Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 7


__ADS_3

"Sering-sering cek keadaan pasien.. juga anaknya" perintah dokter Sandra.


Dokter Sandra melanjutkan langkahnya meninggalkan perawat yang berjaga di sana. Dokter Sandra masuk ke dalam mobil begitu mobil yang dikemudikan Zidan tiba di depan pintu rumah sakit.


"Mamah sakit?" tanya Zidan memecah kesunyian.


"Tidak.. mamah tidak sakit"


"Tapi, wajah mamah kok pucat" selidik Zidan


"Mungkin cuma kecapean aja" sanggah dokter Sandra.


Doktor Sandra turun dari mobil setelah kendaraan yang membawanya tiba di depan rumah. Ia membuka pintu utama rumah mewah bergaya Eropa itu, lalu masuk ke dalamnya. Ia langsung menuju kamarnya dan segera membersihkan diri.


***


Salah satu perawat masuk ke ruang mamah Yati menggantikan cairan infus. Setelah itu ia keluar.


"Aku kasian deh sama anak pasien di ruang ICU itu" tuturnya berempati.


"Iya, dia cuma tinggal berdua dengan ibunya. Untung ada teman-temannya" ucap perawat lainnya, kasihan.


Di dalam ruang mamah Yati, Anan mengerjap, merasakan seseorang menyentuh puncak kepalanya.


"Alhamdulillah.. mamah udah bangun. Terima kasih ya Allah.. " ucapnya senang.


"Anan panggil perawat dulu ya mah"


Anan beranjak menemui perawat yang berjaga, dan memberitahukan perihal mamahnya yang sudah siuman.


"Tekanan darah pasien masih tinggi, tapi sudah lebih baik dari awal masuknya. Untuk selanjutnya, kita tunggu nyonya Sandra. Obat anti nyeri sudah disuntikkan. Biarkan pasien istirahat" terang perawat lalu beranjak meninggalkan Anan dan mamah Yati.


"Mamah mau minum?" tawar Anan dibalas anggukan oleh mamah.


Anan membatu mamahnya duduk bersandar. Anan mengarahkan segelas air putih lengkap dengan sedotannya. Anan menatap nanar ke mamahnya. Ia bersyukur mamahnya sudah siuman.


Anan kembali menyimpan gelas air putih tadi di atas meja samping tempat tidur mamah Yati.


Mamah tersenyum, "Mamah baik-baik saja, mamah hanya tidur saja sayang" ucap mamah menyelipkan rambut Anan ke belakang telinga.


"Mamah membuatku takut, aku takut mamah kenapa-napa" seru Anan khawatir.


"Maafk... "


"Tidak! Mamah tidak salah apa-apa, harusnya Anan yang minta maaf ke mamah. Karena kurang peduli sakitnya mamah" potong Anan.


"Bukankah mamah sudah pernah bilang, hidup ini sudah ada yang mengatur. Dan kamu sudah cukup dewasa untuk tau itu"


Anan menggeleng "Tapi Anan belum siap mah.."


"Kemarilah nak.." pinta mamah, masih dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Anan berdiri dari kursi dan segera diraih oleh mamahnya. Mamah mengusap lembut punggung Anan yang berada dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tidak ada seorang pun yang tau kapan kita akan menghadap sang khalik. Untuk itu kita harus mempersiapkan diri. Karena pada hakikatnya, tidak ada yang kekal di dunia ini".


Mamah melonggarkan dakapannya, menggenggam tangan Anan lalu menghela nafas pelan.


"Tahukah kamu sayang.. mamah lebih tidak siap" ucap mamah sedih.


"Mamah ingin liat kamu sukses meraih cita-cita..


Mamah ingin liat kamu menikah lalu punya anak..


Mamah ingin liat kamu hidup bahagia nak" harap mamah.


"Mamah harus sembuh untuk melihat aku sukses meraih cita-cita" ujar Anan mulai tersenyum.


"Juga untuk melihatmu menikah?" cecar mamah.


Senyum Anan menghilang. Anan hanya menunduk tak menjawab apa-apa. Ada jejak trauma yang bersarang di hati dan pikiran Anan. Tatkala ingatannya menerawang ke masa sulit yang dia alami tanpa figur seorang ayah. Ia takut, hal serupa akan dirasakan anaknya kelak.


"Lihat mata mamah sayang.. " pinta mamah.


"Tidak semua pernikahan akan berakhir seperti pernikahan mamah. Bisa jadi pernikahanmu jauh lebih menyenangkan dari yang kamu inginkan. Meskipun disetiap rumah tangga akan ada goncangan badai yang menerpa. Akan ada kerikil-kerikil yang menusuk. Namun itulah bumbu pernikahan. Anggap itu penguji kesetiaan kamu dan suami kamu."


Mamah menengadah, menatap langit-langit kamar "Andai suatu hari nanti sudah saatnya mamah pergi."


Lalu menatap anaknya "Mamah berharap Allah akan mempertemukan kamu dengan papahmu."


"Tidak!" tolak Anan.


"Aku tidak butuh papah, aku hanya butuh mamah.. aku hanya mau mamah. Anan mohon, mamah jangan ngomong seperti itu" tutur Anan dengan uraian air mata. dan ada setitik kebencian di situ.


Mamah menghapus air mata di pipi Anan. Melihat jam lalu berkata, "Tidurlah..! Bukankah besok kamu ada kuliah?"


Anan mengangguk, kemudian memperbaiki posisi duduknya. Anan tiduran sambil duduk.


***


Di kediaman dokter Sandra, ia baru saja keluar dari kamar mandi bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka menampilkan sosok suaminya.


Dokter Sandra berjalan menghampiri, lalu mengambil jas dan tas milik suaminya.


"Papah sudah pulang?" tanyanya dan menerima kecupan di kening.


"Zidan tidak telat jemput kan mah?" tanya papah Zidan khawatir.


"Tidak kok, malah kecepetan" ujar dokter Sandra membuat suaminya bingung.


"Cepet gimana maksudnya mah?" tanyanya.


"Oh.. tidak pah" jawab dokter Sandra cepat.


Dokter Sandra bermaksud bercerita tentang anak dari seorang pasien yang membuatnya merasa aneh sejak awal bertemu. Namun ia urungkan. Melihat suaminya pulang di jam segini, tentu suaminya itu capek. Jadi dia berniat menceritakannya besok saja.


Dokter Sandra menyimpan jas serta tas suaminya pada tempatnya. Ia berjalan ke meja rias lalu duduk pada bangku meja rias tersebut. Menatap dirinya pada pantulan cermin sambil menyisir rambutnya.

__ADS_1


"Bagaimana pekerjaan papah di kantor?" tanyanya.


Papah Zidan menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya kasar.


"Andai Zidan mau membantu papah di kantor".


Mengerti dengan ucapan suaminya, "Biar besok mamah coba bujuk ya pah" tawar dokter Sandra.


***


Keesokan harinya..


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, namun Anan belum juga terjaga dari tidurnya. Sampai perawat yang mengganti cairan infus mamah Yati membangunkannya.


"Nona bangun.. sudah pagi" ucap perawat menyentuh lengan Anan.


"Hmm.. " lenguh Anan dengan mata yang masih terpejam.


Perawat tersebut tidak putus asa, ia membangunkan Anan dengan menggoncang lengan Anan pelan dan berkata, "Sudah jam 7 nona."


Sontak Anan membelalak dan merutuki dirinya.


"Kenapa aku bisa kesiangan sih!"


"Terima kasih Sus" ucapnya kepada perawat tadi.


"Sama-sama nona."


Baru saja perawat itu akan meraih gagang pintu, Anan menghentikannya.


"Dimana saya bisa membersihkan diri Sus?" tanyanya.


Perawat tersebut mengerti, karena sejak kemarin Anan belum pernah menginjakkan kakinya pada ruang perawatan.


"Mari ikut saya" ajaknya.


Anan mengambil peralatan mandi dan juga baju salin untuknya. Anan berjalan mengikuti perawat tadi. Begitu tiba di depan pintu ruang yang dimaksud, Anan terkejut ketika tau bahwa kamar perawatan yang akan di tempati mamahnya adalah ruang VVIP.


"Tidak salah Sus?" tanyanya.


"Tidak nona, ini adalah ruang perawatan untuk pasien Ny. Nurhayati. Atas perintah Ny. Sandra. Ny. Sandra adalah pemilik rumah sakit ini nona" jawab perawat menjelaskan.


Anan mengerutkan keningnya, tidak percaya. Perawat itupun undur diri meninggalkan Anan.


Anan lalu membuka pintu ruang VVIP tersebut dan masuk ke dalamnya. Anan takjub atas apa yang dilihatnya.


Tempat tidur pasien yang lebih besar dari yang pernah ia lihat di kamar perawatan lainnya. Ada sofa, tv, kulkas dan lemari pakaian.


Anan pun iseng-iseng membuka kulkas, dan betapa terkejutnya saat ia melihat lemari pendingin itu penuh dengan makanan dan minuman.


"Siapa yang ngisi ya? Apa semua kulkas di rumah sakit ini terisi penuh dengan makanan dan minuman?" gumamnya.


Sebentar lagi Anan berhasil meraih buah pear yang ada dalam kulkas itu, tapi ia kembali menjauhkan tangannya.

__ADS_1


"Ntar aku disuruh bayar lebih lagi. Tidak ah! Lebih baik aku segera mandi" ucapnya.


__ADS_2