Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 17


__ADS_3

"Kenapa kamu berteriak?" tanya Arya yang membungkam mulut Anan dengan tangan kanannya. Anan yang dibungkam, menutup matanya sambil menggelengkan kepala.


Tersadar akan sikapnya, Arya seketika melepaskan tangannya yang menghalangi Anan tuk berbicara.


Anan menghela nafas namun tetap memejamkan mata. Arya yang menyaksikan itupun terheran.


"Buka matamu!" perintahnya kepada Anan. Dan yang diperintah hanya menggeleng dengan antusias.


"Kalo kamu tidak membuka matamu, maka aku akan memelukmu!" ancam Arya.


Kalimat Arya tersebut sontak membuat Anan membalikkan tubuhnya tanpa membuka mata hendak berlalu dari sana dan...


Brukkk!!!


Anan dan bi Imah terjatuh setelah Anan menabrak bi Imah tanpa sengaja.


"Hahahaha..., kalian berdua lucu. Ekspresi kalian seperti angry bird dan temannya yang lepas dari ketapel lalu jatuh," ledek Arya yang tak bisa menahan ketawanya.


Anan dan bi Imah saling pandang, lalu mengalihkan pandangan mereka ke Arya yang asyik dengan kegirangannya.


Akibat tingkah Arya, Ana dan bi Imah melupakan sejenak kecelakaan yang menimpa mereka.


"Nih orang bisa ngetawain orang juga rupanya. Tapi ganteng plus manis. Astagfirullah..! Aku ini ngomong apa sih. Aku tidak boleh suka padanya," batin Anan seraya menatap Arya tak berkedip.


"Setelah sekian lama, ini pertama kalinya saya melihat tuan muda tertawa lepas lagi. Semoga ini pertanda baik, amin." Bi Imah pun membatin.


"Aduh..maaf bi, Anan tidak sengaja. Beruangnya Masya tiba-tiba ngagetin," ucap Anan seraya membantu bibi berdiri.


Arya yang mendengar ucapan Anan seketika menghentikan tawanya.


"Kamu ngatain saya beruang?" tanya Arya kesal. Namun Anan tidak mempedulikannya.


"Mana yang sakit bi?"


"Tidak non, bibi tidak apa-apa."


"Beneran bi? Jatuhnya bibi keras loh tadi. Anan takut bibi kenapa-napa," tanya Anan khawatir lalu membawa bibi duduk d sofa ruang tv.


Arya menutup pintu kamarnya ketika Anan membawa bi Imah ke ruang tv. Iapun segera memakai pakaiannya. Kaos berkerah dengan warna putih dan celana kain selutut telah melekat di badannya. Ia lalu berjalan keluar kamar.


"Maaf ya bi. Anan bebar-benar tidak sengaja."


"Sudah.. Non tidak usah minta maaf, bibi tidak apa-apa," ucap bibi dengan tersenyum.


"Bibi mencariku ya, tadi?" tanya Anan meletakkan gelas air minum yang diberikannya kepada bibi tadi.


"Bibi memang nyari non, tapi karena tidak ketemu, bibi bermaksud ngomong ke tuan, makanannya butuh dipanasin atau tidak. Tau-tau non bersama tuan di kamar," sahut bibi panjang lebar, membuat Anan tersenyum malu.


Arya yang baru saja tiba di ruang yang sama dengan Anan dan bibi, langsung duduk.

__ADS_1


"Mana materi kamu?" tanyanya. Ananpun segera ke ruang tamu mengambil tas dan ponselnya, sedangkan bi Imah pamit ke dapur.


"Ini pak." Anan menyodorkan bahan materinya. Arya menatap seksama tiap-tiap lembar yang dipegangnya.


"Ini.. Apanya yang harus dikoreksi? Harusnya sih, nih anak pinter," batin Arya.


"Ini udah bagus. Menurutku, tak ada yang perlu direvisi lagi," ucap Arya membuat Anan tersenyum bahagia.


"Benar pak?" tanya Anan dengan senyum yang terus mengembang. Sedang Arya hanya mengangguk santai.


"Itu artinya, tahun ini saya segera lulus kuliah," gumamnya, yang masih terdengar oleh Arya. Tanpa Arya sadari, sejak tadi dirinya ikut tersenyum melihat kebahagiaan Anan.


"Sial! Ngapain juga aku senang melihatnya begitu bahagia," batin Arya. Dan seketika raut wajahnya kembali datar.


" Maaf tuan, apa perlu bibi panasin lagi makanannya?" tanya bibi yang berdiri di samping Arya.


"Tidak usah bi, aku masih kenyang," jawab Arya lalu mengambil remote tv dan menyalakannya.


Anan segera merapikan kembali buku dan barang-barang lain miliknya lalu memasukkannya ke dalam tas. Iapun menghampiri bi Imah bermaksud untuk pamit.


"Bi, Anan mau pulang dulu. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."


" Tunggu non!" bibi menghentikan langkah Anan lalu mengambil rantang dan mengisinya dengan makanan yang ia masak tadi siang. Anan menolak, namun tidak diindahkan olehnya.


"Ini bawa pulang saja non, kasian nanti mubazir," ucap bibi seraya memberikan rantang makanan tersebut.


"Ya udah deh, aku terima. Makasih banyak bi. Kalo gitu, aku pamit pulang dulu ya. Assalamualaikum," pamit Anan dan di jawab oleh bi Imah.


"Bukankah aku sedang berusaha meraih hatimu?" Anan masih terdiam.


"Maka izinkan aku melakukannya."


Perkataan Arya sungguh ambigu bagi Anan. "Pak Arya izin yang mana nih, mengantarku pulang atau meraih hatiku?" Anan membatin.


"Izinkan aku meraih hatimu" tukas Arya.


Anan mendongak menatap punggung Arya yang berjalan menuju ruang tamu.


"Kamu ngapain masih di situ?" tanya Arya setelah membalikkan badannya.


Ananpun buru-buru mengangguk dan berjalan menghampiri Arya tak lupa menenteng rantangnya.


"Kalo bapak mengantar saya, bagaimana dengan motor saya pak?" tanya Anan yang baru mengingat akan keberadaan motor matiknya.


"Orangku akan membawanya mengikuti kita," sahut Arya.


Merekapun keluar dari unit tersebut lalu masuk ke dalam lift.


Sesampainya di parkiran, orang suruhan Arya yang akan membawa motor matik milik Anan, telah berada di sana menunggu kedatangan mereka.

__ADS_1


Anan masuk ke dalam mobil Arya, setelah dibukakan pintu oleh Arya. Kemudian Arya berjalan memutari kendaraanya, lalu masuk dan duduk di belakang kemudi.


Tak ada satupun diantara mereka yang memulai obrolan. Mereka sama-sama sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya Arya berhenti disebuah toko bunga dan membeli bunga lili putih yang telah dirangkai di sana.


"Ini untukmu," tutur lembut Arya memberikan sebuket bunga ke Anan tentu dengan senyum menghias di wajah tampannya.


Anan yang diberikan sebuket bunga tidak serta merta menerima bunga pemberian Arya.


"Bapak tau dari mana kalo saya suka lili putih?" tanyanya penasaran.


"Bukankah aku menyukaimu?, jadi sudah sepantasnya aku tau apa yang kamu sukai dan apa yang tidak kamu sukai," tanya Arya sekaligus menegaskan dan tidak menjawab sama sekali pertanyaan Anan.


Anan yang mendengar ucapan Arya mengulurkan tangannya, meraih buketan bunga lili putih tersebut lalu menghirup aromanya.


"Kalo pak Arya terus-terusan baik dan lembut seperti ini sama aku, bisa-bisa aku beneran luluh nih. Aduh..apa kata sahabat-sahabatku, terutama Rara. Dia pasti memberondong aku banyak pertanyaan. Ntar malah aku dikasi judul 'Tunanganku, dosenku'. Lah, kumat dah nyebelin plus ngeselinnya," batin Anan lalu menepuk jidatnya.


Arya yang sedang fokus mengendarai mobilnya seketika menoleh karena mendengar suara tepukan.


"Kamu, baik-baik saja kan?" tanyanya setelah menoleh dan kembali fokus menyetir.


"Iya pak, saya baik-baik saja," jawab Anan antusias.


Ananpun meminta Arya menurunkannya di depan rumah sakit Sandra Hospital. Tadinya Arya ingin bertanya untuk apa ke rumah sakit, tapi ia kembali teringat dengan kejadian di perpustakaan.


"Kamu sudah tau nomorku kan?, kalo ada apa-apa telpon saja," ucap Arya setelah menghentikan kandaraannya di depan gedung rumah sakit tujuan Anan.


Belum sempat Anan membuka pintu mobil, Arya kembali membuka suara.


"Saya harap kamu segera membuka pintu hatimu untukku," ucap Arya lembut.


Anan mencelos mendengar ucapa Arya barusan. Ia bingung harus berkata apa. Anan langsung saja menarik kedua sudut bibirnya tersenyum manis.


Deg!!!


"Nih cewek manis banget ternyata kalo tersenyum. Bak hembusan angin di tengah taman bunga, sungguh menenangkan jiwa... Tidak..tidak, aku harus fokus pada tujuan awalku. Ayo Arya pertahankan harga dirimu," batin Arya.


Anan yang keluar dari mobil Arya, tak sengaja terlihat oleh manik mata milik Zidan. Zidan memperhatikan kendaraan milik Arya, sampai tak terlihat lagi olehnya. Dalam hatinya bertanya, ada hubungan apa gerangan Anan dengan si pemilik mobil tadi. Karena ia tau, tidak sembarang orang yang bisa memiliki kendaraan seperti itu.


Ia lalu turun, bermaksud menyusul Anan. Kedatangannya kali ini seperti biasa, apalagi kalo bukan menjemput mamah tercinta.


"Anan!" panggilnya begitu melihat keberadaan Anan.


Anan yang berjalan santai langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Zidan mempercepat langkahnya dan menghampiri Anan.


"Ternyata kamu," seru Anan malas ke Zidan yang berjarak satu meter darinya.


"Loh, emang siapa lagi?" balas Zidan sambil tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya, bermaksud menggoda.


"Berhenti bertingkah seperti itu, mirip bocah tau tidak!" larang Anan yang kesal tiap digoda Zidan.

__ADS_1


Bak diremote, Zidan langsung menghentikan tingkahnya itu. Tapi, bukan Zidan namanya kalo tidak berulah dan tidak ngeselin. Ia lalu meraih tangan milik Anan dan menggenggamnya kemudian berjalan santai menuju lift.


Sepanjang jalan menuju lift, tiada hentinya mereka menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang di sana karena Anan terus meronta meminta dilepas. Ada yang menatapnya heran, ada yang tersenyum sebab tingkah Zidan yang santai dan ada pula yang berbisik, tentu saja sebagian dari mereka mempertanyakan hubungan keduanya. Pastinya, itu sangat membuat Anan malu.


__ADS_2