Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 65


__ADS_3

"Baiklah. Papih akan menerima dia sebagai menantu Papih. Asal kamu mau menghandle anak perusahaan Papih yang ada di Jepang."


Sebenarnya ini hanya rencana terselubung tuan Kendra saja, agar dapat menjauhkan tuan Kemal dengan mamah Yati.


"Tapi, Pih. Bagaimana dengan istri Kemal? Kami baru 3 bulan menikah. Kemal tidak tega meninggalkan istri Kemal, Pih."


"Cih! Dasar anak tidak tau diuntung! Sungguh pintar kau menyembunyikan pernikahanmu yang bahkan sudah 3 bulan," gumam tuan Kendra dalam hati.


"Bukankah kamu ingin membahagiakan istrimu itu? Dan kamu sudah berjanji padanya." Tuan Kemal nampak berpikir.


"Kamu tidak usah khawatir. Hasil dari kerja kamu tiap bulannya akan ditransfer ke rekening istri kamu. Bukankah sebagai suami kamu berkewajiban menafkahi istrimu? Bagaimana? Usul Papih tidak buruk 'kan?"


Setelah beberapa detik menimbang usulan tuan Kendra, tuan Kemal pun menyetujui ide dari papihnya itu.


"Baiklah, Pih. Kemal setuju. Apa ini berarti Papih merestui pernikahan Kemal dan menerima istri Kemal sebagai menantu Papih?" tanya tuan Kemal dengan raut wajah bahagia.


Tuan Kendra tak menyahuti putranya. Ia hanya tersenyum penuh arti.


Namun pada kenyataannya, tuan Kendra ingkar pada kata-katanya. Ia sama sekali tidak pernah mengirimkan sejumlah uang kepada mamah Yati. Baik itu secara tunai maupun transfer.


Dan entah bagaimana caranya, sehingga tuan Kendra dapat menerbitkan buku nikah tuan Kemal yang kedua. Tapi, itulah tuan Kendra. Baginya, apapun akan terwujud jika dengan uang. Sehingga ia tidak mau jika putranya menikahi wanita yang tidak mempunyai status dan latar belakang yang kuat.


Flashback off.


🍁🍁🍁


Malam hari di rumah sakit Sandra hospital.


"Tidak! Aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh! Aaarrgg...! Septy terbangun dengan nafas memburu dan peluh yang membanjiri wajahnya.


Mamah Santi yang berada di kamar mandi, buru-buru menghampiri putrinya ketika mendengar teriakan dari Septy.


"Syukurlah, kamu sudah bangun, Sayang. Mamah sangat khawatir." Septy menatap sekelilingnya dengan masih terengah-engah. Sehingga ia pun tahu bahwa saat ini ia berada di rumah sakit bukan di sel tahanan.


"Minum dulu, Sayang." Mamah Santi menyodorkan segelas air mineral.


Setelah meminum beberapa teguk, Septy menyerahkan kembali gelas minumnya ke mamahnya.


Mamah Santi membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia pun telah mengetahui dari pihak polisi kronologi kejadian yang dialami putrinya, yang berakhir pada luka tusuk pada bagian perut Septy. Ia benar-benar sangat sedih atas penganiayaan yang dialami putrinya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu aman di sini. Kamu tidak akan bertemu dengan mereka lagi. Mereka sudah dipindahkan dan akan mendapatkan hukuman yang setimpal."


Tak ada reaksi yang diberikan oleh Septy. Pandangannya lurus ke depan.


"Apa aku ini seorang pembunuh, Mah?" lirih Septy.


Seketika mamah Santi memeluk putrinya.


"Tidak, Sayang. itu tidak benar. Kamu bukan pembunuh. Kamu tidak membunuh siapapun." Mamah Santi berusaha menenangkan Septy dan tak terasa air matanya menetes. Sungguh hatinya sakit menyaksikan efek dari perlakuan buruk yang diterima putrinya.


Septy merangkul lengan mamahnya dengan rasa takut. Insiden yang dialaminya sungguh mengguncang psikis nya.


"Tapi, Mah... mereka meneriaki Septy pembunuh. Septy takut, Mah. Mereka... mereka sangat menakutkan," ucap Septy dengan linangan air mata dan isak tangis.

__ADS_1


"Kamu jangan takut, Sayang. Mamah dan papah akan selalu menjagamu. Kamu tenang, ya? Semua pasti akan baik-baik saja."


Mamah Santi melonggarkan pelukannya dan mengusap air mata putrinya.


"Lebih baik kamu makan ya, Sayang. Kamu lapar 'kan?" Septy hanya menggeleng pelan.


Mamah Santi mencoba tersenyum di hadapan putrinya.


"Tidak apa-apa, kalo kamu belum mau makan. Kalo gitu kamu istirahat ya, Sayang." Mamah Santi membantu Septy untuk berbaring kembali.


Di balik pintu, Abhizar yang tadinya hendak masuk menemui Septy, mengurungkan niatnya. Ada perasaan iba ketika ia mendengar ucapan dan tangis pilu Septy. Tangannya mengepal, tidak terima dengan semua tindak kekerasan yang dialami Septy.


Tak lama, ia pun mulai mengayunkan langkahnya meninggalkan ruang rawat Septy.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya.


Adji tengah bersiap untuk berangkat ke kantor polisi. Hari ini ia harus bisa menemukan titik terang atas kasus percobaan penculikan yang mengakibatkan Anan mengalami kecelakaan.


Bukan hanya itu, ia juga berharap dalang dari kasus tersebut harus segera ditemukan sehingga Septy yang dia yakini tidak bersalah segera dibebaskan. Apalagi saat ini Septy berada di rumah sakit akibat dari perundungan yang didapatkannya di sel tahanan. Sungguh tidak adil bagi Septy, pikirnya.


Ketika menuruni anak tangga, ponsel yang ia pegang di tangan kirinya tiba-tiba berdering. Ia pun segera menggeser ikon berwarna hijau setelah tahu siapa yang menelponnya.


"Halo, Bhi?" Adji menjawab telepon Abhizar sembari berjalan keluar rumah munuju tempat mobilnya terparkir.


"Apa kamu sibuk hari ini?"


"Aku ingin kita ketemu. Ini tentang Septy." Adji berpikir sejenak.


"Dji?"


"Sebenarnya hari ini aku mau ke kantor polisi. Kita ketemu di sana saja," beber Adji.


"Baiklah. Kita ketemu di sana."


Sambungan telepon pun terputus.


Adji membuka pintu mobilnya dan duduk di belakang kemudi. Dengan perasaan yakin, ia melajukan kendaraannya membelah jalanan menuju kantor polisi.


Setelah beberapa menit berkendara, Adji memarkirkan mobilnya. Baru saja ia hendak menginjakkan kakinya ke tanah, mobil yang dikemudikan Abhizar tiba tepat di samping mobilnya.


"Hai, Bro," sapa Adji, menghampiri Abhizar.


"Apa ada perkembangan?" tanya Abhizar.


Adji lalu menceritakan apa yang tidak sengaja didengarnya kemarin.


"Jadi, apa rencanamu?" Walaupun Abhizar mengenal Adji belum lama, namun ia dapat melihat bahwa Adji sangat kompeten dan tenang dalam menghadapi suatu masalah.


"Makanya aku kemari. Aku ingin menemui dan bertanya langsung kepadanya. Kita semua tau 'kan, kalo dialah penabrak Anan. Itu berarti antara mobil yang menculik Anan berkaitan dengan mobil yang menabraknya."


Abhizar mengangguk-angguk membenarkan perkataan Adji.

__ADS_1


"Ya udah, kita masuk aja."


Mereka pun masuk dan menemui polisi yang berjaga untuk mendapatkan izin besuk.


"Pak Dani, mereka yang ingin bertemu dengan Bapak." Polisi itu pun meninggalkan mereka bertiga.


"Maaf, kalian siapa? Untuk apa menemuiku?" tanya pak Dani kepada Adji dan Abhizar.


Adji memperhatikan setiap inci dari wajah pak Dani.


"Seperti pernah melihatnya, tapi di mana?" gumamnya, membatin.


"Aku Abhizar Pak. Dan... ." Abhizar menoleh Adji yang menatap intens pak Dani, kemudian menyenggol pelan lengannya.


Adji yang mendapat senggolan juga menoleh Abhizar.


"Dan dia teman aku, namanya Adji."


Sadar akan tingkahnya, Adji lalu mengalihkan pandangannya ke pak Dani.


"Kami berdua mewakili keluarga dari korban yang Bapak tabrak beberapa hari lalu. Dan maksud kedatangan kami menemui Bapak hari ini untuk memperjelas apa yang tidak sengaja aku dengar kemarin."


Pak Dani mengkerutkan keningnya.


"Kami harap Bapak mau berkata jujur. Apa betul dalang di balik kejadian ini adalah perempuan yang bernama Lexa?" Pertanyaan Adji membuat manik pak Dani membola.


Dari reaksi yang diberikan pak Dani, dapat Adji pastikan bahwa jawabannya adalah betul.


"Bapak jangan cemas. Kami akan meminta keringanan hukuman untuk Bapak jika Bapak bersedia bersaksi. Bapak tau? Akibat kesaksian Bapak yang menuduh teman kami sebagai dalang di balik ini, membuat teman kami menerima perundungan di dalam sel tahanan. Dan sekarang harus menjalani perawatan di rumah sakit karena tertikam."


Pak Dani terkejut mendengar ucapan Adji. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia pun merasa iba dan menyesal membuat tuduhan palsu itu.


"Apa jaminannya kalo kalian bisa aku percaya?" tanya pak Dani.


"Aku! Aku yang akan jadi jaminannya. Bahkan aku bersedia mengirimkan uang guna memenuhi kebutuhan keluarga Bapak selama Bapak menjalani sisa masa tahanan Bapak."


Hening untuk beberapa saat.


"Bagaimana, Pak?"


"Baiklah. Aku bersedia."


Perasaan lega dirasakan Adji dan Abhizar. Mereka bersyukur karena hal yang mereka khawatirkan tidak terjadi. Tadinya, mereka mengira pak Dani adalah orang yang sulit diajak bekerja sama. Tapi perkiraan mereka terbantahkan dengan kesediaan pak Dani mengungkap pelaku di balik insiden yang menimpa Anan yang sebenarnya.


Begitu bukti dirasa cukup, Adji dan Abhizar mengucapkan terima kasih dan berlalu dari hadapan pak Dani.


🍁🍁🍁🍁🍁


Itulah mengapa kita harus minum air putih minimal 8 gelas sehari. Agar kita terhindar dari ketemu mantan, eh salah.. salah genks. Maaf.. yang betul, agar kita terhindar dari dehidrasi. Jadi harus dibiasakan. Karena manfaatnya bukan cuma itu. Untuk lebih jelasnya, silakan nanya ke om aku deh, soalnya dia itu femes dan pintar sedunia.


Eh, jangan lupa vote, like, dan komen juga ya, Genks.


Maacih... 🙏🙏🙏😘

__ADS_1


__ADS_2