu mata dijaga," celetuk Rasmi, mengusap kasar wajah Atika.


"Ada apa sih?" tanya Zidan, memiringkan badannya dan menengok kedua gadis yang duduk di kursi belakang.


"Tau nih. Dari tadi Atika me... ."


Tiba-tiba saja Atika membekap mulut Rasmi agar tidak menyambung kalimatnya.


"Tidak kok, Kak. Tidak ada apa-apa. Tidak penting juga," ucap Atika, tersenyum kikuk.


"Kita sudah sampai. Turunlah!" titah Zidan ke Rasmi dan Atika.


"Loh, bukannya kak Abhi ya, yang akan mengantar kita pulang?" Atika berharap bisa lebih lama bersama Abhizar walaupun bukan cuma berdua saja.


"Memangnya, kapan Abhi ngomong akan mengantar kamu pulang?" tanya Zidan.


"Ya... kali aja kak Abhi nya mau. Iya 'kan?" sahut Atika.


"Sudahlah, aku jalan dulu." Abhizar pun berlalu meninggalkan mereka bertiga di depan pintu masuk rumah sakit.


"Huhh... kirain," gumam Atika.


"Kirain, apa?" tanya Rasmi.


"Eh! Tidak Kak. Bukan apa-apa. Hehehe."


"Sampai kapan kalian akan berdiri di situ? Cepatlah, aku akan mengantar kalian pulang," teriak Zidan, menoleh Rasmi dan Atika di tengah langkahnya menuju parkiran.


🍁


🍁


🍁


Di belahan bumi lain.


"APA??? Jadi kamu tidak lagi menerima laporan dari Raka?" Tuan Kendra geram, Raka telah mengkhianatinya.


Sudah beberapa hari ini, tangan kanan tuan Kendra tidak lagi mendapatkan laporan kegiatan tuan Kemal dari Raka.


Raka yang notabenenya adalah asisten tuan Kemal, sebenarnya adalah kaki tangan tuan Kendra yang sengaja tuan Kendra taruh di sisi tuan Kemal agar bisa memantau segala aktivitas tuan Kemal.


Itulah mengapa sampai detik ini tuan Kemal belum juga berhasil menemukan istri pertamanya. Sebab, atas perintah tuan Kendra, Raka tidak pernah sekalipun mencari orang yang ingin ditemukan oleh tuan Kemal.


Namun, situasi kali ini berbeda. Raka yang telah mengetahui cerita yang sebenarnya, tidak lagi berpihak pada tuan Kendra. Bukan itu saja. Bahkan seluruh anak buah tuan Kendra yang selama ini turut membuntuti tuan Kemal, tidak lagi bersedia mengikuti perintah tuan Kendra. Malah bersekutu dengan Raka untuk membantu tuan Kemal menemukan istri pertamanya.


"Iya, Tuan," sahut tangan kanan tuan Kendra yang bernama Jojon.

__ADS_1


"Kurang ajar!!!" Dengan sekali sapuan, tuan Kendra berhasil membuat semua isi meja ruang belajarnya berserakan di lantai.


Jojon bergidik. Setelah sekian tahun, ini pertama kalinya ia kembali melihat kemarahan tuan besarnya itu. Meski tidak lagi berusia muda, namun tuan Kendra masih mampu membanting benda apa saja yang ada di hadapannya ketika ia murka.


"Perintahkan seseorang ke Indonesia. Dan seret Raka ke hadapanku!"


"Baik, Tuan." Lalu Jojon beranjak dari ruang belajar tuan Kendra. Tak lupa ia menyuruh ART untuk membereskan dan menata kembali meja tuan besar mereka.


"Berani sekali kamu Raka," geram tuan Kendra dengan gigi yang menggeletuk.


🍁


🍁


🍁


Sebulan kemudian.


Anan tidak lagi menjadi pasien di rumah sakit Sandra Hospital. Namun, hari-harinya tidak berbeda ketika sebelum kecelakaan. Sampai saat ini, ia tetap menginap di rumah sakit karena mamah Yati masih di rawat di sana. Apalagi, akhir-akhir ini penyakit mamah Yati semakin parah.


Seperti biasa, Zidan, Abhizar, dan sahabat-sahabat Anan silih berganti datang berkunjung. Bahkan, seakan mereka telah janjian, terkadang mereka datang bersamaan.


Sedangkan ibu Yani sesekali menginap, menemani mamah Yati berbincang, mengenang masa lalu mereka.


Seperti hari ini, ibu Yani yang semalam menginap masih menemani mamah Yati di kamarnya.


Zidan yang setiap pagi datang membawa makanan kesukaan Anan, begitu selesai sarapan, hari ini ia membawa Anan berjalan-jalan ke taman kota.


Anan paling suka jika berada di tempat yang luas tanpa ada sekat yang menghalangi tiupan angin yang sepoi-sepoi.


Bukan hanya itu, suara riang gembira anak-anak yang bermain dan berkejar-kejaran di taman itu, menjadi hiburan tersendiri bagi Anan yang tak dapat menyaksikannya.


"Jadi, sewaktu masih tinggal di kampung, nama kamu Laras?" tanya Zidan yang duduk di samping Anan di bangku panjang di pinggir taman itu.


"Iya," jawab Anan, tersenyum.


"Iya. Kebetulan tadi pagi waktu kamu di kamar mandi, tante Yani membicarakan kamu," sahut Zidan.


"Oh iya, apa kamu suka pantai?"


"Suka. Tapi aku tidak bisa berenang," jawab Anan.


"Siapa juga yang ngajak kamu berenang?!"


"Terus kita ke pantai ngapain kalau bukan berenang," kesal Anan yang merasa dijahili lagi oleh Zidan.


"Jalan-jalan," sahut Zidan, singkat.


"Lebih baik tidak usah. Aku takut air yang banyak," ungkap Anan yang phobia terhadap air yang dalam.


"Baru tau, kamu tidak suka berenang. Jadi, saat kamu punya kelas berenang waktu sekolah, kamu ngapain?" tanya Zidan, penasaran.


"Ya aku beralasan sakit. Atau kalau tidak, aku bilang lagi datang bulan," jawab Anan, tertawa.


"Alasan klasik," cibir Zidan.


"Biarin. Yang penting kan aku selamat. Tidak perlu ketemu sama air yang banyak itu. Hiii... ngeri," seru Anan, mengangkat kedua bahunya.


Sedang asyik berbincang-bincang, Abhizar tiba-tiba hadir di tengah mereka.


"Hai," sapanya.


"Darimana kamu tau aku sama Anan ada di sini?" tanya Zidan, mengabaikan sapaan Abhizar.

__ADS_1


"Tadi aku ke rumah sakit. Kata tante Yani, kamu mengajak Anan ke taman kota. Jadi aku nyusul kalian kemari," papar Abhizar.


Derrtttt


Derrtttt


Ponsel milik Zidan bergetar tanda ada panggilan masuk. Sengaja Zidan tidak menyetel nada dering pada ponselnya, karena itu akan mengingatkannya ketika Anan terpental jauh akibat tertabrak.


"Aku angkat telepon dulu." Zidan pun berjalan menjauh.


"Aku duduk di samping kamu ya, Nan," izin Abhizar.


"Duduklah."


"Nan, kalau aku ngajak kamu ke luar negeri untuk berobat, kamu mau, tidak?" tanya Abhizar, berharap Anan bersedia.


"Terima kasih, Bhi. Tapi maaf, aku tidak bisa." Jawaban Anan tentu saja membuat Abhizar kecewa.


"Tidak apa-apa, Nan. Tidak usah kamu pikirkan."


"Maaf ya, Bhi. Aku sudah sangat sering mengecewakan kamu. Sungguh aku tidak bermaksud buat kamu kecewa. Percayalah."


Anan menghela nafas panjang.


"Aku hanya tidak ingin meninggalkan mamahku. Apalagi, aku dengar penyakit mamahku semakin parah."


"Seperti yang aku bilang tadi. Kamu tidak usah memikirkan perkataanku. Dan kamu juga tidak perlu memikirkan perasaanku. Asal kamu bahagia, itu sudah cukup buat aku," tutur Abhizar, lembut.


"Ya Allah, Abhi sungguh pemuda yang baik. Walau belum lama aku mengenalnya, aku yakin kalau dia benar-benar tulus. Tapi kenapa ya Allah, hatiku sulit terbuka dan menerima segala kebaikan dan ketulusannya," guman Anan dalam hati.


Di saat yang sama, Zidan berdiri di hadapan Abhizar setelah memutuskan sambungan teleponnya.


"Nan? Anan?" panggil Zidan.


"Eh, iya, Dan?" Anan pun tersadar dari lamunannya.


"Kamu melamun ya? Kasihan sekali sahabatku ini. Ngobrol dengan gadis yang otaknya sedang asyik traveling ke mana-mana," ejek Zidan ke Abhizar sambil terkekeh.


"Nan, kamu sama Abhi dulu ya. Aku ada urusan mendadak," ucapnya setelah puas dengan kekehannya.


"Baiklah. Hati-hati di jalan," sahut Anan.


Adji pun beranjak meninggalkan Anan dan Abhizar di taman itu.


Sepeninggal Zidan, mereka mengobrol seru dan sesekali diselingi canda tawa. Abhizar sangat senang melihat Anan tertawa lepas. Ada kebahagiaan tersendiri disaat ia mampu membuat pujaan hatinya itu tersenyum dan tertawa riang.


"Aku haus, Nan. Aku pergi beli minum dulu ya? Kamu mau minum apa?" tawar Abhizar.


"Jus wortel deh," sahut Anan.


Abhizar beranjak dari duduknya, lalu mengayunkan langkahnya. Namun, baru saja beberapa meter ia melangkah, ia berbalik dan berjalan mendekati Anan.


"Tapi, apa tidak apa-apa kamu aku tinggal sebentar?" tanya Abhizar, cemas.


"Ya ampun, Abhi. Aku kira kamu sudah berangkat."


"Aku mengkhawatirkan kamu, Nan," ungkap Abhizar yang berdiri di hadapan Anan.


"Kamu jangan khawatir, aku tidak akan kenapa-kenapa. Pergilah, cepat pulang bawa minumanku!" titah Anan seraya melambaikan tangannya ke udara.


Kini hanya Anan seorang yang duduk di bangku taman itu. Sesekali ia menutup matanya, menikmati terpaan angin yang seolah membelai wajahnya.


"Ya Allah, terima kasih atas segala karunia yang berkenan Engkau berikan padaku. Di kota ini, aku tidak hanya bertemu dengan orang-orang yang baik dan bahkan menganggap aku keluarga. Tapi juga Engkau mempertemukan aku dengan satu-satunya keluargaku," gumamnya.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Vote dong...


__ADS_2