Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 24


__ADS_3

Jam masih menunjukkan pukul 11.35, tapi karena aktivitas yang menguras tenaga, ditambah dengan insiden yang menguras emosi, membuat Anan dan dokter Sandra mampir ke sebuah restoran untuk mengisi kampung tengah dan merilakskan sejenak pikiran mereka.


Rencananya, setelah makan siang, mereka akan lanjut ke toko perhiasan.


Dan di sinilah mereka saat ini. Duduk di salah satu sudut ruangan dalam sebuah restoran.


Tak lama setelah mereka medudukkan diri masing-masing di kursi, pelayanpun datang menyapa mereka.


"Maaf nyonya, kami tidak memperhatikan kedatangan nyonya," ucap pelayan itu sedikit membungkuk. Sedang Anan mengernyit tidak mengerti.


"Tidak apa-apa, aku tau kalian semua sibuk. Oiya, seperti biasa, aku mau Ayam Parmigiana. Sayang, kamu pesan apa?" tanya dokter Sandra ke Anan.


"Nasi uduk dan ayam tumis kecap!" seru Zidan menjawab pertanyaan mamahnya.


Zidan buru-buru menyelesaikan pekerjaannya setelah melihat kedatangan mamahnya dan Anan dari monitor cctv di ruang kerjanya dalam restoran tersebut.


"Kamu kok tiba-tiba nongol di sini?" tanya Anan, heran dengan kedatangan Zidan yang mendadak.


"Lho, emang kenapa kalo aku ada di sini. Restoran, restoran aku! Siapa yang mau larang?!"


Ucapan Zidan membuat Anan terdiam hanyut dalam pikirannya.


"Sudah-sudah! Kamu juga pesan, biar kita makan bertiga!" titah dokter Sandra ke Zidan.


"Dan untuk Anan, kamu coba deh pizza di restoran ini. Tante yakin kamu pasti ketagihan!" saran dokter Sandra dengan senyum mengembang.


Pelayan itupun beranjak meninggalkan mereka.


"Pantas saja waktu itu kamu bilang kamu yang traktir, restoran punya kamu!" seru Anan menatap Zidan disela menunggu makanan datang. Sedangkan Zidan hanya senyam-senyum tak menanggapi seruan Anan.


"Jadi sebelumnya udah pernah makan di sini? Lalu menu kamu apa waktu itu? Jangan bilang menu yang disebutkan Zidan tadi?!" tanya dokter Sandra estafet dengan memicingkan manik matanya begitu mengucapkan pertanyaan terakhir.


Anan yang diserang pertanyaan oleh dokter Sandra, tersenyum sambil memperbaiki letak kacamatanya. "Sayangnya, ia tante," jawab Anan. Mambuat dokter Sandra tertawa kecil.


"Anan.. Anan, ini tuh restoran Italy sayang. Mana ada menu seperti itu di list menunya," ucap dokter Sandra yang masih menertawakan Anan.


"Pasti Zidan secara khusus memerintahkan koki untuk membuatnya," tebaknya, dan Zidanpun mengangguk.


"Cuma nasi uduk kok mah, koki di sini juga handal untuk menu tradisional," beber Zidan.


"By the way, setelah ini, kejutan apa lagi yang akan kamu perlihatkan padaku?" tanya Anan menyandarkan badannya ke sandaran kursi sambil bersedekap.


"Rahasia! Nanti juga tau sendiri." Jawaban Zidan membuat Anan mendengus dan memutar bola matanya.


Pelayanpun datang dengan membawa menu pesanan mereka. Ayam Parmigiana untuk dokter Sandra, Ayam Saltimbocca favorit Zidan dan Cheeseburger Pizza rekomendasi dokter Sandra untuk Anan.


Ananpun langsung meraih satu potong dari pizza yang ada dihadapannya, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Umm..enak! Gurih-gurih gitu!" seru Anan sambil menikmati potongan pizza yang ada di mulutnya. Zidan dan mamahnya hanya tersenyum menyaksikan Anan bergelut dengan menu makan siangnya hari ini.


"Tidak usah buru-buru gitu dong sayang, tidak bakalan ada kok, yang mau merebut makananmu," tegur dokter Sandra seraya membersihkan sudut bibir Anan dengan tisu. Sedang Zidan hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


Merekapun bersantap siang diiringi obrolan ringan dan candaan Zidan ke Anan. Zidan memang gemar sekali menjaili Anan. Hal ini membuat dokter Sandra teringat dengan kakaknya yang dulu sering mengerjainya. Yang sekarang tinggal di Jerman.


"Habis ini, mamah sama Anan mau kemana?" tanya Zidan setelah mereka selesai bersantap.


"Rencananya sih mamah mau ngajak Anan ke toko perhiasan mamah. Mamah sudah menghubungi Prita semalam," jawab dokter Sandra.


"Wah..hebat! Zidan punya restoran, tante Sandra punya toko perhiasan. Aku makin kagum sama ibu dan anak ini. Meskipun mereka tergolong orang kaya, mereka tetap rendah hati, baik juga ramah, walaupun Zidan kadang resek!" gumam Anan dalam hati.


"Kalo gitu, biar aku antar aja kalian. Kerjaanku udah selesai di sini," tawar Zidan kemudian beranjak dari kursinya.


"Gimana kabar toko kue mamah?" tanya Zidan ke Anan yang duduk di sampingnya sambil mengemudikan mobilnya.


"Alhamdulillah, baik," jawab Anan tanpa menoleh ke Zidan.


"Kalo kabar Rasmi?" tanya Zidan lagi.


"Sebenarnya, yang mau kamu tanyakan kabar toko mamah atau kabar Rasmi?" selidik Anan menoleh menghadap Zidan.


"Dua-duanya!" jawab Zidan mengusap tengkuknya, lalu melirik sepintas mamahnya yang duduk di jok belakang yang sementara menelpon, melaui spion tengah mobil.


"Awas saja kalo kamu mencoba bermain-main. Rasmi sudah seperti adik bagiku. Jadi kamu jangan macam-macam!" ancam Anan menunjuk wajah tampan Zidan.


"Aku tidak macam-macam kok, cuma satu macam. Aku cuma suka sama dia."


"APA?"


Ungkapan Zidan membuat Anan memekik. Mamah Zidan yang sedang seru berteleponan sampai terkaget dan memutuskan sambungan teleponnya.


"Ada apa sayang?" tanya dokter Sandra ke Anan.


Zidanpun mengerti dengan kode yang diberikan Anan.


"Begini mah, Rasmi, karyawan mamah Yati kan sudah tidak punya bapak. Kasian, ia pasti ingin melanjutkan pendidikannya, tapi tak punya cukup dana. Zidan berencana membiayai kuliahnya. Ya, itung-itung berbagi mah," tutur Zidan mengedipkan sebelah matanya ke Anan, membuat Anan melongo dengan penuturannya. Tapi berbeda dengan doktet Sandra yang justru tersenyum dengan penuturan putranya.


"Bagus dong! Kalo begitu, biar mamah saja yang jadi orang tua asuh buat Rasmi. Nanti, kamu bicarakan dulu dengannya dan juga ibunya. Rasmi cita-citanya apa Nan?" ucap dokter Sandra menyetujui kemudian bertanya ke Anan.


"Dia bercita-cita jadi designer tante. Itu yang pernah dia katakan ke aku. Dia juga pernah ikut kursus menjahit waktu kelas 3 SMA. Untuk hasil jahitannya, aku sudah tidak meragukannya. Karena setelan kebaya yang aku pakai dihari wisudaku adalah hasil rancangan dan jahitannya," jawab Anan menjelaskan.


"Luar biasa! Padahal, waktu itu tante sebenarnya mau tanya, beli kebayanya di butik mana. Soalnya, jahitannya rapi dan pas. Tante yakin, kelak Rasmi akan jadi designer muda yang sukses," ungkap dokter Sandra kagum.


Ungkapan dokter Sandra membuat Zidan semakin bersemangat mendekati Rasmi. Sebab ia yakin, mamahnya akan merestui hubungannya dengan Rasmi.


Begitu mobil telah diparkirkan oleh Zidan, Anan dan dokter Sandra turun dari kendaraan roda empat tersebut, kemudian melangkah memasuki toko perhiasan milik dokter Sandra.


Zidan yang hendak menyusul, menghentikan langkanya untuk mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.


"Prita, ini Anan, saudari Zidan. Tolong perlihatkan koleksi diamond yang aku minta semalam," tutur dokter Sandra ke karyawati kepercayaannya.


Prita pun mengeluarkan koleksi diamond yang di maksud.


"Nan, kamu silahkan liat-liat ya. Kalo sudah ketemu sama yang kamu suka, kamu boleh langsung memanggil Shasa yang di sebelah sana," ucap dokter Sandra seraya menunjuk karyawati yang sedang menyusun berbagai macam perhiasan ke dalam etalase.

__ADS_1


Anan pun mengangguk.


"Ya udah, tante tinggal dulu ya."


Dokter Sandra pun beranjak dari sisi Anan menuju ruang kerjanya.


Anan tengah serius memilih dan menimbang mana yang cocok untuknya. Dari arah pintu masuk, datang seorang wanita paruh baya dengan memakai balutan gaun yang mewah dan kelihatan mahal. Serta kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.


Clara, ibu dari Arya berkunjung ke toko perhiasan Sandra bermaksud untuk membeli salah satu koleksi berlian yang ada di toko itu.


Wanita berambut cokelat tua dan berkulit putih itu lalu berdiri di samping Anan. Ia kemudian melirik dan menatap lekat Anan yang sedang fokus pada diamond yang ada di depannya.


"Tidak sembarang orang bisa masuk ke toko bergengsi ini. Gadis ini pasti bukan gadis sembarang. Penampilannya memang sederhana, tapi kelihatan cantik dan terawat. Mungkin dia anak dari salah satu pengusaha yang ada di negeri ini," gumam Clara membatin.


Kemudian mengalihkan pandangannya ke diamond yang ada di depan Anan.


"Itu kan koleksi berlian termahal yang ada saat ini. Harganya ada yang sampai satusan milliar. Fix, gadis ini adalah anak orang kaya. Lexa pun lewat kalo disandingkan dengan gadis ini," Clara kembali membatin.


"Hai.. Sejak tadi tante perhatikan, kamu hanya memandangi diamond-diamond itu, kenapa?" tanyanya ke Anan mulai pendekatan.


Anan seketika menoleh ke arah sumber suara kemudian tersenyum ramah.


"Aku bingung tante, mau pilih yang mana," jawab Anan, kemudian kembali menatap deretan diamond yang dimaksud.


"Boleh tante kasih saran?" tanya Clara ramah dengan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.


"Oh..boleh kok tante," sahut Anan.


"Bagus! Aku ingin tau sekaya apa dirimu." Lagi-lagi Clara membatin.


Clara pun menunjuk beberapa diamond yang ada di sana.


"Apa ini tidak berlebihan tante?" tanya Anan yang bingung dengan pilihan Clara yang banyak itu.


"Ah..iya juga ya. Habis semuanya bagus-bagus lagi," ucap Clara dengan tertawa ringan.


"Em..bagaimana kalo kamu ambil 2 yang paling bagus menurutmu," sarannya ke Anan.


"Ok!" seru Anan membuat Clara terperangah. Sedangkan Anan yang tidak tahu-menahu tentang berlian, iya-iya saja mengikuti saran dari Clara.


"Apa? Satu aja harganya ratusan milliar, apalagi dua. Benar-benar kaya luar biasa gadis ini."


Tengah asyik dalam pikirannya, Clara dikagetkan oleh suara ponselnya yang berdering. Iapun lalu mengangkatnya.


"Halo.."


"Jeng kok belum hadir, arisan akan segera dimulai." ~teman sosialita Clara.


"Oh..astaga! Maaf jeng, aku lupa. Ya udah, aku ke sana sekarang."


Clara mematikan sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Tante duluan ya, ada urusan," ucap Clara ramah lalu meninggalkan Anan yang masih di tempat yang sama.


Zidan yang telah berteleponan, berpapasan dengan Clara di pintu masuk ketika hendak menghampiri Anan.


__ADS_2