Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 53


__ADS_3

[ Vote lagi dong ]


Ciitttt!


Bruuggh!


Naas bagi Anan. Disaat ia mampu meloloskan diri dari para penculik dirinya, ia malah tak mampu lolos dari maut yang mengintainya.


Ketika Anan berlari hendak menyeberangi jalan, disaat itu juga mobil yang sejak tadi mengejar mobil milik Zidan, tiba-tiba muncul dan menabraknya.


"Anaaannn!"


"Anaaannn!"


Seru Zidan dan Septy bersamaan. Sedangkan Abhi hanya terperangah menyaksikan kecelakaan tepat di depan matanya.


Anan terpental sejauh beberapa meter. Sedang mobil yang menabraknya kabur begitu saja. Begitu pula dengan mobil yang menculiknya.


***


"Anan!!!" Mamah Yati terbangun dengan meneriakkan nama putrinya.


"Ada apa, Mbak?" tanya tante Ranti yang sejak tadi menjaga mamah Yati.


"Mbak mimpi buruk lagi?" tanyanya lagi mulai cemas.


"Putriku... Anan." Air mata mamah Yati mulai mengalir membasahi kedua pipinya.


"Aku melihatnya bersedih. Dan entah mengapa, aku merasa sesuatu yang sangat berharga bagiku, hilang entah kemana."


Mamah Yati mengusap linangan air matanya. Ia pun terpikirkan akan sesuatu.


"Ranti, bisakah kamu menghubungi nomor nak Arya melalui ponsel itu?"


Ranti pun meraih ponsel yang ditunjuk mamah Yati. Ia mencari-cari nomor kontak Arya di ponsel tersebut, dan ketemu.


Tante Ranti mencoba menghubungi nomor tersebut. Namun hanya dijawab oleh suara indah operator. Begitu seterusnya hingga 3 kali.


Tante Ranti menggeleng mengisyaratkan tak ada jawaban. Membuat mamah Yati semakin sedih dan khawatir.


***


Di belahan bumi lain, diwaktu setempat.


Tiba-tiba gelas yang dipegang tuan Kemal terlepas dari genggamannya. Malam ini tuan Kemal tak dapat tidur. Meskipun sudah berusaha memejamkan matanya, tuan Kemal tetap kesulitan.


Hatinya gelisah, pikirannya melayang membayangkan sesuatu yang ia sendiri sulit untuk menjabarkannya. Namun ada satu nama yang selalu mengusik jiwa dan benaknya.


Karena sulit memejamkan matanya, tuan Kemal keluar dari kamarnya menuju dapur mengambil segelas air minum, berharap dapat menenangkan pikirannya.


"Anan," sebutnya pelan.


"Siapa gadis ini? Apa hubunganku dengannya? Kenapa aku merasa rindu padanya?" Pertanyaan demi pertanyaan berputar bak pusaran air laut di kepala tuan Kemal.


"Dan sekarang, aku merasa sangat mencemaskannya."

__ADS_1


Tuan Kemal menghela nafas panjang. Bersamaan dengan itu, Raka datang karena mendengar suara pecahan gelas yang terjatuh.


"Tuan, Tuan tidak apa-apa?" tanya Raka begitu tiba di dapur apartemen milik tuan Kemal.


"Tidak usah!" cegah tuan kemal yang menyaksikan Raka ingin memunguti pecahan kaca yang berhamburan di lantai, mengabaikan pertanyaan Raka.


Raka yang sudah setengah membungkuk kembali menegakkan badannya.


"Tapi Tuan, ART yang biasa membersihkan apartemen ini, datangnya nanti pagi, Tuan," jelas Raka.


"Ya sudah. Kamu bereskanlah." Tuan Kemal melangkah meninggalkan Raka yang sedang membersihkan lantai.


Raka menatap punggung atasannya penuh tanya.


"Ada apa dengan tuan? Baru kali ini aku melihatnya segelisah ini," gumam Raka disela ia memasukkan pecahan kaca ke dalam kantong sampah.


Baru saja Raka selesai mencuci tangannya, tuan Kemal datang menghampiri.


"Raka."


Raka menoleh, "Iya, Tuan," sahutnya.


Tuan Kemal berjalan menuju meja makan yang tak jauh dari posisi Raka berdiri. Kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Raka menghampiri tuan Kemal.


"Apa yang bisa saya lakukan, Tuan?" tanyanya menawarkan diri.


"Raka, apa sebelum ini aku pernah memintamu mengerjakan pekerjaan di luar dari pekerjaan kantor?"


"Jam berapa pertemuan kita dengan tuan Arata?" tanya tuan Kemal.


"Jam 9 pagi, Tuan," jawab Raka yang berdiri di samping tuan Kemal.


"Baiklah. Setelah pertemuan itu, kamu pesan tiket untuk kita pulang ke Indonesia."


"Maaf, Tuan. Lalu bagaimana dengan proses audit di sini, Tuan?" tanya Raka, mengingatkan.


"Pagi-pagi sekali kamu sampaikan ke pak Tris dan beberapa bawahannya untuk berangkat ke Jepang dan menyelesaikan proses audit di sini," titah tuan Kemal.


Tuan Kemal berdiri dari duduknya dan mulai mengayunkan langkah kakinya. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti dan berbalik menghadap Raka.


"Raka, apa kamu pernah merasakan sesuatu yang kamu sendiri tidak tau itu apa?" tanyanya, membuat Raka mengernyit bingung.


Belum sempat Raka membuka mulut, tuan Kemal kembali bersuara.


"Sudahlah. Kamu istirahat saja. Pagi sebentar kita langsung ke tempat pertemuan."


Tuan Kemal kembali memunggungi Raka yang mematung karena kebingungan.


***


Zidan, Septy, dan Abhizar segera berlari menghampiri tubuh Anan yang tergeletak di pinggir jalan.


Dan alangkah terkejutnya Abhi melihat siapa gadis yang menjadi korban penculikan dan tabrak lari.

__ADS_1


Seketika darahnya mendidih. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal. Ia benar-benar murka. Bagaimana tidak. Gadis yang membuatnya jatuh hati ini menjadi korban keegoisan seseorang.


Zidan memangku kepala Anan. Ia memanggil-manggil nama Anan seraya menepuk-nepuk pipi gadis yang saat ini sudah tak sadarkan diri.


Sedangkan Septy menangis dan berteriak histeris melihat keadaan Anan yang sangat jauh dari kata 'baik-baik saja'.


Bagian kepala Anan mengucurkan darah segar. Hampir seluruh bagian dari gaun yang dipakai Anan berlumuran dengan darah. Dan beberapa luka di bagian tubuh lainnya.


Tanpa menunggu lama, Zidan mengangkat tubuh Anan dan membawanya ke mobil.


Mereka pun bergegas ke rumah sakit. Kali ini Abhi yang mengemudi. Walaupun dengan perasaan emosi yang bercampur sedih, Abhi tetap fokus berkendara. Sesekali Abhi melirik Anan yang terbaring di pangkuan Zidan di kursi belakang melalui kaca tengah.


Abhi mencengkram kuat kemudi mobil Zidan. Melihat kondisi Anan benar-benar membuatnya naik pitam.


"Siapapun pelakunya, aku pastikan dia akan membusuk di penjara," gumamnya dalam hati.


Septy tidak berhenti menangis. Meskipun ia duduk di samping Abhi, namun di sepanjang perjalanan tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan Anan.


"Anan," lirih Septy dengan posisi duduk yang cenderung menghadap Abhi.


Setetes air mata Zidan jatuh tepat mengenai wajah Anan. Baru kali ini Zidan menangis setelah menginjak usia dewasa. Abhi yang sesekali melirik Zidan tak sengaja menyaksikan hal itu. Sehingga membuat Abhi mempertanyakan hubungan antara Zidan dengan Anan.


"Akankah aku bersaing dengan sahabatku sendiri?" gumamnya membatin. Mengira Zidan juga memiliki perasaan yang sama dengannya terhadap Anan.


"Oh shit! Tidak seharusnya aku memikirkan itu saat ini." Abhi kembali membatin.


Deringan telepon genggam Zidan membuat Abhi dan Septy menatap Zidan. Zidan segera meraih ponsel pintar miliknya. Tanpa memperhatikan siapa yang menghubunginya, Zidan langsung saja menjawab panggilan tersebut.


"Apa kamu sudah sampai?" tanya dokter Sandra begitu panggilannya terhubung.


Bukannya menjawab, Zidan malah menjauhkan ponselnya dari telinganya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Halo...?" Karena tidak mendapatkan jawaban, dokter Sandra kembali bersuara.


"I-iya, Mah."


"Kamu sudah sampai 'kan? Apa kamu bertemu Anan? Trus sekarang mana Anan nya? Mamah mau bicara, Mamah kangen soalnya," berondong dokter Sandra yang sudah tidak sabar mendengar suara Anan.


Zidan bingung harus seperti apa menyampaikan kabar tentang kecelakaan Anan ke mamahnya.


"Mah... ."


"Kamu kenapa, Sayang? Kamu kedengaran aneh. Kamu baik-baik saja 'kan? Di mana Anan? " Lagi-lagi dokter Sandra mencecar Zidan.


Tbc...




Author ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1442 H/2021 M.



Taqabballahu Minna Waminkum, Minal Aidhin Wal Faidzin Kullu Amin Wa Antum Bikhoir Mohon Maaf Lahir Dan Batin.

__ADS_1


__ADS_2