Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 60


__ADS_3

Di kediaman Septy.


Septy yang kepikiran dengan hasil operasi Anan, tak dapat memejamkan mata. Meski ia telah berusaha, namun pikirannya seakan terus melanglang buana, jauh kemana-mana termasuk ke perlakuan Arya dan aksi penculikan yang didalangi oleh Lexa, yang seolah merongrong untuk selalu diingat.


Septy bangkit dari pembaringannya lalu menyandarkan bantalnya ke bagian kepala ranjang berbahan kayu itu. Begitu dirasa letaknya sudah sesuai, ia lalu menyandarkan tubuhnya ke permukaan bantal tadi.


Ia kemudian mengedarkan pandangannya, mengelilingi tiap sudut kamarnya. Sampai akhirnya pandangan matanya berakhir pada benda pipih miliknya di atas nakas yang berada tepat di sampingnya.


Lama ia menatap benda bertekhnologi canggih itu. Lalu melepaskan tatapannya menatap lurus ke arah tv yang menayangkan acara reality show dari belahan bumi lain. Meski netranya menatap tv, namun ia tidak benar-benar sedang menonton tv.


Tidak berselang lama, tiba-tiba benda yang bergelar android itu berbunyi pertanda sebuah notifikasi sedang diterima.


Ia pun kembali menoleh ke tempat ponselnya itu berada. Dengan rasa malas ia meraih gadgetnya, dan segera membuka notif yang diterimanya.


Dan alangkah terkejutnya ia, manakala ia membuka notifikasi pada ponsel yang dipegangnya dan memperdengarkan rekaman suara dari dua orang wanita yang bisa Septy benarkan bahwa salah satu dari pembicara dalam rekaman itu adalah dirinya.


Buru-buru Septy mengetik sesuatu pada telepon genggamnya setelah durasi rekaman tersebut habis. Namun belum sempat ia mengirimkan pesan chat yang dimaksudkan, ia kembali menerima notifikasi pada ponselnya.


[Kamu ikuti saja alur yang aku buat. Sebab kalo tidak, kamu akan membusuk di penjara!]


Seketika jantung Septy berdebar tidak karuan. Tiba-tiba saja rasa cemas dan takut menyelimuti dirinya. Ia yang tidak tidur semalaman merasa pening di kepalanya. Ditambah lagi adanya ancaman dari Lexa, membuat kepalanya seakan mau meledak saja. Ia akhirnya urung mengirim pesan chat yang hendak ia layangkan ke Lexa tadi.


Walau dikuasai rasa khawatir, namun Septy tidak mau dibodohi kali ini. Meskipun ia tidak pintar, tapi ia tahu, biarpun ia menuruti perkataan Lexa, ia tetap akan dipersalahkan atas apa yang terjadi pada Anan. Sebab Lexa tidak mungkin akan menenggelamkan dirinya sendiri.


Ibarat peribahasa 'Bagai makan buah Simalakama'. Itulah yang akan menimpanya. Maju kena, mundur pun kena. Semua serba salah.


Ia pun berpikir sejenak. Ia tidak mau salah dalam melangkah yang mengakibatkan kerugian atas dirinya. Satu nama berhasil terlintas di pikirannya. Dan dengan mantap ia pun segera menghubungi nomor yang sempat ia minta sebelum meninggalkan mobil pria tersebut.


Panggilan pertama Septy tidak mendapat jawaban. Tapi Septy tak gentar. Ia pun kembali menghubungi nomor yang tidak memberinya sahutan barusan. Alhasil, pada deringan pertama, panggilannya pun terjawab.


"Iya, halo," jawab orang di seberang sana dengan suara khas bangun tidur.


"Halo, Abhi. Ini aku, Septy." Abhizar yang setengah sadar menjauhkan ponselnya dari kupingnya, lalu menatap nomor baru yang saat ini sedang melakukan panggilan dengannya.


"Maaf, Bhi kalo aku membangunkanmu. Tapi ini urgent. Lexa mengirimiku sebuah rekaman suara yang berisi percakapanku dengannya."


"Hm... lalu?" Masih terdengar sahutan malas ala orang ngantuk dari Abhizar.


"Waktu itu aku belum ada niat untuk berteman dengan Anan. Iri dan dendam masih menguasaiku. Membuatku sempat berniat ingin membunuh Anan."


"APAA?" Abhizar yang tadinya setengah mengantuk, kini melotot mendengar niat Septy yang bisa dikatakan ekstrem itu. Tak ada lagi rasa ingin tidur di matanya.

__ADS_1


"Iya, Bhi. Dulu memang aku sempat berniat seperti itu. Tapi itu dulu. Sebelum aku mengenal Anan lebih dekat." Buru-buru Septy menyanggah perkataannya sendiri.


"Aku tidak mengira bahwa kedatangan Lexa ke kantor polisi waktu itu hanya untuk menjadikanku anak panahnya. Yang jika terlepas dari busurnya, maka ia pun dapat membebaskan diri. Dan akulah sebagai penjahatnya. Dan parahnya, apa yang aku katakan waktu itu direkam diam-diam olehnya. Sekarang dia sedang mengancamku. Jika aku tidak mengikuti kemauannya, maka rekaman itu akan dia kirim ke keluarga Anan. Dan bahkan kepada polisi. Lalu apa yang harus aku lakukan, Bhi?"


"Kamu tenang dulu. Kita pikirkan bersama solusinya. Dan apapun yang diminta oleh Lexa, jangan mau kamu turuti," ucap Abhizar.


"Baiklah, aku mengerti." Septy pun memutuskan panggilan telepon mereka.


Septy menghempaskan bobot tubuhnya ke atas tempat tidur. Ingatannya menerawang jauh ke belakang. Ia memikirkan celah apa yang bisa ia gunakan untuk menyerang balik Lexa.


***


Berkat kerja keras dan propesionalisme yang dimiliki, dibantu tekhnologi modern, polisi berhasil meringkus kawanan tersangka penculikan dan tabrak lari Anan. Polisi pun segera menghubungi nomor Adji untuk memberitahukan hasil pengajaran mereka.


Adji pun menyampaikan apa yang didengarnya dari pihak kepolisian kepada Zidan dan Idham. Di mana saat ini mereka sedang berada di kantin rumah sakit untuk sarapan.


"Tapi... ." Adji menggantung kalimatnya.


"Tapi apa lagi?" tanya Zidan, memicingkan matanya.


"Mereka mengaku, yang memerintahkan mereka adalah... Septy."


Brakkk!!!


"Aku sudah menduga kalo perempuan itu tidak benar-benar baik kepada Anan. Dia hanya berpura-pura agar dia bisa melancarkan rencananya. Kurang ajar!"


Amarah Zidan telah mencapai ubun-ubun. Ia mengepalkan kedua tangannya mengingat semua perlakuan Septy terhadap Anan.


"Tenanglah, Dan. Lihat! Semua orang menatap kita," tegur Idham.


"Aku tidak bisa tenang, Mas. Kali ini, aku yang akan membalasnya."


"Kamu tidak bisa main hakim sendiri. Lagian, pengakuan yang disebutkan orang-orang itu belum tentu benar. Bagaimana jika seandainya Septy hanya dijadikan sebagai kambing hitam? Itu artinya kita telah berbuat zalim terhadap Septy. Tentu kamu tidak mau orang yang tidak bersalah menanggung akibatnya 'kan?" tutur Idham, bijaksana.


Zidan tampak berpikir. Kepalan tangannya pun merenggang. Namun tak dapat dipungkiri, Zidan tetap pada keyakinannya yang menyalahkan Septy.


"Yang dikatakan mas Idham benar. Kita tidak boleh gegabah. Tuduhan ke Septy pun aku kira tidak berdasar. Bukti tidak cukup kuat untuk menjadikan Septy sebagai tersangka. Lebih baik kita biarkan pihak berwajib memutuskannya," tambah Adji.


Zidan tak bersuara sedikit pun. Ia tidak berminat untuk menanggapi perkataan Idham ataupun Adji.


Zidan bangki dari duduknya, hendak meninggalkan kedua kakak beradik itu. Namun ayunan langkah kakinya terhenti karena rungunya mendengar bunyi yang menandakan sebuah notifikasi masuk ke ponsel milik Adji.

__ADS_1


Karena penasaran, ia pun memutar badannya, kembali menghadap ke Adji dan Idham.


"Apa itu masih dari kantor polisi?" tanyanya, menatap Adji yang baru akan membuka kode kuncian ponselnya.


"Iya," jawab Adji singkat.


"Apa katanya?" tanya Zidan, lagi.


"Ini rekaman audio." Zidan mengernyit lalu tanpa permisi ia menyambar ponsel milik Adji dan menekan ikon play pada layarnya.


Seketika kedua mata Zidan, Adji, dan Idham melotot begitu mengetahui isi dari rekaman audio tersebut. Mereka lalu saling menatap satu sama lain.


Jika Idham yang lebih tua dari Zidan dan Adji dapat menahan diri. Lain halnya dengan dua pemuda yang hampir seumuran itu.


Rahang Adji mengeras seraya menggemeletukkan giginya. Sedang Zidan menggenggam kuat ponsel Adji, sehingga menampakkan ruas-ruas tulangnya yang memutih. Andai saja ponsel yang dipegangnya berbahan plastik biasa, pastilah ponsel itu akan remuk di tangan Zidan.


"Tidak salah lagi. Aku memang harus membuat perhitungan dengan perempuan satu ini." Zidan meletakkan kasar ponsel Adji kemudian melenggang meninggalkan Adji dan Idham tanpa melirik sedikit pun keduanya.


"Bagaimana menurut Mas?" tanya Adji sepeninggal Zidan, ke Idham. Meskipun ia juga marah karena perkataan Septy pada rekaman itu, tapi ia tidak mau emosi menguasai dirinya.


"Rekaman itu memang suara Septy. Tapi... siapa yang merekamnya? Dan menurut Mas, ini diambil secara diam-diam." Adji manggut-manggut mendengar ucapan kakaknya.


"Apa sebaiknya aku menemui Septy, Mas?" Idham melirik adiknya.


"Mas rasa itu bukan ide yang buruk," sahut Idham, menyetujui usul adiknya.


Kini tinggallah Idham duduk sendiri di kantin. Ia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke permukaan meja. Pikirannya tertuju pada Zidan.


Seandainya saja emosi Zidan tidak meledak-ledak, ingin sekali ia membahas rekaman audio yang didengarnya, bersama. Sebab ia yakin, ada yang sedang memanfaatkan posisi Septy.


Ia pun menghembuskan nafas kasar. Mau bagaimana lagi. Akal sehat Zidan tidak berfungsi dengan baik. Sehingga tidak bisa diajak untuk bicara baik-baik, pikirnya.


***


Adji menghentikan laju kendaraannya tepat di seberang rumah Septy. Tapi matanya yang sipit semakin menyipit ketika ia melihat mobil sedan berlukiskan 'polisi' terparkir di depan rumah Septy.


Ia bergegas keluar dari mobilnya. Dan dengan sedikit berlari ia mendekati pagar tinggi berwarna putih itu.


🌸🌸🌸


Dukung terus author kesayangan kalian, ya...

__ADS_1


Luv u 😘😘😘


__ADS_2