Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 83


__ADS_3

Zidan melirik syal yang digenggam tuan Kendra. Lalu menatap ke arah laut yang terhampar di depannya. Tanpa berpikir panjang, ia masuk dan menyelam ke dalamnya.


"Apa yang kau lakukan, Zidan?!" teriak tuan Kemal yang seketika berdiri begitu melihat Zidan melompat ke air.


"Zidan!" panggil tuan Kemal, cemas.


Karena mengkhawatirkan Zidan, refleks Abhizar pun ikut terjun ke laut.


Sontak saja, hal ini membuat semua panik. Tak lama kemudian, di tengah kepanikan mereka, Zidan muncul bersama Anan. Selang beberapa menit kemudian, Abhizar pun menyembul dari air bersama dengan Arya.


Suasana semakin tegang. Sebab Anan dan Arya sama-sama sudah tak sadarkan diri.


Segera, mereka melakukan prosedur pertolongan pertama. Abhizar dibantu Dimas menangani Arya. Sedang Anan oleh Zidan dan Adji. Di tengah guyuran hujan yang lebat, ketakutan mereka pun semakin membuncah, sebab keduanya tidak bereaksi apa-apa.


Dan ketika mereka tengah sibuk dengan misi penyelamatan, heli yang diminta Dimas pun tiba di tempat. Dengan alasan jarak dan darurat, terpaksa Dimas mendatangkannya.


Tak berlama-lama, mereka langsung membawa Anan dan Arya ke rumah sakit.


🍁


🍁


🍁


Anan dan Arya telah dibawa menggunakan helikopter didampingi Zidan dan Abhizar. Kini, tuan Kemal dan tuan Kendra berada dalam satu mobil di perjalanan menuju ke rumah sakit.


Sejak tadi tuan Kendra tidak berhenti menangis. Ia sangat menyesali tindakannya. Dan yang paling ia sesalkan ialah gadis yang ia benci selama ia ternyata seorang gadis baik dan tak lain cucu kandungnya sendiri.


"Anan... Opa tidak tahu, apa kamu masih mau bersahabat dengan Opa jika kamu tahu bagaimana Opa yang sebenarnya? Kamu pasti akan membenci Opa. Opa minta maaf. Meski Opa tidak layak mendapatkan maaf darimu, tapi Opa sangat berharap kamu mau memaafkan Opa."


Dengan sesegukan tuan Kendra bergumam dalam hati.


Tuan Kemal yang duduk di samping tuan Kendra, iba melihat ayahnya berurai air mata sembari terisak.


"Sudah, Pih. Jangan menangis lagi. Tidak berguna Papih menyesal sekarang. Lebih baik Papih doakan cucu Papih. Semoga dia bisa diselamatkan."


Tuan Kemal menarik nafas pelan. Sebenarnya, kesedihan tuan Kemal jauh lebih besar. Sebab, belum sempat ia bertemu dan memeluk putrinya setelah sekian tahun, ia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit terancamnya keselamatan Anan saat ini.


"Papih tahu? Meski tidak mengatakannya, Zidan sangat kecewa pada Papih saat ini. Mungkin Papih belum tahu, betapa Zidan sangat menyayangi Anan. Terlebih ketika dia tahu bahwa Anan adalah saudari kandungnya. Tentunya, dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti saudari satu-satunya itu. Tidak terkecuali itu Papih. Dan... jujur saja, dibanding kekecewaanku yang lalu-lalu, ini adalah kekecewaanku ya paling dalam terhadap Papih."


Tuan Kendra semakin terisak dan berurai air mata mendengar perkataan putranya. Bisa dikatakan, tuan Kendra tidak hanya menyakiti Anan. Akan tetapi, diwaktu bersamaan ia juga telah menyakiti Zidan sekaligus.


Namun, apa hendak dikata. Ibarat pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur terjadi. Menyesal pun tidak berguna. Memang benar kata orang. Penyesalan datang tidak diawal, tapi belakangan.


Tuan Kendra menghapus jejak air matanya. Seumur-umur inilah penyesalan terbesar yang dirasakannya.


"Maaf, maafkan Papih."


"Sudah, Pih. Jangan minta maaf sama Kemal."


"Apa Papih masih layak menjadi Opa mereka?" tanya tuan Kendra dengan manik yang berkaca-kaca.


"Walau sulit, aku yakin mereka pasti akan memaafkan Papih. Papih tahu kenapa? Karena mereka cucu-cucu Papih."


Mendengar ucapan tuan Kemal, tuan Kendra menjadi sedikit lebih tenang. Ia pun berjanji dalam hati akan berusaha mendapatkan maaf dari kedua cucunya yang disayanginya itu.


🍁

__ADS_1


🍁


🍁


Di rumah sakit.


Helikopter telah mendarat sempurna di puncak gedung rumah sakit Sandra Hospital. Anan dan Arya segera dibawa ke IGD untuk mendapatkan penanganan.


Di depan ruang IGD, telah menunggu mamah Yati dan yang lainnya. Setelah pintu ruang IGD tertutup, Zidan mendudukkan bobot tubuhnya di kursi yang sama dengan Abhizar.


Tak satu pun dari mereka yang menanyakan peristiwa yang dialami Anan kali ini. Mamah Yati hanya mampu meneteskan air mata semenjak mendengar dari Rasmi kabar tentang putrinya.


Dari ujung koridor muncul dokter Sandra setengah berlari ke arah mereka.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Zidan?" Seketika Zidan mengangkat kepalanya menatap mamahnya.


"Kenapa Mamah di sini?" Zidan malah balik bertanya.


"Kamu tidak menjawab telepon Mamah. Jadi Mamah menelpon Rasmi."


Dokter Sandra kini telah duduk di samping putranya.


"Apa kamu tahu siapa yang melakukan ini?"


Zidan kembali tertunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Kenapa kamu diam? Apa kamu tahu orang di balik kejadian ini?" desak dokter Sandra.


Mamah Yati menatap dalam kepada Zidan. Ia dapat meyakini bahwa Zidan tahu jawaban dari pertanyaan dokter Sandra. Namun berat untuk mengatakannya.


"Bu Sandra, Zidan pasti kelelahan. Biarkanlah dia berganti pakaian dan beristirahat."


Tak lama mamah Yati mengalihkan tatapannya ke Abhizar.


"Kamu juga," ucapnya.


Sepeninggal Zidan dan Abhizar, mamah Yati berbalik menghadap pintu dan mengintip melalui kaca di bagian atas pintu tersebut.


"Mamah pikir, kita sudah bisa pulang ke rumah, Nak." Bersama air mata yang menetes, mamah Yati menghela nafas panjang.


Zidan telah berganti pakaian. Sedang Abhizar masih di kamar mandi. Ketika Zidan duduk di sofa, ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.


"Halo, Pih."


"Bagaimana keadaan Anan?"


"Masih ditangani dokter."


Zidan menghela nafas dan menyandarkan punggungnya.


"Pih... mungkin lebih baik kalau Papih tidak ke rumah sakit dulu."


"Tapi... ."


"Waktunya belum tepat, Pih." Zidan memotong.


"Zidan tahu, Papih bersama opa. Ajaklah opa sekalian."

__ADS_1


Lalu Zidan memutuskan sambungan teleponnya.


Zidan kembali menghela nafas.


"Sebenci itukah opah terhadap mamah Yati?" gumamnya membatin.


Lamunan Zidan buyar ketika Abhizar menepuk pundak Zidan.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Abhizar sembari menjatuhkan bobot tubuhnya di atas tempat tidur.


"Bukan apa-apa," jawab Zidan.


Sejurus kemudian, Zidan menatap selidik pada Abhizar. Sedang Abhizar yang ditatap hanya mengangkat kedua alisnya tanda belum mengerti.


"Apa tidak ada yang perlu kamu perjelas padaku?"


Seketika Abhizar pun mengerti maksud tatapan Zidan. Abhizar menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Zidan.


"Aku dan Arya bersepupu. Ibuku adalah adik kandung papinya Arya. Hanya saja, aku tidak terlalu akrab dengannya. Sejak kecil kami selalu menjadi rival satu sama lain. Kamu masih ingat dengan anak laki-laki yang pernah aku ceritakan diawal persahabatan kita?"


Zidan mengangguk dan masih fokus mendengar penjelasan Abhizar.


"Dialah Arya. Sepupu yang seumuran denganku. Bahkan bulan kelahiran kami pun sama. Semenjak ia memperkenalkan sahabatnya ke aku, aku yang waktu itu tidak punya teman menjadi marah karena aku merasa aku telah dikalahkannya. Tentu saja aku tidak mau menerima kekalahan. Meski harus aku akui bahwa Arya memang supel. Dia akan lebih mudah mendapatkan teman dibanding aku yang cenderung menutup diri waktu itu."


Abhizar bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati jendela yang dekat dengan sofa yang diduduki Zidan. Ia melayangkan pandangnya menembus kaca bening di hadapannya dengan kedua tangannya di saku celana.


"Dan setelah melihat sahabat Arya, aku berlari sekuat tenaga tak tentu arah. Sampai pada akhirnya kita secara tidak sengaja bertabrakan. Huft... kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya."


"Jadi, kamu mendesakku untuk berteman denganmu waktu itu agar kamu juga bisa pamer ke Arya, gitu?" kesal Zidan.


"Yah... awalnya sih, begitu. Tapi lama kelamaan aku pun mulai sadar dan membuka diri kepada siapapun. Aku mulai mengerti bahwa hidup ini bukan cuma ada diri kita sendiri. Tetapi juga orang lain, bahkan banyak. Dan ternyata memiliki seorang teman itu sangat menyenangkan."


Abhizar berbalik dan tersenyum kepada Zidan.


"Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku, dulu hingga hari ini," ujarnya lalu bergerak menuju pintu kamar tersebut.


"Apa kamu masih mau di sini merenungkannya kisah persahabatan kita?" tanya Abhizar, berbalik.


Zidan yang terbengong akhirnya berdiri lalu melangkah mendekati Abhizar.


"Apa kata Zidan?" tanya tuan Kendra dengan raut wajah cemas.


"Kita ke rumah, Jon!" seru tuan Kemal kepada Jojon yang sedang mengemudikan mobilnya, tanpa menjawab pertanyaan tuan Kendra.


"Baik, Tuan," sahut Jojon, patuh.


Tuan Kendra semakin sedih, tatkala ia tidak diberi kesempatan untuk menemui Anan dan Zidan di rumah sakit malam ini.


Tuan Kendra menyentuh punggung tangan tuan Kendra.


"Papih jangan khawatir. Serahkan semuanya pada Kemal."


Mendengar penuturan tuan Kemal, hati tuan Kendra pun sedikit lebih tenang.


🍁🍁🍁🍁🍁


**VOTE dan beri HADIAH.

__ADS_1


Terima kasih**.


__ADS_2