Benar Kata Mamah

Benar Kata Mamah
Bab 31


__ADS_3

Atika bersiap-siap untuk menutup toko, tiba-tiba ia dikagetkan oleh kehadiran tante Ranti, ibu dari Rasmi, yang berdiri di ambang pintu.


"Kakakmu mana?" Tante Ranti berjalan mendekati Atika.


"Kebetulan tante di sini. Lebih baik kita langsung ke rumah sakit saja." Atika menggandeng tante Ranti ke pintu utama toko, lalu menguncinya.


"Lho, tokonya kok udah tutup?" Dimas yang baru saja tiba heran karena tidak biasanya toko Ananda tutup dijam segini.


Atika menoleh ke sumber suara.


"Eh, pak Dimas. Itu pak, kami disuruh buru-buru ke rumah sakit." Atika memasukkan kunci ke dalam tasnya dan meraih ponselnya di dalam sana.


"Kalian mau naik apa ke sana?" tanya Dimas menatap Atika dan tante Ranti bergantian.


"Ini aku baru mau pesan taksi online pak," jawab Atika yang fokus pada ponselnya.


"Ya udah, aku antar kalian saja."


"Tidak pak, tidak usah repot-repot," tolak tante Ranti lembut.


"Kalian kan buru-buru. Lagian, aku tidak merasa direpotkan." Dimas beranjak dari hadapan tante Ranti dan Atika menuju mobilnya.


"Ya udah tante, kita ikut pak Dimas saja." Tante Ranti mengangguk, kemudian berjalan beriringan Atika ke arah kendaraan Dimas.


"Kamu sepupunya Rasmi kan?" tanya Dimas, ketika mobil telah melaju.


"Iya pak," sahut Atika.


"Terus, Rasminya mana?" Dimas menoleh sekilas lalu kembali manatap jalan di depannya.


"Tadi kak Rasmi keluar antar pesanan bersama kak Anan, tapi belum balik."


"Kalian ke rumah sakit, siapa yang sakit?"


Atika dan tante Ranti saling tatap. Baik Atika maupun tante Ranti, tidak tau untuk apa ke rumah sakit. Terlebih tante Ranti, yang ketika tiba di toko langsung diajak Atika ke sana.


Tante Ranti hanya mengkhawatirkan anaknya. Sewaktu ia hendak minum, tiba-tiba saja gelas di tangannya terlepas. Seketika ia terbayang wajah anaknya. Perasaannya tidak enak, makanya ia menyusul ke toko.


"Sebenarnya kami juga belum tau, untuk apa kami ke rumah sakit. Kami hanya diminta bergegas ke sana oleh kak Zidan. Sekalian bawa ponsel kak Anan dan kak Rasmi," jelas Atika.


Tante Ranti yang mendengar penjelasan Atika mengerutkan dahi.


"Apa terjadi sesuatu dengan tante Yati, Tik?" tanya tante Ranti cemas.


"Tika juga tidak tau tante."


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mbak Yati." Tante Ranti menghela nafas. "Tapi, tante merasa ada sesuatu buruk yang sedang terjadi." Cairan bening menetes di pipi tante Ranti bersama dengan kalimat akhirnya.


Dimas melirik spion tengah mobil. Ia dapat melihat kesedihan di wajah tante Ranti.


"Bagaimana keadaan Anan dan Rasmi dokter?" tanya Zidan, begitu melihat dokter Samuel keluar dari ruang IGD.


Mamah Yati, dokter Sandra, dan yang lainnya, termasuk dokter Idham yang sejak tadi berdiri di ujung koridor, menanti jawaban dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


"Anan hanya mengalami luka ringan saja. Ia pingsan karena syok."


"Alhamdulillah," ucap mamah Yati juga yang lainnya.


"Lalu bagaimana dengan Rasmi dok?" tanya mamah Yati mendesak.


"Rasmi... ."


"Rasmi kenapa dok?" Kali ini Zidan yang bertanya.


"Akibat benturan keras yang mengenai kepala bagian belakang, diagnosa sementara, Rasmi mengalami gegar otak."


"Apa?"


Tante Ranti berlari kecil agar dapat mencapai sumber suara lebih cepat.


"Apa yang telah terjadi mbak?" tanyanya ke mamah Yati.


Kemudian mengalihkan tatapannya ke dokter Sam.


"Kenapa anak saya bisa sampai gegar otak dok?" Manik tante Ranti mulai menganak sungai.


Dokter Sandra mendekati tante Ranti untuk menenangkannya.


"Kita sama-sama berdoa ya bu, semoga baik Anan maupun Rasmi, keduanya segera siuman dan tak ada yang perlu dikhawatirkan," tutur dokter Sandra menggenggam tangan tante Ranti.


"Lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya Sam?" tanyanya ke dokter Sam.


"Kita liat dulu perkembangan pasien serta hasil CT Scan. Jika Rasmi masih belum siuman di 1 jam kedua, maka kita harus bersiap dengan tindakan operasi," jelas dokter Sam.


"Kak Rasmi pasti baik-baik saja tante. Tante sabar ya. Kita doakan sama-sama, semoga kak Rasmi cepat sadar."


Adji yang sejak tadi memakukan pandangannya ke tante Ranti dan mamah Yati, kini beralih menatap Dimas yang sedang berbicara melalui telepon genggamnya seraya melangkah meninggalkannya, juga yang lainnya.


"Pernah liat di mana ya, tuh orang?" batinnya, mengingat-ingat.


"Maaf dok, pasien atas nama nona Ananda telah siuman," ucap perawat yang baru saja keluar dari ruang IGD menyampaikan.


Dokter Sam pamit undur diri, kemudian masuk menemui Anan.


"Bisa kita bicara?" Idham mengangguki permintaan Zidan.


"Loh, kakak dan Zidan mau kemana?" tanya Adji, ketika Zidan dan Idham hendak beranjak dari sana.


Zidan memicingkan matanya menatap Adji.


"Kamu mengenalnya?" tanyanya sambil menunjuk Idham dengan dagunya, karena enggan mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku celananya.


"Ya iyalah bro aku kenal. Dia kan kakakku, saudara kandungku," jawab Adji.


"Tapi, kenapa waktu aku ke rumahmu, aku tidak melihatnya?" tanya Zidan lagi.


"Mas Idham belum sebulan kembali setelah mengambil S1 dan S2 di Amerika," jelas Adji.

__ADS_1


"Sudah, kita bicara bertiga di kantin!" ujar Idham, kemudian melangkah mendahului Zidan dan Adji.


"Mm... jadi aku mesti manggil apa nih?" tanya Zidan setelah mereka berada di tempat tujuan.


"Panggil mas Idham saja, sama seperti Adji memanggilku," sahut Idham.


"Apa mas Idham tau sesuatu tentang kecelakaan Anan dan Rasmi?" Zidan mengernyit menatap Idham.


"Mas juga tidak terlalu jelas. Tapi, dari titik tabraknya, mas curiga pengemudi mobil itu sengaja melakukannya," jawab Idham lalu menyeruput jus jeruk peranannya.


"Apa mas sempat melihat nomor plat, merk, atau tipe mobil itu?" tanya Adji.


"Warna mobilnya putih dengan stiker Hello Kitty merah muda. Kalo tidak salah Honda Brio. Nomor platnya... ."


"Iya, nomor platnya berapa?, soalnya aku udah ada bayangan siapa pemilik mobil itu," desak Adji.


"Nomor platnya, A 53 PTY."


"Tidak salah lagi, itu mobil Septy. Pelakunya juga pasti dia." Adji mengepalkan tangannya, sorot matanya tajam.


***


"Parah ya kamu!" seru Yuli kepada Septy, ketika mereka berada di kamar Septy.


"Iya, kalo mereka kenapa-kenapa gimana?" tanya Serli cemas.


Serli mencemaskan adanya tuntutan atas kecelakaan Anan dan Rasmi terhadap dirinya.


Ketika Septy melihat Anan berada tepat di depan kendaraannya di jalan itu, entah apa yang merasukinya, hingga kebenciannya kepada Anan tak kunjung surut.


Tanpa berpikir panjang, ia langsung menancap gas dan menabrak kendaraan Anan. Akibatnya, motor matic yang dikendarai Anan, terhempas dan menabrak bahu jalan.


Sedangkan mobil Septy, kaca lampu sein dan lampu sorot kirinya pecah, serta bagian bumpernya penyok, baret, bahkan sebagiannya patah.


"Ya... salah sendiri! Ngapain juga dia halangi jalan aku. Tau rasa dia," kata Septy sinis.


"Kalo mereka sampai mati? Atau mereka koma, Gimana?!" Yuli menatap tajam sahabat yang sudah ia kenal sejak masih SMP itu.


"Kalo mati kan tinggal dikubur, beres!" jawab Septy, enteng. Salah satu sudut bibirnya terangkat.


"Kamu waras tidak sih!" Yuli menyambar tasnya, kemudian berjalan menuju pintu kamar Septy.


"Ini urusan kamu, aku tidak mau terlibat di dalamnya." Yuli menekan gagang pintu lalu keluar dari kamar tersebut.


"Apa yang dikatakan Yuli, benar. Kita sebagai sahabat kamu, tidak mau kalo kamu sampai dipenjara. Tentu kamu tidak mau kan dipenjara?" tutur Serli berhati-hati.


"Lalu, Kalian mau aku minta maaf sama si kampung Anan itu, gitu mau kalian? Sampai kapan pun, aku ogah minta maaf sama dia!"


"Tapi Sep... "


"Cukup! Kalian berdua memang bukan sahabat sejati." Septy beranjak dari tempat tidurnya, kemudian berdiri menghadap jendela kamarnya.


"Ya udah, aku pamit dulu. Kalo ada apa-apa, hubungi aku."

__ADS_1


Serli meraih tas dan ponselnya, dan berlalu meninggalkan Septy seorang diri.


__ADS_2