Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 94


__ADS_3

"Kita mau ke rumah siapa, Pih?" tanya mamah Yati begitu memasuki kompleks salah satu perumahan elit yang ada di kotanya.


"Apa kamu sudah tidak sabar ingin tahu?" Tuan Kendra bertanya balik.


Disaat yang sama, kendaraan yang mereka tumpangi memasuki halaman sebuah rumah berlantai dua.


"Turunlah!" titah tuan Kendra, begitu pintu mobil di samping mamah Yati dibuka oleh Jojon.


Setelah berada di depan pintu utama rumah mewah tersebut, Jojon pun menyodorkan sebuah kunci kepada tuan Kendra. Pintu terbuka, dan mereka pun masuk.


Alangkah takjubnya mamah Yati melihat design interior dan berbagai furniture yang melengkapi tiap ruangan di rumah itu.


Semakin melangkah, semakin terdengar pula decap kagum mamah Yati terhadap kemewahan yang terpampang di hadapannya.


"MasyaAllah... sungguh luar biasa rumah ini, Pih. Ini rumah siapa?" Mamah Yati masih memperhatikan setiap sudut rumah itu.


"Bagaimana menurut kamu?" Bukannya menjawab, tuan Kendra malah bertanya.


"Menurutku, rumah ini sangat megah dan mewah. Pasti semua barang-barang ini mahal," sahut mamah Yati sambil mengusap tiap benda yang dijangkaunya.


"Tapi, untuk apa Papih mengajakku ke sini?" tanya mamah Yati, lagi.


"Mulai hari ini, rumah ini menjadi milik kamu. Ini adalah hadiah pernikahan dari Papih. Maaf, dihari pernikahan kamu, Papih tidak memberikan seserahan apapun."


"Tapi, Pih. Ini terlalu berlebihan untuk saya. Saya tidak bisa menerimanya. Diakui sebagai menantu oleh Papih, itu sudah lebih dari cukup untuk saya. Dan hanya itu yang Yati butuhkan."


Tuan Kendra menghela nafas panjang.


"Pantas saja Kemal menikahimu. Tidak mudah mendapatkan wanita seperti kamu," pujinya.


"Papih ada-ada saja. Tapi tetap saja, saya tidak bisa menerima ini." Mamah Yati kekeh menolak.


"Kenapa kamu menolak terus? Kamu menantu Papih dan kamu pantas mendapatkannya."


Tanpa mereka sadari, perdebatan mereka telah disaksikan oleh seseorang. Tak mau jadi penonton lagi, ia pun mendekati tuan Kendra dan mamah Yati.


"Sudahlah, Yati. Kamu terima saja," ucapnya. Membuat tuan Kendra dan mamah Yati menoleh.


"Mas Kemal?" lirih mamah Yati yang tak menyangka akan bertemu dengan suaminya di rumah itu.


"Ah, kebetulan kamu datang. Bujuklah istri kamu ini agar mau menerima hadiah dari Papih," minta tuan Kendra ke putranya.


"Kamu terima, ya? Kasihan papih, sudah menyiapkan hadiahnya tapi kamu tolak. Ini sudah menjadi rezeki kamu. Tidak baik menolak rezeki," tutur tuan Kemal lemah lembut.


Dan akhirnya, mamah Yati pun menerima hadiah pernikahan dari tuan Kendra.


"Terima kasih atas hadiahnya, Pih. Semoga ini membawa berkah bagi Yati dan keluarga kecil Yati," harap mamah Yati.


Sontak, tuan Kendra dan tuan Kemal mengaminkan.


"Anan tidak ikut?" tanya tuan Kemal.


"Pagi-pagi sekali Anan mengajak Awan ke taman kompleks. Katanya, sambil jalan-jalan," sahut mamah Yati.

__ADS_1


"Pantas tadi Papih tidak melihatnya," ujar tuan Kendra.


"Ya sudah. Kamu temani istrimu melihat-lihat. Papih pulang dulu."


Kemudian tuan Kendra pun berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu.


Sepeninggal tuan Kendra, tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Mamah Yati masih sibuk mengamati sekelilingnya. Sedangkan tuan Kemal sibuk memperhatikan tingkah istrinya.


Ehem!


Tuan Kemal mendehem, menghilangkan rasa canggung.


Akibat dari deheman tuan Kemal, mamah Yati pun menoleh ke arah suaminya itu.


"Apa Mas mengatakan sesuatu?" tanyanya, santai.


Tuan Kemal bingung mau jawab apa. Lama tidak bertemu membuatnya sangat canggung dan bingung harus bagaimana.


Seketika mamah Yati tersenyum.


"Apa Mas ingin tahu, bagaimana Mas saat ini?" tanyanya disela senyumannya.


Sedang yang ditanya hanya melongo menatap mamah Yati.


"Mas terlihat seperti seekor ayam yang habis tertimpa balok kayu."


Tuan Kemal memelototi mamah Yati.


Pertanyaan tuan Kemal membuat mamah Yati tertawa.


"Mas... Mas. Ternyata Mas memang tidak berubah. Mas tetap saja ambekkan."


Begitulah mamah Yati, sangat pandai mengeluarkan sisi lain dari suaminya itu. Hingga akhirnya tuan Kemal tidak canggung lagi dan merasa nyaman bersama dengan mamah Yati.


🍒🍒🍒


Sementara itu.


Di dalam kendaraannya, Arya yang sudah sejak 30 menit yang lalu menunggu kemunculan Anan, mulai merasa gelisah. Sengaja ia lagi-lagi memarkir kendaraannya tak jauh dari rumah Anan agar bisa melihat pujaan hatinya jika hendak keluar atau sekedar duduk santai di teras rumah meski dari kejauhan.


Namun, hingga detik ini sosok yang diharapkan tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


"Apa Anan tidak berada di rumah, ya?" gumamnya.


"Tapi kalau dia tidak di rumah, lalu ke mana?"


Lalu Arya pun mulai menerka-nerka tidak jelas.


"Apa jangan-jangan Anan keluar bersama Abhi?... Tidak, tidak! Kalaupun Anan keluar rumah, dia pasti bersama Zidan. Ya, dia pasti bersama Zidan." Arya mencoba menormalkan pikirannya.


Hanya berselang beberapa detik, dari arah depan Arya melihat sosok yang ditungguinya sejak tadi. Kedua ujung bibirnya tertarik ke atas. Ia senang. Rupanya sang pujaan hati bersama dengan adik sepupunya.


Tak sedetik pun Arya mengalihkan pandangannya dari Anan. Hingga saat sebuah kendaraan roda dua yang dikendarai dengan ugal-ugalan, muncul dari arah belakang Anan.

__ADS_1


Sontak saja Arya keluar dari mobilnya dan berlari ke arah Anan.


"Awas!" seru Arya yang refleks mendekap Anan lalu menjauhkannya dari badan jalan.


Sedangkan Awan hanya menyaksikan penyelamatan yang dilakukan oleh Arya terhadap Anan. Bukan tidak mau menolong kakak sepupunya itu. Hanya saja ia bingung harus bagaimana karena kejadiannya begitu mendadak.


"Kakak tidak apa-apa?" tanyanya setelah beberapa saat.


"Terima kasih, Om, sudah menyelamatkan kakak saya," ucap Awan kepada Arya. Dan Arya hanya mengangguk.


"Kamu tidak apa-apa? Tidak ada yang luka?" Kini Arya yang bertanya dengan perasaan khawatir yang membuncah.


"Pak Arya," lirih Anan.


"Iya, ini aku. Kamu tidak apa-apa, 'kan?"


Anan menggeleng pelan.


Dan tanpa aba-aba, Arya menggendong Anan ala bridal. Anan ingin menolak, tapi ia sendiri masih syok dengan kejadian yang baru saja dialaminya.


"Tolong jangan menolak. Aku akan membawamu sampai rumah." Dengan mantap, Arya pun mulai melangkah dengan diekori oleh Awan.


Deg!


Deg!


Deg!


Belum kelar keterkejutan Anan, kini jantungnya kembali berpacu lagi. Bahkan lebih cepat dari sebelumnya.


"Ya Allah... perasaan aneh apa ini?" batin Anan.


Sedangkan Arya, jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Ia sungguh bahagia bisa dekat dengan Anan. Walau hanya sebatas penolong saja.


Begitu sampai di teras rumah, Arya mendudukkan Anan pada kursi, lalu berjongkok di hadapan Anan. Ditatapnya wajah Anan lekat-lekat. Wajah yang sudah beberapa bulan terakhir ini sering membangunkannya dikala tidur malam. Wajah yang membuatnya lega hanya dengan membayangkan senyumannya. Dan wajah yang membuatnya menyesal sedalam-dalamnya ketika mengingatnya bersedih.


"Ini, Kak, diminum dulu." Awan menyodorkan segelas air minum kepada Anan.


Disaat yang sama, Arya bangkit, kemudian duduk di kursi sebelahnya.


"Terima kasih sudah menolong aku. Tapi maaf, aku harus masuk. Aku mau beristirahat," ucap Anan setelah meneguk air minumnya.


"Apa kamu masih membenciku, Nan?" tanya Arya.


"Bukankah aku sudah pernah bilang, kalau aku sudah memaafkan Bapak? Aku hanya tidak ingin bertemu dengan Bapak lagi," tegas Anan, lalu bangkit dari duduknya hendak berlalu di hadapan Arya.


"Tunggu, Nan! Apa sungguh berat untukmu memberikanku kesempatan kedua?" tanya Arya, memelas, yang kini telah berdiri di samping Anan.


"Maaf, aku harus istirahat." Anan pun berjalan meninggalkan Arya yang menatapnya hingga menghilang di balik pintu.


🍒🍒🍒


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2