
Acara wisudapun telah usai. Para wisudawan dan wisudawati berfoto ria. Begitu juga dengan Anan dan ketiga sahabatnya.
Ditengah asyiknya mereka berfoto, satu notifikasi masuk ke handphone Anan. Anan lalu berjalan menjauhi mamah Yati dan yang lainnya yang masih seru-seruan berfoto.
"Aku ada urusan, jadi langsung pulang."
Itulah balasan atas pesan chat yang dikirim Anan ke Arya.
"Kok pak Arya terkesan cuek ya ke aku?...Ah, mungkin perasaanku saja. Dia kan memang orangnya sibuk," gumamnya lalu tersenyum. Kemudian kembali bergabung dengan yang lainnya.
"Karena udah waktunya makan siang, kita makan siang bareng yuk," ajak Zidan.
"Aku tau tempat yang sangat cocok untuk merayakan keberhasilan Anan. Pokoknya restoran ini rekomend banget. Anan pasti suka," saran Adji penuh semangat.
"Ya udah, tunggu apa lagi. Aku yang traktir," ucap Zidan lalu mendorong kursi roda mamah Yati.
Karena Adji yang menyarankan, maka mobil Zidan dan Rara berada di belakang mengikuti mobil Adji.
Beberapa menit kemudian, merekapun tiba di tempat tujuan. Zidan mengernyit lalu tersenyum kecil begitu melihat mobil milik Adji memasuki area parkir sekaligus halaman restoran tersebut. Ia dan Rara juga memarkirkan mobilnya di sana.
"Restoran Ananda," ucap Anan yang membaca pelan tulisan indah yang terpampang di sisi bagian depan restoran itu, setelah keluar dari kendaraan milik Zidan.
"Yap! Betul sekali," timpal Adji yang berdiri tepat di belakang Anan.
"Aku udah pernah makan di sini, dan makanan di sini tuh, emm..enak. Cocok banget dengan lidah kamu yang kampungan itu," celetuk Adji tidak bersungguh-sungguh mengatakannya.
"Halaahh..kamu aja sok kebarat-baratan, ujung-ujungnya suka juga sama menu kampung," timpal Rara membela Anan.
"Aku tidak ikutan ya di forum kalian, soalnya perutku udah lapar. Yuk Ras!" tutur Salma lalu menggandeng Rasmi memasuki restoran.
Disusul Zidan yang mendorong mamah yati di atas kursi rodanya.
"Salma, tunggu aku," teriak Anan.
"Lama-lama kalian berdiri di sini, bisa berjodoh lho," ucap Anan lalu meninggalkan Rara dan Adji.
"Ihh..amit-amit. Tidaaakkk.." teriak manja Rara sambil berlari menyusul Anan.
Saat ini mereka telah berada di dalam restoran. Zidan sengaja memilih tempat di ruang tertutup, dimana terdapat meja panjang dengan 8 kursi. Biasanya, ruangan itu digunakan oleh para pengusaha untuk mengadakan meeting di luar kantor.
"Kok kita tidak disuguhkan daftar menu sih?" tanya Rara bingung karena sudah duduk selama 15 menit, namun belum juga didatangi oleh pelayan yang bekerja di sana.
"Mungkin sebentar lagi. Kamu tidak liat apa, pelayannya pada sibuk," sahut Salma sambil menunjuk pelayan yang mondar-mandir dari balik kaca transparan ruang tersebut.
Di saat yang sama, sebanyak lima orang pelayan masuk mengantarkan makanan yang telah Zidan pesan untuknya dan untuk yang lainnya. Tentunya, Zidan tidak lupa dengan menu kasukaan Anan. Dan menu spesial untuk mamah Yati, yang aman untuk penyakitnya.
"Wow..ruarrr biasa..Ini siapa yang pesan sih? Kok bisa tau makanan favoritku," celetuk Anan setelah semua menu tersaji di atas meja.
"Aku!" seru Zidan.
"Soalnya yang ngusulkan nih tempat, lama. Bisa kelaparan kita nunggunya," celetuk Zidan melirik Adji. Sedang yang dilirik hanya senyum cengengesan.
"Dan ini, khusus untuk mamah."
__ADS_1
Zidan menyerahkan seporsi makanan yang sesuai dengan kondisi mamah Yati.
Merekapun memulai menyantap makanan yang tersaji. Dan seperti biasa Rara kembali membuat heboh di meja makan. Apa lagi, kalau bukan ulah Adji.
"Kembalikan!" pekik Rara, kerena Adji menyambar ayam goreng krispi miliknya.
"Terlambat!" ucap Adji meledek setelah menggigit potongan ayam tersebut.
Rara menggembungkan kedua pipinya, sorot matanya tajam, tanda ia sedang marah ke Adji.
"Dasar rakus, nyebelin!" ucap Rara sedikit emosi.
"Adji, tante kira kebiasaan kamu usilin Rara di tempat makan sudah hilang. Apa jangan-jangan sebenarnya kamu suka ya sama Rara? Heran tante Ji," tutur mamah Yati sambil bertanya ke Adji.
"Tidaklah tan, mana mungkin aku suka dia," sahut Adji yang menunjuk Rara dengan dagunya.
"Terus, kamu pikir aku suka sama situ?!" timpal Rara.
"Sudah-sudah. Kalian ini sepertinya memang berjodoh," ucap mamah Yati tersenyum menghentikan pertikaian mereka.
"Tidak!!!" seru Rara. Membuat Anan, Salma, Rasmi dan Zidan tertawa kecil. Sedang Adji tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat.
"Hati-hati lho, cinta hadir karena seringnya kita bersama. Walau saat itu kita belum menyadari. Nah, ketika kita terpisah, baru deh kita merasa kehilangan dan sangat membutuhkannya. Sebab apa? Sebab adanya perasaan cinta. Sayangnya, terkadang seseorang baru menyadari semuanya setelah kehilangan. Dan semua sudah terlambat," papar Zidan mengingat sahabatnya Shima yang meninggal karena kecelakaan dan sesekali melirik Rasmi yang duduk di depannya.
Rasmi yang dilirik Zidan berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia menunduk, sambil menyuap makanan yang ada dalam piringnya.
"Semoga saja mukaku tidak memerah," doanya dalam hati.
Sayangnya, Zidan telah melihatnya untuk yang kedua kalinya.
"Begitulah," balas Zidan pelan. Anan dan yang lain menatap Zidan iba.
Salma yang tak sengaja melirik keluar ruangan, melihat keberadaan Arya yang tengah duduk menikmati makan siangnya dengan seorang wanita.
"Eh-eh, itu..bukannya pak Arya ya?" tanyanya yang masih melekatkan pandangannya pada sosok yang dimaksud.
Kecuali Rasmi dan mamah Yati, mereka mengikuti arah tatapan Salma keluar ruangan. Dan benar saja, itu memang Arya.
"Siapa wanita itu? Apa dia salah satu klien pak Arya? Tapi kenapa wanita itu menunjukkan ketertarikannya pada pak Arya?..Mungkin cuma klien..atau..mungkin juga temannya," batin Anan.
Yang lain masih serius menatap Arya, sedang kan Salma telah mengalihkan tatapannya memperhatikan Anan.
Salma mengerti betul dengan apa yang dirasakan Anan saat ini. Diantara ketiga sahabatnya, hanya Salma yang mengetahui kedekatan Anan dengan Arya. Itupun, secara tidak sengaja dan terjadi seminggu sebelum ujian meja dilaksanakan.
Flashback on..
"Sal, aku ke toilet dulu ya. Aku titip tasku. Oiya, kalo ada yang nelpon angkat saja."
Lalu Anan bergegas ke kamar mandi meninggalkan Salma seorang diri di kantin karena Rara dan Adji sedang ada urusan.
Sedang asyik menikmati nasi gorengnya, ponsel Anan berdering tanda ada panggilan masuk. Sesuai dengan perkataan Anan tadi, Salma pun meraih ponsel yang tengah berdering itu.
"Dosenku?" gumamnya sambil mengernyit melihat tampilan layar ponsel tersebut. Namun bukan tulisan pada layar itu yang membuatnya mengkerutkan dahi, melainkan caption tanda hati di akhir tulisan tersebut. Ya, Anan telah mengubah nama Arya di ponselnya sejak ia yakin membuka hatinya untuk Arya.
__ADS_1
Iapun menggeser icon berwarna hijau ke atas, dan panggilanpun terhubung.
"Halo.." ~Salma.
"Kamu siapa?" ~ Arya.
"Saya Salma pak, sahabatnya Anan." ~Salma.
Karena tidak mendapat balasan, iapun kembali menyapa.
"Halo pak.." ~Salma.
"Iya, tolong sampaikan ke Anan, aku belum bisa menemui mamahnya untuk membicarakan pertunangan kami hari ini. Itu saja."
Lalu Arya memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu balasan dari Salma.
Salma benar-benar terkejut, tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Sendok yang tadi di tangannya terlepas. Beruntung ponsel di tangan kirinya tidak ikutan terlepas. Ia terdiam bak kerasukan.
"Hei, kok bengong?" tanya Anan sambil menepuk pundak sahabatnya itu.
"Melamun aja," lanjutnya setelah duduk di hadapan Salma.
Salma kemudian menghela nafas, lalu menatap lekat ke arah Anan.
"Maaf Nan, bukan maksud aku mencampuri urusan pribadimu. Sebenarnya..ada hubungan apa antara kamu dan pak Arya?" tanya Salma hati-hati karena takut menyinggung sahabatnya itu.
"Tadi pak Arya nelpon, sesuai dengan yang kamu bilang, akupun mengangkatnya. Katanya..hari ini pak Arya tidak bisa bertemu dengan tante Yati," tutur Salma menyampaikan.
"Pak Arya juga berbicara tentang pertunangan," lanjut Salma kemudian meraih tangan Anan dan menggenggamnya lembut.
"Sudah sejauh mana hubunganmu dengan pak Arya?" tanyanya masih dengan hati-hati.
Anan menatap manik mata milik Salma, lalu menceritakan semuanya, mulai dari pengakuan Arya yang menyukainya, Anan sering berkunjung ke apartment milik Arya, memasak makanan kesukaan Arya, meskipun di sana sudah ada bi Imah, sampai akhirnya Anan mengakui bahwa hatinya telah diluluhkan Arya dan mulai mencintainya.
"Kamu yakin?" tanya Salma setelah mendengar cerita Anan. Secara, antara keduanya ibarat bumi dan langit. Salma takut sahabatnya itu akan kecewa dan sakit hati.
Anan mengangguk pelan.
"Awalnya, aku juga tidak yakin. Tapi, melihat perhatian dan keseriusannya padaku, aku jadi yakin bahwa apa yang dikatakannya tulus dari hati," jawab Anan.
"Ya sudah, kalo memang kamu sudah yakin. Aku doakan semoga kamu bahagia, amin."
"Terima kasih," ucap Anan sambil berdiri dan memeluk Salma.
"Tapi tolong, Rara dan Adji jangan dulu tau tentang ini," minta Anan dan diangguki ole Salma.
"Tante Yati udah tau belum?" tanya Salma setelah Anan kembali duduk di kursinya.
"Belum," jawab Anan seraya menggeleng.
"Kalo menurut aku, lebih baik kalo tante Yati belum tau dulu. Biar nanti pak Arya yang memberitahukannya langsung ke tante mengenai rencana kalian," saran Salma.
"Lagi pula aku yakin, asal kamu bahagia, tante pasti setuju," tambahnya lalu tersenyum ke arah Anan.
__ADS_1
Flashback off.