Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 81


__ADS_3

[ VOTE VOTE VOTE ]


"Apa?! Anan diculik? Bagaimana bisa? Baiklah, aku ke sana sekarang."


Terdengar kalimat Zidan begitu mendengar kabar Anan dari Rasmi melalui ponselnya.


Baik Adji maupun Abhizar, terkejut mendengarnya. Mereka pun diserang rasa khawatir dan takut jika saja terjadi sesuatu lagi terhadap Anan.


Salma dan dokter Idham yang berada di atas pelaminan melihat ada yang tidak beres dari raut wajah ketiganya. Tak lama, Salma dan dokter Idham saling tatap. Lalu saling mengangguk satu sama lain seolah mengerti maksud masing-masing.


Baik orangtua Salma maupun orangtua dokter Idham, mengalihkan pandangan mereka ke Salma yang kini duduk sendiri setelah menyaksikan dokter Idham turun dari pelaminan dan berjalan mendekati Zidan, Adji, dan Abhizar. Namun, Salma hanya tersenyum menanggapi tatapan mereka.


"Ada apa?" tanya dokter Idham, menatap Adji, Zidan, dan Abhizar bergantian.


"Kami baru saja dapat kabar kalau Anan diculik, Mas." Adji menjawab pertanyaan kakaknya.


"Lalu, kenapa kalian masih di sini? Jangan pedulikan acara ini. Fokuslah mencari Anan. Keselamatan Anan lebih penting saat ini," ucap dokter Idham yang juga cemas dan sama terkejutnya dengan ketiganya.


Dari posisi Rasmi berdiri, tampaklah Zidan, Adji, dan Abhizar, berlari ke arahnya.


"Kak, maafkan Rasmi. Rasmi lalai menjaga kak Anan," sesal Rasmi dengan air mata yang berlinang.


"Sudahlah, jangan menangis lagi," ucap Zidan, lembut. Kemudian mengalihkan tatapannya ke pria yang berdiri di samping Rasmi.


"Dia pak Dimas, Kak. Temannya pak Arya. Sekarang pak Arya sedang mengejar pelaku," beber Rasmi.


Adji yang sedari tadi memperhatikan Dimas, seketika bergumam dalam hati.


"Pantas saja, aku merasa pernah melihat laki-laki ini."


Adji mengingat Dimas sewaktu Anan dan Rasmi kecelakaan motor. Atika dan tante Ranti datang ke rumah sakit diantar oleh Dimas.


"Benar, Pak. Teman aku, Arya saat ini sedang mengejar penculiknya."


Baru saja Dimas selesai berbicara, Zidan langsung mencengkeram kerah jas Dimas.


"Jangan-jangan ini rencana kamu dan temanmu itu," tuduh Zidan.


Sontak, baik Adji maupun Abhizar berusaha melepaskan cengkeraman Zidan pada Dimas.


"Tenanglah, Dan. Kendalikan dirimu," ucap Abhizar.

__ADS_1


"Apa kamu pikir aku tidak tahu kebejatan apa yang telah temanmu itu lakukan? Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti Anan lagi. Dan asal kamu tahu, aku sudah lama membuat perhitungan dengannya," geram Zidan, lalu menghentakkan kedua tangannya sehingga Dimas sedikit terdorong ke belakang.


Adji dan Abhizar menjauhkan Zidan dari Dimas.


"Pak Dimas tidak apa-apa, kan?" tanya Rasmi, mendekati Dimas. Membuat tatapan Zidan semakin menajam.


Rasmi yang sadar akan tatapan itu, menarik tangannya dari lengan Dimas lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling guna menghindari tatapan Zidan yang seakan menusuk hingga ke jantung itu.


"Tuan Abhizar harus percaya. Tuan Arya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang penculikan ini."


Penuturan Dimas ini menjadikan Zidan dan Adji memicingkan maniknya menatap Abhizar.


Abhizar yang mengetahui dirinya saat ini sedang ditatap selidiki oleh keduanya, angkat bicara agar mereka tidak berpikiran macam-macam.


"Nanti aku jelaskan. Yang terpenting sekarang, Anan bisa kita temukan dan baik-baik saja," ujarnya.


"Benar, Kak. Aku tidak mau kak Anan kenapa-kenapa," ucap Rasmi, sedih.


"Coba kamu hubungi Arya! Tanyakan posisinya di mana. Biar kita bisa menyusulnya," titah Abhizar.


"Baik, Tuan."


Dimas pun menghubungi nomor Arya. Namun sayang, panggilannya hanya dijawab oleh operator.


"Bagaimana?" tanya Abhizar.


"Tidak ada jawaban. Nomor tuan Arya tidak bisa dihubungi," jelas Dimas.


🍁


🍁


🍁


Sementara itu.


Arya yang mengejar mobil pelaku penculikan Anan, telah tertinggal jauh. Hujan yang lebat membuat jarak pandangnya semakin memendek. Menjadikannya sulit menjangkau mobil yang membawa Anan.


Namun, karena jalan yang ia lalui saat ini telah jauh dari kota, sehingga jalan tidak memiliki cabang lagi. Ia pun mengikuti jalan yang ada di hadapannya. Sebab ia yakin dengan instingnya.


Di tempat terpisah.

__ADS_1


Saat ini Anan berada dalam sebuah ruangan. Yang sudah dipastikan bahwa ruangan itu tidak layak disebut sebagai tempat beristirahat. Ruangan tersebut lebih terlihat layaknya sebuah gudang.


Anan yang terikat kedua kaki dan tangannya, tengah tergeletak di lantai dalam keadaan masih pingsan akibat obat bius yang diberikan oleh pelaku penculikan tadi.


"Target telah dilumpuhkan, Pak. Kami menunggu perintah selanjutnya."


Salah satu pelaku yang totalnya berjumlah 5 orang, sedang menelepon seseorang guna mendapatkan instruksi berikutnya.


"Kalian tunggu apa lagi. Cepat bawa dia ke lokasi yang telah ditentukan!"


"Apa Bapak tidak ingin melihatnya dahulu?"


"Tuan besar baru saja mendarat. Dan tuan besar tidak berniat sedikit pun untuk melihatnya. Jadi, jangan kecewakan tuan besar. Segera laksanakan apa yang tuan besar perintahkan!"


Setelah sambungan telepon terputus, para penculik itu membawa Anan ke pantai. Di perjalanan, mobil yang membawa Anan berpapasan dengan mobil milik Arya.


Arya yang dapat mengenali kendaraan tersebut, seketika menghentikan laju kendaraannya dan segera mengikuti mobil itu.


"Apa aku sudah benar? Aku takut di mobil itu tidak ada Anan. Tapi kalau Anan ada di mobil itu, mereka mau membawa Anan ke mana malam-malam begini. Mana hujan lebat, lagi." Arya bermonolog, fokus mengikuti mobil yang berjarak beberapa meter dari mobilnya.


Begitu sampai di tikungan, tiba-tiba saja mobil yang Arya ikuti membanting setir ke kiri. Dan nampaklah di hadapan Arya sebuah truk yang hendak menabraknya.


Gegas Arya memutar kemudi mobil ke kiri. Walau menabrak tiang listrik yang ada di pinggir jalan, tapi ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan harus ditabrak oleh sebuah truk yang berukuran besar.


Truk sudah berlalu. Arya yang sudah menghentikan laju kendaraannya, menatap ke sekeliling. Ternyata, mobil yang diyakininya membawa Anan telah hilang dari pandangannya.


Namun Arya tak berputus asa. Meski dalam kondisi ringsek, ia tetap melajukan kendaraannya menyusul mobil yang membawa Anan.


Kendaraan Arya masih menyusuri jalan yang tadi sempat dilaluinya. Sedangkan mobil pelaku kini telah berada di sebuah dermaga.


Ketika hendak mengeluarkan Anan dari mobil, rupanya Anan baru saja sadarkan diri. Ia memberontak, ingin melepaskan diri. Namun, kekuatan mereka jauh lebih besar. Anan pun hanya bisa pasrah mengikuti kemana mereka membawanya.


"Gawat, apa aku berada di pantai? Walaupun sekarang lagi turun hujan, tapi aku bisa mencium aroma laut. Apa yang mereka inginkan?" batin Anan.


"Kalian mau membawaku ke mana? Aku mohon lepaskan aku." Berulang kali Anan mencoba memohon agar mereka mau melepaskannya, namun mereka malah ingin melecehkan Anan tanpa belas kasihan sedikit pun.


"Percuma kamu memohon pada kami. Asal kamu tahu, kami dibayar mahal untuk ini."


"Sayang sekali, kami tidak punya banyak waktu. Andai kami punya, sudah tentu kami bermain-main terlebih dahulu dengan tubuhmu yang mulus ini. Dan kami tidak akan mempedulikan meski kamu ini sebenarnya buta," kata salah satu dari mereka dan hendak meraba bagian tertentu dari tubuh Anan.


"Jauhkan tanganmu!" Orang yang sejak tadi hanya sebagai pengemudi mobil, menepis tangan temannya.

__ADS_1


"Kalian harus ingat, tuan besar hanya ingin kita membunuh gadis ini. Jadi, jangan macam-macam," lanjutnya.


Mendengar kalimat barusan, Anan yang sejak tadi pias dan gemetar, semakin ketakutan.


__ADS_2