Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 96


__ADS_3

Mamah Yati tiba di rumah ketika Awan sedang asyik menonton acara tv.


"Kakak kamu mana, Wan?" tanyanya seraya menuangkan air minum ke dalam gelas.


"Kak Anan lagi tidur, Mah," sahut Awan yang tetap menghadap tv.


"Mungkin masih kaget dengan kejadian tadi pagi," lanjut Awan, hingga membuat mamah Yati segera menyimpan gelas minumnya yang baru saja ia teguk.


"Kejadian apa?" Mamah Yati kini telah berdiri di samping Awan dengan raut wajah khawatir.


"Itu, Mah. Waktu aku sama kakak pulang dari taman, tiba-tiba saja ada motor yang hampir saja menyerempet kak Anan. Untungnya, ada om-om yang datang menyelamatkan kakak. Anehnya, om-om itu seperti sangat mengkhawatirkan kakak. Lalu menggendong kakak sampai rumah. Kalau Aku lihat, sepertinya kakak kenal sama om-om itu, Mah," terang Awan, antusias.


Mamah Yati tampak berpikir, siapa gerangan om-om yang ponakannya itu maksud.


"Apa kamu pernah bertemu dengan om-om itu sebelumnya, Wan?" tanya mamah Yati, penasaran.


Awan pun berusaha mengingat sejenak, kemudian menggeleng pelan.


"Tapi kakak sempat menyebut nama orang itu, Mah. Um... Siapa ya... ." Awan pun berpikir keras.


"Aha! Arya! Iya, kak Anan menyebutnya pak Arya."


Seketika kening mamah Yati mengerut.


"Arya? Maksudnya, nak Arya? Untuk apa dia berada di sekitar sini? Apa dia kebetulan punya urusan di sekitar sini? Tapi, kenapa kebetulan sekali?" monolog mamah Yati dalam hati.


"Awan minta maaf ya, Mah. Awan tidak menjaga kakak dengan baik," ucap Awan, sedih.


Mamah Yati lalu merengkuh tubuh kecil Awan.


"Sudah. Kamu tidak salah, kok. Lagi pula, kamu sudah melakukannya sesuai dengan kemampuan kamu. Selama kak Anan baik-baik saja, itu sudah cukup."


Mamah Yati melonggarkan pelukannya.


"Jadi jangan bersedih, ya?"


"Iya, Mah," sahut Awan dibarengi anggukan.


"Ya sudah. Kamu lanjut nonton saja. Mamah mau lihat kakakmu dulu."


Mamah Yati bertolak ke kamar Anan. Ketika ia membuka pintu, dilihatnya Anan sedang tertidur pulas. Ia kemudian mendekat, dan duduk di sisi tempat tidur.


Dengan pelan, mamah Yati merapikan anak rambut Anan yang menutupi sebagian wajahnya.


"Anak gadis Mamah. Sungguh tenang perasaan Mamah melihat wajahmu yang damai ini, Nak. Mamah berdoa, semoga kamu secepatnya bisa melihat dunia ini lagi."


🍒🍒🍒


Hari berikutnya.


Tok tok tok


"Masuk!" Tuan Kemal mempersilakan orang yang mengetuk pintu ruangannya untuk masuk.


"Maaf, Tuan. Saya mau melaporkan sesuatu."


"Katakan!" seru tuan Kemal kepada Raka.


"Proyek yang ada di Jepang bermasalah. Saya sudah menurunkan tim untuk mengurusnya. Tapi, sepertinya ada yang janggal."


Tuan Kemal memicingkan maniknya menatap Raka. Kemudian kembali menatap dokumen yang ada di hadapannya sembari menghela nafas.


"Batalkan semua jadwal meeting hari ini! Kita ke Jepang!"


"Baik, Tuan."


🍒


🍒


🍒


"Jadi, Opa juga setuju 'kan dengan rencana Zidan?... Baiklah, Opa, Zidan tutup dulu, " tanya Zidan memastikan, kemudian mematikan sambungan teleponnya.


"Loh, tumben Papah cepat pulang," tegur Zidan yang baru saja turun dari anak tangga.

__ADS_1


"Mendadak Papah harus ke Jepang. Ada masalah dengan proyek Papah."


Setelah menyahuti putranya, tuan Kemal bergegas masuk ke kamarnya.


"Kasihan papah. Apa aku harus menggabungkan diri dengan perusahaan papah?" Zidan membatin menatap tuan Kemal hingga akhirnya menghilang di balik pintu.


Tak lama berselang, pintu utama kembali terbuka. Menampakkan dokter Sandra yang baru saja pulang dari rumah sakit.


"Papah kamu mana, Dan?" tanyanya.


"Ada di kamar, Mah. Katanya mau ke Jepang."


"Iya, Mamah sudah tahu. Kamu di rumah saja?"


"Sejam lagi aku ke resto."


🍒🍒🍒


Di perusahaan Wima Group.


Dimas menyampaikan pembatalan meeting yang diinformasikan oleh Raka kepada Arya. Sontak saja hal ini menimbulkan pikiran negatif Arya.


"Apa tuan Kemal sudah tahu kejadian waktu itu?" batinnya.


"Katanya, ada masalah yang sangat urgent," tambah Dimas.


"Apa menurutmu ini bukanlah alasan saja?" tanya Arya.


"Maksud kamu?" Dimas mengernyit.


"Apa mungkin tuan Kemal sudah tahu keburukanku di masa lalu?" Arya sangat khawatir.


"Kamu terlalu banyak berpikir. Bisa jadi yang dikatakan asisten tuan Kemal benar adanya. Jadi berhentilah menerka-nerka."


"Lalu kapan reschedule?" tanya Arya.


"Pak Raka tidak membahas itu. Apa kamu mau memajukan meeting sore ini?"


Arya tampak berpikir.


Menyadari reaksi sahabatnya, Dimas yang tadinya hendak keluar ruangan, diurungkannya.


"Jika kamu ingin mendapatkan hatinya kembali, lakukan apa yang membuatnya senang," ujarnya memberi motivasi.


Arya menatap nanar Dimas.


"Anan senang jika aku menjauh darinya," ucapnya sendu.


Dimas menghela nafas berat. Ia pun turut merasakan dilema yang menghujam sahabatnya itu.


"Apa kamu ingin aku mewakilimu untuk meeting hari ini?" Dimas mencoba meringankan beban pikiran Arya.


"Tidak, tidak usah."


🍒🍒🍒


Zidan dan Abhizar kini berada di restoran Ananda. Sambil menunggu yang lain, mereka berbincang ringan sembari menikmati minuman dan makanan mereka.


Dua puluh menit berlalu, Zidan pun mulai gerah menunggu. Ia lalu meraih gawainya hendak menelpon Adji. Namun, belum sempat ia menekan ikon panggil pada ponselnya, Abhi menghentikannya.


"Itu mereka sudah datang!" seru Abhizar, menunjuk pintu masuk dan diikuti arah pandang Zidan.


"Maaf, kami lama," ucap Adji setelah duduk di kursi di depan Zidan.


"Ya mau gimana lagi, ibu negara dandannya lama," celetuk Salma melirik Rara.


"Jangan salahkan aku, dong. Siapa suruh kasih kabarnya telat," timpal Rara, ngotot.


"Sudah, jangan berisik! Malu dilihat pengunjung lain," ujar Abhizar.


"Ada apa kamu mengajak kita berkumpul di sini?" tanya Adji.


"Aku mau membahas surprise party buat Anan," sahut Zidan.


"Surprise party ulang tahun Anan? Berarti tidak lama lagi." Rara tahu persis kapan ulang tahun Anan.

__ADS_1


"Iya, makanya aku mengumpulkan kalian untuk menyiapkan pestanya," ucap Zidan.


"Tunggu, deh! Kamu kok niat banget menyiapkan acaranya?" tanya Adji, membuat Zidan mengangkat kedua alisnya.


"Maksud aku, secara 'kan, kamu ini hanya teman atau paling dekat sahabat Anan. Kenapa seolah kamu ini pacar atau tunangan Anan yang sibuk memikirkan hal pribadi Anan?" lanjut Adji.


Perkataan Adji sontak mengikis keyakinan Abhizar terhadap hubungan Anan dan Zidan, bahwa Zidan hanya menganggap Anan sebagai saudara sendiri.


"Yang dikatakan Adji benar. Apa jangan-jangan mereka sudah bertunangan? Bisa saja 'kan? Mereka 'kan tidak ada hubungan darah," monolog Abhizar dalam hati.


Dengan perasaan campur aduk, Abhizar menunggu tanggapan Zidan.


"Kamu ini berpikirnya kejauhan," sahut Zidan disertai senyuman tipis.


"Aku pribadi tidak masalah kalau kamu memang suka sama Anan, Dan," tambah Rara yang lupa dengan perasaan Abhizar.


"Hust! Itu mulut dijaga. Di sini 'kan ada Abhi juga," tegur Salma yang sesekali melirik Abhizar.


"Eh, maaf, Bhi. Aku asal ngomong saja. Jujur, aku tidak bermaksud tidak perduli padamu," ucap Rara, tulus.


"Kamu juga sama saja dengan Adji. Pikirannya kemana-mana. Sebentar lagi kalian juga pasti tahu. Kita kembali ke pembahasan awal."


Zidan pun mulai menyampaikan ide-ide yang sudah menumpuk di otaknya. Sedang yang lain mendengar dan sesekali memberi usul.


Tiga puluh menit pun berlalu. Rencana pesta ulang tahun Anan telah tersusun dengan rapi dan dicatat dalam sebuah buku agenda yang telah Zidan persiapkan. Tak tertinggal, makanan dan minuman yang dihidangkan pramusaji ditengah diskusi mereka, telah tandas dan hanya menyisakan tulang ikan di piring Rara. Sebab hanya Rara yang makan makanan berat.


"Tumben, makan di sini kamu tidak pesan nasi," cicit Rara yang melihat piring kue pesanan Salma.


"Aku 'kan bukan kamu. Belum jam makan siang sudah makan makanan berat. Gimana badan tidak tambah melar?!" ledek Salma. Sedang yang diledek hanya melirik kesal.


"Karena waktunya mepet, jadi kita harus kerja ekstra. Kalian siap?" tanya Zidan.


"Siap, dong! Apa sih yang tidak buat sahabat kita," seru Rara dan dibenarkan oleh yang lainnya.


🍒🍒🍒


Di rumah Anan.


Dari dalam kamar Anan, terdengar suara gemercik air yang berjatuhan ke lantai kamar mandi. Rupanya Anan sedang berwudhu.


Di dapur, mamah Yati tengah menyiapkan makan siang. Setelah menaruh semua di meja makan, mamah Yati pun menemui Anan.


Sampai di depan pintu kamar yang terbuka, nampak Anan sedang beribadah sholat dzuhur. Terpaksa mamah Yati beralih ke kamar Awan. Dari dalam kamar, terlihat Awan yang sedang sibuk mengerjakan tugas dari guru di sekolah.


"Awan, makan dulu, Nak!" ajak mamah Yati, membuyarkan konsentrasi Awan.


"Iya, Mah."


Sesampai di meja makan, Awan tak langsung duduk.


"Kak Anan mana, Mah?"


"Lagi sholat, sebentar lagi kemari."


Dan benar saja, kini Anan tengah berjalan ke arah mereka.


"Duduklah, Nak!" seru mamah Yati kepada Anan dan Awan.


"Tante Yani tidak pulang lagi, Mah?" tanya Anan, sudah beberapa hari ini tante Yani tidak makan siang di rumah.


"Mungkin pesanan kue lagi membeludak. Jadi tidak sempat pulang. Nah, sekarang kita makan!"


Setelah beberapa menit, mamah Yati membereskan meja makan sedangkan Awan kembali ke kamar.


"Oh iya, Mah. Kemarin Mamah kemana? Waktu Anan pulang dari taman, rumah kosong," tanya Anan yang masih duduk di kursinya.


Karena cerita Awan tentang insiden yang menimpa Anan, mamah Yati jadi lupa memberi tahu sesuatu.


"Astagfirullah... Mamah lupa kasih tahu kamu, Nak. Kemarin Mamah diajak mertua Mamah ke suatu tempat. Dan ternyata, dia menghadiahi Mamah sebuah rumah mewah. Sebenarnya Mamah sudah menolak, tapi dia memaksa Mamah untuk menerimanya," jelas mamah Yati.


"Jadi, Mamah sudah bertemu dengan opa Ken?"


"Opa Ken?" tanya mamah Yati, bingung.


🍒🍒🍒🍒🍒

__ADS_1


Tbc...


__ADS_2