
Belum sempat mobil berhenti sempurna, Rara membuka pintu dan turun dari mobil Zidan. Ia berlari hingga tiba di sekitar area keberangkatan sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Adji.
Anan yang hendak berlari menyusul Rara, dicegat oleh Zidan.
"Sebenarnya ini ada apa sih, Nan?" Zidan bertanya dengan memegang tangan Anan.
"Tanya aja, tidak perlu pegang-pegang." Anan melirik tangan kanan Zidan yang bertengger di tangan kirinya.
Zidan pun segera melepaskan tangannya. "Ya udah, jawab!" serunya.
"Hari ini Adji akan bertolak ke Amerika." Anan melanjutkan langkahnya.
"Lah, emang kenapa kalo dia ke Amerika?" Zidan mensejajarkan langkahnya dengan Anan sambil sesekali melirik Rara yang sibuk mencari Adji.
Anan yang mendengar pertanyaan Zidan tiba-tiba menghentikan ayunan langkah kakinya.
"Kamu ini sahabat kita bukan sih? Adji mendadak mau pergi tanpa info dan tanpa pamit ke kita. Menurut kamu, apa itu wajar?" Anan memelototi Zidan dengan nada penekanan.
Zidan yang mendapat pelototan dari Anan, hanya cengar-cengir seraya menggaruk halus tengkuknya.
"Yaa... tidak wajar sih."
"Tuh, tau! Udah, kamu cari di bagian sana!" perintah Anan dengan menunjuk arah berlawanan dengan posisi Rara, kemudian melangkah menghampiri Rara.
Rara sudah merasa capek berlarian sejak tadi. Kini ia berdiri, namun tetap mengabsen setiap apa yang dapat tertangkap oleh indera penglihatannya.
Anan yang tadinya ingin menghampiri Rara, berbelok arah. Ia mendatangi Flight Information Display System yang terpasang di salah satu sisi bandara tersebut untuk mengetahui jadwal keberangkatan dengan tujuan Amerika.
Tiba-tiba terdengar suara pengumuman keberangkatan untuk tujuan Amerika dari speaker yang ada di sana.
Anan yang berada tak jauh dari posisi Rara berdiri saat ini, terkesiap, lalu menoleh ke arah Rara yang juga menoleh ke arahnya.
Seketika Rara merasa tak kuat menopang bobot tubuhnya. Lututnya lemas, badannya bergetar. Ia pun terduduk di lantai bandara itu, membelakangi Anan.
"ADJIIII!!!" teriaknya memanggil nama Adji. Meskipun mustahil, ia masih berharap Adji dapat mendengar teriakannya.
Suara Rara yang mampu disandingkan dengan speaker pengumuman di gedung itu, membuat orang-orang yang ada di sekitarnya seketika memfokuskan pandangannya pada Rara. Tidak berbeda dengan Zidan yang berdiri beberapa meter di belakang Anan.
"Adji, ini aku, Rara, sahabat kamu. Aku mohon jangan pergi. Kalo kamu bisa mendengar suara aku, tolong... tolong muncul di hadapanku." Rara berucap dengan bulir kristal yang mulai meleleh membasahi pipi
Zidan yang hendak menuju ke audio room, terhenti karena tangan seseorang yang menyentuh pundaknya. Ia pun menoleh ke arah tangan itu berasal. Ia sedikit terkejut begitu tahu siapa yang menyentuh pundaknya.
Dialah Adji.
Adji mengangkat jari telunjuknya ke depan bibirnya, bermaksud agar Zidan diam, tidak memberitahukan keberadaannya kepada Anan dan Rara. Dan Zidan pun mengerti.
"Dji, kenapa kamu harus pergi. Kamu tega, tega sama aku. Kamu pergi meninggalkan aku tanpa pamit. Asal kamu tau Dji, hatiku sakit, aku hancur begitu tau kamu pergi menjauh dari aku." Air mata Rara semakin menganak sungai.
__ADS_1
Anan yang tidak tega melihat sahabatnya yang duduk bersimpuh di lantai, segera menghampiri dan memeluk untuk menenangkannya. Ia pun menitikkan air mata, tak kuasa menyaksikan kesedihan sahabatnya itu. Ia pun dapat merasakan kekecewaan yang dirasakan oleh Rara.
Dari sini Anan dapat mengerti satu hal, bahwa sebenarnya perasaan yang dimiliki Adji tidak bertepuk sebelah tangan. Rara juga mencintai Adji. Terbukti, Rara tidak mau kehilangan Adji. Rara tidak mau Adji berpaling darinya.
"Nan, Adji pasti sudah tidak sayang aku lagi. Dia pasti sudah membenci aku. Iya kan? Buktinya, dia pergi meninggalkan kita, meninggalkan aku. Dia menjauh, dia tidak mau lagi melihat aku Nan." Rintihan Rara begitu terdengar pilu.
"Sudahlah Ra. Aku yakin, Adji tidak membencimu. Suatu hari nanti, dia pasti akan kembali. Kembali untukmu," ucap Anan menenangkan Rara.
"Tapi Nan, Adji sudah pergi. Dia pasti sudah tidak mencintaiku lagi, jadi bagaimana mungkin dia akan kembali untukku. Padahal, aku sudah yakin dengan perasaanku padanya. Aku sudah bersedia menerima perasaannya, Nan."
Semua yang ada di sana, masih setia menyaksikan Rara dengan segala curhatannya.
Sampai pada akhirnya...
"Dasar cengeng! Apa kamu tidak merasa malu menjadi tontonan orang-orang di sinii?" Adji bertanya setengah berteriak dari arah belakang mereka.
Anan dan Rara terperanjat mendengar suara yang tidak asing lagi di telinga mereka. Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.
Sangking senangnya, Rara bangkit kemudian berlari ke arah Adji dan memeluknya. Ia tidak mempedulikan tubuhnya yang sudah terasa lelah, juga tatapan orang-orang di sekelilingnya. Yang ia tahu, ia bahagia karena orang yang diharapkan kehadirannya berada tepat di depan mata.
"Kamu kok jahat banget sih! Tega kamu, tau tidak?! Kamu kok mau pergi tidak bilang-bilang dulu. Aku kesal sama kamu." Rara melepaskan pelukannya dan memukul-mukul kecil dada bidang Adji, dengan masih berurai air mata.
Adji menangkap kedua tangan Rara dan menatanya dengan intens.
"Emang kenapa kalo aku pergi? Tidak bakal ngaruh juga ke siapa-siapa." Adji sedikit mengangkat kedua sudut bibirnya.
Adji mendekatkan wajah.
"Benarkah? Kenapa?" Adji sebenarnya ingin tetawa melihat tingkah Rara, namun ia tahan agar ia bisa mengetahui perasaan Rara yang sebenarnya.
"Karena aku sayang sama kamu," sahut Rara lancar.
"Cuma sayang?" Lagi-lagi Adji menguji.
"Aku juga cinta sama kamu, dan aku tidak mau kehilangan kamu. Ups ...!" Rara menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya setelah menyadari apa yang barusan dikatakannya.
Ia berbalik hendak berlalu dari Adji, namun secepat kilat tangan Adji meraih tangan Rara.
"Mau kemana?" tanya Adji.
"Mau pulang!" jawab Rara ketus seraya melepaskan tangannya dari genggaman Adji dan berlalu meinggalkannya.
"Semuanya, mohon perhatiannya!" seru Adji kepada pengunjung yang ada di bandara tersebut. Kemudian Adji menatap ke arah Rara yang memunggunginya.
Rara yang telah melangkahkan kakinya beberapa kali, terpaksa berhenti ketika mendengar seruan Adji.
"Mungkin aku tidak seromantis pria-pria lain di dunia ini. Jujur saja, aku bukan tipikal pria seperti itu. Aku juga bukan seorang pria yang mampu merangkai kata demi kata dalam balutan sebuah puisi untuk menyenangkan hatimu. Tapi ... ." Adji beranjak dari posisinya berdiri kemudian melangkah menghampiri Rara yang tidak lagi memunggunginya beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
"Tapi aku adalah seorang pria biasa yang mencintai satu wanita yang tak biasa dengan cara yang luar biasa. Aku adalah seorang pria yang akan selalu berusaha menyenangkan hatimu. Dan, aku juga adalah seorang pria yang akan selalu berusaha mengukir senyum di wajah indahmu."
Adji meraih kedua tangan Rara dan menggenggamnya.
"Di bandara ini, tempat yang akan menjadi sejarah bagi cinta kita dan disaksikan oleh beberapa pasang mata." Adji menghela nafas. Rasa gugup mulai menggelayuti. Namun ia tetap percaya diri.
"Adelia Sahara, maukah kamu menerima pria biasa ini, menemani disisa umurnya, menua bersama dalam suka dan duka, dalam sebuah ikatan suci pernikahan?"
Tanpa dadar, bola mata Rara yang sudah mengering kembali meneteskan air mata mendengar permintaan Adji kepadanya.
" Beginikah rasanya dilamar oleh seseorang yang kita sukai? Tunggu! Ini lamaran kan? Lalu aku harus bagaimana?"
Riuh dan sorak sorai orang-orang yang ada di sana membuat Rara tersadar dari pikirannya.
"Mau, mau, mau... ," seru para pengunjung bandara yang menyaksikan Adji melamar Rara.
"Iya, aku mau," sahut Rara, membuat orang-orang yang membanjiri bandara tersebut bertepuk tangan sambil bersorak dan bersiul. Mereka turut bahagia menyaksikan acara lamaran itu.
Adji pun mendekap Rara dengan perasaan lega.
Anan yang berada beberapa langkah dari mereka, maju dan membalikkan badan Adji. Sehingga dekapan Adji terlepas dari tubuh Rara.
PLAKKK!!!
Satu tamparan dari tangan kanan Anan mendarat cantik di pipi kiri Adji.
Waddidawww...
Kok Anan nampar Adji sih?
Tunggu di cerita selanjutnya.
Tetap setia nunggu ya, man teman...😊🙏
Terima kasih😘😘😘
__ADS_1