
"Kenapa mukamu kusut begitu?" tanya Dimas setelah duduk di sofa yang ada di ruang kerja Arya.
Seperti biasa, setiap jam pulang kerja, Dimas selalu datang ke ruangan atasannya itu, meski tidak diminta.
Sudah dua hari, sejak pertengkarannya dengan Anan malam itu. Ia tiada hentinya memikirkan cara yang akan ia pakai untuk meminta maaf. Ia sangsi, apakah akan berhasil atau gagal.
"Kira-kira, kalo kita minta maaf sama cewek, apa cewek itu mau memaafkan kita?" tanya Arya serius.
Dimas mengernyit menatap sahabatnya itu. "Tergantung, apa kesalahan kita," sahutnya.
"Tapi kalo kita tulus meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya, tuh cewek pasti mau memaafkan kita," lanjutnya.
"Kamu ada masalah sama cewek? Cewek mana yang kamu sakiti?" tanya Dimas, selidik. Namun Arya tidak menjawab.
"Apa jangan-jangan Ananda, mahasiswi kamu itu!" tebak Dimas. Dan lagi-lagi tak direspon oleh Arya.
"Bukankah aku sudah pernah memperingatkanmu, jangan pernah mempermainkan seorang wanita. Apalagi gadis baik seperti Ananda," tutur Dimas, lalu meraih ponsel yang ada di saku kanan celananya, kemudian membaca notifikasi yang masuk.
Penuturan Dimas membuat Arya memicingkan maniknya.
"Darimana kamu tau, kalo dia itu gadis baik?" Arya mengangkat sebelah alisnya, menanti jawaban dari Dimas.
Dimas menoleh ke Arya lalu menyandarkan badannya ke sandaran sofa sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
"Kenapa malah nanya aku? Bukannya beberapa bulan terakhir ini kamu dekat dengannya?"
Dimas tahu kedekatan Arya dengan Anan. Namun tidak berniat memberitahukan bahwa kue yang sering dipesan Arya berasal dari toko kue 'Ananda', tak lain toko kue mamah Yati.
Karena sering berkunjung kesana, membuatnya kenal dengan Rasmi. Apalagi, kendaraan yang digunakan Dimas beberapa waktu lalu, yang diketahui Rasmi sebagai kendaraan yang menyerempet dia dan mamah Yati, mengharuskan Dimas meminta maaf atas kelalaiannya berkendara. Meskipun itu hanya luka ringan.
Hal ini membuatnya semakin akrab dengan Rasmi. Dan dari Rasmi lah ia tahu, bahwa Anan adalah gadis yang baik.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Dimas, membuat Arya terdiam.
"Memang betul, selama kurang lebih empat bulan aku dekat dengannya, ia sama sekali tidak pernah menunjukkan sikap yang buruk. Malah terkesan mandiri dan penyayang. Masakannya apalagi, sungguh memanjakan lidahku... Akhh... Tapi aku tetap harus pada rencanaku. Tidak boleh memikirkan yang lain," gumam Arya membatin.
"Kenapa diam saja?" tanya Dimas, membuyarkan pikiran Arya.
"Bingung mau jawab apa?"
Dimas melangkah ke hadapan Arya.
"Saran aku, kamu harus segera meminta maaf ke Ananda. Jangan biarkan masalah kalian berlarut-larut. Kalo kamu bersungguh-sungguh meminta maaf, aku yakin Ananda pasti memaafkanmu."
Dimas berbalik kemudian melangkah menuju pintu. Tapi sebelum ia keluar, ia menoleh ke arah atasannya itu dan berkata, "Sangat jarang ada gadis seperti Ananda," lalu mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan jari telunjuk, mengisyaratkan agar Arya memikirkan sarannya tadi, kemudian menghilang di balik pintu.
***
Sejak mengetahui Anan sakit dari mamahnya, Zidan mengerahkan penuh tenaga dan perhatiannya kepada Anan. Meski sibuk, ia rutin menemani Anan. Ia sering mengajak Anan bercanda seperti biasa, walau ujung-ujungnya mereka sering berdebat karena keusilan Zidan.
__ADS_1
Hari ini, ia pun mengunjungi Anan di rumah sakit dengan membawa banyak makanan, hanya untuk memuaskan lidah gadis itu. Juga beberapa buah buku kesukaan Anan yang hobi membaca.
Sudah begitulah Anan. Ia memang jarang sakit. Tapi begitu sakit, ia mendadak manja dan banyak mau. Seperti anak kecil saja dia. Hal ini membuat dokter Sandra dan Zidan gemas dan semakin sayang kepada gadis berhidung kecil dan mancung itu.
"Assalamualaikum."
Zidan masuk dan mendapati Mamahnya dan mamah Yati sedang ngobrol di ruang perawatan mamah Yati.
"Waalaikumsalam."
"Waalaikumsalam."
sahut dokter Sandra dan mamah Yati berbarengan.
"Anan mana mah?"
Zidan maju dan mencium kening kedua wanita paruh baya itu.
"Anan lagi ke toko kue, katanya suntuk di sini terus. Tapi, entah mengapa perasaan mamah tidak enak," jawab mamah Yati dengan wajah sendu.
"Sama siapa perginya?"
Zidan melangkah menuju sofa dan menaruh semua yang dibawanya di meja.
"Sendiri, tadi dia berangkat pakai ojol," jawab mamah Yati.
"Kok tidak nungguin aku?"
Mamah Yati dan dokter Sandra tidak lagi heran jika Zidan over protective terhadap Anan.
"Bu Yati tenang saja. Ingat, jangan stres, karena dapat berpengaruh pada penyakit ibu." Dokter Sandra menenangkan sekaligus mengingatkan.
Zidan menghubungi nomor Anan, namun tak mendapat jawaban. Ia mengulanginya, tapi hasilnya tetap sama.
Ia pun segera menelpon nomor Rasmi, namun lagi-lagi tidak terjawab.
"Mereka kemana sih, bikin khawatir aja," lirih Zidan bergumam.
Gelagat Zidan tertangkap oleh dokter Sandra.
"Kenapa sayang?"
"Aku mencoba menghubungi Anan dan Rasmi, tapi tak satu dari mereka menjawab panggilanku."
Zidan melirik ke arah ujung sofa, maniknya tak sengaja menemukan selembar jaket yang telah terlipat rapi.
"Itu jacket siapa?" tanyanya menunjuk jaket yang dimaksud.
"Mamah juga tidak tau, jaket itu Anan pakai waktu pulang kehujanan malam itu," jawab mamah Yati.
__ADS_1
Zidan hanya mengangguk-angguk lalu melirik sekali lagi ke jaket itu.
"Ya udah, aku ke toko kue dulu."
Zidah bangkit dari duduknya, lalu mengucapkan salam dan beranjak meninggalkan kedua wanita yang dipanggilnya mamah itu.
Di perjalanan menuju toko kue Ananda, mobil Zidan terpaksa berhenti karena banyak orang yang berkerumun di badan jalan. Tenyata baru saja terjadi kecelakaan lalu lintas.
Karena penasaran, ia pun keluar dari kendaraannya dan berjalan mendekati kerumunan tersebut.
"Anan!" serunya, setelah menerobos sekumpulan orang orang yang berada di sana. Dan betapa kagetnya ia melihat Anan tergeletak bersama dengan motor maticnya, ditemani orang yang hendak menolongnya.
Zidan hendak mengangkat tubuh Anan, namun Anan melarang.
"Tolong Rasmi saja" ucap Anan pelan dengan meringis menahan sakit, menunjuk kerumunan orang di depannya, kemudian tak sadarkan diri di pangkuan Zidan.
Zidan pun mengedarkan pandangannya. Keterkejutannya mendadak memuncak, tatkala ia melihat Rasmi pingsan di gendongan Idham.
Idham melangkah sambil menggendong Rasmi ke arahnya.
"Cepat bawa Anan, kita ke rumah sakit sekarang!"
Idham melanjutkan langkahnya menuju mobilnya, kemudian membaringkan tubuh Rasmi di dalamnya.
Zidan pun mengangkat tubuh Anan dan membawanya ke mobil.
Zidan menghubungi mamahnya, mengabarkan Anan dan Rasmi kecelakaan. Tak lupa, ia pun menghubungi Adji untuk mengamankan motor matic Anan, karena tempat kejadian perkara tidak jauh dari kompleks perumahannya. Dan meminta Adji untuk menghubungi pihak berwajib.
Kedua kendaraan roda empat itu telah tiba di rumah sakit. Dokter Sandra dan dokter lainnya, serta beberapa perawat telah bersiap dengan kedatangan mereka. Tentu, ada mamah Yati juga di sana, di atas kursi roda yang dipegang oleh suster Mira.
Anan dan Rasmi langsung dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk segera ditangani.
Bulir air mata mamah Yati jatuh di pipinya. Tubuhnya bergetar menyaksikan Anan dan Rasmi terbaring tak sadarkan diri di atas brankar dengan pakaian berlumuran darah.
Zidan menghampiri mamah Yati lalu menggenggam kedua tangannya, mencoba menguatkan.
"Mamah jangan cemas, mereka pasti akan baik-baik saja."
"Iya bu, InsyaAllah, mereka pasti akan baik-baik saja." Dokter Sandra juga ikut menenangkan. Walau ia pun sebenarnya sangat khawatir.
Zidan meraih ponsel yang ada di sakunya. Ia mengernyitkan dahinya ketika ia melihat layar ponselnya menampilkan panggilan dari nomor Rasmi. Tanpa menunggu lama, ia langsung menjawabnya.
"Halo."
"Halo kak, ini aku, Atika. Tadi kakak nelpon tapi kak Rasmi lagi keluar, ia lupa bawa hp. Hp kak Anan juga ada di sini."
"Atika, dengar kakak dan tidak usah bertanya. Sekarang juga kamu tutup toko, setelah itu kamu pulang jemput ibunya Rasmi, lalu bergegas ke rumah sakit Sandra Hospital. Jangan lupa, bawa ponsel Anan dan Rasmi."
"Baik kak," sahut Atika, dan sambungan telepon pun terputus.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Anan?" tanya Adji ke Zidan.
Rara dan Salma memeluk mamah Yati, mencoba menguatkan, begitu tiba di sana.