
[ Jangan lupa vote ya... ]
Selamat membaca
🌸🌸🌸
Lexa yang tidak diperdulikan Arya melangkah dengan kesal keluar dari hotel setelah berpamitan dengan tuan dan nyonya Wijaya.
"Sial, sial, sial!" rutuknya, memukul-mukul kemudi mobilnya.
"Udah tidak dapat pengakuan sebagai tunangan, Arya malah pergi begitu aja. Sial banget sih aku malam ini. Arrggg... ," erang Lexa kesal.
Ia pun meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo, bagaimana?"
"Apa? Kok bisa kalian ceroboh banget sih! Ya udah, semua udah terlanjur. Ntar aku kirimkan sisanya. Kalian tau 'kan harus berbuat apa?"
"Bagus!"
Lexa pun memutuskan sambungan teleponnya.
"Oh shit! Kacau semua rencana yang sudah aku susun rapi. Awas aja kalian kalo sampai nyeret aku."
Lexa benar-benar kesal malam ini. Giginya tak henti gemelutuk. Bagaimana tidak. Semua diluar ekspektasinya. Dan yang paling ia kesalkan adalah Arya malah mengacuhkan dirinya. Sungguh ia semakin membenci Anan.
***
Zidan tengah terbaring di ranjang untuk diambil sampel darahnya. Zidan tentunya berharap semoga tidak ada masalah dengan darahnya, agar bisa ia donorkan kepada Anan.
"Tidak ada masalah dengan sampel darah dan kesehatan Tuan. Darah Tuan bisa ditransfusikan kepada nona Anan," ujar suster yang memeriksa kondisi Zidan.
"Syukurlah kalo gitu, Sus."
"Baiklah, Tuan. Sebaiknya kita segera ke ruang OK," ajak suster tersebut, ramah.
Sesampainya Zidan di depan ruang operasi, disaat yang sama ia melihat Rara dan Salma berlari ke arahnya.
"Anan bagaimana, Dan? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Salma yang sejak mendengar kabar kecelakaan Anan, telah berurai air mata.
"Anan harus menjalani operasi," sahut Zidan kemudian beralih melirik sekilas Septy yang duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu.
"Kalo kalian mau tau cerita lengkapnya, mungkin dia tau." Zidan berkata dengan sorot mata tajam ke arah Septy.
"Aku masuk dulu." Zidan pun masuk ke ruang operasi meninggal Salma dan Rara yang menoleh ke arah Septy.
__ADS_1
"Apa ini karena ulah kamu lagi?" Rara mencengkram tangan Septy dengan intonasi penuh penekanan.
Septy menggeleng. "Tidak! Aku sama sekali tidak mencelakai Anan."
"Halaah, bisa aja 'kan kamu masih benci sama Anan," tuduh Rara.
"Sudah, Ra. Ini di rumah sakit. Tidak baik kalo kita ribut-ribut. Lebih baik kita berdoa untuk kelancaran operasi Anan," bujuk Salma seraya menarik pelan tubuh Rara agar menjauh dari Septy.
"Kalo sampai ini ada campur tanganmu, aku akan botakin kepalamu!" ancam Rara yang menatap tajam Septy.
"Tidak baik mengekang seseorang yang kita sendiri belum tau baik atau buruk yang telah dilakukannya!" ujar Abhizar berjalan mendekat dengan menjinjing kantong plastik berlogo salah satu brand junkfood ternama di kota ini.
Ketiga gadis itu menoleh ke arah Abhizar dengan sorot mata yang berbeda.
Jika Septy dengan tatapan lembut seolah berterima kasih, Salma menyorot Abhizar dengan tatapan penuh tanya, lain halnya dengan Rara yang menatap Abhizar dengan kecurigaan. Ia mencurigai Abhizar adalah bagian dari Septy.
"Aku Abhizar, panggil saja Abhi. Aku sahabat Zidan." Abhizar memperkenalkan dirinya kepada ketiganya. Membuat kecurigaan Rara luruh seketika.
Terkhusus untuk Septy, walaupun ia telah bersama Abhizar sejak beberapa jam lalu, namun ia sendiri belum tau siapa Abhizar dan apa hubungan Abhizar dengan Zidan. Sebab fokusnya hanya tertuju kepada Anan.
"Ini, ambillah. Kamu sudah menangis sejak tadi." Abhizar memberikan sebotol air mineral kepada Septy, tak lupa dengan makanan yang ada dalam kantong plastik yang dijinjingnya tadi.
Septy meraih botol air mineral tersebut lalu menghabiskan setidaknya separuh dari 600 mili liter isi dari botol itu.
"Apa maksud dari ucapanmu tadi?" tanya Rara dengan mata menyipit ke arah Abhizar.
Abhizar mendudukkan tubuhnya beberapa jengkal dari Septy di kursi yang sama.
"Sebelum aku menjawab, alangkah baiknya jika kalian menyebutkan diri kalian terlebih dahulu. Termasuk kamu," kata Abhizar kepada Salma dan Rara kemudian menunjuk Septy.
"Aku Salma, sahabat Anan."
"Aku Rara, sahabat Anan juga."
"Kamu?" tanya Abhizar melirik Septy.
"Namaku Septy," jawab Septy singkat.
"Kamu siapanya Anan?" tanya Abhizar lagi.
"Aku baru saja menjalin pertemanan dengan Anan. Aku akui, dulu aku sering nyakitin Anan. Sering membuat Anan dalam masalah. Tapi percayalah, aku sungguh ingin berteman dengan Anan kali ini. Bahkan berharap bisa bersahabat dengannya. Dan aku benar-benar tidak terlibat atas apa yang menimpa Anan saat ini. Percayalah," terang Septy, memohon.
Ada rasa iba di balik tatapan Salma terhadap Septy. Sedangkan Rara menatapnya dengan tatapan tak percaya seraya bersedekap.
"Aku tidak tau masalah apa yang pernah terjadi di antara kalian. Tapi menurutku, sangat tidak adil bila kita menyudutkan apalagi sampai menuduh seseorang yang belum tentu bersalah," tutur Abhizar menjawab pertanyaan Rara tadi.
Abhizar berharap tidak ada kesalahpahaman yang berujung merugikan pihak tertentu.
"Tapi dia sudah berulang kali mencoba mencelakai Anan. Bahkan pernah menabraknya terang-terangan," sanggah Rara yang meyakini kali pun Septy lah yang telah mencelakai Anan.
__ADS_1
"Sudahlah, Ra. Bukankah Adji juga sedang melaporkan insiden ini ke pihak kepolisian? Biarkan mereka bekerja untuk menemukan pelaku yang sebenarnya," ucap Salma, bijak.
"Beruntung sahabat Anan tidak semua temperamental seperti yang satu ini, masih ada gadis ini yang mampu menyurutkan amarah yang lainnya." Abhizar membatin sambil menatap bergantian Rara dan Salma.
***
Saat ini Anan dan Zidan sedang berbaring di atas brankar yang berbeda di dalam kamar operasi. Zidan tengah bersiap mentransfusikan darahnya kepada Anan dibantu oleh dua orang perawat.
Zidan menoleh dan menatap lekat Anan yang terbaring di samping kanannya.
"Kamu harus kuat, Nan. Kamu pasti bisa melewati masa kritismu. Aku yakin kamu bisa. Karena kamu adalah Anan. Gadis yang pantang menyerah. Dan lagi, kamu gadis yang baik. Allah pasti menolongmu," ucap Zidan dalam hati.
Zidan meraih tangan Anan dan menggenggamnya.
"Mari sama-sama kita berjuang, Nan." Air mata Zidan menetes membasahi bantal. Ia lalu melirik tangannya yang memegang tangan Anan.
"Lucu ya, Nan. Disaat seperti ini aku barulah bisa menggenggam tanganmu. Mana lama lagi. Kalo tidak, mana mungkin aku bisa memegang tanganmu. Tapi kamu tau? Aku lebih senang kalo kamu menegur apalagi sampai menepis tanganku sambil mengomel tak karuan," ungkap Zidan seraya terkekeh ringan dan mengusap air matanya.
Sekumpulan dokter dan perawat sedang sibuk menangani Anan. Zidan yang menolak dibawa keluar oleh perawat setelah mendonorkan darahnya tetap berada di tempat yang sama menemani Anan.
Ditengah berlangsungnya proses operasi, perawat yang berjaga di bagian monitor menyebutkan angka yang menunjukkan kondisi Anan.
Namun ada yang ganjil, alat monitor hemodinamik dan saturasi semakin menunjukkan penurunan kondisi Anan.
"Dokter!" seru perawat itu.
Situasi yang tegang semakin menegangkan.
"Tekanan darah pasien menurun, Dokter," ucap perawat itu lagi.
Nafas Zidan memburu mendengar ucapan perawat tadi. Ia pun merasakan ketegangan yang tercipta di ruangan itu. Ia tiada henti berdoa dan melafalkan Alfatihah diiringi air matanya.
( Tiiiiiiiiitttttttt )
Suara monitor yang mendeteksi gelombang denyut jantung dan tekanan darah di dekat Anan.
"Siapkan defribrilator!" titah dokter yang merupakan ketua dari tim bedah Anan.
"Tidak, Anan. Tolong jangan tinggalkan kami," lirih Zidan.
Pukul 03.17 dini hari.
"Bu... Apa kak Anan sudah tidur?" Rasmi yang gelisah datang mencari Anan. Tiba-tiba saja ia terbangun dari tidurnya dan sangat merindukan sosok yang sudah dianggapnya kakak itu.
Di kamar itu tinggallah tante Ranti yang menjaga mamah Yati. Dokter Sandra sudah sejak tadi menemui yang lainnya di depan ruang operasi. Sedangkan Atika menjaga Rasmi di kamar sebelah kamar mamah Yati.
Rasmi yang berdiri di ambang pintu menyaksikan mamahnya sedang memanjatkan doa kepada sang khalik.
Setelah melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, tante Ranti memohon kelancaran operasi dan kesembuhan Anan.
__ADS_1
Tbc...