Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 22


__ADS_3

Anan telah selasai membersihkan badannya yang terasa lengket akibat aktivitas hari ini. Iapun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju kaos berwarna hitam dan celana kain di bawah lutut yang juga berwarna yang sama. Sungguh sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.


Ia lalu duduk di sofa, kemudian mengutak-atik ponselnya. Setiap kali ia telah mengetik sesuatu di sana, ia selalu menghapusnya. Ia bingung, bagaimana ia harus bertanya ke Arya tentang apa yang dilihatnya tadi siang di restoran.


Huufft!


Anan menghela nafas berat, setelah mengetik sesuatu tapi belum mengirimnya. Ia meletakkan ponselnya di sofa, lalu berdiri untuk mengambil air minum di kulkas. Belum sempat ia meneguk air dalam gelasnya, ponselnya berdering tanda adanya panggilan masuk.


Iapun berjalan menghampiri sofa dimana ponselnya tergeletak. Ia mengernyit setelah melihat siapa yang menelponnya. Iapun meletakkan gelas air minumnya di atas meja. Dan tanpa berlama-lama, iapun menggeser icon berwarna hijau ke arah atas dan panggilanpun tersambung.


"Halo" ~Anan.


"Kamu tidak percaya padaku?" ~Arya.


"Eh-eh,.." ~Anan.


"Apa cuma sampai segitu perasaanmu terhadapku?" ~Arya.


Anan masih terdiam, bingung.


"Haloo.." ~Arya.


"I-iya, maaf pak." ~Anan.


"Tolong, jangan meragukanku!" ~Arya.


"Iya pak." ~Anan.


"Dia salah satu klienku." ~Arya.


Lalu menyudahi panggilannya.


Begitu sambungan telepon terputus, buru-buru Anan membuka aplikasi chat di ponselnya. Dan alangkah terkejutnya dia mendapati chat yang kiranya tidak terkirim, terdapat centang dua berwarna biru.


Iapun menepuk jidatnya dan menghempaskan badannya duduk di sofa.


"Perasaan aku tidak pernah mengirim pesan ini. Kapan terkirimnya?" gumamnya mengingat-ingat.


"Dasar gadis kampung, gampang sekali dibodohi. Rasanya ingin sekali aku menertawakanmu. Tapi tunggulah, sebentar lagi kita akan lihat, dimana kamu akan menyembunyikan wajah kampunganmu itu karena malu."


Arya lalu mendial telepon yang ada di atas mejanya dan memerintahkan Dimas untuk masuk ke ruangannya.


"Bagaimana persiapan acara bulan depan?" tanya Arya begitu Dimas duduk di sofa di salah satu sisi ruangan tersebut.


"Berjalan 60 persen," jawab Dimas yang melonggarkan sedikit dasi di kerah kemejanya.


"Waktunya tidak lama lagi, aku tidak mau ada yang terlewatkan."


Arya bersandar di sisi depan mejanya, lalu menyilangkan kakinya sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Kamu tenang saja, serahkan pada ahlinya," ujar Dimas.


"Sepertinya kamu bersemangat sekali untuk acara ini, padahal sebelumnya kamu cuek dan enggan mengurusinya. Ada apa?" tanya Dimas menatap Arya penuh selidik.


"Bukan urusanmu! Kamu cukup menyiapkannya saja."


Arya berbalik, berjalan menuju kaca besar yang merupakan dinding ruangannya, dimana ia dapat menyaksikan keramaian kota dari balik dinding kaca tersebut.

__ADS_1


"Kalo tidak ada lagi, aku keluar dulu," pamit Dimas dan Arya hanya mengangkat tangannya ke udara tanda mengizinkan.


"Sebentar lagi akan ada tontonan yang spektakuler," gumamnya dengan seringai licik.


Malampun tiba, Anan tengah membereskan peralatan makan bekas mamahnya makan, lalu mencucinya di wastafel.


"Nan, apa kamu ada masalah nak?" tanya mamah Yati ketika Anan hendak duduk di sofa, setelah mencuci peralatan makan.


Anan melangkah mendekati mamahnya, kemudian duduk di tempat tidur mamahnya.


"Anan tidak apa-apa mah. Anan baik-baik saja," sahutnya lalu menggenggam tangan kanan mamahnya.


"Mamah hanya mengkhawatirkanmu sayang," ungkap mamah Yati yang masih kepikiran dengan perubahan Anan tadi siang di restoran.


"Anan sudah dewasa. Seperti yang mamah katakan, alur kehidupan tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang rencana yang sudah matang sekalipun, dapat terhenti oleh adanya setitik penghalang."


Anan menghela nafas sebelum melanjutkan kembali ucapannya.


"Lalu bagaimana jika penghalangnya lebih dari setitik?" Anan menatap mamah Yati lalu tersenyum.


"Mamah telah mengajarkanku untuk menjadi wanita yang kuat. Melalui mamah, Anan belajar arti sabar dan ikhlas yang sesungguhnya. Lalu apa yang mamah khawatirkan?"


Anan mengubah posisinya, berbaring di samping mamahnya dan memiringkan sedikit tubuhnya menghadap mamahnya.


"Mamah cukup mendoakan yang terbaik aja buat Anan. Bukankah tidak ada doa yang paling mujarab, melainkan doa seorang ibu untuk anaknya?" Lalu Anan memeluk mamahnya dari samping.


Mamah Yati pun mengelus rambut Anan dengan penuh kasih sayang.


"Ya Allah, semoga Engkau senantiasa bersama anakku dalam tiap langkahnya. Hamba tau, dalam setiap peristiwa Engkau selalu mengikutkan hikmah dibaliknya. Maka hamba mohon, jadikanlah putriku gadis yang kuat menghadapi apapun, serta sabar dan ikhlas dalam menjalaninya, amin ya rab."


Mamah Yati berdoa dengan air mata yang berurai. Lalu mencium kening putri semata wayangnya yang telah tertidur.


Seminggu sudah acara wisuda Anan berlalu. Anan mulai merasa jenuh, ia hanya berada di rumah sakit dan tidak melakukan apa-apa, seperti ke kampus misalnya. Untuk urusan toko, Rasmi rutin datang membawakan laporannya tiap lima hari, sekaligus Rasmi membesuk mamah Yati di rumah sakit.


Meskipun sudah mendapatkan tawaran kerja, tapi Anan masih menimbang-nimbang. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan, salah satunya, kondisi mamahnya.


Ia tidak mau pekerjaannya kelak membuatnya jarang menemui mamahnya. Apalagi sampai mengharuskannya kerja lembur. Makanya sampai detik ini, tak ada satupun perusahaan yang melamarnya ia respon.


Sedang asyik chatingan di grup chatnya, dokter Sandra masuk ke ruang perawatan mamahnya. Namun, tanpa jas putih yang melekat di badannya, seperti yang biasa dia pakai wara-wiri di rumah sakit miliknya itu.


"Eh, tante Sandra. Tumben berdandan seperti ini," sapa Anan yang takjub dengan penampilan dokter Sandra.


Kalau biasanya dokter Sandra hanya mengenakan kemeja dipadukan dengan rok di bawah lutut atau celana panjang kain, kemudian ditutup dengan jas putih. Hari ini, dokter Sandra mengenakan dress motif dengan v neck, lengan tiga per empat, panjang selulut. Dengan high heels menutupi kakinya, serta tas jinjing di tangan kirinya. Sungguh sangat berkelas. Walau sudah berumur, dokter Sandra tetap terlihat cantik.


Dokter Sandra berdiri di dekat ranjang mamah Yati. "Hari ini tante tidak praktek."


"Lalu, kenapa ke rumah sakit?" tanya Anan bingung.


"Karena tante akan mengajakmu jalan-jalan, dan tentu saja shoping," jawab dokter Sandra dengan senyum mengembang.


"Sebenarnya, sudah lama tante ingin ngajak kamu, tapi tante tau, kamu lagi sibuk. Mumpun kamu tidak ngapa-ngapain, kenapa tidak sekarang saja kita perginya." Dokter Sandra lalu berbalik ke mamah Yati.


"Boleh kan, bu Yati?" tanya dokter Sandra meminta.


Mamah Yati tersenyum lalu mengangguk menyetujui permintaan dokter Sandra, membuat dokter Sandra juga tersenyum ke arahnya.


"Nih!" seru Sandra mengulurkan paper bag ke Anan.

__ADS_1


"Ini apa tante?"


"Sudah.. Pokoknya harus pakai! Tante tunggu 5 menit!" titah Sandra.


Anan dan dokter Sandra keluar dari gedung rumah sakit tersebut. Dokter Sandra melajukan kendaraannya begitu mereka berada di dalam mobil.


"Kamu udah sarapan?" tanya dokter Sandra di tengah perjalanan mereka.


"Udah tante," jawab Anan dengan tersenyum.


"Kalo gitu, kita langsung ke salon saja," ucap dokter Sandra dengan raut wajah berseri.


Mobil dokter Sandra telah terparkir cantik di pelataran gedung Sharina Beauty Salon & Spa, dimana ia biasa melakukan perawatan.


"Selamat pagi nyonya Sandra," sapa salah satu karyawati di sana dengan ramah.


Dokter Sandra adalah pelanggan tetap di salon tersebut. Selain itu, pemilik salon merupakan sahabatnya. Jadi, semua yang bekerja di sana telah mengenal dokter Sandra dengan baik.


"Hai Sandra.. Udah lama?" sapa pemilik salon yang bernama Eliza sambil menempelkan sekilas pipi kanan dan kirinya ke pipi kanan dan kiri dokter Sandra.


"Baru aja tiba," sahut dokter Sandra.


"Dan.. Ini?" tanya Eliza melirik Anan.


"Kenalkan, ini putriku. Namanya Anan," seru dokter Sandra memperkenalkan.


"Saya Anan," ucap Anan mengulurkan tangan kanannya.


Bukannya membalas uluran tangan Anan, Eliza malah meraih pundak Anan dan mencium pipi kanan dan kirinya.


"Panggil tante Eliz saja, cantik," ucap Eliza setelah menyingkirkan kedua tangannya dari pundak Anan.


"Kamu jangan becanda deh San. Aku tau kamu hanya mempunyai seorang putra saja," ucap Eliza menatap dokter Sandra.


"Iya-iya.. Anan memang bukan putri kandungku, tapi aku udah menganggapnya seperti anakku sendiri," tutur dokter Sandra tertawa kecil ke sahabanya itu.


"Tapi, kalo aku perhatikan, antara Zidan dan Anan.. sepertinya ada kemiripan. Jangan-jangan jodoh lagi," ucap Eliza menatap lekat Anan kemudian beralih ke dokter Sandra.


"Kamu ini bisa aja El. Ya kalo jodoh, aku bersyukur, karena aku telah menyayangi menantuku sejak beberapa bulan belakangan ini. Kalaupun tidak jodoh, akupun menyayanginya karena telah kuanggap anakku sendiri," tutur dokter Sandra sambil memeluk Anan dari samping dan mengusap lembut rambutnya.


"Em.. Hari ini kamu mau perawatan apa?


"Bukan aku, tapi dia," sahut dokter Sandra menunjuk Anan.


"Ok! Kalo gitu ikut aku cantik," ucap Eliza seraya menarik pelan tangan Anan.


Eliza pun memerintahkan beberapa karyawatinya untuk membantunya memberikan perawatan yang dibutuhkan Anan. Mulai dari perawatan wajah, rambut sampai perawatan kuku tangan dan kaki.


"Kamu kenal tante Sandra dimana?" tanya Eliza yang membasahi rambut Anan dengan air untuk dikeramas.


"Tante Sandra adalah dokter yang menangani mamahku di rumah sakit. Dari situ aku mengenalnya," jawab Anan.


"Sudah lama?"


"Sekitar 4 bulanan lebih," jawab Anan.


"Kamu adalah gadis yang beruntung. Tante Sandra itu orangnya baik, lembut dan tidak sombong seperti ibu-ibu sosialita lainnya yang tante kenal," tutur Eliza menyebut sahabatnya.

__ADS_1


"Tante Eliz benar, aku sungguh beruntung bisa mengenal tante Sandra. Dimata pasiennya pun, tante Sandra adalah sosok yang ramah dan tidak membeda-bedakan. Aku sungguh bersyukur bisa dekat dengannya," ucap Anan.


__ADS_2